Berbuat Baik, Ataukah Berbuat Jujur?


Judul Buku : Les Miserable
Penulis : Victor Hugo
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : I, Februari 2006
Peresensi : Adi Toha

Seorang teman pernah bertanya kepada saya, “Manakah yang lebih baik, berbuat baik ataukah berbuat jujur?” Waktu itu saya hanya bisa diam, karena memang saya tidak tahu harus menjawab apa. Kebaikan dan kejujuran adalah dua hal yang berlainan yang hanya dibatasi oleh sebuah sekat tipis yang bernama perasaan. Terkadang, saat kita berbuat baik, di satu sisi kita telah berbuat tidak jujur pada diri kita maupun pada orang lain. Sebaliknya, di saat kita berbuat jujur, di satu sisi kita telah berbuat tidak baik bagi diri kita maupun orang lain.

Pertanyaan inilah : berbuat baik ataukah berbuat jujur, yang mendasari kisah dalam novel Les Miserable, karya Victor Hugo, penulis Perancis abad 19. Les Miserable, berkisah tentang kehidupan Jean Valjean, seorang narapidana yang dihukum 19 tahun di atas kapal kerja paksa hanya karena mencuri sebongkah roti. Setelah bebas, ia dilanda rasa dendam atas ketidakadilan masa lalunya. Beruntung ia bertemu dengan seorang uskup yang seperti santo, Monsier Bienvenue yang menyadarkannya akan arti kebaikan dan kejujuran.

Di sebuah kota kecil, Jean mengubah namanya menjadi Monsieur Madeleine dan berhasil menjadi orang terkaya dan terpandang di kota itu, sampai-sampai ia diangkat menjadi seorang walikota. Dengan status barunya tersebut, Jean banyak melakukan kebaikan kepada warga kota yang dipimpinnya. Ia mendirikan bengkel-bengkel kerja, sekolah-sekolah, rumah sakit, dan fasilitas kota lainnya.

Suatu ketika, seseorang yang bernama Champmathieu disangka oleh pengadilan sebagai Jean Valjean, seorang buronan polisi. Mengetahui hal ini, Monsieur Medeleine dilanda kebingungan yang sangat, apakah ia harus mengaku siapa sebenarnya kepada pengadilan untuk menyelamatkan Champmathieu ataukah ia tetap bersembunyi di balik kebesaran dan kebaikan nama Monsieur Madeleine. Ia harus menentukan pilihan apakah ia akan berbuat baik sebagai Monsieur Madeleine, ataukah berbuat jujur sebagai Jean Valjean.

Bersamaan dengan itu, ia mengetahui tentang Fantine, seorang perempuan malang yang hidupnya sangat menderita setelah dipecat dari sebuah bengkel kerja tanpa sepengetahuannya. Fantine mempunyai anak perempuan yang bernama Cossete yang dititipkannya kepada keluarga licik Thenardier. Karena ketiadaan pekerjaan, membuat Fantine tidak bisa mengirimkan uang kepada keluarga Thenardier untuk perawatan Cossete, sementara keluarga Thenardier terus mengirimkan surat kepadanya yang isinya dibuat-buat agar Fantine segera mengirimkan uang untuk Cossete. Demi Cossete, Fantine melakukan apapun untuk mendapatkan uang, termasuk dengan menjual rambutnya, giginya dan apapun yang dimilikinya.

Monsieur Madeleine begitu tersentuh dengan kisah Fantine, ia merasa bersalah. Untuk itu ia bermaksud menyelamatkan Fantine dari kemalangan nasibnya dan mempertemukannya dengan Cossete dan mencukupi segala kebutuhan mereka.

Karena pengakuan Monsieur Madeleine di persidangan Champmathieu bahwa ia adalah Jean Valjean yang sebenarnya, ia kembali harus menjalani penangkapan dan hukuman. Jean Valjean ditangkap saat Fantine menghembuskan nafas terakhirnya dihadapannya, sementara ia belum menepati janjinya untuk mempertemukan Cossete dengan wanita malang itu.

Jean Valjean kembali menjalani hukuman di atas kapal kerja paksa. Beruntung akhirnya ia dapat meloloskan diri kembali untuk menjemput Cossete. Keduanya akhirnya tinggal bersama, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari kejaran seorang inspektur polisi bernama Javert yang terus memburunya.

Waktu demi waktu membuat Cossete tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita, anggun dan menawan. Kecantikannya ini memikat Marius. Kembali Jean Valjean dihadapkan pada dua pilihan, apakah ia harus berbuat jujur ataukah berbuat baik. Cossete juga mencintai Marius. Jika ia berbuat baik, dengan membiarkan Cossete dan Marius saling mencintai, cepat atau lambat ia akan kehilangan Cossete, satu-satunya perempuan dalam hidupnya yang ia cintai dan sayangi. Jika ia berbuat jujur dengan mengatakan ketakutan dan kekhawatirannya akan kehilangan Cossete dan menghalang-halangi cinta Cossete kepada Marius, ia akan menyakiti hati Cossete yang telah dianggapnya sebagai anaknya sendiri, yang apapun akan ia lakukan demi kebahagiaannya.

Berlatar di Perancis abad ke 19, Les Miserable menjadi sebuah karya besar yang fenomenal. Pernah diterbitkan secara bersamaan ke dalam 9 bahasa pada tahun 1862 dan menjadi perbincangan banyak orang dari masa ke masa.

Betapa pentingnya arti sebuah perasaan, kebaikan, kesabaran dan kejujuran. Betapa pentingnya arti sebuah cinta. Cinta yang terkadang mengambil rupa kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Betapa cinta yang begitu besar akhirnya akan mengalahkan segalanya. Karena cintalah seseorang rela menderita demi kebahagiaan seseorang yang dicintainya. Sebagaimana Jean Valjean, demi Cossete, ia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Marius dari sebuah huru-hara pemberontakan di pusat kota Paris. Demi Cossete, ia rela kembali hidup sendirian, terpisah dari satu-satunya perempuan yang ada dalam hidupnya yang sangat ia sayangi, sampai akhirnya ia meninggal dalam kesendiriannya.

Nah, manakah yang lebih baik, berbuat baik, ataukah berbuat jujur?

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *