Delapan Puisi Karya Charles Bukowski


Penerjemah: Lutfi Mardiansyah *

DORONGAN ANGGUR

ini satu lagi puisi tentang jam 2 pagi dan bagaimana aku masih saja diam di depan
mesin tik mendengarkan radio dan mengisap cerutu bagus.
jahanam, aku tidak tahu, kadang aku merasa seperti Van Gogh atau Faulkner
atau,
katakanlah, Stravinsky, ketika aku menyesap anggur dan mengetik
dan merokok dan tak ada keajaiban sebaik ini.
beberapa kritikus bilang aku menulis hal yang sama berulang-ulang.
yah, kadang aku begitu dan kadang tidak juga, tapi ketika aku menulis hal yang sama
itu karena yang kutulis betul-betul begitu, ini seperti bercinta dan
kalau kau tahu bagaimana menyenangkannya hal itu, kau akan memaklumiku
karena kita sama-sama tahu betapa kebahagiaan bisa angin-anginan.
jadi aku akan pura-pura bodoh dan akan kukatakan lagi bahwa
sekarang jam 2 pagi
dan aku adalah
Cézanne
Chopin
Céline
Chinaski
kupeluk segala sesuatu:
kugusah asap cerutu
gelas anggur yang lainnya
gadis muda yang cantik
kriminal dan pembunuh
orang gila kesepian
buruh pabrik,
mesik tik ini di sini,
radio menyala,
kuulangi lagi semua ini
dan akan selalu kuulangi semua ini
sampai keajaiban yang terjadi kepadaku
terjadi kepadamu.

***

BUDDHA CHINASKI BERSABDA

kadang
kau harus ambil
satu atau
dua langkah
ke belakang,
mundur

ambil
waktu
satu bulan

jangan
lakukan apa pun
jangan
ingin
melakukan apa pun

tenang adalah
yang terpenting
langkah adalah
yang terpenting

apa pun
yang kau inginkan
kau takkan
mendapatkan-
nya dengan
berusaha terlalu
keras.

ambil
waktu
sepuluh tahun

kau akan
jadi
lebih kuat

ambil
waktu
dua puluh tahun

kau akan
jadi jauh
lebih kuat.

tak ada apa pun
untuk dimenangkan
dengan cara apa pun

dan
ingat
hal terbaik kedua di
dunia
adalah
ucapan selamat malam
sebelum tidur

dan
hal terbaik pertama:
maut
yang lembut.

sementara itu
bayar tagihan
gasmu
kalau bisa
dan
hindari
cekcok dengan
istri.

***

MASUK!

selamat datang di nerakaku yang penuh belatung.
musik menggilas dengan suara sumbang.
mata ikan mengamati dari dinding.
inilah tempat di mana tegukan bahagia terakhir
adalah api.
pikiran menggemeretak tertutup
seperti pikiran menggemeretak
tertutup.
kita harus menemukan kehendak baru dan cara
baru.
kita terjebak di sini sekarang
mendengarkan gelak tawa
dewa-dewa.
pelipisku sakit karena kebenaran dari
segala kebenaran.
aku bangkit, bergerak ke sana-kemari, menggaruk
diriku sendiri.
aku adalah sebuah bidak.
aku adalah seorang pendoa yang lapar.
nerakaku yang penuh belatung menyambutmu.
halo. halo yang di sana. masuk, ayo masuklah!
ada banyak ruang di sini untuk kita semua,
dasar goblok.
kita hanya bisa mengutuk diri sendiri, jadi
kemarilah duduk denganku di dalam kegelapan.
ini baru separuh jalan
entah ke mana.
ke mana pun.

***

“BEAT”

beberapa orang coba mengaitkanku dengan
para penulis “Beat” itu
tapi aku hampir tidak menerbitkan apa pun
tahun 1950-an
dan
bahkan kemudian
aku amat sangat
sangsi dengan kesombongan dan
semua
gaya-gayaan
publik mereka.

dan ketika bertemu beberapa dari mereka
di kemudian hari
kusadari sebagian besar pendapat
awalku tentang
mereka
tak
berubah.

beberapa kawanku sependapat dengan-
ku; yang lainnya berpikir aku
seharusnya mengubah
anggapanku.

anggapanku masih
sama: menulis dilakukan
seseorang
di satu waktu
di satu tempat

dan segala kegandrungan
dari
gerombolan
itu
sangat sedikit
punya sangkut-paut
dengan
apa pun.

siapa saja dari mereka
bisa punya
kehidupan mapan sebagai
pemungut tagihan atau
penjual
mobil bekas

dan mereka
tetap bisa
punya kehidupan yang lurus
alih-alih menggerutu soal
perubahan-perubahan mode dan
jalan nasib.

tapi bukan
di mimbar-mimbar
universitas yang menyedihkan
dan di aula-aula pembacaan
puisi, menjajakan
kata-kata yang cemar

tetap teriak-teriak menuntut
derma,
tetap bicara
omong kosong
yang sama.

***

TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA

di sini
ada makin sedikit alasan untuk menulis saat segalanya mendekat.
aku sudah memalang pintu dan jendela, menyimpan air dalam botol,
makanan
dalam kaleng, lilin, perkakas, tali, perban, tusuk gigi, catnip,
jebakan tikus, bahan bacaan, kertas toilet, selimut, senjata api,
cermin, pisau
—rokok, cerutu, permen—
ingatan, penyesalan, akte kelahiran,
foto-foto
piknik
pawai
penyerbuan;
aku punya sempotan serangga, anggur Prancis yang enak, klip kertas dan kalender
tahun terakhir karena
INI BISA JADI PUISI TERAKHIRKU.
itu bisa saja terjadi dan, tentu, aku sudah menimbang dan
menimbang ulang
kematian
tapi aku belum sampai pada suatu cara, yangmembuatku merasa
agak bodoh tentang segala sesuatu.
terutama sekarang.
—hanya menunggu adalah hal paling buruk.
tak ada yang lebih buruk daripada menunggu
hanya menunggu. selalu benci
menunggu. ada apa dengan menunggu sampai-sampai hal itu amat
sangat berat?
—seperti kau menungguku menyelesaikan puisi
ini dan
aku benar-benar tidak tahu
bagaimana caranya
karena itu puisi ini takkan kuselesaikan
—jadi, kalau kau kebetulan membaca ini
di majalah atau buku
renggutlah
halaman itu
robek puisi ini
dan itulah cara terbaik
menyelesaikan puisi ini
untuk sekali dan
selamanya.

***

GELEMBUNG AIR HANGAT

yang kusuka adalah
saat aku berendam di bak mandi
dan aku kentut
dan kentut itu betul-betul busuk
sampai bisa kucium bau busuk
kentut itu
naik ke permukaan air.

kekuatan itu nikmat:
Mahatma Gandhi sekarat.
bunga iris terseret-seret.

cinta begitu mengagumkan
tapi juga merupakan bau busuk
isi perut,
keluar dari tempat-tempat
tersembunyi.
kentut. tai. kematian
paru-paru.

tepian bak mandi, pucuk tai di kloset
banteng-banteng sekarat diseret di atas kotoran orang Meksiko
Benito Mussolini dan pelacurnya Claretta
melayang di atas sepatu tumit mereka
dan dicabik-cabik gerombolan orang banyak—
hal-hal ini memiliki kemuliaan yang lebih lembut
dibanding yang dimiliki Kristus dengan
luka-luka-Nya yang sempurna letaknya itu.

pernah kubaca (dan aku tak lagi yakin pihak mana
yang melakukan itu) di masa revolusi Rusia
mereka menangkap seorang lelaki, membedahnya, memaku
ujung ususnya di pohon
lalu memaksanya lari memutari
pohon itu, menggulung ususnya di sekeliling
batang pohon. aku bukan orang sadis. barangkali aku bakal
menangis kalau aku melihat itu, barangkali aku bakal gila.
tapi aku tahu bahwa kita lebih dari yang
kita pikirkan
meskipun orang-orang romantis itu
memusatkan pikiran pada rasa benci/dan atau/cinta dalam
hati.

kentut di dalam bak mandi memuat seluruh
sejarah esensial umat manusia.
cinta begitu mengagumkan.
begitu pula dengan kentut.
terutama kentutku.
banteng-banteng sekarat diseret di atas kotoran
orang Meksiko dan aku di dalam bak mandi
tengadah menatap bohlam 60 watt dan merasa baik-baik saja.

***

SELAMAT, CHINASKI

saat mendekati usia 70
aku mendapat surat, kartu ucapan, kado-kado kecil
dari orang-orang yang tak kukenal.
selamat, kata mereka
kepadaku,
selamat.

aku tahu maksud mereka:
cara hidupku
seharusnya aku sudah mati di separuh
waktu itu.

aku telah menimbun diriku sendiri dengan banyak sekali
kata-kata kasar, telah
mengabaikan diriku sendiri
nyaris telak ke titik
kegilaan,
aku masih di sini
membungkuk di depan mesin tik ini
di kamar penuh asap rokok ini,
tempat sampah biru besar ada di sebelah
kiriku
penuh kotak kemas
kosong.

para dokter itu tak punya jawaban
dan dewa-dewa itu
bungkam.

selamat, kematian,
atas kesabaranmu.
aku telah membantu kalian semua
sebisaku.

sekarang satu puisi lagi
dan aku akan pergi ke balkon,
malam yang menyenangkan di luar sana.

aku memakai celana kolor dan kaus kaki,
dengan lembut menggaruk-garuk
perut tuaku,
mengintai ke luar sana
menatap ke luar sana
di mana kegelapan bertemu kegelapan

menjadi neraka permainan bola
gila.

***

AMERIKA-KU, 1936

kau ini tidak gesit dan semangat,
kata ayahku,
kau tahu berapa banyak uang
yang kuhabiskan untuk membesarkanmu?
kau tahu berapa harga baju?
berapa harga makanan?
kau cuma duduk di kamar
terkutukmu, murung di atas
pantat buntetmu!
16 tahun dan tingkahmu
macam orang mampus!
apa yang akan kau lakukan kalau
kau pergi ke dunia luar?
lihat si Benny Halsey, dia
penjaga pintu di
bioskop!
Billy Evans jualan koran
di simpang jalan Crenshaw
dan Olympic
dan kau bilang kau tidak bisa
menemukan pekerjaan!
yah, kenyataannya, kau cuma
tidak menginginkan pekerjaan!
aku dapat pekerjaan!
siapa pun yang benar-benar menginginkan
pekerjaan bisa dapat pekerjaan!
aku punya ide bagus
melemparmu ke
jalan,
yang kau lakukan cuma duduk dan
murung!
aku tidak percaya kau itu anak-
ku!
ibumu malu dengan-
mu!
kau sudah membunuh ibumu!
aku punya ide bagus, menyepak
pantat sialmu itu, supaya
kau bangun!
apa?
jangan bicara seperti itu kepadaku!
AKU INI AYAHMU!
JANGAN PERNAH LAGI BICARA
SEPERTI ITU KEPADAKU!
APA?
BAIKLAH, BAIKLAH,
KELUAR KAU DARI RUMAH INI!
KELUAR KAU!
KELUAR!
KELUAR!
MAMA, KULEMPAR
BAJINGAN INI
KELUAR!

MAMA!

***

*) Lutfi Mardiansyah, lahir di Sukabumi, 4 Juli 1991. Menulis puisi dan prosa, serta menerjemahkan karya-karya sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *