Babad Diponegoro ditulis Tahun 1831


Agung Ismiyanto
Tribun Jogja, 16 Nov 2014

Sejarawan Inggris, Peter B R Carey, penulis buku Pangeran Diponegoro tidak main-main dalam menelusuri sejarah Pangeran itu. Selama 30 tahun mendalami sejarah Pangeran Diponegoro, Carey kini jadi inspirasi para peneliti.

Dia juga menambahkan, sejauh ini belum ada biografi yang utuh tentang kehidupan sang Pangeran yang menggunakan sumber Belanda dan Jawa untuk melukiskan hidup pribadinya. Buku tersebut, merupakan buku pertama yang menggunakan babad dan arsip kolonial Belanda dan Inggris sebagai tulang punggung.

“Naskah babad Diponegoro yang asli sudah hilang. Babad Diponegoro yang asli ini ditulis oleh seorang carik dan sastrawan yang didikte oleh Diponegoro saat masa pengasingan di Makassar dan sebelum wafatnya,” kata pengajar di Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini.

Dia menjelaskan, berdasarkan informasi, Babad Diponegoro itu ditulis sembilan bulan antara bulan Februari 1831 hingga Mei 1832. Naskah yang ditulis tersebut menceritakan mengenai perjalanan Diponegoro dari masa remaja di Tegalrejo, sejarah nabi dan raja-raja Jawa, hingga perang Jawa. Lewat tulisan naskah itu, Diponegoro ingin membuat bahan untuk pelajaran anak-anaknya.

Bagaimana unsur keislaman kebudayaan Jawa yang akhirnya kandas di Sulawesi. “Jadi maksud utama adalah untuk warisan. Keluarga bisa mempertahankan unsur Jawa dalam pengasingan. Dengan menulis itu juga ada otobiografi, meski dia tidak menulis aku. Dan naskah utama perang Diponegoro dan kejadian di Jawa abad 19. Ada unsur mistis, wangsit, ratu kidul dan pemandangan masa depan,” katanya.

Hanya saja naskah asli itu hilang antara di Makasar dan Batavia. Saat itu ada koran Hindia Belanda yang menyebutkan keterangan dari kerabat Diponegoro bahwa ada tamu ageng (besar) meminjam selama dua kali dan setelah itu tidak kembali.

Hilangnya naskah Diponegoro ini, menurutnya juga dilandasi ketokohan Diponegoro. Ada dugaan bahwa naskah itu sangat berharga bagi pemerintah Belanda saat itu. Karena, dari membaca naskah yang konon ditulis dengan aksara Jawa itu bisa membuka pintu pada seorang inlander atau pribumi yang saleh. “Belanda juga ingin mengenal watak pribumi. Saat ini, ada lima salinan di Belanda dan Inggris yang diperkirakan dari naskah asli. Ditulis dalam huruf Pegon dan Aksara Jawa,” jelasnya.

Sementara itu, atas karyanya, Carey menerima penghargaan pada penutupan BWCF 2014 di Yogyakarta, Sabtu (15/11). Penghargaan Sanghyang Kamahayanikan Award 2014 kepada Caery ini diberikan kepada tokoh yang memberikan sumbangan besar dalam mengkaji budaya dan sejarah Nusantara.

Kurator dari Samana Foundation, Seno Joko Suyono mengatakan, apa yang dilakukan Peter Carey adalah sesuatu yang luar biasa. Dia seumur hidupnya mengabdikan diri untuk memahami Diponegoro. Ia bukan hanya mampu membaca apa yang tersurat dari Diponegoro tapi juga yang tersirat. “Apa yang dilakukan Peter Carey juga mampu menjadi inspirasi bagi peneliti lainnya untuk menggeluti harapan dasar dari Nusantara yang belum tersampaikan,” tandasnya.

https://jateng.tribunnews.com/2014/11/16/babad-diponegoro-ditulis-tahun-1831

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *