Seniman Organik: Sebuah Upaya Penyadaran

Matroni Muserang *
Radar Madura, 23 Sep 2018

“Orang yang tidak mampu menikmati merdunya suara dan indahnya notasi musik, maka adanya sama dengan tidak ada, sekali pun hidup, ia mati adanya”.

Rangkaian kata yang dilantunkan oleh Syaikh Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Hikmah fi Makhuqatillah sebagai pembuka tulisan saya yang ingin menanggapi tulisan Syah A. Lathif di Jawa Pos Radar Madura pada hari Minggu 2 September 2018 “dari ladang jagung; mencari Praktik seni Penyadaran” membuat pikiran gelisah dan risau akan eksistensi seni yang “ada” di tanah Sumenep.

Mengingat seni sebuah keahlian membuat karya berkualitas dan keahlian yang luar biasa. Dalam konteks ini tentu kita membutuhkan keseriusan untuk terus dan selalu belajar dan menerjemahkan seni di ranah realitas seperti yang ditulis oleh Syah A. Lathief (selanjutnya Lathief) bukan mudah kita membuat pertunjukan yang mampu menghipnotis banyak orang dan mampu menghidupkan desa yang sepi seperti di desa Nyapar. Seni dan budaya sebagai hak dan kekayaan intelektual bangsa, sangat disayangkan ketika karya kita diambil oleh orang yang tidak memiliki kreativitas dalam menciptakan seni. Ingat seni sebagai basis dasar dalam menentukan kemajuan sebuah desa bahkan bangsa.

Dewasa ini tidak “mungkin” tidak penting mengekspresikan seni dalam bentuk baju compang-camping, celana sobek, rambut panjang, perokok yang kemudian dijustifikasi sebagai seniman atau penyair, bukankah mengkontekstualisasikan paradigma seni itu lebih penting daripada sekadar ekspresi bentuk-bentuk, belum lagi kita tidak benar-benar menekuni apa itu seni. Kacau! Oleh karenanya belajar seni dan menerjemahkan ke ranah sosial merupakan yang sangat urgen saat ini di tengah semaraknya polesan bentuk-bentuk, daripada memoles dikedalaman bentuk itu sendiri. Bukankah immateri dan materi sama-sama penting. Bukankah rasio dan jiwa sama-sama penting? Kesadaran seperti itulah sebenarnya yang saat ini kita butuhkan di tengah-tengah masyarakat. Kesadaran bahwa seni ada dalam rangka menghidupkan warga, menghidupkan ekonomi, menghidupkan kemandirian, menghidupkan kesadaran.

Di sinilah pentingnya keseriusan dalam belajar, sebab keseriusan merupakan modal awal bagi seseorang untuk menjadi ahli. Artinya jangan bilang seniman jika belum mampu menghidupkan desa yang sepi, bagaimana dari ladang jagung mampu menciptakan warga bisa mendapatkan keuntungan ekonomi. Pemikiran seperti inilah sebenarnya yang diinginkan pertunjukan seni di desa-desa di Sumenep. Mencoba mengajak warga untuk berpikir mandiri melalui rangsangan seni. Seni di sini sebagai media penyampai bagi warga sehingga tercipta kesenian yang berbasis warga, kata Lathief.

Seniman yang berpikir keras untuk kepentingan warga inilah yang disebut seniman organik. Seniman yang tidak hanya berpikir seni untuk seni. Artinya seni bagi orang-orang tertentu yang suka seni, tanpa berpikir bagaimana warga yang tidak tahu seni juga menikmati meskipun mereka mengambil moment untuk berjualan di acara pertunjukan seni. Minimal pertunjukan seni merangsang warga untuk menghidupkan jiwa usaha, di samping itu ada semangat kebersamaan di antara warga yang bisa kita pelihara agar di tengah isu-isu kesemrautan yang mudah membunuh akal sehat, kata Lathief bisa diminimalisir.

Seniman organik merupakan seniman yang berupaya bagaimana seni bisa di terima tanpa ada embel-embel oleh warga di kampung-kampung, sebab seni bukan melulu eskpresi estetik akan tetapi ekspresi sebagai tanggungjawab sosial. Sebab, sejak kemunculannya, estetika tidak hanya mempelajari tentang keindahan dan kesan akan rasa indah saja, tetapi estetika juga menyangkut masalah manifestasi dari aspek-aspek yang sangat tragis, menyenangkan, dan memiliki makna yang sangat luas dan mendalam. Oleh karenanya hiburan yang berkualitas selalu dinanti-nantikan oleh warga dan ini tugas seniman Sumenep, agar warga tidak terjebak pada hiburan sesaat yang sarat kepentingan basa-basi sosial-politik yang hampa.

Saya sepakat dengan keinginan Latheif dalam tulisannya, namun akankah hal itu akan eksis di tengah-tengah terpaan gelombang kapitalisme material yang kini merambah ke relung-relung kampung yang ditandai dengan urbanisasi? Belum lagi kita disuguhi event-event sesaat yang hanya bisa dinikmati turis/wisatawan dan kita lupa akan potensi lokal. Potensi lokal sebagai basis seni tentu kita membutuhkan keseriusan untuk mencari dan mendata kemudian kita tampakkan ke warga melalui media seni, dan ini belum dilakukan oleh kita.

Seni merupakan intrumen untuk memberikan penyadaran kepada warga jangan sampai warga menjadi penonton dan buruh di tengah keramaian pasar dan duka sosial yang nyerih. Akan tetapi bagaimana seni hadir memberikan penyadaran bahwa hidup ini sebuah perjalan yang ringkih dan fana, kalau demikian buat apa bernafsu dan berarogansi politik dan seolah-olah seniman? Oleh karenanya seniman justeru harus bersama-sama warga untuk menjaga kebudayaannya sendiri bahkan menciptakan kebudayaanya sendiri.

Ketika pertunjukan diciptakan atas fondasi epistemologi kerakyatan kata Lathief, tanpa kepentingan ngartis dan nyalek, maka kemurnian sebuah perjuangan seniman akan terlihat di sana. Niat tulus seniman juga dipertimbangkan dalam perjuangan, yang namanya perjuangan tentu tidak ada proposal yang terbang ke dinas dan DPR. Seniman organik mampu menggerakkan warga dengan gotong-royong, artinya seniman organik menciptakan seni diterima oleh warga bukan saja ditonton oleh warga. Kalau di terima warga dengan senang hati warga akan terus menjaga dan mewariskan, kalau hanya di tonton warga, setelah di tonton hilang jejak.

Dari ini kita membutuhkan kehadiran seniman organik yang mampu menciptakan seni diterima oleh warga. Itulah cita-cita seniman organik, ia memiliki cakrawala pengetahuan yang luas, inklusif, namun tidak mengesampingkan warga desa. Seniman organik ia hidup di kampung-kampung dan di desa-desa, tapi ilmu dan pengetahuannya global. Akhirnya seni untuk seni mati. Saya teringat puisi Ramadhan KH; Dan semua pengabdian Diuntukkan bagi keagungan bangsa/ Dan semua kelelahan Diuntukkan bagi kemuliaan manusia. Bahwa kerja seni bukan untuk seni, akan tetapi untuk kemanusiaan. Maka tidak penting kalau ada isu menerbitkan sertifikat seniman. Apalagi menerbitkan sertifikat ulama.

_______________________
*) Matroni Muserang, lahir di Banjar Barat, Gapura, Sumenep, Madura. Alumni Al-Karimiyyah dan Al-In’Am. Menulis di banyak media baik lokal maupun nasional. Buku antologi puisi bersamanya adalah “Puisi Menolak Lupa” (2010), “Madzhab Kutub” (2010), Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (Dewan Kesenian Jatim, 2010). Suluk Mataram 50 Penyair Membaca Jogja (2011), Menyirat Cinta Haqiqi (temu sastrawan Nusantara Melayu Raya (NUMERA, Malaysia, 2012), Rinai Rindu untuk Kasihmu Muhammad (2012), Satu Kata Istimewa (2012), Sinopsis Pertemuan (2012), dan Flows Into The Sink, Into The Gutter (2012, dua bahasa, Ingris-Indonesia), Sauk Seloko (PPN VI Jambi 2012). Menyelesaikan studi S-1 dan S-2nya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
https://matronielmoezany.blogspot.com/2018/10/seniman-organik-sebuah-upaya-penyadaran.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *