MELUKIS DI MATA ULAMA

Taufiq Wr. Hidayat *

Percakapan malam itu di kediaman Kiai Sutara, dihadiri dua orang mahasiswa semester akhir. Sempat saya rekam perbincangan semalam, dan dapat saya tuliskan kembali di sini dalam bentuk cerita.

“Bagaimana Kiai melihat dinamika keilmuan Islam?” tanya salah seorang mahasiswa semester akhir dari Sekolah Tinggi Agama Islam itu.

“Sebagai mahasiswa, kamu harus berpikir pakai otak. Bukan pakai dengkul. Agar ilmumu bukan ilmu dengkul saja. Kayak santri saya ini,” ujar Kiai Sutara.

Saya cengengesan. Kiai Sutara menyalakan rokoknya. Asap rokok yang harum itu menguasai ruangan.

“Kamu tahu, ada sebuah buku kuno berjudul “al-Thabaqat al-Kubro”. Buku kuno itu ditulis Ibn Sa’ad. Di dalamnya dikisahkanlah perihal Zahir.”

“Inggih, Kiai.”

“Setidaknya Jorge Luis Borges, sastrawan agung Argentina abad ke-20, menerjemahkan rumitnya Zahir dalam ceritanya yang menakjubkan. Ia mengambil Zahir dari tradisi Islam sekitar abad ke-18. Zahir dalam Bahasa Arab berarti tampak, terlihat, tak terabaikan. Bisa juga cemerlang, berwarna, atau berseri-seri. Dalam kisah Borges, Zahir ialah seseorang atau sesuatu yang jika seseorang sekali saja melakukan hubungan dengannya, Zahir akan memenuhi pikiran orang tersebut hingga ia tak dapat memikirkan hal lain. Kondisi ini adalah tingkatan kesucian, bahkan kegilaan. Begitu narasi yang dibangun Borges.”

“Zahir”-nya Borges bagai menjelaskan sosok Zahir dari buku kuno yang ditulis pada 807 Masehi di Basrah oleh seorang pemikir Islam, Ibn Sa’ad. Walaupun tetap berbeda, sebab Borges telah menafsirkannya dalam sebuah koin. Kamu tahu Borges?”

“Ampun, Kiai. Namanya saja baru dengar dari Kiai,” jawab saya.

Kedua mahasiswa tamu Kiai Sutara tersenyum kecil.

“Goblok! Santri dengkul. Bagaimana kamu dapat belajar khasanah keilmuan yang luas itu, kalau pengetahuan kamu hanya sebatas kitab Sullam-Safinah?”

“Dengar baik-baik. Dalam buku kuno berjudul “al-Thabaqat al-Kubro” itu, Ibnu Sa’ad menafsirkan “zahir” dalam diri seseorang yang bernama Zahir. Judul buku kuno itu bagai menjelaskan kata “zahir” yang tak dimaksudkan untuk menjelaskan si Zahir. Sebab kata “al-Thabaqat” berarti “lapisan-lapisan”, ialah lapisan-lapisan periodisasi atau waktu dari kehidupan orang-orang suci. Ibn Sa’d pun mengisahkan “alamatun nubuwah”, yakni tanda dan gerak kenabian yang diramu dalam “sirah nabawiyah” (kisah para pengabar Tuhan yang suci). Dan “al-Thabaqat” pun menjadi metodologi tersendiri setelah buku kuno itu diterbitkan dalam tulisan tangan dengan huruf Arab berukuran kecil-kecil berbentuk memanjang tanpa harakat. Yang santri dengkul macam kamu, akan pusing membacanya. Buku kuno perihal hadist ini juga mengisahkan humor-humor Rasulullah dan kawan-kawannya.”

“Bagaimana pandangan Kiai perihal filsafat?” tanya seorang mahasiswa semester akhir Sekolah Tinggi Agama Islam itu.

“Dalam bukunya “al-Falsafah al-Ula” (Filsafat Dasar), al-Kindi (sekitar 800 Masehi) menyebutkan adagium keilmuan “al-hikmah dlâlah al-mu’minîn khudzû ainamâ wajadtumûhâ”. Bahwa hikmah (kebenaran) adalah hak orang beriman, maka ambillah dari mana pun ia berasal. Ini menjadi pintu baginya menguraikan filsafat dan matematika dalam khasanah kehidupan kaum muslimin pada masanya. Segenap “al-mahiyah” (esensi) begitu pula “al-huwiyah” (subtansi) dapat digali dengan filsafat. Sehingga orang beriman mengolah hidupnya dengan dasar-dasar segala ilmu atau pun filsafat. Jika Ibn Sina menulis “asy-Syifa’”, buku kedokteran, maka al-Kindi membuka pintu betapa penting sains dan filsafat dalam kehidupan orang beriman. Begitu banyak para filsuf Islam itu, sehingga tak mungkin saya jelaskan satu demi satu. Cari saja sendiri di perpustakaan sekolah kalian.”

“Baik, Kiai. Apa yang melandasi filsafat Islam itu, Kiai? Dan apakah sikap kritis terhadap wahyu Tuhan tidak berdosa?”

“Kalau pandanganmu sedikit-sedikit dosa, sebaiknya kalian tidak perlu belajar filsafat dan menonton film. Filsafat Islam dibangun dengan prinsip: kebenaran dan kepastian hanya milik Tuhan. Manusia dengan ilmunya, hanya berupaya menemukan kebenaran dan kepastian yang disadari punya batasan waktu serta meniscayakan perdebatan, penyangkalan, dan perbedaan. Bahkan dalam menafsirkan kitab suci, setiap penafsiran selalu diakhiri dengan “wallahu a’lamu bi muradihi” (hanya Tuhan yang mahatahu kebenaran dari segala uraian). Sehingga dalam khasanah keilmuan Islam, kebenaran—termasuk dalam tafsir, selalu mengalami penyempurnaan. Tak ada klaim atas kebenaran di situ.”

“Tapi Kiai. Seringkali terjadi ketegangan atasnama agama, sebagian tak menghormati pluralisme dan menganggap agama di atas segala-galanya dalam kehidupan bersama.”

“Meski dalam kenyataan sejarah seringkali terjadi ketegangan atasnama ajaran Islam. Namun ketegangan dan keributan itu bukan disebabkan perbedaan tafsir dalam ajaran Islam itu sendiri, melainkan karena kegagalan komunikasi dan permasalahan politik. Sehingga jika pada hari ini masih ada sebagian orang beriman percaya bahwa Qur’an lebih hebat dari sains dan filsafat, sesungguhnya ia telah tertinggal berabad lamanya dari para pemikir Islam yang meskipun mendasarkan cara berpikirnya dari nilai-nilai kitab suci dan melakukan kritik terhadapnya, tak pernah menyatakan kitab suci di atas sains dan filsafat. Bagi mereka, filsafat dan sains adalah produk manusia. Sedang kitab suci mereka imani secara privat sebagai firman Tuhan yang tak ada yang menyamai-Nya, yang tak mungkin diperhadapkan atau diperbandingkan dengan karya manusia.”

“Qur’an bukan dimengerti sebagai benda mati. Ia hidup. Sebab ia wahyu yang maha hidup. Teks suci itu menjelaskan dirinya sendiri, yang disebut “yufassiru ba’duhu ba’dhan”. Qur’an itu bukan teks yang statis, tetapi ia mewujudkan dirinya sebagai teks yang hidup dan dinamis. Ingat! Kedinamisan Qur’an tidak meniscayakan pada inkonsistensi. Ia mengharuskan kalian mendalami tafsir dengan segala ilmu guna mengerti kesucian ayat yang hidup pada segala realitas yang berbeda-beda dan beranekaragam. Di situ ilmu membutuhkan dialog dan perjumpaan. Mengetahui masalah dari jantungnya. Bukan meneropong masalah dari menara yang tinggi saja, tapi buta terhadap persoalan nyata yang seringkali bertentangan dengan dugaan-dugaan ilmu. Kalian bicara kelaparan, tapi perut kalian tidak pernah lapar atau tidak pernah merasa karib dengan rasa lapar sebagai sikap kemanusiaan. Agama kamu agama dengkul, ilmu kamu ilmu dengkul.” Kiai Sutara tertawa. Beliau melanjutkan.

“Ibn al-Haitsam atau Alhazen misalnya, mempelajari geometri dan cahaya. Dan ia tidak pernah mengagamakan ilmu-ilmu tersebut. Orang yang hari ini mengagamakan segala hal, sebenarnya bukan kejadian baru. Sekarang jumlahnya sedikit. Dan itu tidak berhasil. Memang akan selalu ada orang beragama yang tidak mau mengakui kehebatan di luar agamanya dari waktu ke waktu, sehingga mencoba mengagamakan atau mengislamkan segala hal yang dirasa akan mengungguli agamanya. Itu terjadi akibat ketaksanggupan sebagian kaum beragama dalam menghadapi perubahan, dan itu selalu terjadi sejak berabad lamanya. Kalau dilihat lebih seksama, mereka itu hanya korban politik. Sehingga tak perlu dianggap mengancam khasanah keilmuan Islam yang mapan dan terus mengalami perubahan dari zaman ke zaman.”

Kiai Sutara mengepulkan asap rokoknya. Mereguk kopinya. Songkok hitamnya yang lapuk, bagai mengisahkan perihal ketekunan dan kesetiaan pada pilihan hidupnya yang indah dan bersahaja. Beliau tidak mengejar kehormatan hanya karena beliau seorang kiai yang mumpuni.

“Jadi filsafat dan sains itu tidak dosa untuk dipelajari, Kiai?” tanya saya.

“Goblok! Dasar santri dengkul kelas Sullam-Safinah. Kamu harus tahu, dosa besar melukis di mata ulama,” ujar Kiai Sutara.

“Berarti melukis itu tidak boleh dalam agama kita, Kiai?” sergah saya.

“Di mata ulama, jelas tidak boleh. Dosa! Karena kamu melukis di mata ulama. Mata ulama kamu lukis. Kurang ajar itu! Mestinya melukislah di kanvas, baru boleh.”

Kiai Sutara tertawa kepingkel-pingkel. Kami bertiga ikut tertawa. Asap rokok Kiai Sutara memasuki kedua hidung saya, aromanya wangi dan nikmat.

Muncar, 2020

_________________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *