Puisi-Puisi A. Rego S. Ilalang

LANGKAH KECIL BOCAH MENULIS SEJARAH DIRI

langkah-langkah kecil bocah-bocah yang hatinya memancar cahaya.
tak pernah terhenti walau aral rintang menghadang.
langkah-langkah kecil bocah-bocah yang hatinya memijar bara.
walau nyatanya tak berpunya.
tetap terayun mengayun tak kenal tatih.
tak kenal letih.
tetap mengayun bagai matahari menyibak mendung.
bagai matahari menyapu embun dan melelehkannya.
bagai matahari tak lelah menanda waktu.
meniti hari.

langkah-langkah kecil bocah-bocah yang hatinya memercik semangat.
tetap meniti hingga mimpi mewujud.
kata menyerah tak akan pernah tersebut.
kata kalah pun hilang luput.

langkah-langkah kecil terayun.
terayun.
terayun mengayun menderap degap menjadi.
saat kata kalah.
saat kata menyerah.
terkubur di jejak-jejak yang telah jauh tertinggal.

langkah bocah-bocah terayun.
kecil memang.
sederhana memang.
tapi dari sanalah keluarbiasaan tercipta.
dari sanalah keistimewaan jadi nyata.

bocah-bocah dengan langkah-langkah kecil.
bersama menulis sejarah tanpa menjarah.
mengukir prasasti diri.
dari tak berpunya tetap mengukir prestasi.

05-05-2015

PEREMPUAN SEMESTA

Kau adalah perempuan semesta.
Kau telan matahari.
Hingga pendar tubuhmu.
Tiap pagi kau terbitkan di matamu.

Melelehkan embun dan mengantarnya memeluk bumi.
Senyum dan binar pipimu adalah langit pagi.
Kau tangkup cinta tanpa cela dan sia.
Dengan rasa dan pipimu yang merona.

Kau adalah perempuan semesta.
Lalang perjalananmu membuat siang tak gamang.
Terbacalah semua tanpa terbata.
Dan langkah-langkah ringan terayun melenggang.

Kau adalah perempuan semesta.
Mengirim cahaya padaku lewat celah goa.
Di gigir senja yang senyap dan alpa.
Menulis laritbait puisi di dinding-dindingnya.

Kau adalah perempuan semesta.
Menerbitkan kembali matahari.
Mengiringi perjalanan mimpi.
Mengarungi seluruh gemuruh rasa.

Kau adalah perempuan semesta.
Menjadi doa-doa sang pengembara.

06-02-2019

KEPADAMU UMBU *
: Si Pohon Rindang

Benih-benih yang kau tabur.
Telah tumbuh mengukir batu-batu.
Menjadi prasasti.
Menjadi sejarah.
Catatan perjalanan.

Batu-batu bercahaya.
Menjadi lentera.
Menerang-ruang.
Dengan sentuh lantunmu.

Umbu.
Tanah-tanah kering-rengkah.
Ilalang dan padang gersang.
Rumput-rumput liar dan belukar.
Menunggu hujanmu.
Sepenuh rindu.
Tuk menjadi kunci.
Menjawab teka-teki.
Menyibak cakrawala.
Dengan bait-bait puisi.

28-10-2014

* Umbu= Umbu Landu Paranggi (Si Pohon Rindang)

PADI, NEGARA DAN NASIB PETANI

Aku melihat padi-padi itu mulai menguning.
Menuntaskan mimpi para petani.
Mengganti keringatnya walau negara acap mengkhianati.
Ya aku melihatnya dari jendela kereta api ekonomi.

Negara memilih impor dari tetangga.
Menambah luka petani semakin menganga.
Swasembada tak akan pernah tercipta.
Kala negara terus menjerat lehernya.

Ah nasib petani
Negara membela konglomerasi
Hukum dibuat untuk mengebiri
Pemulia bibit ditangkapi.

Tanah ini milik siapa?
Negara ini negara apa?
Dikelola untuk siapa?
Ah…!

Aku hanya bisa mengelus dada.

Stasiun Nganjuk-Madiun,
KA Singhasari, 01-11-2019

KOTA DAN GENANG KENANGAN

Laju kereta terhenti.
Perlahan aku turun..
Untuk menghisap kejenuhan.

Aku melihat ada petugas berjalan di punggung kereta.
Sambil memegang pipa.
Mengisi air di ujung gerbong.
Kunyalakan rokok sebatang.
Kuhisap dalam-dalam.
Menghilangkan penat.

Aku kitar pandang.
Terus aku hisap gamang.
Mendung menggantung.
Langit pun limbung.
Tanah basah.
Menanda hujan telah rebah.

Di kota ini tersimpan cerita.
Yang telah menjadi kenangan tak terlupa.
Sebuah sua terakhir kali.
Beberapa tahun yang telah terlewati.

Ingatan demi ingatan silih berganti.
Bagai rekaman yang terputar lagi.
Sebatang kejenuhan telah tandas.
Aku hisap bersama genang kenang yang kandas.

Seketika buyar saat kereta akan melaju kembali.
Melewati kelok-kelok rel membelah bukit.
Menuju sebuah kota yang bingar.

Stasiun Purwokerto, 01-11-2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *