KEBENARAN SECANGKIR KOPI


(gambar mistikus-sufi.blogspot.com di alif.id)
Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan lima penipu ulung berkonspirasi untuk menipu Nazarudin Hoja. Lima orang penipu itu akan membeli kambing Tuan Hoja dengan harga seekor keledai. Harga seekor keledai jauh lebih murah daripada seekor kambing.

Dikisahkanlah oleh sang sahibul hikayat. Pagi itu, Tuan Hoja menuntun kambingnya untuk dijual ke pasar ternak. Di jalan, seorang penipu dari lima orang penipu lainnya yang telah berkonspirasi itu, menyapa Tuan Hoja.

“Keledai siapa gerangan yang Anda bawa itu, Tuan Hoja? Kenapa membawa seekor keledai, bukankah selama ini Anda beternak kambing?” sapa penipu pertama.

“Maaf, Tuan. Ini kambing milik saya. Bukan keledai!” jawab Tuan Hoja mantap. Ia terus berlalu.

Di tempat lain dalam perjalanannya ke pasar, Tuan Hoja bertemu penipu kedua.

“Gemuk sekali keledaimu, Tuan Hoja. Dijual harga berapa?” sapa penipu kedua.

“Maaf, Tuan. Ini kambing, Tuan. Bukan keledai!” jawab Tuan Hoja.

Penipu ketiga mencegat Tuan Hoja.

“Bagus! Kebetulan saya mencari keledai. Keledai Tuan Hoja yang gemuk ini dijual berapa?”

“Ini kambing! Bukan keledai yang murah!”

Penipu keempat menyapa Tuan Hoja enteng.

“Keledai Anda ini pasti cepat laku, Tuan Hoja.”

“Demi Allah, ini kambing!” Tuan Hoja marah.

Tuan Hoja berhenti sejenak. Dia berpikir sambil memandang seekor kambing yang dibawanya. Ia menduga, jangan-jangan kambing yang dibawanya secara ajaib telah menjelma keledai. Atau jangan-jangan kambing yang dibawa itu sebenarnya keledai. Tapi keledai yang mirip kambing. Itu kemungkinan yang paling masuk akal, pikir Tuan Hoja. Sudah empat orang mengatakan itu seekor keledai. Ia bimbang. Keyakinan bahwa hewan yang akan dijualnya adalah kambing, goyah!

“Ah! Ya kamu ternyata keledai. Keledai yang mirip kambing!” tuding Tuan Hoja pada kambingnya. Dan kambing itu sama sekali tidak membantah.

Penipu kelima mencegat Tuan Hoja.

“Jual saja seharga 500 keledai ente itu, Tuan! 500 itu sudah harga yang paling tinggi untuk seekor keledai.”

“Oke! Keledai yang mirip kambing ini saya jual 500.”

Maka kambing Nazarudin Hoja yang gemuk dan mahal, tetapi yang sangat mirip keledai itu pun terjual murah, yakni seharga seekor keledai yang jauh lebih murah daripada seekor kambing yang paling mirip keledai atau sapi sekalipun.

Lima orang penipu itu menang! Konspirasi mereka berhasil menipu atau mengelabuhi Nazarudin Hoja.
***

Orang pun beriman pada doktrin dan iklan secara mutlak dan membabi buta. Orang meyakini kebenaran bukan lantaran pengetahuan yang mendalam terhadap realitas kebenaran itu sendiri, melainkan kebenaran diyakini hanya karena informasi yang dijejalkan nyaris setiap detik ke hadapan khalayak melalui layar, juga diperkuat kekuasaan. Bukankah ayam tidak batal jadi ayam hanya lantaran ia dianggap, dituduh, dinyatakan atau dipropagandakan sebagai seekor bebek oleh para ahli peternakan sekalipun? Seekor ayam tidak akan menjadi atau menjelma seekor bebek hanya lantaran ayam tersebut sangat mirip dengan seekor bebek. Tapi orang percaya dan yakin seyakin-yakinnya, seekor ayam sesungguhnya adalah bebek, karena pernyataan para ahli peternakan, bahwa ayam sesungguhnya bebek yang mirip ayam. Orang percaya pada virus yang sesungguhnya tak lebih menular dan tak lebih berbahaya daripada influenza, hanya karena nyaris seluruh informasi menyatakan bahwa virus tersebut mematikan. Disertai data-data yang tak pernah dijelaskan secara pasti dari mana sumbernya. Ditambah pernyataan sejumlah pakar atau testimoni korban, bawah virus tersebut memang berbahaya.
***

Tetapi sudahlah.

Baiknya kita menengok kembali sang Mullah Nazarudin Hoja. Ia pulang dari pasar.

“Syukurlah. Keledai kita yang gemuk laku. Harganya 500, itu sudah harga tertinggi. Andai yang kita jual seekor kambing, pasti harganya bisa 1500,” ujar Tuan Hoja kepada istrinya.

“Apa?! Betapa tololnya kamu! Ingat kita tidak pernah beternak keledai. Kenapa kamu jual kambingmu dengan seharga seekor keledai yang murah?!” istri Tuan Hoja marah.

“Hari ini tidak ada secangkir kopi!” ujar istri Tuan Hoja kesal.

“Bagus! Lebih baik minum air putih. Secangkir kopi tidak baik buat kesehatan lambung,” jawab Tuan Hoja.

Keesokan pagi. Sang istri menghidangkan secangkir kopi.

“Bagus! Secangkir kopi bagus buat kesehatan jantung dan lambung kita,” ujar Tuan Hoja sambil menyeruput kopinya.

“Kemarin kau bilang secangkir kopi tidak baik bagi lambung. Sekarang kau bilang, secangkir kopi baik bagi kesehatan lambung dan jantung. Mana yang benar?” tanya istri Tuan Hoja.

“Secangkir kopi terlalu buruk bagi kesehatan manusia, jika secangkir kopi tidak ada di atas meja. Tapi secangkir kopi sangat baik dan bermanfaat bagi kesehatan manusia, jika secangkir kopi itu ada dan siap minum di atas meja ini.”

“Lalu di mana kebenaran?”

“Maka ketahuilah, istriku. Sesungguhnya kebenaran itu tergantung kopinya!” jawab Sang Mullah Nazarudin Hoja—ulama yang tolol karena kejeniusannya itu, dengan tegas dan bersungguh-sungguh.

Sobo, 2020

___________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *