Sains, Sastra, Keraguan


Nirwan Ahmad Arsuka *
Kompas, 6 Apr 2001

Hampir dua abad yang silam, seorang ibu muda berusia 18, mengumumkan novelnya. Karya itu kelak jadi salah satu cerita horor dan pelopor fiksi ilmiah yang paling banyak dibicarakan. Di dunia film, novel Frankenstein or the Modern Prometheus (1818) karya Mary Wollstonecraft Shelley itu tak cuma melambungkan Boris Karloff dalam film arahan James Whale (1931). Kajian kontemporer atas novel yang awalnya disambut dingin ini mempertegas posisi naskah tersebut sebagai dokumen literer, sejarah, dan kebudayaan yang penting. Ia merekam imajinasi dan guncangan kultural Eropa Barat pada persimpangan abad 18 dan 19.

Eropa di simpang abad itu tengah dikejutkan oleh dua jenis revolusi. Revolusi pertama, adalah revolusi sosial politik yang dibakar oleh runtuhnya penjara Bastille. Massa dengan kekuatan seperti monster, membebaskan diri untuk memenggal keluarga Kaisar Matahari. Revolusi Perancis menularkan gugatan besar atas hak putra-putri dewa dan bapa-bapa agung pesuruh Tuhan untuk memerintah sebuah negeri.

Revolusi kedua, bergerak lebih jauh lagi dengan mempertanyakan hak dan kekuasaan yang Maha Tinggi sendiri: hak untuk menciptakan makhluk. Revolusi ini dipicu oleh berbagai percobaan ilmiah yang merongrong pengertian manusia tentang kehidupan biologis dan rahasia-rahasianya, yang selama ini diyakini mustahil diintervensi manusia.

Pada dekade tahun 1790-an, misalnya, fisikawan Italia Luigi Galvani memperlihatkan apa yang kini dipahami sebagai basis elektris impuls-impuls syaraf. Ia membuat otot katak bergerak dengan kejutan listrik yang dibangkitkan oleh sebuah mesin elektrostatis. Lewat buku De Viribus Electricitatis in Motu Muscularis (1792), Galvani menjangkiti kaum terpelajar Eropa dengan spekulasi bahwa makhluk yang sudah mati bisa dihidupkan lagi dengan menumpahinya aliran listrik.

Dari sisi kimia, penegasan datang dari penemu berbagai unsur dan efek anastetik gas nitro-oksida: Humphry Davy. Dalam buku On some Chemical Agencies of Electricity (1806), tokoh yang memperkenalkan elektrokimia ini berpendapat bahwa daya-daya kimiawi adalah dasar dari segala bentuk kehidupan. Jika ilmu kimia dapat dikuasai dengan baik, demikian Davy, para ahli dapat secara tuntas mencampuri dunia natural untuk mengubah dan menyempurnakannya.

Beberapa tahun sebelumnya, Erasmus Darwin, kakek si penggagas teori seleksi alam, membentangkan proses kreatif-regeneratif alam. Karya yang juga merongrong pengertian tentang hidup itu, tertuang dalam Zoonomia or the Laws of Organic Life (1793) dan Phytologia (1800). Konon dalam salah satu eksperimen biologisnya, ia menghidupkan kembali sekelompok cacing Vermi. Atmosfer revolusi ilmiah dengan berbagai ledakan spekulasinya itu, memberi pengaruh besar penulisan Frankenstein.

Orang tentu tak perlu menunggu seratus tahun, untuk melihat sejumlah hal yang menggelikan dalam aspek ilmu yang dihadirkan di novel Frankenstein. Cukup menakjubkan memang bahwa manusia pernah dipandang seperti mesin listrik yang bila dicolok dengan kabel bertegangan, akan langsung hidup, membaca epik besar dan berfilsafat dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berat yang menggoyang dasar-dasar kebudayaan Barat. Tetapi, harus diingat bahwa Mary Shelley awalnya memang hanya berniat menulis cerita horor, bukan sebuah novel yang akan selalu memuat ilmu pengetahuan.

Lagi pula bahkan pemikir dan ilmuwan terbesar pun membuat banyak kesalahan. Diperkirakan bahwa hampir sekitar 90 persen karya Isaac Newton berhubungan dengan alkemi dan mistik-klenik, dua jenis “ilmu” yang tentu dianggap serius oleh Newton mengingat proporsinya yang besar, tetapi yang kini sama sekali tak dianggap ilmiah. Adapun sisa karyanya yang 10 persen, yang mungkin dianggap sepele oleh Newton sendiri, memang bermula dari pertanyaan sepele. Karya “besar” Newton, Principia, bermula sebagai reaksi atas pertanyaan enteng Edmund Halley. Penemu komet Halley itu ingin tahu bentuk orbit sebuah bintang sapu, andai betul gaya gravitasi yang menariknya, secara proporsional berbanding terbalik dengan jaraknya dari Matahari.

Mirip dengan itu, adalah Rene Descartes. Sejumlah meditasi filosofis yang ia lakukan tetap dikaji orang sampai sekarang, baik untuk diuji maupun untuk dimaki. Salah satu makian yang sering meleset ditujukan pada metode reduksinya. Dari reduksionisme Cartesian-lah terbuka jalan bagi ditemukannya pinisilin dan dikirimnya manusia ke bulan. Kini, biologi molekuler dan rekayasa genetika menjadi ungkapan tertinggi pandangan Cartesian. Meski demikian, tak banyak yang tahu bahwa sebagian besar karya Descartes tentang ilmu fisika boleh dikata ngawur pol.

Adam yang iblis

Frankenstein yang mewakili salah satu bentuk hubungan sains dan sastra itu, selamat dari kekonyolan karena ia hanya menggunakan ilmu untuk bergulat dengan persoalan besar yang sudah mengganggu manusia sejak lama. Persoalan tersebut adalah persoalan kembar berupa makna menjadi ciptaan, menjadi manusia di satu sisi, dan makna menjadi sang pencipta di sisi lainnya. Frankenstein juga bergulat dengan persoalan yang kian terang belakangan ini. Yaitu bahwa jika manusia kelak hancur di tengah revolusi dahsyat ilmu dan teknologi, kehancuran itu tidak disebabkan oleh revolusi ilmiah dan teknologi itu sendiri, tetapi oleh sistem nilai konservatif yang tak mampu menopang revolusi ilmu dan teknologi.

Victor Frankenstein adalah anak muda Genewa yang terpukau oleh ilmu, oleh rahasia hidup dan mati. Ia menjelaskan dirinya sebagai orang dengan temperamen yang kadang meledak, dengan gairah yang penuh api, dan dengan sekian watak dasar yang membuatnya tak suka pada pencarian dan permainan kekanak-kanakan. Dialah sang Prometheus modern dengan keinginan menggebu untuk belajar, tetapi bukan berarti mempelajari dengan rakus semua hal tanpa pandang bulu. Victor tidak begitu tertarik pada struktur bahasa, hukum-hukum pemerintahan, maupun politik berbagai negara. Yang ingin ia pelajari adalah rahasia langit dan bumi. Penyelidikannya terarah pada hal-hal metafisis, yang dalam pengertian tertinggi adalah rahasia fisis terdalam alam semesta.

Horor novel ini mulai dibenihkan ketika Frankenstein bergerak malam-malam mengumpulkan perca-perca (potongan-potongan) tubuh manusia. Tubuh yang utuh dan segar bugar jelas menimbulkan rasa suka, bahkan mungkin menyalakan gairah, yang memandangnya. Tetapi, tubuh yang terpotong-potong, bengkak dan setengah busuk; sisa-sisa bangkai yang dikanibal dan dirakit lagi, akan menimbulkan rasa jijik yang universal. Di sebuah malam, setelah susah payah yang panjang, aliran listrik berhasil menghidupkan si makhluk mayat rakitan. Takjub dan sekaligus ngeri melihat hasil karyanya, Victor kabur meninggalkannya. Makhluk yang ditinggalkan ini kemudian lari menyelinap, dan dalam kesendiriannya mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar yang menjadi jantung novel ini. Identitas, tempat ia meletakkan diri dalam ruang waktu sejarah, menjadi persoalan penting bagi monster yang akhirnya bertanya, “Apa gerangan aku ini?”

Tentang penciptaan dan sang pencipta dirinya, si Monster yang antara lain membaca Goethe dan Milton itu, memang tak tahu apa-apa. Tetapi, ia tahu bahwa ia tak berteman, tanpa hak milik, bahkan tanpa sepotong nama. Ia hanyalah sebentuk makhluk dengan sosok rusak yang memuakkan. Ia bukan makhluk yang serupa manusia. “Tak ada yang kulihat dan kudengar makhluk yang serupa aku. Apakah aku seekor monster, najis di muka bumi, yang membuat semua orang lari menjauh, makhluk yang ditampik dengan muak oleh semua umat?.”

Bagai Adam ketika pertama kali diciptakan, si monster tak punya kaitan apa pun dengan segenap ciptaan yang ada. Ia sungguh makhluk yang sama sekali lain. Tetapi, keadaan Adam sangat jauh berbeda dengan sang Monster dalam semua aspek lainnya. Adam lahir dari tangan Tuhan sebagai makhluk sempurna, bahagia dan sejahtera, dengan hak yang nyaris tak terbatas atas apa saja di Taman Firdaus. Sementara sang monster tercipta sebagai makhluk celaka, menderita, dan benar-benar penjelmaan segala yang busuk.

Kurang lebih seribu tahun yang silam, penyair sufi Abul Majid Majdud Sanai dan Husain ibnu Mansyur Al-Hallaj menulis sajak-sajak tentang Sang Iblis yang mengeluh dipermainkan Tuhan. Iblis menjadi korban dari cinta dan tauhidnya pada Allah yang melemparkannya ke neraka. Monster Frankenstein juga menyatakan kesedihannya karena ditolak oleh penciptanya dan ditampik oleh masyarakat sekitarnya. Manusialah dengan segala prasangka piciknya, yang terus-menerus menyudutkan si makhluk hingga jadi monster. Kita bisa merasakan simpati pada monster buruk itu, ketika ia meminta kepada Victor, sang Bapak sekaligus penciptanya, agar diberi pasangan yang sama buruknya seperti dirinya. Mereka akan memencilkan diri ke tempat yang tak diperuntukkan bagi manusia.

Ketika Victor membatalkan penciptaan Hawa bagi si Adam yang mengerikan itu, si makhluk jadi-jadian dengan sengit membalas: untuk menularkan penderitaan yang dialaminya kepada penciptanya. Satu persatu orang-orang yang dicintai Victor mati dibunuh oleh si Monster. Victor pun menyiapkan pembalasan dan mengejar si monster sampai ke Kutub Utara yang tak pernah dijelajahi manusia. Ketika Victor akhirnya meninggal akibat perburuan itu, si monster juga bunuh diri dalam penyesalan yang tak tepermanai. Pergulatan simetris antara hak-hak sang makhluk dan kewajiban sang pencipta, berakhir sebagai saling ketergantungan mutlak antara keduanya, antara si makhluk dan si pencipta. Begitu mutlaknya hingga, seperti komentar Fred Botting, hanya kehancuran bersama yang akhirnya menyudahi ikatan itu.

Metateori

Sastrawan seperti Mary Shelley bukanlah satu-satunya kelompok yang mudah terpukau oleh ilmu pengetahuan. Kadang kala keterpukauan itu sedemikian kuat sehingga ilmu dikhianati menjadi bukan ilmu, menjadi jimat untuk menyelesaikan masalah dengan gampangan. Keterpukauan pada sebuah teori, pada pencapaian ilmiah, sering berarti kehilangan sikap ilmiah, yakni sikap yang selalu disertai dengan sejumlah takaran tertentu skeptisisme. Memang ada kecenderungan dalam pikiran manusia untuk menjadikan sebuah teori menjadi metateori, sesuatu yang bisa menjelaskan hal-hal yang tak terjangkau oleh teori itu. Kecenderungan ini adalah bentuk lain hasrat manusia pada totalitas, yang juga bisa menjangkiti para ilmuwan.

Di akhir dekade tahun 1940-an, ditemukan dua teori yang menggemparkan: Cybernetics oleh Norbert Wiener dan Teori Informasi oleh Claude Shannon. Para pendukung Cybernetics menyatakan bahwa sangatlah mungkin menciptakan sebuah teori tunggal berdasar sistem umpan balik, yang dapat menjelaskan operasi mesin, entitas biologis, dan kehidupan ekonomi negara-negara bangsa. Setelah sekian dekade, terlihat bahwa Cybernetics hanya cocok untuk mesin-mesin, tidak untuk yang lainnya. Teori Informasi Shannon juga akhirnya bertahan di wilayahnya sendiri, wilayah teknologi komunikasi, sekalipun sejumlah orang melihat kaitannya dengan linguistik, psikologi, ekonomi, biologi, bahkan seni. Pada dekade tahun 1950-an Teori Permainan (game theory) yang dipelopori John von Newman sempat juga jadi metateori. Ia dikira mampu menggambarkan seluruh perilaku manusia dan karenanya memungkinkan dibangunnya sistem yang besar untuk mengatur dan mengarahkan tindak-tanduk umat manusia.

Metateori yang mungkin paling banyak memicu kegemparan adalah Teori Catastrophe. Teori ini, seperti juga Teori Bifurkasi, merupakan bidang yang berada dalam wilayah sistem-sistem dinamis. Teori Catastrophe dirumuskan oleh matematikawan Perancis, Rene Thome, di dekade tahun 1960-an. Thome awalnya membangun teori ini sebagai sebuah formalisme murni matematis. Belakangan dia dan banyak orang lainnya mulai mengklaim bahwa teori itu memberi wawasan terhadap berbagai macam fenomena fisik dan sosial yang menunjukkan watak diskontinyu. Karya utama Thome, Structural Stability and Morphogenesis (1972), memperoleh sambutan luar biasa di Eropa dan Amerika Serikat. Seorang penulis di Times London menyebutkan bahwa mustahil memberikan deskripsi singkat atas akibat mendalam buku ini. Dalam satu hal, demikian si penulis, satu-satunya buku yang sebanding dengannya adalah Principia Newton; keduanya memberikan kerangka kerja konseptual baru untuk memahami alam.

Persamaan matematis Thome menunjukkan bagaimana sebuah sistem yang tampak teratur dapat mengalami perubahan mendadak, pergeseran katastrofik, dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Thome dan terutama pengikut-pengikutnya dengan sangat bersemangat mengajukan bahwa persamaan itu dapat membantu menjelaskan bukan saja peristiwa-peristiwa fisik murni seperti gempa bumi, tapi juga gejala-gejala lain seperti munculnya kehidupan dan kecerdasan, metamorfosis seekor ulat menjadi kupu-kupu, dan jatuh bangunnya sebuah peradaban.

Di akhir dekade tahun 1970-an, setelah hiruk-pikuk Teori Catastrophe mulai mereda, serangan balik bermunculan. Akhirnya Rene Thome sendiri mengakui bahwa Teori Catastrophe sudah “mati”. Ia ditarik lepas dari ikatan-ikatan awalnya, hidup di luar batas-batas intelektualnya. Kematian Teori Catastrophe, tak membuat dunia kapok dan mengangkat Teori Chaos dan Kompleksitas sebagai metateori baru. Totalitas, meminjam sastrawan Mexico Carlos Fuentes, memang ilusi yang meresap, proyeksi dari keinginan bawah-sadar manusia akan zaman emas yang gilang gemilang, keadaan dengan kemuliaan tanpa cacat, keutuhan sebelum kejatuhan yang tragis. Harapan agar segalanya diketahui jelas hingga otak jadi damai dan tak perlu lagi berpikir, dan dunia jadi jauh lebih mudah dikuasai. Keinginan untuk tahu dan menguasai bisa menjadi sangat kuat, sehingga pengetahuan tak lagi jadi sarana memperjelas dunia, tetapi justru merumitkannya. Atau justru menyederhanakannya dengan cara yang menggelikan.

Alice dan logika

Jika Mary Shelley menggunakan teori-teori ilmu di zamannya untuk membangun kisah yang mengguncangkan, Lewis Carroll menggunakan kisah untuk menjelajahi logika dan bahasa yang kelak membuka sejumlah wilayah baru ilmu pengetahuan. Sebelum menulis novel, Carroll alias Charles Lutwidge Dodgson, bekerja sebagai pengajar matematika di Universitas Oxford. Karya Carroll yang punya akibat serius itu bermula sebagai cerita kanak-kanak, Alice in The Wonderland dan Through the Looking-Glass.

Dua novel Carroll itu ditulis di zaman Victorian yang dikenang karena tata kramanya yang mencekik, dan nilai-nilai moralnya yang mengekang. Karakter-karakter di novel tersebut menunjukkan perilaku dan sensitivitas yang mengejek kerewelan dan kemunafikan era tersebut. Novel Carroll juga mengejek sastra kanak-kanak zamannya, yang umumnya dijejali dengan moral yang simplistik, dan dibebani dengan upaya besar mendidik generasi muda. Seperti umumnya sastra yang punya misi moral dan pendidikan, sastra kanak-kanak Victorian ditandai dengan isinya yang gersang dan imajinasinya yang kerontang. Barangkali benar bahwa moral dan imajinasi, seperti halnya hukum dan keadilan, dapat berlaku seperti dua saudara sepupu yang tidak ingin saling tegur.

Novel petualangan Alice bisa dilihat sebagai pergulatan Carroll dengan dunia kanak-kanak yang terancam bahaya. Industrialisasi yang mulai marak saat itu, membawa pula akibatnya yang luas berupa eksploitasi dan barisan buruh anak. Carroll tampaknya melihat dunia kanak-kanak sebagai dunia yang genting, yang dibayangi oleh kematian dini dan kehadiran orang-orang dewasa yang kuasa, tetapi seringkali dengan pikiran dan tindak-tanduk yang absurd dan munafik. Dunia ajaib dalam novel menjadi taman kanak-kanak tempat mereka sekaligus berjarak dan mengejek dunia luar.

Simpati Carroll pada kanak-kanak sangat kuat, begitu kuat hingga membuat banyak pihak curiga pada preferensi seksualnya. Tetapi, bukan cuma pembelaan Carroll terhadap kanak-kanak itu yang membuatnya banyak dibicarakan. Pergulatan matematis Lewis Carrol dalam dunia logika simbolik membuat karya-karyanya menjadi pendahulu natural bagi karya besar Bertrand Russell dan Alfred North Whitehead, Principia Mathematica (1910-1913).

Saat Lewis Carroll menuliskan novelnya, para ahli aljabar di Inggris telah menyapu pengertian akan adanya makna inheren dari simbol-simbol aljabar. Ketika Alice terjatuh ke liang kelinci, ia melihat citra simbol-simbol. Secara arbitrer simbol-simbol itu merujuk pada merek, label, dan aturan-aturan inferensi yang ditetapkan secara mekanik. Pengertian bahwa simbol-simbol aljabar bersifat arbitrer dan hanya berguna dalam kaitannya dengan formulasi logika, memuncak pada Principia Mathematica, yang adalah buku suci logisisme. Logisisme memandang bahwa matematika dapat direduksi ke logika formal, bahwa seluruh matematika dihasilkan dari premis-premis yang murni logika dan menggunakan hanya konsep-konsep yang bisa didefenisikan menurut istilah logika.

Kesadaran dramatis tentang bahasa, pikiran, dan dunia, cukup menonjol dalam novel-novel Carroll. Ini bisa dilihat pada bagaimana Carroll menangani permainan kata, sebuah kegiatan yang sudah dikenal manusia bahkan sejak jaman prasejarah. Permainan dan perakitan kata memang sama alaminya dengan penceritaan lelucon. Namun, adalah Carroll yang mengangkatnya dari sekedar permainan pengisi waktu menjadi fondasi dari sebuah karya sastra. Karya-karya Carroll dengan kuat memanfaatkan kecenderungan manusia pada analogi dalam fonetik, ejaan, bunyi, presentasi visual, referen historis, dan kultural. Ini dilakukan untuk menghadirkan satu kata, satu terma, dengan makna ganda sebanyak mungkin. Ketertarikan Carroll pada kemungkinan-kemungkinan bahasa itu, kelak dijelajahi lebih jauh oleh James Joyce.

Perhatian Carroll juga bergerak mendahului penjelasan fungsi-fungsi komunikasi, untuk menyelidiki pertanyaan semiotik provokatif yang diajukan oleh Humpty Dumpty: siapakah sesungguhnya sang tuan dalam proses signifikasi? Manusiakah yang berkuasa atas tanda-tanda yang ia manipulir, atau tandakah yang menguasai manusia lewat tekanan subtil yang dipaksakan oleh konvensi dan syarat-syarat? Dalam dunia Carroll, sang penguasa dari kegiatan penandaan adalah para penyair, logikawan, dan orang-orang gila. Dua yang pertama tunduk pada konvensi penandaan, tetapi kemudian mengatasinya, sementara yang terakhir mengabaikan konvensi-konvensi itu. Perhatian Carroll pada sistem tanda menjadikannya pemula bidang semiotika.

Borges dan keraguan

Bentuk hubungan paling menakjubkan antara sains dan sastra, terbentang pada karya-karya Jorge Luis Borges. Penulis Argentina ini mendapat perhatian dari komunitas ilmiah bukan karena ia bermain-main dengan sains, tetapi karena ia suntuk menggeluti sastra. Sambil terus-menerus berupaya menemukan (dan menciptakan) kembali sastra bagi dirinya, Borges bercerita tentang hampir segala hal yang mungkin dipikirkan dan diimpikan manusia. Di hampir seluruh karyanya, Borges terasa betul seperti ilmuwan sejati menghadapi diri dan dunia. Skeptisisme menjadi salah satu penuntun kerjanya. Dalam seri ceramah di Harvard yang dibukukan dengan tajuk This Craft of Verse, Borges mengaku bahwa selain kebingungannya, ia hanya menawarkan keraguan. Ia terus-menerus meragukan pencapaian mediumnya, sebagaimana ia meragukan alam semesta dan dirinya sendiri. Keraguan Borges yang kekal adalah keraguan yang terkendali, yang tak terlalu boros hingga melumpuhkan imajinasi.

Ada banyak hal yang ditawarkan oleh karya sastrawan buta yang punya wawasan luas dan tajam ini. Pusat studi Borges di Universitas Aarhus, Denmark, mencatat sejumlah mutiara yang tersimpan dalam naskah-naskah Borges. Selain ontologi-ontologi fantastik, Borges menawarkan epistemologi transversal, tata bahasa utopia, sejarah semesta yang beraneka ragam, deskripsi binatang-binatang khayal yang logis, etika naratif, matematika imajiner, thriller teologis, bentuk-bentuk geometri nostalgis, dan ingatan-ingatan yang diciptakan. Di atas semua itu adalah filsafat yang diterima sebagai kebingungan, pemikiran sebagai konjektur, dan puisi sebagai bentuk terdalam rasionalitas.

Berbeda dari Borges sendiri, fiksi-fiksinya sudah lebih jelas membayangkan akibat gelombang revolusi komunikasi dan informasi. Fiksi-fiksi Borges sudah membayangkan Internet, sedangkan Borges sendiri (di luar karyanya), belum. Worldwide Web dan komputer saku mengingatkan kita pada fiksi The Book of Sand, sebuah buku yang jumlah halamannya sebanyak jumlah pasir. Ireneo Fuenes, seperti dikatakan oleh Douglas Wolk, tampak seperti megaserver atau search engine yang ditimbuni dengan memori berbagai link, baik yang masih aktif maupun yang sudah lama mati. Aleph adalah portal di mana orang bisa melihat seluruh titik alam semesta dari sudut mana pun. Adapun jaringan dunia virtual yang terus-menerus membesar dan merangkul seluruh dunia, bisa dianggap sebagai Tlön.

Pada tahun 1941, terbit kumpulan fiksi Jorge Luis Borges Taman Jalan Setapak Bercecabang. Di sana Borges berkisah tentang seorang bangsawan cendekia Tiongkok, Ts’ui Pen. Ia mengunci diri di Paviliun Kesunyian Bercahaya untuk membangun labirin waktu yang adalah sebentuk bayangan tak sempurna, meski juga tak menyimpang dari alam semesta sebagaimana yang ia pahami; sebuah semesta yang berbeda dari pengertian Newton dan Schopenhauer. Di dalamnya, saya kutip terjemahan Hasif Amini, ada deretan waktu yang tak terhitung banyaknya, waktu-waktu yang berkembang membentuk rangkaian, memancar, memusat, dan sejajar. Jaringan waktu-waktu ini, yang satu sama lain bisa saling mendekat, memecah, mencabang, dan tak saling menyadari selama jutaan abad, menyangkut segala kemungkinan tentang waktu ke masa depan yang tak terhitung jumlahnya.

Waktu imajiner Borges, sangat mirip dengan waktu imajiner yang dikembangkan Richard Feynman untuk membangun konsep jumlahan sejarah, dua dekade sejak terbitnya Taman Jalan Setapak Bercecabang. Richard Feynman mengembangkan ide berupa teknik integral lintasan itu, untuk menangani problem posisi elektron yang tersebar rata dalam atom hingga tak dapat diukur serentak posisi dan kecepatannya dengan teliti. Ide penting ini pertama kali dilontarkan Feynman pada tahun 1964 dan tercantum dalam buku The Character of Physical Law, terbit setahun kemudian. Kelak, ide jumlahan sejarah Feynman digunakan dengan cerdik oleh Hawking untuk membuat alam semesta bisa dijelaskan seluruhnya oleh ilmu pengetahuan. Untuk mengerti jalan pikiran Tuhan.

Pemikiran Borges yang lain tidak cuma bisa ditemukan di dasar pengembangan teori kosmos Hawking, tetapi juga pada Teori Superstring. Dalam Tlön, Uqbar, Orbius Tertius, Borges bercerita tentang geometri di Tlön yang terdiri dari dua jenis yang agak berlainan. Yang pertama adalah geometri visual, yang lain adalah geometri taktil yang berhubungan dengan gerak. Geometri taktil menyerupai geometri yang sudah dikenal manusia sejak Euclides, dan tingkatannya berada di bawah geometri visual. Dasar geometri visual adalah permukaan, bukan titik. Geometri seperti yang dibayangkan Borges inilah yang disusun oleh fisikawan Paul Dirac pada tahun 1962. Hasilnya berupa model imajinatif berdasar membran yang adalah permukaan berdimensi dua. Dirac kemudian mendalilkan bahwa elektron sesungguhnya tidaklah mirip sebiji titik, tetapi semacam buih, selembar membran yang menutup ke dalam dirinya. Persamaan yang didalilkan Dirac ini adalah salah satu pilar terpenting dalam Teori Superstring, yang sejauh ini dianggap kandidat terkuat TOE (Theory of Everything).

Karya-karya Borges menunjukkan bahwa sastra yang bermutu, seperti juga karya-karya besar cabang seni lain, bukan hanya dapat melampaui penciptanya. Karya-karya besar itu, dalam beberapa hal, juga bisa mendahului jangkauan dahsyat pengetahuan ilmiah.
***

_______________________
*) Nirwan Ahmad Arsuka lahir di Kampung Ulo, Barru, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan formal di Teknik Nuklir, FT-UGM, 1995. Semasa awal kuliah di Yogyakarta, ia ikut mendampingi anak-anak dan warga Pinggir Kali (Girli) Code. Bersama teman-temannya ia kemudian mendirikan kelompok studi MKP2H (Masyarakat Kajian Pengetahuan, Peradaban dan Hari Depan) dan kelompok aksi GEMPURDERU (Gerakan Masyarakat Purna Orde Baru). Pernah bekerja sebagai wiraswastawan, sebelum diundang menjadi editor tamu untuk Sisipan Budaya Bentara Kompas, anggota Dewan Kurator Bentara Budaya Jakarta (BBJ), dan direktur di Freedom Institute. Tercatat sebagai associate member The Long Riders Guild, organisasi internasional pertama para penunggang kuda jarak jauh sedunia.
Selain di Harian Kompas, tulisannya juga pernah muncul di jurnal Inter-Asia Cultural Studies dan International Journal of Asian Studies. Bukunya yang telah terbit, Two Essays (BTW, Lontar, 2016. Edisi 3 bahasa: Indonesia, Inggeris, Jerman), Percakapan Dengan Semesta (Yogyakarta: Circa, 2017) dan Semesta Manusia (Yogyakarta: Ombak, 2018). Sejak 2014, bersama sejumlah kawan, ia aktif membangun Jaringan Pustaka Bergerak Indonesia, gerakan literasi yang mengandalkan kekuatan masyarakat dan menyebar dengan kudapustaka, perahupustaka, bendipustaka, motorpustaka, dan aneka wahana pustaka lainnya.
https://arsuka.wordpress.com/2008/09/17/sains-sastra-keraguan/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *