MALAM DIAM TERMINAL TEMBOK

Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan pada suatu tempat, seseorang bagai ditelan malam. Ia menyaksikan gelap bersekutu dengan dingin dan jaket hitam. Satu dua bis tiba juga di terminal itu. Terminal yang entah sudah berusia berapa tahun. Tidak ramai. Sepi berdiam di sana. Sebuah warung kopi yang buka sampai malam, sejumlah anak muda menghabiskan malam sambil memainkan andorid. Bis dari arah Desa Pesanggaran (wilayah ujung timur Banyuwangi, dekat Alas Purwo) kadang-kadang tiba di sana. Mengangkut nelayan Muncar yang pulang-pergi dari Laut Pancer. Juga bis jurusan Madura, yang dengan setia mengangkut penumpang dari Muncar yang hendak pulang ke kampung halamannya.

Setelah terminal Tembokrejo itu, perapatan Tembok yang termashur. Ketika orang menyebut Muncar, pertama kali yang diingatnya adalah Perapatan Tembok, kemudian Pasar Muncar, dan Pelabuhan. Di Perapatan Tembok, lampu merah baru sekitar beberapa tahun ini dipasang. Negara memang selalu terlambat, bahkan seringkali tak hadir. Di perapatan itu, toko-toko tua masih berdiri. Sebagian telah ditinggalkan penghuninya. Kabel-kabel dan tiang listrik di atas Perapatan Tembok, terlihat begitu kumuh. Sebuah masjid. Dan sungai. Gereja dengan bangunan Jawa. Dan toko-toko baju. Di terminal itu, orang-orang masih mau melakukan perjalanan entah ke mana dan entah sampai kapan. Jam terminal seolah diam. Dan pohon beringin di sudut Terminal Tembok seolah sosok raksasa yang menakutkan, tetapi selalu diam, mengamati dunia dalam kesepian.

Seseorang mengira, ada yang akan punah. Ternyata manusia masih saja bertahan. Para pendatang. Dan orang-orang yang menunggu lampu merah dengan gerobak buah. Apa yang kau kira punah, ternyata belum punah. Menurut seorang kawan, perkiraan manusia dapat meleset, jika ia tak menghayati keadaan melalui bahasa yang tak selalu terwakilkan pada kata. Menurut seorang penyair yang sehari-hati menjual bibit tanaman, bahwa tanaman mengajari orang sabar. Baginya ada sesuatu yang harus dimengerti dalam kehidupan ini tanpa harus dijelaskan dengan kata-kata. Tanaman mengajarkan ketabahan dan harapan, katanya. Ada yang perlu dijalani dengan tabah. Ada yang sangat kita kenali dalam kehidupan, tanpa perlu susah payah diperkenalkan. Ada kebersediaan, tanpa dipertanyakan atau ditawarkan. Artinya, ia sebenarnya adalah diri sendiri dalam wujud yang lain. Sehingga terkadang ia tak harus mengenali atau menyepakati kembali.

Dan di terminal yang selalu kesepian itu, ada wajah seseorang—yang entah siapa, bercermin pada sebuah perhentian bis antar desa dan kota. Ia bagai meletakkan sejenak kelelahannya bersama ransel yang tua, menghela nafas, dan tentang suatu perjalanan panjang yang tak terjelaskan.

Tembokrejo, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *