Persiapan Nyeruput Kopi

Fatah Yasin Noor *

Masih panas. Adalah ketenangan penyair mendalami rasa. Kopi panas itu kita tunggu sejenak. Sengaja kita lihat beberapa menit. Aku tidak mendiamkan kopi. Aku cuma membiarkan kopi tanpa kusentuh, karena masih panas. Aku diam. Kopi bergerak bersama cuaca. Sejenak saja panasnya berkurang. Aku dekatkan bibir cangkir ke bibirku. Masih panas. Tangan kananku menurunkan kopi panas itu kembali ke meja. Kopi panas di cangkir kecil buatan Cina. Di atas meja kayu. Kadang kita perhatikan timbul bahasa. Uap kopi mengepul samar, lembut bersama cuaca sore. Merepresentasikan ekosistem ini – meminjam istilah Afrizal Malna – adalah tergantung. Bagaimana objek diam-diam menyuarakan sesuatu yang membongkar pengalaman penyair. Tapi kopi itu masih panas. Celakanya aku bukan pengamat ekosistem yang rerinci. Mata seperti malas menandai semua benda yang mengepung. Hanya kopi panas. Kita menyeruputnya sebelum dingin. Telah ditambah sedikit gula. Mungkin ini butiran biji kopi dari Boyolangu, aku tak tahu. Oh tidak, ini kopi dari Lerek, Gombeng. Ada akar melayang dalam uap kopi. Seperti ingin membuang kejenuhan dalam agama.

Seseorang yang duduk di pojok Itu merasa tertekan. Otaknya dipenuhi pesan-pesan. Dari seseorang bersorban putih. Melupakan nikmat (seperti mendustakan nikmat) suasana sore di lereng gunung yang sejuk ini. Uap kopi panas tetap saja menari. Membuat arsitektur bahasanya sendiri. Seperti ikhlas membagi sedekah di media maya. Hitam yang tak terlalu hitam. Dengan kekentalan yang cukup. Intiplah dari atas kertas tissue di sebelah kanan. Meja kayu persegi panjang tak beraturan. Permukaan meja rata dan licin. Aku takjub kepada kayu sejenak. Tebal, seperti langsung diusung dari hutan. Aku selalu curiga dengan ekosistem ini: antara meja kayu, secangkir kopi panas, dan tissue. Mereka hadir secara serempak. Tak mungkin aku ikut tertekan. Sebab aku tengah menikmati pemandangan kopi panas. Mungkin dalam hatimu juga. Meja yang sanggup menahan beban lenganmu dalam abad abadi. Kau pasti bisa mengelus meja kayu ini tiga puluh tahun yang akan datang.

Sebuah meja yang juga menunggu gesekan lengan dan siku yang membuatnya lembut. Teringat sebuah adegan film Hollywood. Aku bayangkan topi koboi dan pistol di sabuk kulit di pinggang. Celana jins biru. Masuk bar pelahan dengan mata tajam dan waspada. Seseorang yang duduk di pojok itu sibuk dengan dirinya sendiri. Agaknya tengah mempertimbangkan sesuatu.

12 juli 2020

*) Fatah Yasin Noor, lahir di Banyuwangi tahun 1962. Puisi-puisinya dalam antologi API (Angkatan Penyair Indonesia, 1998). Esai-esainya bagai nyanyian ganjil -mengusung sesuatu yang nyaris tak tertangkap publik. Sajak-sajak tunggalnya terkumpul dalam buku “Gagasan Hujan” (PSBB, 2003), “Rajegwesi” (PSBB, 2009). Kumpulan catatannya yang unik dan panjang terhimpun dalam “Seribu Jalan Raya” (PSBB, 2011). Tulisannya tersebar di media-media massa nasional dan lokal, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, Majalah Budaya Jejak dan Bali Post. Puisinya yang dimuat di koran Bali Post itulah yang menarik, waktu itu redakturnya Umbu Landu Paranggi. Tahun 1979, esainya yang kritis berjudul “Film Nasional, Sebuah Tanggapan” dimuat media sastra legendaris dan pertama kali di Banyuwangi, Kertas Budaya Jejak, besutan alm. Pomo Martadi dan Hasnan Singodimayan.
Fatah menempuh pendidikan menengah dan tinggi di Yogyakarta, -boleh jadi tradisi berpikir kritisnya terbangun dari sana. Di Banyuwangi, nyaris media sastra tidak lepas dari tangan dinginnya. Ia Pimred jurnal Sastra-Budaya Lembaran Kebudayaan, dan pernah mengomandani kelompok budayawan serta seniman yang menolak Dewan Kesenian Banyuwangi (DKB) tahun 2002. Ia bersama gerbong para budayawan “bawah tanah” sempat mendirikan DKB-Reformasi, sebagai tandingan DKB “pemerintah” bergaya Orba waktu itu. Gerak budaya yang dikerjakan sastrawan nyentrik ini tak bisa dianggap remeh, terbukti “gerbong” DKB-R produktif melahirkan karya-karya berkualitas secara berkala dan melakukan kajian sastra pula penulisan sejarah Banyuwangi. Tahun 1998, menjadi salah satu dari kelompok muda yang menghadirkan alm. W.S. Rendra di Gedung Wanita, Banyuwangi, dalam peluncuran buku puisi para penyair Jawa-Bali “Cadik”, sehari sebelum tumbangnya Soeharto! Di masa itu bukan main-main mengadakan kegiatan sastra yang kritis berhadapan dengan aparat. Di tahun itu juga, bersama penyair dan budayawan lain, ia mengemukakan sikap anti kekerasan menyoal peristiwa “santet” di Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *