Tujuh Puisi Karya Charles Bukowski


Penerjemah: Lutfi Mardiansyah *

YA YA

ketika Tuhan menciptakan cinta Dia tidak menolong banyak orang
ketika Tuhan menciptakan anjing Dia tidak menolong banyak anjing
ketika Tuhan menciptakan tumbuh-tumbuhan itu biasa saja
ketika Tuhan menciptakan kebencian kita punya ukuran kebaikan
ketika Tuhan menciptakan aku Dia menciptakan aku
ketika Tuhan menciptakan monyet Dia sedang ngantuk
ketika Dia menciptakan jerapah Dia sedang mabuk
ketika Dia menciptakan narkoba Dia sedang teler
dan ketika Dia menciptakan bunuh diri Dia sedang terpuruk
ketika Dia menciptakanmu tengah berbaring di ranjang
Dia tahu apa yang Dia lakukan
Dia sedang mabuk dan Dia sedang teler
dan Dia menciptakan gunung dan laut dan api
pada saat bersamaan
Dia melakukan beberapa kesalahan
tapi ketika Dia menciptakanmu tengah berbaring di ranjang
Dia datang ke seluruh Alam Semesta-Nya yang terberkati.

***

SENDIRI BERSAMA SEMUA ORANG

daging membungkus tulang
dan mereka menaruh pikiran
di dalamnya dan
kadang jiwa,
dan wanita memecahkan
jambangan ke dinding
dan laki-laki minum-minum kelewat
banyak
dan tak seorang pun menemukan
seseorang
tapi mereka terus
mencari
merangkak dari dan ke atas
tempat tidur.
daging membungkus
tulang dan
daging mencari
yang lebih dari sekadar
daging.

tak ada kesempatan
sama sekali:
kita semua terjebak
oleh takdir
tunggal.

tak seorang pun pernah menemukan
seseorang.

tong-tong sampah kota penuh
tempat-tempat barang rongsokan penuh
rumah gila-rumah gila penuh
rumah sakit-rumah sakit penuh
kuburan-kuburan penuh
tak ada apa pun lagi
yang penuh.

***

HANCUR

William Saroyan bilang, “aku menghancurkan hidup-
ku dengan menikahi wanita yang sama
dua kali.”

akan selalu ada sesuatu
yang menghancurkan hidup kita,
William,
semua itu tergantung pada
apa atau mana
yang lebih dulu
menemukan kita,
kita selalu
siap dan sedia
untuk
ditumbangkan.

hidup yang hancur itu
biasa
baik bagi yang bijak
dan
yang lainnya.

hanya ketika
hidup
yang hancur itu
kita alami
kemudian kita
sadar
bahwa mereka yang bunuh diri, para
pemabuk, orang gila, mereka
yang dipenjara, para pemadat
dll. dll.
benar-benar bagian
yang lazim dari eksistensi
seperti gladiola,
pelangi
angin
topan
dan tak ada
yang tersisa
di rak
dapur.

***

JANGAN

jangan jadikan orang-orang itu sebagai
fondasimu,
tidak gadis muda,
tidak wanita tua,
tidak lelaki muda,
tidak lelaki tua,
tidak mereka yang berusia di antaranya,
tidak yang mana pun juga,
jangan jadikan orang-orang itu sebagai
fondasimu.

sebaliknya
bangun fondasimu di atas pasir,
bangun di lahan-lahan investasi,
bangun di tangki-tangki septik,
bangun di tanah-tanah makam,
bahkan bangun di atas air,
tapi jangan bangun fondasimu di atas
orang-orang itu.
mereka taruhan yang buruk,
taruhan terburuk yang bisa kau buat.

bangun fondasimu di tempat lain
di mana pun yang lainnya,
di mana pun
kecuali di atas orang-orang itu,
gerombolan
tanpa otak, tanpa hati
yang mencemari
abad-abad,
siang,
malam,
kampung, kota,
negara,
bumi,
stratosfer,
mencemari
cahaya,
mencemari
semua kesempatan,
di sini,
sepenuhnya
mencemari
yang lalu
yang kini
yang nanti.

apa pun,
dibanding orang-orang itu,
adalah fondasi yang layak
dicari.

apa pun.

***

BIAR KUBERITAHU

neraka dibangun
sepotong demi sepotong
batu bata demi batu bata
di sekeliling-
mu.
itu proses
bertahap,
tak
terburu-buru.

kita membangun
neraka
kita sendiri,
dan menyalahkan
orang lain.

tapi neraka adalah
neraka.

sepatah kata neraka adalah
neraka.

nerakaku dan
neraka-
mu.

neraka
kita.

neraka, neraka,
neraka.

nyanyian
neraka.

pakai sepatu-
mu
di
neraka
pagi hari.

***

TAMANKU

di bawah matahari dan hujan
di waktu siang dan malam

rasa sakit adalah sekuntum bunga
rasa sakit adalah bunga-bunga

mekar sepanjang masa.

***

CHINASKI

memarodikan diri sendiri, mendramatisir diri sendiri.
dia ada di sebuah kamar sempit lagi,
selalu kamar sempit, menutup pintu,
menutup diri dari
dunia.
di usia 70-nya dia masih berupaya
mengatasi masa kecilnya yang brutal
dan dia tak pernah punya pemahaman nyata
soal wanita.
tulisannya ganjil
kalau bukan kuat
dan bahkan di tulisan terbaiknya ada kesan
tentang pengulangan,
tentang tak ada apa pun yang baru.
dia banyak ditiru oleh segerombolan
penulis
yang mendapati gaya tulisan sederhananya itu
menarik.
sekarang dia punya rumah, kolam
renang, spa, mobil bagus
dan istri yang menyuruhnya minum
vitamin.
dia penyendiri
dan kalau kau mendekatinya di
tempat pacuan kuda
ada kemungkinan kau bakal
diabaikan atau dimaki.
tamu-tamu yang mengunjunginya hanya
bintang film,
sutradara film dan
pewawancara.
setelah kematiannya
boleh jadi sepetak tempat kecil akan
dibuat untuknya
di semesta kesusastraan
di mana dia akan bersungut-sungut di bawah
bayang-bayang Céline, Hemingway, Jeffers
dan Henry Miller.
Tuhan istirahatkanlah jiwa alkoholik-
agnostik-
nya
dan sekarang mari kita lanjut
ke hal-hal yang lebih
bermanfaat.

***

*) Lutfi Mardiansyah, lahir di Sukabumi, 4 Juli 1991. Menulis puisi dan prosa, serta menerjemahkan karya-karya sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *