Saya Suka Mendengar Orang Membaca Puisi


Deni Jazuli

Orang senang menulis puisi, karena dengan begitu dirinya bisa menyalurkan ide, gagasan, pandangan terhadap suatu persoalan; apakah keluh kesah, harapan, pula suara jeritan hati, bahkan tragedi dalam kehidupan. Ada banyak alasan orang suka menggurat sajak, baik yang disengaja pula secara kebetulan, pada sepersekian detik terbersit, lantas tiba-tiba menuangkan perasaan ke dalam karya berupa puisi.

Orang juga banyak yang suka membaca puisi di panggung pertunjukan, di jalanan, di depan kelas atau kamar, menghadap kamera smart phone, lalu diposting di media sosial. Dan mungkin banyak juga yang senang mendengar, melihat pembacaan puisi di atas panggung, menyaksikan orang baca puisi dari smart phone, yang terkoneksi jaringan internet dengan membuka aplikasi youtube, atau media sosial lain.

Mungkin saya, salah satu dari yang suka menonton orang membaca puisi. Mendengar dengan khusyuk, menghayati setiap lafal-lafal puisi, berusaha merasai bahkan masuk dalam alam puisi. Saya punya keyakinan tersendiri dalam hal menyaksikan orang baca puisi, dengan berusaha pasrah membiarkan alunan puisi membawa ke manapun imajinasi pergi, sukma berkelana.

Kadang puisi mengajak ke puncak kebahagiaan, sulur-sulur rasa berbunga-bunga sekaligus ada yang menghempaskan dalam pusaran derita amat sangat. Dan saya nikmati penuh kesyukuran, kadang hanya berlangsung sepanjang puisi dibacakan, tapi selalu membekas sepanjang ingatan. Dan saya bisa bertahun-tahun memendam duka nestapa sebuah sajak, dapat mengingat amarah kedalaman puisi, begitulah kehangatan puisi bagi diri saya.

Di masa kecil, saya sangat beruntung dapat menikmati sandiwara di radio, sedikit-banyak masih bisa dibayang serta dirasai, apa saja yang pernah terdengar darinya. Bertahun-tahun saya senang mendengar orang membaca puisi, yang masih teringat adalah pertunjukan “Baca Puisi Satu Jam bersama Evi Idawati,” digelar di gelanggang Purna Budaya UGM, saat itu begitu terkesima, larut dalam bait-bait puisi yang dibacanya, pun masih terbayang gaun yang dikenakannya.

Saya juga rajin menonton orang baca puisi di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jalan Sagan, Jogjakarta. Dan di youtube, saya senang mendengar puisi Asmaradana, Hatiku Selembar Daun, Akulah Si Telaga, yang begitu indah dibawakan Evi Idawati, meski hanya suaranya. Saya juga suka mendengar bait puisi Hujan. “Hujan memang tumpah malam ini,” begitulah satu baitnya, yang dibawakan penyair perempuan muda, saya lupa namanya, tetapi pada suatu waktu saya dan anak saya sempat bertemu dengannya, pada acara Festival Musim Tandur di Nganjuk, rasanya sesuatu yang istimewa.

Beberapa bulan belakangan, saya bergembira melihat sambil mendengar Bapak Tua Dody Yan Masfa membaca puisi. Hal yang bagiku luar biasa, mendengar pembacaan puisi, kadang malam-malam saat menjelang tidur, -mendengar orang baca puisi lewat smart phone-, saat terjaga dari tidur juga. Entahlah, bagi saya puisi begitu indah untuk dinikmati, kadang ingin menikmatinya sendirian. Sekali lagi, menyerahkan diri pada alunan bait-bait puisi, biarkan puisi membawamu kemanapun pergi.


28 Agustus 2020, Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *