Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon, Eko Triono


Fatah Anshori *

Setiap kata yang kita dengar atau baca secara tidak langsung akan merepresentasikan apa yang kita mengerti dari kata itu sendiri. Mungkin ini agak membingungkan, tapi seperti itulah kenyataannya. Setiap kali membaca secara tidak sadar ada dua kegiatan yang berlangsung bersamaan dalam diri kita. Pertama perhatian kita pada kata-kata dalam buku, yang kedua proses visualisasi didalam kepala kita. Barangkali ini seperti output dari hasil bacaan itu. Tentu saja dua proses ini seringkali gagal, itu jika fokus membaca kita tidak kemana-mana. Pikiran kita tidak sedang berjalan kemana-mana, ke pesar, ke rumah pacar atau ke perkara rumit yang memusingkan kepala.

Mungkin seperti itulah Eko Triono dalam buku kumpulan cerpen Agama Apa yang Pantas bagi Pohon–Pohon, ini.ia menunjukkan kepiawaiannya dalam bercerita. Sesekali ia menembus batas nalar kita, menghancurkan cerita realisme dan melompat dalam cerita surealisme. Seperti dalam cerpen Antonie Gusteau Ditemukan dalam Mimpi Seorang Baghdad,cerpen ini mengisahkan tentang Antonie yang mencoba mengendalikan mimpinya. Seseorang yang berusaha mempelajari mimpi dan ingin mengendalikan mimpi sebagaimana kehendaknya. Di dalam mimpinya ia bisa melompat kemana-mana ia suka, sebelum akhirnya sesorang menantangnya melakukan sesuatu didalam mimpinya. Cerita yang sama diulanginya dalam Bunga Luar Angkasa, yang mengisahkan tentang seorang kakek yang bekerja sama dengan Alien. Meski terdengar aneh namun Eko Triono mampu membangun logika cerita yang apik. Dan membuat kita bisa menerima apa yang dikatakan. Meski dalam beberapa cerita ia tampak seperti tergesa-gesa dan terlalu melipir kemana-mana. Sehingga rasanya saya seperti terseret arus yang sangat deras dan tidak bisa memahami apa yang sedang ia tunjukkan. Atau kemungkinan kedua karena ketololan saya dan kemiskinan kosakata saya sehingga saya kerap tertinggal narator. Itu boleh jadi.

Sebagaimana kata Tia Setiadi dalam Kata Pengantar buku, Eko Triono digadang-gadang sebagai penulis yang tidak menutup kemungkinan menyamai Eka Kurniawan—jujur saya sangat iri—tapi setelah membaca keseluruhan cerpennya. Saya menemukan aroma itu. Eka Kurniawan sering berbicara tentang teknik menulis, sebuah cerita menjadi menarik karena teknik dalam menulisnya. Dea Anugrah juga sempat mengatakan, ini tentang hitung-hitungan sebuah cerita lebih efektif dituliskan dengan cara apa. Mungkin seperti itulah ragam cerpen Eko Triono di buku Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon? Eko mencoba menghadirkan berbagai macam teknik bercerita yang kerap membuat saya senang sekaligus dibuatnya tampak tolol.

Dan kedua, dialog dalam cerita ini sangat kuat dan seringkali tampak filosofis. Tidak jarang ia juga mengangkant ironi sosial seperti yang ia tunjukkan dalam cerpen Ikan Kaleng. Terakhir Eko Triono telah menunjukkan pada saya bahwa dunia itu tidak sesempit kotaku. Dan kata siapa menulis itu perkara mudah. Maka jangan kau perbanyak tidur melulu bocah!
***

_______________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya terpublikasi di Website Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *