ANTARA KRAMA INGGIL DAN NGOKO

: Tentang Hegemoni Makna dan Penafsiran
Djoko Saryono *

the real monopoly is never that of technical means, but of speech
(Baudrillard, For a Critique of the Political Economy of the Sign, 1982)

/0/
Bersila di dipan usang, orang tua bijak itu — yang dari mulutnya selalu terdengar harum zikir dan lembut tuturnya menidurkan segala kesumat — didatangi beberapa anak muda yang sedang mencari pegangan kearifan di tengah bencana wabah pandemi virus yang membuat semua masyarakat dan pemerintah di dunia kalang kabut dan cemas.

“Ada apa kemari, anak muda?”, tanya orang bijak itu meminta penjelasan.

“Kek, terus terang, kehadiran kami kemari untuk mencari pegangan diri. Sekarang kami dilanda cemas dan bingung dihajar pandemi virus korona! Tapi, pejabat negeri kami bahasanya tak dapat kami jadikan pegangan pasti! Kami harus bagaimana?”

Mendengar curhatan anak muda itu, orang tua bijak itu kemudian bercerita. Berikut ini sari ceritanya:

/1/
Kendati hidup pada zaman supermodern atau modern lanjut, Pak Dumeh mengharuskan kelima anaknya berbahasa krama inggil kepada dirinya. “Di rumah ini, tak seorang pun boleh berbahasa ngoko kepada diriku. Termasuk ibumu. Kecuali diriku kepada kalian semua!,” tegasnya kepada Jonantang, Jongawur, Jomokong, Jogelo, dan Jogetun kelima anaknya yang berbeda watak. Kapan dan di mana pun kalian harus ber-krama inggil kepadaku. Sebaliknya, kapan dan di mana pun aku, bapak kalian ini, boleh dan bisa ber-ngoko-ngoko kepada kalian. Ini aturan (tentu kubuat) yang harus kalian taati, harus dipatuhi. Tak bisa ditawar dan dibantah!,” putus tandas Pak Jodumeh.

“Wa-lah! Bapak!” Jonantang tercekat sesudah terpeanjat sesaat.
“Lho…lho…lho..lho…!” Jongawur tergengong-bengong melompong.
“Ndak usah pakai aturan-aturan begitu, Pak!” usul Jomokong dalam ragam ngoko.

“Ya, Pak! Hapus saja aturan itu. Bukan lagi zamannya sekarang,” serentak si kembar Jogelo dan Jogetun melanjutkan usul Jomokong dalam ragam ngoko juga.

“Heisy! Heisy! Tak bisa! Ini aturan bukan bikinan bapakmu, ngerti?! Ini warisan mbah kalian! Bapak cuma melestarikan, melanggengkan warian budaya. Menurut mbah kalian, aturan ini buat njaga praja wong tuwa, menjaga kehormatan orang tua di mata orang lain. Bukankah penting menghormati orang tua? Jadi, kalian mesti ber-krama inggil buat menghormati bapak! Yang tak ber-krama inggil akan bapak hukum!”

“Waduh, wah! Bapak itu kok mau menang sendiri. Itu otoriter lho, Pak!. Bukan zamannya sekarang, Pak!” sewot Jonantang.

“Itu feodal dan otoriter, Pak!” imbuh Jongawur.

“Lagian menghormati orang tua ‘kan tak harus pakai krama inggil tho, Pak. Ngoko ‘kan juga bisa menghormati!,” timpal Jomokong.

“Pokoke tak bisa! Tak bisa! Aku bapakmu. Yang jadi penguasa tunggal di rumah ini aku. Akulah yang harus menentukan segala aturan. Bukan kalian. Ini semua demi kalian, demi masa depan kalian!,” tandas Pak Jodumeh.

“We-la-da-lha! Bapak kok main kuasa gitu! Gimmick-nya demokratis, tapi otoriter! Bapak tak boleh begitu dong. Dengarkan kami semua. Perlu juga dong bapak dengarkan keinginan kami. Kami tetap menghormati bapak. Tapi, kami ingin penghormatan itu tak diujudkan dengan ber-krama inggil. Kalau kami bicara ngoko tetap didasari niat menghormati bapak, memuliakan bapak!”, si kembar Jogelo dan Jogetun nerocos bergantian.

“Sekali lagi, pokoke tak bisa! Awas, kalau kalian tak mematuhi aturan itu. Tahu rasa nanti. Bisa kujatuhkan hukuman!”

“Wuaahhhhhhhhhhhhhh…. bapak!…,” mereka mencoba protes.

“Paaak…., sabar dong! Sadar dong, Pak. Ini zaman sudah beda!”

“Sudah tho, Le. Mbok sudah,” dari dalam kamar tiba-tiba ibu mereka, Bu Sumeh, berteriak keras mencoba mengakhiri perdebatan bapak-anak. “Ngalah saja sama bapakmu. Bapakmu itu ya begitu itu. Dulu waktu bertemu ibu tak begitu, tapi lama-lama begitu, apalagi setelah lama bersama ibu, bapakmu jadi begitu!. Tak mau ngalah, tak pangerten sama orang, termasuk kalian! Maunya tak bisa sedikit pun ditenggang. Sudah, Le. Kalian ngalah saja. Wani ngalah luhur wekasane. Kalau bludreg-nya kumat, salah-salah kalian nanti kena bogem, kepruk, atau gebuk bapakmu!. Lha kalau hobi berkendaranya yang kambuh, salah-salah kalian bisa ditabrak…. Wah, malah runyam, Le.”

/2/
Malam larut. Di kamar, Pak Dumeh dan Bu Sumeh sedang mengobrolkan sesuatu.

“Pakne, Pakne, mbok biarkan saja anak-anak bicara ngoko kepada kita. Benar juga kata mereka. Ngoko tak berarti menentang, mengasari, melecehkan, dan tak menghormati kita. Bagi mereka, ngoko malah rasanya akrab, bebas, terbuka, dan sejajar. Demokratis, kata orang sekarang. Itu bahasa mereka, anak-anak muda yang masih bergelora semangat dan roso-nya. Jiwa omongan ngoko-nya sebenarnya sama saja dengan jiwa omongan krama ingggil. Biarpun pakai ngoko, dalam hati dan nurani, mereka tetap menjunjung dan menghormati kita sebagai orang tua kok Pakne. Apalah artinya krama inggil, kalau dalam hati dan nurani, mereka justru memantati, malah mengentuti kita. Lho, banyak lho Pakne, orang yang ber-krama inggil hanya di bibir saja, tapi di hati benci bin dendam setengah mati. Banyak juga yang ber-krama inggil hanya buat menjerumuskan Pakne!” Bu Sumeh berpendapat.

“Tobat…tobat…tobat! Bagaimana tho Bune ini! Usul kok yang tidak-tidak. Telingaku ini lho… telingaku ini lho, Bune! Rasanya mak sengkring, sakit sekali kalau mendengar mereka bicara ngoko kepadaku! Itu menista, memerosotkan marwahku sebagai bapak! Dan perasaanku, Bune, rasanya mak bleg, ambleg, jatuh wibawaku. Rusak prajaku rasanya, Bune!”

“Ya, telinga dan perasaan kita saja yang disetel ulang. Siapa tahu justru telinga dan perasaan kita yang sudah beku, tertutup, lagi ketinggalan zaman. Dan, kita malas menyetel ulang lantaran sudah merasa enak berlindung di balik krama inggil. Lha akhirnya kita bikin aturan ber-krama inggil buat melindungi telinga dan perasaan kita”

“Wah… wah… wah…. gimana tho, Bune ini. Kan ngrusak praja, merusak kedudukan dan kehormatan, orang tua namanya itu. Dengar Bune, kalau anak-anak, orang-orang muda, wong cilik, dan sejenisnya kita biarkan ber-ngoko-ngoko kepada kita, hancurlah praja kita, Bune!”

“Alah … alah … alah… Pakne, Pakne! Mesti begitu pikirannya. Yang dipikir praja… praja… praja!. Tapi, prajanya sendiri! Praja orang lain, anak-anaknya sendiri, tak pernah dipikirkan dan dihargai. Apa cuma Pakne yang punya praja?! Itu mau menang sendiri namanya, Pakne!”

“Lho, jadi Bune mendukung keinginan anak-anak ber-ngoko kepada kita tho?! Ooooooo…. jadi Bune aktor di belakangnya, ya! Aktor intelektualisnya ya! Yo, silakan ngompori anak-anak! Tahu rasa kamu nanti. Tak cerrr……..,” ujar tegas Pak Jodumeh!

“Lho….lho….lho…. lho… Pakne, sabar tho, eling tho. Jadi, orang tua harus sabar, eling, dan arif. Kok nuduh dan ngancam sama istri sendiri!”, potong Bu Sumeh.

/3/
Bagai disusupi semangat gerakan Jawa Dwipa, keinginan ber-ngoko ternyata benar-benar direalisasi Jonantang dan adik-adiknya. Tiap bicara sama bapak, yang mereka rasakan makin sesuka hatinya sendiri, mereka selalu ngoko. Barang tentu, telinga dan hati bapak bagai ditusuk-tusuk beribu jarum. Sakit sekali rasanya. Meledaklah amarahnya kepada anak-anaknya.

“Setan gundul! Anak tak tahu diuntung! Melanggar aturan! Tak patuh sama orang tua! Mau jadi apa kalian?! He!,” sembur Pak Jodumeh begitu dahsyat sembari mengancam.

“Lho…lho… lho, Pak! Jangan begitu!”

“Setan gundul kamu semua, Le! Ngomong ceplas-ceplos pakai ngoko! Mengkritik kata kalian, tapi itu menista, kata bapak kalian! Kamu mau nantang … mau makar sama wong tuwo, ya?! Mau ngrusak tatanan yang sudah enak ini, ya?! Aku tempelengi kalian!” ancam Pak Jodumeh sembari nyengkiwing Jonantang, anak sulungnya.

“Puaak… Puakk … jangan gitu dong!” pekik Jomokong.

“Bapak sendiri ngomong ngoko terus gitu kok sama kami. Kenapa kami kok nggak boleh ngomong ngoko juga. Kalau kami ngoko dituduh berbuat kasar, berarti bapak juga berbuat kasar kepada kami dong. Ini tak adil!, “lanjut Jongawur membela diri.

“Sontoloyo! Akulah bapakmu. Kalian cuma anak-anak. Akulah yang berhak mengatur dan bikin aturan. Bukan kalian. Tak ada anak yang berhak mengatur dan bikin aturan rumah tangga. Dan, aku sudah tetapkan aturan, kalian mesti krama inggil kepadaku untuk menjujung martabatku. Tapi, aku boleh ngoko kepada kalian dan ibumu buat menunjukkan prajaku, kewibawaan dan kedudukanku …”

“Sebentar …. sebentuuaarrr, Pak!” potong Jogelo dan Jogetun serempak. “Kalau bicara soal hak, kami justru punya hak lebih besar ketimbang bapak dalam mengatur rumah tangga ini. Soalnya, kamilah yang mengangkat bapak menjadi BAPAK. Kalau kami tak lahir bin ada, mana mungkin bapak bisa menjadi BAPAK?! Makanya, kalau kami ngoko kepada bapak, justru itu yang tepat. Seharusnya bapaklah yang ber-krama inggil kepada kami”

“Edan!! Eduaannnn tenan!! Setan gundul kalian semua! Berani-beraninya mau mencopot jabatanku sebagai bapak! Heh! Kalian semua menentang aturan! Aku hukum kalian semua! Jonantang, kusekap kamu di kamar mandi 13 jam. Jongawur, aku sel kau di gudang 8 jam. Dan kalian, Jomokong, Jogelo, dan Jogetun, kuganjar kalian dengan sekapan 6 jam di gudang!” Tak terbendung lagi sudah amarah Pak Jodumeh kepada anak-anaknya.

/4/
Kata ahli bahasa, krama inggil itu bahasa halus, hormat, dan sopan. Ngoko itu bahasa kasar, tak hormat, dan tak sopan. Bahasa Indonesia yang halus, hormat, dan sopan pun bisa disebut bahasa krama inggil, sedang yang kasar, tak hormat, dan tak sopan disebut bahasa ngoko.

Akhir-akhir ini, terlihat gejala, bahasa Indonesia ngoko kian banyak digunakan oleh “bapak-bapak kita” yang berwatak Pak Dumeh ketika berkomunikasi dengan orang kebanyakan, rakyat akar rumput. Tandanya, berhamburannya kata-kata menuduh dan menyudutkan orang kebanyakan.

Orang kebanyakan seperti kita, waktu berkomunikasi dengan “bapak-bapak kita”, banyak dituntut untuk selalu berbahasa Indonesia krama inggil yang sudah ditetapkan “bapak-bapak”. Jika nekat ngoko, seperti Jonantang dan adik-adiknya, sering beroleh setrapan alias hukuman.

Tak aneh, Clifford Geertz bilang, mecanism of power Indonesia ngumpet di balik linguistics/poetics of power. Dan, linguistics/poetics of power Indonesia, imbuh Taufik Abdullah, telah menjadi hegemonis sehingga terjadi hegemoni makna dan penafsiran. Di sinilah, seperti ujar Baudrillard, terjadi otoritarianisme wacana atau monopoli ujaran dalam kehidupan sosial (politik dan budaya) kita.

Hari hari ini, di bawah bayang-bayang pagebluk virus yang mencekam dan menakutkan, orang kebanyakan seperti kita juga berada di bawah bayang-bayang kuat poetics of power bapak-bapak kita. Orang kebanyakan seperti kita, belakangan ini terkepung dari dua penjuru: depan dan belakang. Terjebak maju kena mundur kena!

____________________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *