BAGAIMANA SAYA MENULIS CERITA

Karya: Saadat Hasan Manto
Terj: Lutfi Mardiansyah *

Hadirin yang terhormat! Saya diminta menjelaskan bagaimana saya menulis cerita.

‘Bagaimana’ ini problematik. Apa yang bisa saya ceritakan kepada Anda sekalian tentang bagaimana saya menulis cerita? Ini soal yang sangat sulit. Dengan ‘bagaimana’ ini hadir di hadapan saya, bisa saya katakan bahwa saya akan duduk di sofa di kamar saya, mengambil kertas dan pena, mengucap bismillah, dan mulai menulis, sementara ketiga anak perempuan saya terus-menerus membuat keributan di sekitar saya. Saya berbicara dengan mereka selama menulis, menyudahi pertengkaran mereka, membuat salad untuk saya sendiri, dan, jika ada seseorang mampir berkunjung, saya akan menyambutnya dengan ramah-tamah. Selama itu, saya tidak berhenti menulis cerita saya.

Jika saya harus menjawab pertanyaan bagaimana saya menulis, saya akan mengatakan bahwa cara saya menulis tidak berbeda dengan cara saya makan, cara saya mandi, cara saya mengisap rokok, atau cara saya membuang-buang waktu.

Sekarang, jika ada seseorang bertanya mengapa saya menulis cerita pendek, nah, saya punya jawaban untuk itu. Ini dia:

Saya menulis karena saya ketagihan menulis, sama seperti saya ketagihan anggur. Karenanya jika saya tidak menulis cerita, saya merasa seolah tidak mengenakan pakaian apa pun, seolah saya belum mandi, atau seolah saya belum minum anggur.

Faktanya adalah, saya tidak menulis cerita-cerita itu; cerita-cerita itulah yang menulis saya. Saya adalah seseorang dengan pendidikan yang sederhana. Dan meski telah menulis lebih dari dua puluh buku, adakalanya saya bertanya-tanya tentang seseorang yang telah menulis cerita-cerita yang begitu bagus itu—cerita-cerita yang tak jarang membuat saya harus berurusan dengan pengadilan.

Tanpa pena saya, saya hanyalah Saadat Hasan, yang tidak tahu bahasa Urdu, atau bahasa Persia, atau bahasa Inggris atau bahasa Prancis.

Cerita-cerita itu tidak ada di dalam pikiran saya; cerita-cerita itu ada di dalam saku saya, sama sekali tanpa sepengetahuan saya. Saya berusaha keras memeras pikiran, berharap ada sebuah cerita yang akan muncul, berupaya sama kerasnya untuk menjadi seorang penulis cerita pendek, mengisap rokok sebatang demi sebatang, tetapi pikiran saya gagal menghasilkan sebuah cerita. Lelah, saya akan berbaring seperti seorang wanita yang tidak bisa mengandung bayi.

Karena saya telah mengambil bayaran di muka untuk cerita yang saya janjikan namun masih belum saya tulis, saya jadi merasa amat jengkel. Saya terus berguling gelisah di tempat tidur, bangun untuk memberi makan burung-burung peliharaan saya, mendorong anak-anak perempuan saya di ayunan mereka, mengumpulkan sampah di rumah, memunguti sepatu-sepatu kecil yang bertebaran di seisi rumah dan meletakkannya dengan rapi di satu tempat—tetapi sebuah cerita pendek yang meledak-ledak tenang-tenang saja di dalam saku saya, menolak berpindah ke dalam pikiran saya, yang membuat saya begitu gelisah dan tidak tenang.

Ketika kegelisahan saya memuncak, saya akan lari ke toilet. Itu juga tidak membantu. Konon orang-orang hebat itu memecahkan semua pemikiran mereka di toilet. Pengalaman membuat saya yakin bahwa saya bukanlah orang hebat, sebab saya tidak bisa berpikir bahkan di toilet sekalipun. Tetap saja, saya ini penulis cerita pendek yang handal di Pakistan dan India—hebat, bukan?

Yah, yang bisa saya katakan adalah, para kritikus punya pandangan yang terlalu berlebihan tentang saya, atau mereka telah membuat saya silau, atau saya telah terpesona oleh sihir mereka.

Maafkan saya, saya jadi bicara soal toilet . . . Fakta sederhananya adalah, dan saya mengatakan ini di hadapan Tuhan, saya tidak tahu bagaimana saya menulis cerita.

Seringkali ketika istri saya mendapati saya merasa benar-benar kalah dan kehabisan akal, ia akan berkata, ‘Jangan berpikir, ambil saja penamu dan mulailah menulis.’

Maka saya ikuti sarannya, mengambil pena saya dan mulai menulis, pikiran saya benar-benar kosong, tetapi saku saya dipenuhi cerita yang berjejalan. Dan tahu-tahu sebuah cerita muncul dengan sendirinya.

Karena itu, saya terpaksa menganggap diri saya bukan sebagai penulis cerita melainkan lebih sebagai pencopet yang mencuri dari sakunya sendiri dan kemudian menyerahkan isinya kepada Anda sekalian. Anda bisa saja berkeliling dunia, tetapi Anda takkan menemukan idiot yang lebih hebat dari saya. []


*) Lutfi Mardiansyah, lahir di Sukabumi, 4 Juli 1991. Menulis puisi dan prosa, serta menerjemahkan karya-karya sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *