As Laksana dan Bidadari yang Mengembara


Bahrul Amsal *

DI SAAT tertentu seperti akhir pekan, ketika pikiran membutuhkan sesuatu yang menyegarkan lebih dari secangkir kopi, secara otomatis pikiran saya tertuju kepada sosok penulis yang telah banyak berkiprah dalam semesta tulis menulis tanah air: As Laksana.

Belakangan saya baru menyadari, entah dimulai dari kapan, entah dalam tempo seminggu, tiga minggu, atau berbulan lamanya, saya terbiasa tergerak mencari tulisan-tulisannya. Selain AS Laksana, Eka Kurniawan—belakangan Gusmuh— adalah sosok lain yang hampir sama dengannya.

AS Laksana adalah sosok yang secara tidak langsung menginspirasi saya dalam menulis. Banyak tulisan-tulisannya menjadi tempat saya menimba ilmu bagaimana teknik membuka suatu tulisan agar tidak kelihatan klise, membuat kalimat tanpa bertele-tele, atau menyampaikan gagasan dengan cara yang ”ringan”.

Pernah suatu masa sosok seperti Goenawan Muhammad membuat saya tergila-gila melalui Catatan Pinggirnya, dan Ali Syariati dengan pikiran-pikirannya yang antimainstream membuat pemahaman beragama saya menjadi kritis. Dua nama ini suka tidak suka dalam waktu tertentu menjadi kiblat saya menulis.

Nama yang pertama membuat saya kepincut dengan gaya menulis yang identik dengan pendekatan puisi, walaupun akhirnya saya menyadari cara itu hanya membuat tulisan saya jadi acak kadut seperti orang yang sedang mengigau. Saya menyadari gaya menulis itu tidak bisa saya jadikan contoh karena saya tidak memiliki kepekaan puitik seperti GM. Apalagi, suatu waktu saya semakin yakin gaya menulis GM akan membuat saya semakin jauh dari gaya menulis saya yang otentik.

Ali Syariati sosok kedua yang lumayan besar pengaruhnya bagi perkembagan pemahaman keagamaan saya. Tulisan-tulisannya menginspirasi saya bahwa agama bukan sekadar pengalaman hidup yang mesti dinikmati sendiri. Agama punya semangat dan ruh egaliter dan memiliki inisiatif perubahan memberbaiki keadaan masyarakat.

Selama masih menjadi mahasiswa, dan kerap mengikuti banyak forum diskusi, tulisan-tulisan Ali Syariati bukan saja menginspirasi melainkan ikut membentuk pandangan dunia saya. Dari sini, jangankan pandangan dunia, ideologi dan gaya menulisnya pun sering saya jadikan contoh.

Seiring memiliki kesenangan menulis, seiring itu pula saya bertemu nama AS Laksana.

Saya agak lupa kapan sebetulnya saya mengenal AS Laksana. Satu hal yang pasti perkenalan saya dengannya ditandai dari salah satu bukunya bertahun lalu. Saat itu di sebuah kafe yang menjajakan juga buku-buku saya tertarik dari sebuah judul buku berwarna merah menyerupai pink: Bidadari Yang Mengembara. Hurufnya dibikin kapital dengan ukuran besar yang hampir memenuhi luas sampulnya. Di atasnya tertera nama penulisnya: A.S LAKSANA.

Buku itu adalah 12 kumpulan cerpennya dengan “Bidadari Yang Mengembara” sebagai cerpen urutan nomor dua dalam daftar isinya.

Bidadari Yang Mengembara bercerita tentang seorang tukang urut yang menemukan cinta matinya melalui persetubuhan tanpa sengaja dengan Alit yang kehilangan kesadaran dan mengigau. Tanpa ia sadari dalam igauannya ia bercumbu dengan seorang perempuan yang ia kira adalah kekasihnya. Bagi si wanita, peristiwa ini begitu menyenangkan karena menandai bahwa mereka telah menjadi sepasang kekasih.

Tidak perlu saya ceritakan di sini buku terbitan Gagas media itu. Sejak saat itu jika ingat saya bakal mencari tulisan-tulisannya di jagadmaya. Dari pencarian saya ini, AS Laksana selain cerpenis, juga seorang penulis esai yang lantip, yang menjalani profesi wartawan di detik (yang pernah diberedel Orba) sebagai pekerjaan utamanya.

Satu hal yang samar-samar saya iyakan dalam hati, suatu karya tulis yang digarap dengan sepenuh hati pasti akan menginspirasi banyak orang. AS Laksana bukan saja seperti yang saya katakan demikian. Pengalamannya sudah bercerita banyak hal di mana dan seperti apa posisinya dalam jagad kepenulisan Tanah Air.

Oh ya. Tulisan AS Laksana dulu sering nangkring di kolom khusus Jawa Pos bertajuk Kolom Putih, Kumparan, dan satunya lagi di Beritagar.id—sekarang sudah almarhum—dan ini yang unik, ia memiliki banyak blog pribadi yang semuanya bisa kita akses sampai hari ini. Jika Anda butuh sekadar bacaan menyegarkan dan lebih dari itu, pencerahan—entah dengan beragam maknanya—silakan Anda kunjungi saja nama-nama situs yang saya sebutkan di atas.

2018-2020.

___________
*) Penulis buku “Jejak Dunia yang Retak” (2012).Pada tahun 2016 menjadi salah satu kontributor buku antologi 100 esai-esai pilihan Koran Tempo Makassar: Telinga Palsu (Nala Cipta, Makassar). Akhir 2016 menulis epilog buku kumpulan puisi Nyanyian Seribu Jiwa. Mendirikan, mengasuh dan aktif di Kelas Literasi Paradigma Institute Makassar (2015), komunitas kajian Pojok Bunker Makassar (2015), dan komunitas Ngobrol Ngopi Kolektif Lemo-Lemo (2020). Dapat berkorespondensi melalui bahrulamsal@gmail.com.
https://alhegoria.blogspot.com/2020/04/as-laksana-dan-bidadari-yang-mengembara.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *