Lima Capil F. Rahardi

RAKYAT LEBIH TUA DARI TENTARA

Suatu hari, Rendra diminta berbicara dalam sebuah diskusi terbatas di Balai Budaya Jakarta. Waktu itu dia sedang dicari-cari kesalahannya oleh aparat pemerintah. Maka pas acara diskusi itu, datanglah tentara. Sambil petentengan, Rendra menghampiri tentara itu lalu bertanya, “Ada apa DIK?” Dipanggil “DIK” perwira menengah itu marah. “Saudara memanggil saya DIK?” Rendra lalu memberi ceramah, “Begini ya DIK, Anda ini tentara, saya rakyat biasa. Siapa lahir lebih dulu? Rakyat atau tentara? Rakyat lebih dulu ada, baru tentara. Jadi rakyat yang lebih tua, harus memanggil DIK ke tentara yang lebih muda.”


[Ini foto Rendra, Ken Zuraida, Rayani Sriwidodo, Zawawi Imron, Ati Ismail, dan Husein Umar; di Kapal Kambuna Jakarta Padang 4 Desember 1997]

UANG NOMOR SATU UNTUK HIDUP?

Tidak. Nomor satu oksigen. Dan oksigen itu gratis. Manusia tahan tak makan tak minum seharian, 10 menit tak dapat oksigen mati. Tapi manusia lebih mendewakan uang, melupakan oksigen. Udara dicemari CO2 dan polutan. Hutan dirusak. Demi uang tubuh dibiarkan stress berkepanjangan. Napas tak optimum, asupan oksigen rendah. Asam urat, kolesterol, tekanan darah tinggi datang. Lalu yang disalahkan makanan. Wabah corona mengingatkan manusia bahwa uang bukan nomor satu untuk hidup. Air dan pangan sehat lebih penting. Tapi yang paling utama oksigen. Meditasi bagus. Tapi gerak aerobik jalan kaki rutin, sebenarnya lebih dari cukup untuk dapat oksigen gratis. Tapi orang lebih senang oksigen RS yang harus beli.

ADA APA DENGAN DETIK?

Awalnya Tempo, lalu Kompas, sekarang Detik. Uang memang bisa memutar haluan siapa pun dan lembaga apa pun hingga berbalik 180 derajat. Makanya, tak ada media yang saya percaya. Sebab kata Bu Guru Agama, saya hanya boleh percaya pada Tuhan yang Maha Esa.

BOLEHKAH BERDOA SAMBIL MEROKOK?

Imam Fransiskan menegur Imam Jesuit, yang merokok saat sedang berdoa. “Janganlah merokok saat sedang berdoa!” Dengan santuy Jesuit balik bertanya, “Kata siapa itu?” Si Fransiskan menjelaskan, “Itu kata Bapa Paus. Kami baru saja menanyakan hal itu, “Bapa Suci, bolehkan saat berdoa kami merokok, Bapa suci menjawab, jelas tidak boleh. Jangan lakukan itu lagi.” Jesuit tak mau kalah, “Aku tidak percaya. Ayo kita menghadap Bapa Suci. Mereka berdua lalu menghadap Paus. Kali ini Jesuit yang bertanya, “Bapa Suci, apakah diperkenankan pada saat sedang santai merokok, kami juga berdoa?” Bapa Suci menjawab, “Boleh saja. Itu bagus!”

PKI SEBAGAI PERINTIS KEMERDEKAAN

Tahun 1926 PKI memberontak ke Pemerintah Hindia Belanda di Banten, dan 1927 di Sumatera Barat. Sebanyak 1.300 anggota PKI ditangkap. Empat orang divonis dan dieksekusi mati, sembilan orang divonis seumur hidup, dan 99 orang dibuang ke Tanah Merah, Boven Digoel. Selebihnya dibebaskan. Penjara Tanah Merah dibangun Belanda khusus untuk mengisolasi para pemberontak PKI. Sebagian dari mereka meninggal dalam penjara, sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan. Baru belakangan para aktivis politik seperti Hatta dan Syahrir juga dibuang ke Tanah Merah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *