Pagelaran Agustusan di Rumah Budaya Pantura


Deni Jazuli

Pembukaan acara Larung Sastra #7 RBP dengan menampilkan atraksi pencak silat Pagar Nusa, kemudian dilanjut pemutaran rekaman suara Presiden Republik Indonesia Pertama Ir. Soekarno yang membacakan teks Proklamasi, disusul menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman secara bersama-sama.

Membincang sejarah kesusastraan Indonesia memang selalu menarik untuk terus dikupas, ada sebagian berpendapat bahwa kesusastraan di Indonesia masih relatif berusia muda, dibanding dengan kesusastraan negara lain, tapi bukan berarti jauh dari ketinggian mutu-nilainya. Setidaknya itu yang bisa ditangkap dari “Bincang Santai” yang dihelat di Rumah Budaya Pantura (RBP), Rabu 26 Agustus 2020 kemarin.

Periodesasi kesusastraan Indonesia tidak lepas dari peran H.B. Jassin yang memperiodesasikan berdasarkan kurun waktu dan peristiwa yang melatar belakanginya, sehingga bisa dipilah-pilah priodesasi Angkatan Pujangga Lama, Pujangga Baru, Angkatan 45, dan seterusnya. Tentu saja diketahui pula tokoh-tokoh yang eksis berkarya diperiodesasinya, muncul nama Chairil Anwar diera Revolusi, Taufiq Ismail diera Kemerdekaan.

Dalam bincang santai kesusastraan pada acara Larung Sastra kali ini, hal tersebut diuraikan dengan sangat jelas oleh Mashuri, dan Nurel Javissyarqi sebagai narasumber. Nurel di dalam makalahnya mengurai ketokohan Chairil Anwar (CA), kebesaran, kekurangan, dan temuan-temuan yang mengungkap beberapa kontroversi sekitar kepenyairan CA.

Hadir dalam acara larung sastra tersebut beberapa tokoh dari Dewan Kesenian Jawa Timur, Dewan Kesenian Surabaya, hadir pula penyair-penyair Jawa Timur yang turut membacakan karya-karyanya: Dody Yan Masfa, Zuhdi SWT, Sholihul Huda, Rakai Lukman, Ahmad Fanani Mosah, dan kolaborasi Wiwid (Wijiologi) dari Surabaya dengan Ifeginia Tribuana, menjadikan Larung Sastra #7 begitu luar biasa.

Berikut ini ungkapan Arsiparis Lamongan Agus Nur Buchori di facebook-nya: “Larung Sastra, bersama DKJT dan Balai Bahasa Jawa Timur, Ada pembicaraan menghidupkan seni dan seniman, bagaimana berkarya dan tentunya Bersenimanlah dengan ikhlas dan jangan terburu-buru. Mulailah dengan bersenang-senang, dan perbanyak komunikasi dengan pembaca atau khalayak penikmat sastra sebagai bagian untuk berproses ‘Menjadi’. Dan jangan jadi penyendiri apalagi sok eksklusif dalam bidang yang Anda geluti.”

Dari Pendopo Rumah Budaya Pantura, Jl. Cinde Amoh Komplek Makam Maulana Ishaq, Utara GOR Kemantren, Paciran, Lamongan, Jatim, Alhamdulillah sekali lagi mampu menghadirkan kegiatan kesusastraan yang meriah dan bermutu, semoga saja kedepan dapat terus istiqomah. Selamat dan sukses. Salam seni, dan budaya!

27 Agustus 2020

2 Replies to “Pagelaran Agustusan di Rumah Budaya Pantura”

  1. BERITA BUDAYA YANG TIADA DUANYA. APALAGI DIDUKUNG SOUNDSYSTEM 3 DIMENSI YANG LANGKA ADANYA….
    HAHAHAHA…….
    ($alamdari pendukung : Ahmad Fanani Mosah? pendatang dari kota wingko Babat , yg datang tanpa wingko…hehehe…)

Leave a Reply to Ahmad Fanani Mosah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *