PEMBAKARAN BUKU DI INDONESIA, SEBUAH JELAJAH PEMULA

Mashuri *

Di tengah riset kecil-kecilan Cerita Sri Tanjung, saya mendapatkan sebuah realitas mengejutkan: pernah terjadi pembakaran manuskrip, alias buku kuno, di Java Oosthoek, alias Ujung Timur-Jawa, alias Brang Wetan, alias Bumi Blambangan. Fakta itu melengkapi fakta lain yang saya temui secara tidak sengaja, ketika mengulik dan menelusuri keberadaan manuskrip lain, diantaranya di desa kelahiran saya di Lamongan dan khasanah dari Nangroe Aceh Darussalam.

Kecurigaan adanya penghancuran dan pembakaran manuskrip di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung lama, di samping adanya fakta lain bahwa ribuan manuskrip Indonesia tersebar ke seantero jagat sejak zaman baheula dengan beragam modus operandi pada masa lalu, seperti di Belanda, Inggris, Jerman, bahkan Amerika Serikat, dan beberapa negara lain —sebagaimana yang sudah dihimpun dalam sebuah katalog naskah kuno oleh Ki Ageng Chambert-Loir dan Kiai Oman Fathurrahman. Tentu, realitas penghancuran dan pemusnahan manuskrip di Indonesia itu kalis dari sentuhan Baez (2015), yang telah menelusuri penghancuran buku dari masa ke masa, dari berbagai belahan dunia.

Adapun, prasangka saya kembali membara, ketika saya sowan ke pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatul Arifin, KH. Agus Sunyoto di Malang, tempo hari, sekitar pertengahan Maret 2020. Asumsi saya mengemuka karena saya menemukan adanya fakta sejarah yang tidak didukung dengan keberadaan fakta pengetahuan. Kiai Agus membenarkan dugaan saya. Bahkan, ia membeberkan adanya data sejarah yang ditulis oleh kalangan asing, seperti Cina dan Portugis, yang menunjukkan keberadaan masa lalu di Indonesia dalam catatan sejarah mereka, tetapi alpa dalam catatan manuskrip kita.

Yang saya jadikan pijakan sebenarnya sederhana. Betapa langka manuskrip kita yang mencatat teknologi bahari, metalurgi, dan persenjataan masa lalu. Apalagi konstruksi sejarah kita menyatakan bahwa sejak zaman Sriwijaya, nenek moyang dulu adalah para penguasa maritim handal. Juga pada masa kerajaan Singasari-Majapahit, dengan adanya ekspedisi pamalayu dan keberadaan armada laut yang disegani oleh bangsa lain, pada masanya. Bahkan, di Candi Borobudur diabadikan sebuah model perahu. Yang terbaru adalah pada masa Kerajaan Demak dengan adanya ekspedisi menghadang Portugis di Malaka yang dilakukan oleh Pati Unus, sehingga ia digelari Pangeran Sabrang Lor. Belum lagi realitas kultural di berbagai masyarakat kita yang jago melaut dan ahli perihal kapal dan perahu, seperti Bugis, Bajo, Madura, dan lain sebagainya.

Di sisi yang berbeda, perihal teknologi senjata, beberapa prasasti era Kerajaan Majapahit menabalkan adanya sejumlah tanah perdikan, alias swatantra, sebagai wilayah bebas pajak dan dilindungi Negara karena kandungan tanahnya mengandung biji besi dan logam, bahkan mesiu. Salah satunya adalah Prasasti Sekar, di dekat Rajekwesi Bojonegoro. Bahkan, sebuah sumber menyebut karena kosmopolitannya kawasan Nusantara, pada masa Kerajaan Majapahit sudah dikenal adanya bedil kecil dan bedil besar, alias meriam, untuk melengkapi armada kapal. Teknologi meriam, yang sejenis bazooka, disebut sebagai cetbang oleh Pramudya Ananta Toer, dalam novel “Arus Balik”. Sementara itu, untuk teknologi metalurgi, termasuk keris dan gamelan, Indonesia dikenal ampuh. Bahkan, Dick-Read (2008) mensinyalir bahwa selain perahu, gamelan Indonesia juga mewarnai permusikan di Pantai Timur Afrika, dan dimungkinkan keberadaannya di sana sejak masa prasejarah atau sekitar abad-abad awal Masehi.

“Hingga kini, orang-orang kita selalu menggambarkan perang antarkerajaan, semisal Majapahit, Demak, Aceh dan lainnya, hanya dengan panah, tombak, dan keris, terutama dalam film dengan latar masa kerajaan. Dianggapnya, pada masa itu, kita masih primitif, padahal kita sudah canggih persenjataannya,” terang KH. Agus Sunyoto.

Memang, mata rantai pengetahuan kita banyak yang putus. Mungkin ada kesengajaan yang membuatnya putus, mungkin pula terjadi ketidaksengajaan. Namun, dari beberapa data yang saya temui ketika saya berusaha mengulik khasanah tempo doeloe, terutama manuskrip kuno, saya mendapati setidaknya tiga kali peristiwa pembakaran manuskrip dalam rentang waktu yang berbeda. Dari sanalah, dengan agak sedikit tahu diri, saya pun mengumamkan pada diri sendiri bahwa demikianlah keniscayaan sejarah yang terjadi. Dengan kata lain, mungkin peristiwa yang telah terjadi dan realitas yang kini terentang di hadapan kita, harus kita terima, sambil terus berusaha menambal-sumbal pengetahuan, meski dengan terseok-seok untuk menyatukan puzzle yang tercerai berai, bahkan hilang ditelan zaman.

Pertama, saya mendapatkan berita pembakaran manuskrip ketika saya menelusuri keberadaan naskah Bahrul Lahut, karangan Syekh Abdullah Arif, ulama Aceh-Minangkabau. Dari penelusuran naskah yang pada akhirnya menyinggung Syekh Abdurrauf Singkel, Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Nurudin Arraniri, dan Syekh Syamsuddin Assumatrani, berujung pada penghilangan jejak pengetahuan. Beberapa sumber lama menyatakan bahwa pada masa Kerajaan Aceh (abad ke-16) pernah terjadi pertentangan hebat dua paham perihal wujudiyah. Akibatnya dahsyat. Kitab-kitab yang berbau wahdatul wujud dibakar di depan Masjid Raya Banda Aceh. Beberapa studi tentang pertentangan paham keagamaan di Aceh Darussalam itu menyinggung soal pembakaran buku-buku ‘sesat’ tersebut, meskipun tidak secara detail.

Kedua, adalah pembakaran manuskrip pada saat Agresi Militer Belanda pada 1949 di dusun kelahiran. Memang tengara Om Sjamsudduha (1994) bahwa di Wanar ada semacam skriptorium masa lalu berdasarkan data sejarah. Di sana, berdiri Padepokan Panembahan Agung Singodipura, cucu Pangeran Singasari, penguasa Giri terakhir, yang habis diserang VOC-Mataram-Surabaya, dan hijrah ke kawasan Wanar. Di Dusun Badu Wanar, terdapat makamnya, sedangkan keturunannya menyebar di sekitar kawasan tersebut. Selain Wanar, ada di Sugio, Babat, Kedung Pring dan lainnya. Sejak abad ke-18, pemuka dan sesepuh Desa Wanar, yang keturunan Mbah Agung Singodipuro, mengembangkan beberapa padepokan dan pusat pengajian. Dimungkinkan, pada 1949 itulah, sumber pengetahuan dan reproduksinya terbakar.

Ketiga, adalah kisah di balik naskah Cerita Sri Tanjung, Banyuwangi, sebuah naskah Sri Tanjung yang bercorak islami. Sahdan, naskah tersebut pernah disimpan di Museum Banyuwangi. Pada 1928, naskah tersebut ditemukan oleh penduduk yang diperkirakan masih ada hubungan kerabat dengan Bupati Banyuwangi. Sebelumnya, naskah itu telah diselamatkan dari pembakaran besar-besaran yang dilakukan Belanda. Berdasar sebuah sumber, pada tahun 1980, kondisi naskah sudah rusak, ditulis di atas bahan kertas Eropa, dalam huruf pegon, dengan metrum macapat Jawa, setebal 187 halaman. Kolofonnya menunjukan penulisannya pada tahun 1671 Saka, wuku Prangbakat, yang ketika dikonversi ke dalam penanggalan Masehi bertahun 1746 Masehi. Adapun penyalinannya disebutkan selesai pada hari Selasa, pukul 03.00, tanggal 29 Dulkaidah, dan tidak disebutkan tahunnya. Sayangnya, beberapa waktu lalu, ketika saya bersua dengan Aekanu Haryono, budayawan Osing Banyuwangi, untuk menelisik ulang naskah tersebut, karena kepentingan penelusuran Cerita Sri Tanjung dalam versi lain, ia memberikan sebuah kejutan tak terduga.

“Naskah itu sudah hilang, Mas, dan itu PR saya yang belum selesai untuk menemukan dan mengembalikannya,” terang Pak Aeknu.

Saya langsung tepok jidat. Yup, pembakaran buku adalah tragedi peradaban, tetapi ternyata kita sendiri juga sering berlaku sembrono dalam menghambat laju peradaban. Cik melipe, rek! Yang jelas, banyak sebab sehingga terjadi penghancuran manuskrip di Indonesia. Tentu tidak hanya karena perang, tetapi perselisihan paham, keteledoran, penyimpanan yang terlalu ekslusif dengan menganggapnya semacam benda pusaka atau jimat, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana catatan masa lampau tentang pengetahuan yang ‘berbahaya’, seperti senjata api? Mungkinkah ada upaya menghilangkannya secara terstruktur, sistematis dan massif? Lalu bagaimana dengan penghancuran dan pemusnahan buku pada masa Indonesia modern, terutapa pada era revolusi 1945, yang terjadi clash di beberapa kota besar di Indonesia, dan peristiwa 1965, yang imbasnya menyeluruh ke segenap sendi kehidupan bangsa? Entahlah. Hidup harus terus berlanjut, bukan! Joko sembung naik becak, ora nyambung, Cak!

Gituh ajah.

On Sidokepung, 2020

_______________
*) Mashuri, lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun di beberapa antologi. Dia tercatat sebagai salah satu peneliti di Balai Bahasa Jawa Timur. Tahun 2018, bersama Sosiawan Leak dan Raedu Basha, dipercaya jadi kurator yang bertugas memilih narasumber dan menyeleksi para peserta Muktamar Sastra. Hubbu, judul prosanya yang mengantarkan namanya meraih predikat juara 1 Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), tahun 2006. Dia menggeluti hal-ihwal terkait tradisionalitas dan religiusitas. Mashuri, merupakan lulusan dua pesantren di tanah kelahirannya. Dia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di luar aktivitas pendidikannya, berkiprah di Komunitas Teater Gapus, dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *