PENGGEMBALAAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Sore itu, dalam suasana lebaran, saya sowan ke ndalem Kiai Sutara. Sebagai santri, saya menghaturkan permohonan maaf lahir dan batin. Beberapa orang juga hadir. Duduk di kursi Kiai Sutara yang kuno, bagi saya asik. Nyaman dan santai.

Di dinding ruang tamu Kiai Sutara terdapat wayang Punakawan, foto Gus Dur terbingkai sederhana, dan sebuah lampu antik. Kitab-kitab kuno, pemutar lagu, android, tembakau dan kopi pahit di mejanya. Buku-buku filsafat dan resensi film. Kiai penggemar film dan bola ini memang unik. Ia menguasai ilmu-ilmu pesantren dengan penguasaan yang menakjubkan. Orang menjulukinya “kitab ndodok” (kitab duduk). Minatnya banyak. Beliau menguasai filsafat, perfilman, bola. Pengetahuannya tak ketinggalan zaman, meski usia sudah hampir seabad. Badannya seolah masih berusia 50 tahun. Kokoh. Tulang rahangnya besar dan tegas. Tatapan matanya tajam bercahaya, seolah sumur ilmu yang dalam dan tak akan pernah habis disedot. Pecandu kopi pahit. Dan perokok berat. Rokok tidak berhasil membunuhnya. Menurut Kiai Sutara, dirinya sudah merokok sejak berusia 12 tahun.

“Apakah setiap tindakan orang beragama harus didasarkan pada hukum agama, Kiai?” tanya saya membuka pembicaraan.

“Tidak harus. Agama itu formalitas. Sebagai formalitas, agama punya aturan dan landasan argumentasi dari setiap aturannya tersebut. Tapi agama sebagai nilai-nilai yang bersifat kultural atau non formal ialah sikap hidup yang wajar sebagai manusia. Tidak usah ribut soal agama. Itu sudah cukup!” jawab Kiai Sutara tenang.

Kiai Sutara menyandar di kursinya. Menyedot rokok dengan kuat. Asap tebal. Dan mendengarkan lagu dangdut. Di ndalem Kiai Sutara tidak ada tivi.

“Tetapi apakah ilmu-ilmu agama tak tertinggal menghadapi pesatnya pencapaian teknologi, Kiai?”

“Mereka yang mendalami ilmu-ilmu agama, tapi tertinggal perubahan, tidak lain adalah bodoh. Kalau kamu pikir sepakbola dan film tak bisa dilihat dari ilmu-ilmu agama, maka kamu goblok. Zaman akan meninggalkan kamu di selokan. Terdapat azas “al-muhafadzatu ala qadimis shalih wal-akhdu bi jadidil ashlah”: mendalami nilai lama dengan mengambil nilai baru yang bersesuaian. Azas keilmuan itu secara teknis dioperasionalkan dalam kaidah Fiqih: “al-hukmu yaduru ma’a illatihi wujudan wa adaman”. Bahwa setiap ketetapan hukum adalah kontekstual. Sesuai alasan, ruang dan waktu. Itulah kunci agar para penekun ilmu-ilmu agama sanggup mengarifi perubahan waktu dengan baik, bukan sekadar tahu, atau seolah-olah tahu. Belum tahu apa dan bagaimana suatu perubahan terjadi, sudah seenaknya menghakimi pakai agama. Itu ngawur.”

“Baik, Kiai.”

“Ajaran agama yang sejati tak mungkin kamu temukan di jalanan dalam gerombolan ribut, ramai, dan teriak-teriak. Ajaran agama sejati itu di dalam ruang keimanan yang personal, menumbuhkan kesadaran di dalam sunyi, menjaga kemanusiaan kehidupan sehari-hari, keilmuan yang hikmat dan dalam. Dalam kitab “Fathul Mu’in”, umpama. Pengertian “jihad” (berjuang di jalan Tuhan) adalah pemberian kebutuhan dasar yatim-piatu, orang miskin, perlindungan dan keamanan pada muslim dan non-muslim. “Fathul Mu’in” mengatakan “jihad” itu “kifayah”, kewajiban kemanusiaan seperti memandikan dan memakamkan jenazah. Ini salah satu alasan kenapa khasanah Islam punya sikap tegas menolak kekerasan, kesewenang-wenangan, keseragaman, kebencian atasnama agama dan etnis. Di situ jelas, pengertian “jihad” dapat berbeda-beda karena berada pada ruang-waktu yang juga berbeda-beda.”

“Apakah dengan begitu, ajaran agama akan selalu menyertai perubahan, Kiai?” ujar saya.

“Betul!” Kiai Sutara meneguk kopi pahitnya yang kental, menghisap rokok dalam-dalam. Beliau melanjutkan: “Ortega Y Gasset melihat kenyataan, bahwa dalam laju sejarah, sejak revolusi industri dan renaissance, zaman telah mencipta manusia yang tak berdaya memilih. Perubahan dan kemajuan tidak lagi dapat ditunda, dipilih, dipertimbangkan. Ketiadaan pilihan pasti akan mengorbankan manusia yang belum siap. Seperti kamu! Perubahan dan kemajuan tidak membuatmu semakin pintar, tapi malah semakin bakhil, bodoh, gampang ditipu, lebay, dan tak punya sikap percaya diri disebabkan pengetahuan dari media informasi yang canggih tiba dan kau pahami secara terpotong-potong.” Asap rokok mengepul tenang dari bibirnya yang kehitaman.

“Ampun, Kiai.”

“Kamu menjadi gagap. Tapi niscaya, manusia berubah dan terus berada dalam laju perubahan yang tak terhindarkan. Itu menjadi keharusan dalam menyejarah.”

“Apakah agama dapat bertahan, Kiai?”

“Ketika agama difungsikan cuma ritus-ritus dan dikurung dalam tempurung primordial belaka, agama akan kalah telak di hadapan laju sejarah. Terasing dan nestapa. Agama tak sanggup menjawab kenyataan, tak turut mengiringi perputaran waktu secara cerdas dan kokoh. Agama pun menjadi tampilan aneh. Orang tidak rela berkorban. Seperti kamu! Untuk menolong orang yang sekarat, kau bilang tak punya daya. Tapi diam-diam kamu membeli hobi dengan kepongahan uangmu. Yang kau pentingkan hanyalah dirimu sendiri dan kesenanganmu sendiri. Nilai ini tak ada dalam kemajuan dan pencapaian. Juga tidak diunggulkan dalam kebanyakan narasi perihal agama, apalagi agama di mulut orang yang ngaku-ngaku ahli agama. Agama sibuk menjadi hiasan dinding dan iklan, formalitas yang tidak penting, yang diperlakukan sekadar ada. Maka kamu kalah. Sehingga kamu muncul dengan beringas, kau anggap perubahan adalah kekafiran dan musuhnya iman. Kamu pun diperalat kekuasaan uang dan politik. Kamu menjadi tolol dan salah kaprah. Kamu pun berperang dan saling mencurigai. Kamu menghancurkan dan melukai dirimu sendiri.”

Saya terdiam, menyimak dengan seksama dan hati-hati penuturan Kiai Sutara. Kiai Sutara menyandar tenang di kursinya. Asap rokok mengepul. Terdengar musik asik dari pemutar lagunya.

“Ini komposisi unik Tchaikovsky, “Waltz of the Flowers”. Telingamu telinga cor-coran, sehingga tak mungkin menikmati musik seajaib ini,” ujar Kiai Sutara.

Saya cengengesan. Masih diam. Menunduk takzim. Ini benar-benar kiai aneh, beliau penggemar ilmu-ilmu kuno pesantren, tapi selera musiknya tak dapat saya imbangi.

“Apakah agama masih tetap perlu ditegakkan, Kiai?”

“Tolol! Dari tadi kamu ternyata gak paham omongan saya. Mau ngapain kamu menegakkan agama? Gak ada kerjaan saja!”

“Maksud saya gini lho, Kiai. Kita ‘kan perlu memelihara agama yang kita imani, Kiai.”

“Tegakkan agamamu dengan perilaku kemanusiaanmu. Sebab agama yang semata formalitas atau yang material sudah lama cuma penampakan saja, seperti gantungan kunci yang berbentuk simbol-simbol. Jadi iklan lebaran, puasa, dan ceramah-ceramah yang tak sedikit pun menyentuh kebutuhan dasar kaum yang menderita. Upaya-upaya penegakan agama melalui belaka peradaban material dan ideologi cuma bikin keributan dan perang. Kemudian dilupakan. Betapa banyak masjid megah berdiri gagah di tengah kaum beragama yang miskin, lemah, dan sengsara. Apa yang didapatkan dari agama yang begitu itu selain kebanggaan?”

“Betul, Kiai.”

“Betal-betul dengkulmu! Bisamu cuma betal-betul. Diserempet kupingmu pakai sapu, itu baru betul!”

“Wah! Ampun, Kiai.” Saya cengengesan. Garuk-garuk kepala. Merasa tolol.

“Namun ingat, santri dengkul. Peradaban non-material berupa kitab-kitab dan khazanah keilmuan Islam tak pernah musnah. Itu janji Allah. Budaya berpikir, kearifan, mendalami ilmu dan budaya keislaman yang luas dan luwes, ialah ruh pelbagai bentuk dan gerak material. Itu telah dilakukan para pendahulu, misalnya Ibnu Rusyd yang berdialektika dengan pemikiran al-Ghazali perihal filsafat. Para pendiri mazhab, sajak-sajak getir Abul ‘Ala al-Ma’arri, gagasan al-Jabiri, dan begitu banyak lagi.”

“Yang utama harus dilakukan kaum muslimin bukan membuat penemuan, mendirikan bangunan megah mirip berhala Namrud, mendirikan mazhab atau meraih karya-karya keilmuan puncak seperti pendahulunya. Melainkan mengembangkan pencapaian non-material yang telah ada dengan ilmu dan menemukan keserasiannya di tengah perubahan kehidupan. Sikap beragama yang arif, penuh pertimbangan, membebaskan, taat hukum, dan yang mencintai kedamaian. Berpikir penuh pertimbangan dalam kitab “Mizanul Qubro” misalnya, mencerminkan ketinggian budi khasanah keagamaan sebagai warisan non-material yang berharga.”

“Mohon maaf, Kiai. Bagaimana keimanan seharusnya dibangun di tengah segala perubahan ini, Kiai?”

“Pasang otakmu baik-baik! Iman dan pengertian sejati itu dites atau “dijajal”, diuji diri sendiri, waktu, keadaan. Maka sejatilah iman. Kalau iman tidak sempurna, gak apa-apa, lha wong manusia memang lemah (daif). Tidak ada pengertian yang sempurna, tapi pengertian yang sejati tentu ada, itu personal. Tapi menjadi cermin kemanusiaan yang luhur. Pengertian itu perlu “dijajal”, dihancurkan, bahkan dibakar. Agar kamu tahu sampai di mana nilai pemahaman di dalam dirimu. Tak ada iman sempurna, tapi iman yang sejati dalam pribadi itu ada. Iman yang dites kekokohannya, dihancurkan untuk disusun kembali, dipertanyakan, diragukan, melewati ujian ruang, waktu, dan perubahan. Agar kau tahu betapa berharga suatu keteguhan. Kamu hanya diminta berkorban demi keselamatan orang lain, sedikit saja dari segala kemelimpahan hidupmu, gak mau! Jangan bicara iman di hadapan saya. Dipukul sapu kakimu tau rasa!”

“Sendiko, Kiai.”

Siang itu, hujan. Beberapa bagian rumah Kiai Sutara bocor, air hujan menetes kecil-kecil dari sela genting rumahnya. Kiai Sutara menyalakan kembali rokoknya. Tampak beliau menundukkan kepala, memejamkan kedua matanya sejenak.

“Apakah iman harus melewati tahap pengujian atau percobaan iman, Kiai?”

“Gak mau juga gak apa-apa! Terserah kamu. Sesuatu yang lolos uji atau gak lolos uji itu berbeda kualitas nilainya. Kalau imanmu tak pernah teruji, jangan salahkan siapa-siapa jika hidupmu penuh dusta dan kepura-puraan, manggut-manggut kayak boneka di hadapan materi. Karena lezatnya iman dalam dirimu yang terdalam hanya dapat kautemukan ketika kau sanggup melewati segala kesulitan hidup dengan kesabaran, kerelaan berkorban dan berbagi dengan sesamamu. Tidak sombong dalam kemelimpahan. Tak hancur dalam kekurangan hidup.”

“Iman tak harus dikurung doktrin-doktrin agama. Ia sesuatu yang suci dalam hakikat diri manusia. Bersembunyi dan menyala di dalam kegelapan. Artinya ia membutuhkan gelap sebagai keharusan. Kalau iman dikurung atau diikat, ia mencari cara menjebol atau meronta untuk memutuskan ikatan. Banyak orang memenjarakan imannya atau menjadikan iman seperti tembok perlindungan yang kokoh, ke mana-mana mengaku beriman, tapi ia justru melakukan tindakan melanggar kemanusiaan. Iman yang dibatasi moralitas atau doktrin, memendam pemberontakan.”

“Lho terus harus bagaimana, Kai?”

“Itulah pertanyaan bodoh santri dengkul kayak kamu. Susah dipancing supaya berpikir cerdas dan kritis.”

“Maka kedirianmu atau nafsumu itu harus kamu gembalakan dengan akal sehat dan cinta. Bebaskanlah, namun dengan kesadaran dan kecermatan diawasi diam-diam, dijaga dalam pemeliharaan. Nafsu itu kayak kambing. Jika kambing yang kamu gembalakan akan memakan rumput di seberang jurang, segera tarik dan halaulah agar kambing-kambingmu tak terjerembab ke dalamnya. Itulah tanggungjawab kemanusiaan. Para nabi dulunya adalah penggembala-penggembala yang baik. Menggembalakan nafsunya seperti menggembalakan ternak.” Suara Kiai Sutara makin pelan dan tak jelas.

Sampai di situ, saya lihat Kiai Sutara tertidur di kursinya. Tertidur begitu lelapnya. Mendengkur tanpa beban. Sedang asap rokoknya masih tersisa di udara. Hari pun beranjak senja.

Sobo, 2020

__________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *