A.S LAKSANA, SIAPA ANDA SEBENARNYA?

Menulis Seperti GM, Membaca Seperti AS Laksana

Sukma Hari Purwoko

Semakin berkenalan dengan anda yakni dengan membaca karangan-karangan anda, saya justru semakin tidak mengenal anda. Saat semakin tidak mengenal anda, saya justru ingin mengenal anda lebih jauh. Saya merasakan ini pada suatu malam ketika saya membaca karangan anda berjudul “Vale” (Ruang Putih Jawa Pos Edisi Minggu 26 April 2015). A.S Laksana, mengapa karangan-karangan anda pintar merayu saya?

Apakah anda seorang perayu?

Setiap membaca karangan anda, saya seperti dirayu dan diajak ke sebuah tempat dimana saya harus merelakan diri menjadi seperti seorang sales. Anda tahu, sales adalah salah satu pekerjaan di dunia keprofesian kita yang tidak mendapat tempat baik di mata masyarakat. “Dia jauh-jauh kuliah ke luar negeri kok cuma jadi sales?”, begitu kata Ibu-ibu tetangga saya kepada seseorang berusia 27 tahun di dekat rumah. Barangkali posisi sales setara dengan seorang makelar atau penagih utang.

Juga saya, saya sedari kecil tidak pernah punya cita-cita untuk menjadi seorang sales. Tapi bukan berarti saya ingin jadi polisi apalagi seorang tentara. Dalam hidup yang saya jalani saya hanya ingin menjadi orang yang senantiasa belajar dan selalu berbahagia. Tapi setelah mengenal dan membaca karangan-karangan anda, kenapa saya berubah pikiran?

Saya tiba-tiba ingin menjadi seorang sales. Saya tidak menemukan alasan lain selain karena karangan-karangan anda yang sudah merasuki pikiran saya. Lalu saya mencoba mengambil jalan pikiran yang berbeda dari Ibu-ibu tetangga saya dan hasilnya adalah sales jutrsu merupakan pekerjaan paling mulia di muka bumi. Dan saya pikir tidak ada salahnya menjadi sales karena saya tidak akan berhenti belajar hanya karena menjadi seorang sales.

Lebih tepatnya saya ingin menjadi sales dengan barang dagangan berupa karangan-karangan anda.

Sebagaimana seorang sales, saya pun mesti menampilkan peforma terbaik supaya dagangan saya laku. Menceritakan karangan-karangan anda -kepada teman, sahabat, sanak famili, kadang juga dosen-, mempresentasikannya sebaik mungkin lalu menyodorkan berbagai pertanyaan penting atas karangan-karangan anda sembari berharap mendapat feedback dari mereka adalah hal yang saya lakukan. Ketika melakukannya saya berupaya sesantai mungkin tanpa ada kekhawatiran saya akan gagal.

Karangan-karangan anda rajin membangunkan pikiran, mencengangkan dan membelalakkan mata, menyeret sifat-sifat malas yang gemar bersemayam dalam diri manusia. Setidaknya ini berlaku bagi saya pribadi dan saya tidak tahu kalau hal ini mungkin berbanding terbalik menurut orang lain. Pada dasarnya saya tidak terlalu peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain kecuali pikiran itu mengancam keselamatan banyak orang dan keselamatan diri saya sendiri.

“Menggambar Ayah” (Cerpen terbaik pilihan Kompas 1998) dan “Seekor Ular Dalam Kepala” (dalam antologi cerpen Bidadari Yang Mengembara 2004), adalah dua karangan anda yang bisa mewakili keseluruhan dari baiknya kualitas karangan-karangan anda. Dua karangan anda inilah yang menjadi produk unggulan saya.

Dugaan saya selain perayu adalah anda keturunan seorang China, Wu Cheng-En. Wu Cheng-En adalah pengarang klasik China yang menulis fiksi “Journey to the West” yang terbit pertama kali pada tahun 1952. Dan tentu saja dugaan saya bukan karena anda mirip dengan Wu Cheng-En karena saya sama sekali tidak melihat sedikit pun ciri ras China pada diri anda dan saya tidak pernah bertemu Wu Cheng-En. Dugaan ini berangkat karena gaya mengarang anda yang (menurut saya) mirip dengan gaya mengarang Wu Cheng-En. Sebegitu miripnya sampai saya sempat curiga jangan-jangan anda adalah putranya.

Sebagaimana gaya mengarang Wu Cheng-En dalam salah satu karangan dari empat karya terbaik China itu, gaya mengarang anda jarang sekali gagal membujuk pembaca supaya tidak hanya tertarik membacanya hingga akhir tetapi juga mengulanginya sampai 2, 3, 4 kali dst..dst. Lalu karangan itu menempel dalam kepala dan akan sulit keluar. Singkatnya, anda berhasil merayu mereka masuk termehe-mehek dalam dunia karangan-karangan anda.

Tapi, A.S Laksana, apakah anda benar-benar seorang perayu?

Seorang perayu yang baik menurut saya adalah dia yang jarang gagal membuat orang yang dirayunya, meski orang itu tidak menyukai sama sekali sesuatu yang ditawarkan perayunya, akhirnya mau mengikuti dan bahkan mengucapkan terimakasih.

Tapi, jangankan mau dirayu, mengenal anda saja banyak orang yang enggan bahkan tidak mau. Banyak orang-orang yang belum tahu nama anda apalagi karangan-karangan anda. Di Jember, misalnya, lebih tepatnya di kampus saya Universitas Jember, sebagian besar kerabat dan Bapak-Ibu dosen mengaku bahwa mereka baru mendengar nama anda setelah saya menanyakan dan menceritakan karangan-karangan anda.

Saya tidak mengerti apa sebabnya mereka tidak mengenal nama dan karangan-karangan sekaliber anda. Apa karena budaya membaca yang memang masih rendah, apakah karena warung-warung kopi sekitar kampus masih lebih tertarik membicarakan belahan paha dan dada perempuan, ataukah anda sendiri yang memang tidak punya nasib menjadi orang terkenal? Sekali lagi saya tidak tahu karena saya belum sempat melakukan penelitian.

Barangsiapa terus berkarya (apalagi seproduktif anda) maka ia akan dikenal. Pikiran yang mulai menancap di pikiran saya pada suatu siang itu ternyata tidak sepenuhnya berlaku dan anda menjadi contohnya. Fakta ini bukan saja tidak harus diakui tapi juga harus diterima.

Maka dari itu, karena orang baik dan karangan-karangannya yang bagus seperti anda selayaknya dikenal oleh sebanyak-banyaknya orang, saya bersedia menjadi sales anda dan semoga anda tidak keberatan.

Lalu, kalau bukan perayu dan putra Wu Cheng-En, A.S Laksana, siapa diri anda sebenarnya?

Sore hingga Subuh Hari, Jember, 17-18 Juni 2016

https://majelispena.wordpress.com/2016/06/18/a-s-laksana-siapa-anda-sebenarnya/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *