CINTA SEBILAH PISAU DAN SEPOTONG BATU ASAH

—bersama Ida
Raudal Tanjung Banua *

1.
Siapa batu asah
di antara kita
dan siapa jadi pisaunya?
Kau yang menunggu, ataukah aku
yang mengembara?

Kalau aku pisau, mataku tajam
karena licin tubuhmu
Bila kau batu asah
wajahmu basah penuh gairah
berhasrat luruhkan
seluruh karat diriku.

Maka sempurnalah ketajamanku
Hingga tergoda lambung kapal
di pelabuhan yang menyimpan aroma dan kilau tanah jauh.
Sungguh, kuinginkan aroma itu seperti aku merindukan
buah larangan
atau kelabu lehermu!

“Pergilah, tanpa peta,
agar tak melulu pilu
sembilu ujungmu; pergilah ke bandar
dan kota-kota yang kau mau
agar sempurna aku menunggu!”
kau berkata, ujung lidahmu
sembilu juga
Hingga aku tergelincir pada percumbuan terakhir.

Maka sebagai pisau
aku pun pergi
Mengembara beribu arah
Ujungku mencoba menulisi
kesakitan sepanjang jalan,
mataku mengiris kepedihan hari,
uluku menyimpan dendam
masa silam buat disarungkan;
Sarungku, aduh, sudah lama
aku telanjang, dan kuikhlaskan ia
jadi cerita sebatas pinggang.

Dan sebagai batu asahan
kau pun menunggu
sejak itu. Beribu simpang
dan penjuru membentang lengang ke arahmu. Tapi tubuhmu
terus jadi penampang tetes lumut kesedihan, lekak-lekuknya
semayamkan jejak lembut lekat kenangan, dan diammu
menjadi sebongkah karang di lautan, menyimpan rindu gelombang
yang hanya terbalaskan
di pintu pulang!

Jadi, siapa lebih lelaki
di antara kita
dan siapa perempuannya?
Aku yang pergi dan gagu
bersama rindu
Ataukah kau yang sunyi
tak jemu menunggu?

2.
Mungkin tak ada laki
dan perempuan, jantan dan betina, dalam amsal percintaan kita.
Sebab segala yang melekat
begitu mudah bertukar tempat: kadang akulah batu asahan
untuk pisau tubuhmu
yang telanjang
dari seluruh risau dan jemu.
kadang kau di sumur menunggu basahan dari sengau geretan timba; kadang aku di dapur meramu bumbu, lalu tergeletak lelah
di retak meja.

Memang, sekarang aku merasa
lebih sebagai pisau
di jauh rantau. Karena kau serasa ibu
yang menunggu di seberang jauh. Tapi tetap tak butuh jawaban
untuk pertanyaan kita sedari awal—sedari dulu!

Sebab kau tahu, aku pun pisau
yang menunggu setiap kesempatan
dari keperihan. Maka mataku
yang penuh gelora menggores bulu
dan leher halus kelinci lucu,
biri-biri putih, leher angsa
dan menetak lambat leher sembunyi kura-kura. Darah mengalir
bersama biru kata-kata….

Sementara kau kubayangkan, terkadang juga butuh keperihan
dari setiap kesempatan.
Maka kau terima dan asah
penuh gairah mata arit, clurit,
parang dan kelewang
yang datang membawa aroma
dan sisa kematian. Kata-kata
dingin-tenang bersama beku darah.

Setelahnya, aku juga butuh
tubuh lunak cangkang kerang,
di luar tubuhmu yang keras batu!
Maka kukecup lembut segala buah, selembut kecupan daging kenangan: apel berembun dinihari,
manis mangga dan ranum delima, begitulah aku mereguk nikmat
dari rasa perih.

Sementara kau, di luar rindu kepadaku mungkin merasakan pula kelembutan-kelembutan sakit
dan khianat itu: lekuk keris,
tombak pusaka
hingga pisau lipat, kau biarkan mencumbu licin tubuhmu
sampai pedih berkilat!

3.
Kekasih, inilah irama percintaan kita
di ruang belakang
rumah warisan.

Kau di pojok sumur
lamur oleh penantian
Aku dari sudut dapur
pergi dilimbur kenangan.

Kau bertahan dari guyuran
memendam perih luka tersiram
Aku bertahan dari gempuran
di balik duka duri pandan.

Tubuhmu hijau lumut
yang tumbuh bersama biru waktu
Mataku sehitam semut
sehabis percumbuan bergula itu.

Sampai kapan kau menunggu
perigi kenangan itu?
Sampai kapan aku mencari bayangan kekal buah larangan?

Kekasih, kelak, mungkin sumur kita
dipagar orang
dan kau terlantar di luar pagar,
terus menanti yang tak kunjung datang. Mungkin kau kembali
kepada batu di gunung
atau karang di lautan
sebagai seorang asing tak dikenal.

Aku pun terlantar di dapur orang
di sudut sebuah restoran
kota jelatang. Aroma bawang, sayur dan kentang, tak membuat mataku
berlinang. Mungkin aku akan tumpul terbuang lalu kembali mencari ibu yang setia menimang
sarung masa kecilku jadi buaian. Pulang aku sebagai si anak hilang yang gamang gagu
ngucapkan impian!

Begitulah kekasih, percintaan kita
yang perih disayat waktu. Tapi bila nanti kita bertemu mungkin
di tepi laut atau bukit yang sama biru
mungkin di dekat tungku
atau perigi kelabu
Kita akan bercinta seperti dulu
sampai tubuh kita tipis dan habis
dan cinta pun moksa
bersama rahasia cinta Adam
di dalam mahkota kemiskinannya!

/Rumahlebah Yogyakarta, 2002

(Gugusan Mata Ibu, Bentang Pustaka, 2005: 93-97)

___________________
*) Raudal Tanjung Banua, sastrawan kelahiran Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat juga Harian Haluan, Padang. Kemudian merantau ke Denpasar, Bali, bergabung Sanggar Minum Kopi, serta intens belajar kepada penyair Umbu Landu Paranggi. Lalu ke Yogyakarta; menyelesaikan studi di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia. Mendirikan Komunitas Rumah Lebah, dan bergiat di Lembaga Kajian Kebudayaan AKAR Indonesia (Sebuah Lembaga Budaya yang Menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esei, dipublikasikan di pelbagai media massa pun antologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *