Catatan Ringan Sepertiga Malam


Sunlie Thomas Alexander

Menulis memang sudah menjadi semacam kebutuhanku di luar segala tetek bengek hidup lainnya. Tetapi kerapkali aku ternyata tak punya energi dan kesiapan momen yang cukup. Sudah hampir 4 bulan aku pindah ke rumah baru, tetapi untuk menata ruang baca saja aku belum keburu. Alhasil, sebagian buku yang seyogianya aku butuhkan sebagai referensi untuk menulis pun masih teronggok dalam tumpukan kardus-kardus. Dan seperti Raudal, aku juga harus segera menyelesaikan layout buku orang yang mau dicetak dan diterbitkan oleh penerbitku Ladang Publishing. Untung saja filenya tidaklah kena “virus kotak-kotak”!

Tampaknya aku betul-betul harus belajar berdisiplin dalam hal membagi waktu dan energi secara serius. Ini bukanlah hal yang gampang bagiku sejak remaja.

Ada cerpen-cerpen yang sudah terbayang-bayang terus di kepala, dan novel laknatku yang tak kunjung selesai itu saban hari juga merengek-rengek minta dijengguk.

Ini belum lagi soal esai-esai, baik yang ringan-sederhana seperti sekadar catatan Facebook atau yang ingin aku publikasikan di media—maupun yang membuatku harus berlarat-larat membongkar sekian banyak buku dan khusyuk mengkaji dengan energi berlebih.

Apalagi, sedikit-banyak aku pun merasa “berhutang janji” sebagian dari bakal tulisan ini kepada sejumlah orang. Kepada Ida Fitri contohnya, sudah sejak beberapa waktu lalu aku menyanggupi akan mengulas calon novelnya “Tukang Intip” yang cukup menjanjikan itu (Percayalah, aku tidak sembarangan ngomong! Akan kutunjukkan lewat telaah).

Aku bahkan belum berhasil menyelesaikan catatan-catatan penting mengenai kunjunganku ke Tiongkok dan Hongkong yang semestinya telah aku publikasikan tahun lalu. Padahal catatan-catatan ini (misalnya, mengenai Islam di Guangzhou, pertemuan dengan orang-orang Cina kelahiran Indonesia yang terusir pulang ke Tiongkok pasca pemberlakuan PP 10/1959 beserta kunjungan-kunjunganku ke lahan pertanian tempat mereka dulu ditempatkan, juga pembicaraan-pembicaraan kami dengan para pejabat setempat dan petinggi Partai Komunis Cina) harus aku pertanggungjawabkan kepada pihak-pihak yang telah mensponsori perjalananku.

Ada pula topik-topik kecil dari beragam tema yang telah kukatakan kepada sejumlah kawan: “Akan kubahas!”

Dan kemarin aku bilang ke Sima Ting Kuan WU, bahwa aku akan menambahkan point “Kritikku terhadap Taiwan Literature Award for Migrants sebagai sebuah even perlombaan” ke dalam kajianku mengenai “Sastra Buruh Migran Indonesia”.

Aku juga pernah berjanji akan mengulas karya cerpenmu, bukan?

Ya, menulis itu memang tidak mudah, Noni. Ia adalah kemewahan yang bakal sulit kau temukan di wilayah lain.

21 April 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *