CERDAS BERBAHASA, TAFSIR TAK PERNAH SERAGAM

Maman S Mahayana
Kompas, 13 Mei 2020

Bahasa apa pun di dunia ini, ideologis! Ia menyimpan dan menyampaikan ide para pemakainya. Ide itu digayuti latar belakang kehidupan tradisi sosio-budaya, agama, politik, pendidikan, dan lingkungan alam yang melahirkan dan membesarkannya. Ia lalu melekat dalam pikiran penutur. Bergerak setiap otak memerintahkan dan hati ikut mempertimbangkan. Jadi, dalam setiap ujaran, tersimpan ideologi sang penutur. Itulah yang membedakan bahasa manusia dengan bahasa hewan. Ada logika. Ada juga konvensi norma dan etika yang harus dipenuhi ketika seseorang berinteraksi menjalankan komunikasi sosial.

Ketika ada anggota masyarakat yang tak bersepakat dan menawarkan kata lain dengan makna lain, persoalannya tinggal, bagaimana masyarakat menerimanya. Keberterimaan dan ketakberterimaan kata atau ungkapan tertentu menentukan riwayat perjalanan hidup sebuah kata. Prof Anton M. Moeliono, linguis mantan Kepala Pusat Bahasa, misalnya, pernah mengusulkan kata mangkus—dari bahasa Minang yang artinya mustajab, manjur—dan sangkil yang maknanya tepat sebagai padanan efektif dan efisien. Tetapi publik lebih suka memakai efektif dan efisien. Maka, mangkus dan sangkil, tetap tercatat dalam kamus, tetapi frekuensi pemakaiannya di masyarakat sangat rendah. Lalu adakah yang salah dari usulan Anton M. Moeliono itu? Tentu saja tidak, apalagi kedua kata itu maknanya netral, tak bernuansa negatif, tak juga menyerempet masalah SARA. Orang manasuka memakai efektif dan efisien atau mangkus dan sangkil.

Berbeda dengan kedua kata itu, penerjemahan sophisticated dengan canggih ternyata diterima secara luas, meski dalam kamus Poerwadarminta, canggih bermakna suka mengganggu; bawel. Konteks pemakaian kata canggih, juga makin melebar dan bisa ditarik ke mana-mana. Mesin dengan perangkat yang kompleks, orang yang mempunyai keterampilan menakjubkan, kerajinan tangan yang menunjukkan detail dan kecermatan atau apa pun yang hebat-hebat, disebut canggih! Bahkan tukang obat yang piawai ngapusi pun, dikatakan juga canggih!
***

Sebagian besar kosa kata sebuah bahasa dengan makna tertentu dimiliki juga bahasa yang lain. Itulah sifat bahasa yang universal. Di balik ciri universal itu, ada pula cirinya yang unik, khas, yang hanya ada dan berlaku dalam bahasa bersangkutan. Kata padi, misalnya. Bagi masyarakat yang menempatkan nasi sebagai makanan utama, kata padi punya cabang-rantingnya sendiri, seperti gabah, merang, benyer, dedak, dan entah apa lagi. Berderetlah nama-nama padi dengan segala perbedaan nuansa maknanya. Tetapi, bagi masyarakat yang makanan pokoknya bukan nasi, cukup diwakili kata paling umum, seperti paddy, rice atau coocked rice (Inggris). Makanan hasil fermentasi di Korea, misalnya, kita kenal sebagai kimci. Tetapi di Korea sendiri, ada puluhan nama dan jenis kimci dengan bahan dan cara pengolahannya berbeda-beda.

Hal lain yang juga menunjukkan keunikan bahasa berkaitan dengan entitas yang sama dinamai berbeda oleh masyarakat lain. Bagi masyarakat Riau, misalnya, semua motor merk apa pun akan disebut honda, yang di Kuala Lumpur disebut kereta, meski tak semua kereta mengacu pada motor. Tak sedikit juga kata yang sama dimaknai lain oleh masyarakat berbeda. Misalnya, kata bujur (Batak) yang artinya terima kasih dan bujur (Sunda) yang artinya pantat. Sebut lagi, momok yang maknanya hantu menakutkan yang bagi orang Sunda, maknanya tentu bukan itu.

Demikian pula dalam perkara makanan dengan label nama hewan. Bagi publik Medan, sebutan B-1 dan B-2, bukan hal yang perlu diributkan. Tetapi bisa jadi masalah jika dibawa ke daerah lain. Demikian juga sate jamu di warung-warung kaki lima di Solo, resto swike, atau hewan-hewan yang dijual di Pasar Beriman Tomohon, Manado. Bagi masyarakat daerah lain, ada larangan dan tabu mengkonsumsi hewan-hewan itu. Di sinilah pemakai bahasa perlu berhati-hati ketika hendak melabeli barang atau makanan dengan nama hewan.

Itulah yang terjadi pada kasus nasi anjing, yakni “nasi berkuah (tanpa ikan, daging, dsb).” Dalam semua kamus monolingual bahasa Indonesia dan bahasa Melayu, tak ada entri ini. Cuma KBBI daring yang memuat. Mengingat publik bisa mengusulkan entri apa pun—semacam Wikipedia yang siapa pun dapat memasukkan data, pertanyaannya: siapa yang menginput entri ini? Jika nasi anjing ada di sana, mengapa tak ada entri nasi kucing yang jauh lebih populer dan terterima publik. Nasi kucing adalah nasi dalam bungkusan kecil dengan lauk-pauk sekadarnya. Para pedagang nasi di pinggir jalan di Semarang dan sekitarnya, terbiasa menjual jenis nasi ini. Mengapa kedua jenis nasi dengan nama hewan itu, salah satunya jadi bermasalah? Di sinilah netralitas bahasa sering kali dipinggirkan jika dikaitkan dengan perkara ideologi.

Kembali kita melihat, kata dalam kamus dan kata yang hidup di masyarakat kadang tidak seiring-sejalan. Dalam hal ini, kita perlu cerdas dalam memberi dan mengubah-suai label agar tidak menabrak ideologi masyarakat. Sekadar contoh, sebutlah tempat menyimpan uang yang bernama celengan. Sebenarnya nama itu berasal dari kata celeng (babi). Kaitannya dengan uang bermula dari tradisi masyarakat Tionghoa. Untuk menambah modal usaha, para pedagang Tionghoa sengaja menyimpan uang di tempat tertentu. Agar mendapat berkah dan tabungannya berlimpah, diperlukan simbol yang diyakini bakal memberi hoki. Di sinilah, babi menjadi pilihan. Dibuatlah tempat menyimpan uang berbentuk hewan babi.

Bagi masyarakat China dan Korea, babi simbol keberuntungan. Keyakinan masyarakat Tionghoa di Indonesia juga demikian. Maka, tempat menyimpan uang yang akan membawa keberuntungan, mesti berupa hewan babi. Ketelatenan mengumpulkan uang memperoleh legitimasi teologis. Kebiasaan itu lalu diikuti penduduk. Bagi yang beragama Islam, tempat penyimpanan uang berbentuk babi tentu bermasalah, karena berkaitan dengan keyakinan agama. Oleh karena itu, dibuatlah tempat menyimpan uang berbentuk ayam, ikan, dan kucing. Ayam dan ikan, binatang yang digemari penduduk, sedangkan kucing, pada sebagian Muslim, dipercaya sebagai hewan yang disukai Nabi. Tetapi, kata celengan terlanjur melekat sebagai tempat menyimpan uang. Maka, tempat menyimpan uang berbentuk apa pun, tetap disebut celengan. Itulah asal-usul tempat menyimpan uang bernama celengan.

Kasus celengan kucing, ayam atau ikan menunjukkan kesadaran lingkungan yang menghasilkan kreasi yang diterima publik. Cara seperti itulah yang sepatutnya diambil ketika nama hewan dijadikan label. Perkara nasi anjing dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita. Kata atau label apa pun tetap punya beban ideologis jika terkait dengan sistem kepercayaan. Mengingat penafsiran dan pemaknaan publik pada entitas tertentu tidak pernah seragam, perlu dicari nama yang lebih aman dan dapat diterima masyarakat dengan latar belakang etnik dan agama apa pun. Maka, berhati-hati dan bertanya pada ahlinya merupakan langkah yang mangkus!
***

_____________________
*) Maman S. Mahayana, lahir di Cirebon, Jawa Barat, 18 Agustus 1957. Dia salah satu penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (2005). Menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS UI) tahun 1986, dan sejak itu mengajar di almamaternya yang kini menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Tahun 1997 selesai Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Pernah tinggal lama di Seoul, dan menjadi pengajar di Department of Malay-Indonesian Studies, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan. Selain mengajar, banyak melakukan penelitian. Beberapa hasil penelitiannya antara lain, “Inventarisasi Ungkapan-Ungkapan Bahasa Indonesia” (LPUI, 1993), “Pencatatan dan Inventarisasi Naskah-Naskah Cirebon” (Anggota Tim Peneliti, LPUI, 1994), dan “Majalah Wanita Awal Abad XX (1908-1928)” (LPUI, 2000).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *