Enam Puisi Zeffry Alkatiri

KAMI BUKAN ANNE FRANK!
Untuk Ahed Tamimi dan kawan-kawannya

Kami bukan Anne Frank
Yang ngumpet ketakutan
Dan hanya mampu membuat catatan-catatan.
Kami anak-anak sebaya lelaki dan perempuan
Lebih memilih turun ke jalan
Menghadang bedil tentara
Bahkan tank baja.

Kami jelas bukan Anne Frank
Yang hanya mampu mengiba-iba
Di atas loteng takut atas ancaman.
Kami ribuan anak Palestina
Sudah mencabut segala takut
Dari jantung kami punya.

Kami tidak memiliki teman seperti Anne Frank
Yang menulis tentang kesedihan.
Teman sebaya kami lebih memilih
Menulis tentang perjuangan.

Kami tidak punya teman gadis penakut seperti Anne Frank
Yang gemetar meringis nangis
Saat tentara Nazi mencari-cari orang-orang Yahudi.
Kami anak-anak Palestina
Lelaki dan perempuan
Yang bergerak di perbatasan
Untuk menjaga setiap jengkal tanah halaman nenek moyang.
Kami tidak takut untuk menghadang
Barisan tentara, sekalipun dengan peralatan perang.
Sebab kami bukan pengarang seperti Anne Frank.
Kami anak-anak sekolahan
Yang siap mengisi tas kami
Dengan batu-batuan,
Untuk sarapan dan makan siang kalian.

Meski kalian membatasi hidup kami dengan tembok tinggi panjang
Tetapi suara kami tak dapat kalian bungkam,
Untuk menjaga marwah serta harga diri kami
Yang lebih mahal
Daripada harga catatan anak penakut di pasar lelang.

Kami jelas bukan keturunan kalian
Yang kuyu berjalan merunduk tanda lemah-kalah
Ketika nenek moyang kalian digiring ke rumah jagal dan penjara
Di berbagai wilayah Eropa.

Walau peluru dan sepatu
Siap dihantamkan ke tubuh kami.
Dengan kepala tegak kami akan menantang kalian,
Sambil berkata: Viva Palestina!!!

2018

SAJAK UNTUK ILYA EHRENBURGH DAN YEVGENY YEVTUSHENKO

Kepada siapa torehan pena ini
Akan kusampaikan?
Apakah kepada batu-batu
Yang pernah meraskan tubuh
Dan darah saudaramu
Di jurang sana?

Biarkanlah mereka di sana
Agar menjadi ingat bersama,
Bahwa saudaramu pernah lelap tanpa pusara.
Dapatkah kalian dengar suara-suara mereka
Memanggil-manggil
Minta dituliskan nama-nama
Agar dapat diingat oleh saudaranya?

Di sana tulang-tulang telah hilang.
Tapi ruh mereka masih terus merintih selalu
Di telingaku, juga semestinya di telingamu.
Sebab tak ada yang pernah tahu
Diputuskan di mana
Rumah persinggahan akhir mereka.

Adalah sangat mudah mendorong mereka
Dari tepi tebing jurang
Tanpa perlu pacul ataupun tenaga
Tanpa harus berpeluh menanam tubuh
Yang tidak akan tumbuh.
Mendung di Baby Yar serupa mendung di Gaza.
Di cadas terjal tajam itu
Melengkapi penderitaan puluhan saudaramu.

Bukankah kau pernah mual
Bukan karena sesuatu benda asing
Yang bergerak tanpa kendali di perutmu?
Tapi karena bau mayat dan asap mesiu.

Kalian pastinya mendengar,
Sebagaimana dulu suara-suara mereka
Menyeru namamu
Lalu di mana penamu?
Mungkin karena kalian bukan saudara mereka.
Sajakmu menjadi begitu murah
Dibanding coretan para remaja Palestina
Di dinding penjara.

Sementara salak senjata menyalak
Selalu dari balik tembok Gaza,
Mempercepat kematian para orang tua
Dan menunda kehidupan kaum muda.

Gemerisik ilalang liar di Baby Yar
Serupa gemerisik ilalang kering di bebatuan Palestina

Bedanya di sana,
Tak ada jurang curam menganga,
Yang menerima dengan tangan terbuka
Tumpukan tubuh saudaramu
Untuk bersandar diam kekal
Dalam pelukannya
Tanpa pusara
Tanpa upacara.

2019

BREWOK MARX SUDAH DICUKUR

Lama,
Karenanya,
Menjadi mirip si Benjamin,
Yang sekarang wajahnya sering terselip pada lembaran
Dalam dompet mereka.

JENDELA EMILY DICKINSON

Emily melihat dari jendela rumahnya:
Serombongan tetangga baru pulang dari gereja.
Di belakang mereka
Beberapa anak lelaki berpakaian ala koboi
Mengejar anak lelaki lain
Yang mengenakan pakaian Indian.
Bang Bang Bang…!!!
Teriak anak-anak koboi itu
Sambil menembakkan pistol mainan dari kayu.
Anak lelaki Indian seakan mati tak berdaya,
Sebagian menyerah kalah.
Emily hanya tersenyum,
Tapi ia tak kuasa menuliskan adegan itu
Atas peristiwa yang sesungguhnya,
Seperti diberitakan oleh surat kabar
The Boston Sunday Globe
Yang tergeletak di atas meja tulisnya.

2018

SAMPAI KAMISAN KE BERAPA?
(Aksi Kamisan depan Istana Merdeka)

Di titik kumpul tengah kota
Kami datang lagi.
Mengetuk.
Menunggu jawab.
Dalam perkabungan panjang.
Ratusan surat bersama doa
Sudah dilarungkan.
Agar amanat tetap terawat.
Meski di bawah atap awan gelap.
Tak lelah menunggu jawab
Entah sampai Kamisan ke berapa?
Sungguh ini bukan tragedi drama Yunani
Jadi jangan simpan suaramu, Kawan!

Kami berdiri bersama
Memupuk ingatan
Agar terus tumbuh dan menjalar.
Meski hanya sesaat
Agar anak bangsa tak sampai tersesat.

2020

GOODBYE PORT HAIFA AND PORT JAFFA

Sejengkal tanah
Tempat pertama
Kalian menginjak Palestina.
Kami sambut dengan tangan terbuka,
Seperti saudara lama.
Kami sisihkan tempat
Untuk kalian berbaring
Agar kita dapat hidup berdamping
Sebagaimana Abnaa al Balad–Awlad Arab.

Di Haifa dan di Jaffa
Bersender kapal-kapal besi.
Menurunkan orang-orang Yishov–Ashkenasi
Dari Rusia, Ukraina, dan Polandia.
Dengan bahasa asing di telinga kami.

Mereka secepat gulungan gelombang
Tak habis-habis menerjang kami sampai ke pinggir.
Memaksa kami untuk menyingkir.

Bercak darah sudah banyak menghiasi dinding rumah.
Sebagian juga sudah tumpah di tanah.
Sebentar lagi pastilah
Jalan-jalan akan berwarna merah.

Kami mulai terdesak
Mendaki bukit Karmel.
Menuju gunung batu gersang.
Sejak itu menjadi hari-hari Nakbah
Melangkah dalam kerikil tajam sejarah.

Selamat tinggal pelabuhan Haifa
Selamat tinggal pelabuhan Jaffa
Selamat tinggal pasar
Selamat tinggal kedai kopi
Selamat tinggal toko roti.

Selamat tinggal laut.
Birumu hanya dapat kami lihat
Dari pantulan langit.
Asinmu hanya dapat kami rasakan
Lewat angin yang berhembus sampai ke bukit.

Lamat-lamat dari arah bawah
kami mendengar suara terompet tanduk domba
Tanda perayaan Rosh Hashanah.
Sejak itu hidup kami tidak lagi
Dalam hitungan Hijriah.

Hanukkah dan Hagganah
Menjadi lebih meriah
Yang dulu hanya dirayakan diam-diam dalam rumah.

Masih sering terngiang Nani-Nani, lagu tidur Yahudi
Dari tetangga kami.
Di tenda-tenda pengungsian,
anak-anak masih hafal nyanyian:
Shobi-Shobi–Mordachai dan Hava Nagila,
Lagu-lagu riang dari sekolah.

Sungguh kami tidak pernah menjual Palestina.
Sir Balfourlah makelarnya.

2020

___________________________
*) Zeffry J. Alkatiri atau lebih dikenal dengan nama Zeffry Alkatiri (lahir di Jakarta, 30 Agustus 1959; umur 60 tahun) adalah sastrawan sekaligus akademikus berkebangsaan Indonesia. Namanya tercatat sebagai salah satu pengajar dan peneliti di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dengan gelar doktor. Zeffry Alkatiri merupakan salah satu penerima Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa melalui karyanya, Post Kolonial dan Wisata Sejarah dalam Sajak, untuk kategori puisi, tahun 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *