Ketekunan Merawat Kata-kata Menjelma Cerita

Catatan Membaca Kolektor Mitos, Halim Bahriz


Fatah Anshori *

Saya sebenarnya telah lama mendengar namanya, hanya saja kurang terlalu memperhatikan dalam artian membaca karya-karyanya. Bukunya yang terbaru diterbitkan Penerbit Rua Aksara, Igauan Seismograf. Sebuah buku kumpulan puisi. Saya membacanya hanya sebatas cuplikan-cuplikan puisi yang ia siarkan secara cuma-cuma di akun instagramnya sebelum buku kumpulan puisi itu terbit.

Saat membacanya secara tidak langsung puisi-puisi itu seperti telah memaksa saya untuk kembali mengingat Malna, dan salah satu buku kumpulan puisinya, berlin proposal yang saya baca sebanyak tiga kali. Kali pertama membaca berlin proposal, perut saya serasa dimasuki rongsokan dan kepala saya seperti di sengat listrik berkali-kali. Kali kedua membaca entah mengapa, rasanya saya mulai bisa menikmati ketidaknyamanan itu, dan ada sesuatu yang saya tidak tahu namanya namun anehnya saya menyukainya, suatu keadaan di mana segalanya asing menurutku. Dari pengalaman membaca Malna secara tidak sadar saya seolah telah beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebagaimana banyak pengalaman beradaptasi awalnya memang sangat sulit, tidak menyenangkan, namun lama-kelamaan kita akan dapat menerimanya sekaligus memahami apa-apa saja hal baik dan buruk yang disuguhkan tempat-tempat baru, semua itu mungkin karena terbiasa. Kali ketiga membaca berlin proposal saya seolah mengalir sekaligus mencoba sedikit memahami bentukan-bentukan kata dalam struktur yang tidak teratur—menurutku—namun entah kenapa hal tersebut menjadi puitis. Tubuh saya mulai mencintai rongsokan dan sengatan-sengatan listrik itu.

Hal itu juga yang sekiranya saya temukan usai membaca Kolektor Mitos, buku kumpulan cerpen Halim Bahriz. Buku ini diterbitkan Indie Book Corner pada tahun 2017 dan saya, boleh dibilang ketinggalan dalam membacanya. Ada Sembilan cerpen Halim dalam buku itu. Dan boleh dibilang cerpen-cerpen Halim—dalam hematku—cukup kaya dalam ranah tema atau gaya bercerita. Dalam cerpen Sebuah Makam dalam Cahaya, saya merasa Halim mencoba membangun imaji tentang dunia fantasi kontemporer yang disilangkan dengan realitas. Akan kentara sekali membaca cerpen ini hampir serupa dengan pengalaman melihat film kartun lama, Pinokio, sebuah boneka kayu yang mendadak dapat berbicara. Namun tidak sesederhana itu, ada narasi tersendiri yang entah mengapa ingin disampaikan Halim secara tersirat dalam cerpen tersebut. Sementara dalam cerpen Lelampak Lendong Kao, saya merasa Halim mencoba menggarap cerita dengan pondasi lokalitas atau budaya suatu daerah. Dalam cerpen ini Halim menyebut setting, Di tepian hutan Lombok. Namun dalam fiksi hal semacam itu tidak bisa menjadi acuan yang mutlak bahwa yang dimaksud Halim di sini adalah Lombok sebagaimana tempat yang kita kenal dalam dunia nyata, yakni Pulau Lombok. Saya juga tidak lantas mencari tahu sumber-sumber yang mengaitkan pertanda tersebut dengan fakta yang ada. Hanya saja tampak dari nama tokoh yang Halim gunakan, terasa kentara sekali kearifan lokal suatu tempat. Sebagaimana kita tahu setiap tempat memiliki bahasa dan budaya yang berbeda yang akan berpengaruh pada beberapa hal termasuk nama, kita tahu nama Sukarjo kerap digunakan orang Jawa.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berkomunikasi dengan Halim via inbox facebook. Saya bertanya beberapa hal tentang tulisan-tulisannya dalam Kolektor Mitos. Sebagaimana penulis-penulis besar lainnya, ia menganggap bukunya ini masih bukan apa-apa. Entah kenapa sikap yang semacam itu membuatku meyakini bahwa penulis tersebut telah berjalan dan berkembang lebih banyak karena ia tahu apa-apa saja kekurangan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Mas Halim—begitu saya memanggilnya dalam percakapan itu—juga berbicara sedikit tentang penulis-penulis yang ia baca. Ketika saya menyinggung Murakami, ia mengatakan kurang suka dengan Murakami namun ia membaca Kafka, sebagaimana kita tahu Murakami juga membaca Kafka. Saat itu saya seolah melihat dua orang yang terpengaruh satu orang yang sama, namun dua orang itu belum pernah bertemu. Saya sebagai orang keempat yang membaca keduanya dan dengan serta-merta mensejajarkan keduanya adalah sama. Ketika saya mencoba lebih khusu’ dalam membaca cerpen-cerpen Halim dalam Kolektor Mitos, saya seperti menemukan beberapa hal. Pertama yang paling berkesan ada cara merawat kata-kata menjadi sebuah kalimat. Saat saya mencermati dan baru tersadar, ketika sedang membaca Mutan. Entah mengapa saya merasa Halim tidak semena-mena dalam membangunnya. Sebagaimana arsitek dalam membuat rumah. Rumah itu tidak lantas asal menjadi sebuah bangunan dengan atap dengan beberapa ruang di dalamnya, lantai, jendela dan beberapa pintu untuk keluar masuk si penghuni. Tidaklah sesederhana itu, si arsitek pasti akan mempertimbangkan beberapa kesan estetis di dalamnya. Setiap ruang mendapatkan pertimbangan tersendiri entah dari bentuk atau dekorasi di dalamnya. Sehingga jika itu menjadi ruang tamu akan menjadi ruang tamu yang berbeda dari kebanyakan ruang tamu yang itu-itu saja. Begitu juga dengan beberapa unsur lain pembentuk rumah itu.

Kurang lebih yang dilakukan Halim dalam menyusun cerita adalah perkara yang sama. Saat membaca Mutan, sebuah cerita pendek tentang seorang pemuda yang mengikuti seminar atau sebuah diskusi tentang konsep kosmos. Secara sederhana saya menyebutnya semacam itu. Namun dalam membentuk cerita itu, Halim tampak menjadi arsitek yang tekun. Memberikan lapisan-lapisan lain yang tidak sia-sia untuk membangun keutuhan cerita. Saat saya memperhatikan dengan seksama susunan-susunan kalimat yang membangun cerita, hampir setiap kalimat tampak terasa pas dan tidak sia-sia. Tidak ada analogi atau metafora yang klise. Salah satu yang saya sukai dari Halim adalah kekayaan metafora dalam cerita-ceritanya. Beberapa penulis mungkin jarang memperhatikan hal ini, bahkan setahu saya Murakami dalam cerita-ceritanya juga jarang melsayakannya. Namun jika mengingat Halim tidak hanya menulis cerita, ia juga piawai dalam menulis puisi sepertinya tidak salah jika dalam menulis cerita akan Nampak sekali metafor-metafor yang kaya sekaligus puitis.

Sementara dalam perkara eksplorasi atau eksperimen menurut saya, Halim tidak menawarkan hal-hal baru dalam ceritanya. Entah itu bentuk atau pun tekhnik, semisal kita bandingkan dengan cerita-cerita Dio, mungkin Halim agak tertinggal dalam beberapa hal. Semisal humor, Dio kerap menyuguhkan beberapa humor yang membuatnya tampak cerdas sekaligus penghibur bagi pembaca agar tidak terlalu serius menyimak cerita namun secara tidak langsung membuat kita selalu penasaran dengan cerita-cerita apa yang akan ia tuturkan selanjutnya. Namun secara keseluruhan terkait hal-hal dasar dalam bercerita kita akan melihat upaya Halim sudah terlalu mumpuni. Ia kerap melakukan perpindahan sudut pandang cerita, yang akan menghasilkan suara-suara yang berbeda. Cerita yang dituturkan oleh anak kecil, orang dewasa, laki-laki atau perempuan, tentu saja akan memiliki suara-suara yang berbeda. Namun jika keseluruhan cerita Halim dalam buku kumpulan cerpen, Kolektor Mitos ini dibandingkan dengan cerpen-cerpen Koran tanah air, saya lebih memilih membaca buku ini.
***

____________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya termuat di Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *