Ahlulbait Kanjeng Nabi SAW : Antara Nasab, Ilmu dan Akhlak

Hasan Basri Marwah *

Suatu hari Syeikh Daud Attha’i, seorang pemuka kaum sufi generasi awal, sowan meminta suwuk kepada Syeikh Jakfar Shadiq (83 – 148 H), Imam keenam dari kalangan Ahlulbait Nabi SAW.

Suwuk dalam tradisi pesantren banyak pengertiannya. Bukan sekedar dijampi, didoakan, tetapi juga bisa berupa nasehat yang diberikan oleh para ahli karamat di dunia pesantren. Doa dan nasehat para ahli-karamat ini diyakini menyebabkan transformasi ruhani, peningkatan kepekaan dan kesadaran bagi yang menerimanya.

“Nasehati aku, wahai Aba Abdillah.” Daud memohon kepada Syeikh Jakfar.

“Tidak, Wahai Aba Sulaiman (nama lain Daud). Sampeyan tidak memerlukan nasehatku, karena sampeyan dari kalangan ulama-istimewa (ahlus zuhdi zamaanuka) jaman ini.” Imam Jakfar menimpali.

“Tidak, wahai putera Rasulullah SAW, kalian memiliki kemulian di atas semua orang. Perkataan kalian itu bertuah. Mengamalkannya adalah suatu keharusan.” Abu Daud masih tetap merajuk.

“Ketahuilah, wahai Aba Sulaiman, aku takut ditegur oleh eyangku (maksudnya: Kanjeng Nabi SAW). Beliau akan mengatakan: Kenapa kamu cederai hakekat keikutanmu dengan-ku? Ketahuilah, wahai Daud, bahwa ini (capaian ruhani) tidak bisa disempurnakan (tidak cukup) oleh persoalan nasab yang benar, tetapi sungguh disempurnakan dengan perilaku (kepada sesama) yang baik (ya Aba Sulaiman, haadzaa maa yutimmu bin-nasabis sohih bal innamaa yatimmu bihusnil mua’amalah).”
***

Penggalan kisah di atas, dikutip dari kitab Tazkiraatul Awliyaa karya Syaikh Fariduddin Attar, penyair sufi Persia abad ke-12: Sebuah hagiografi yang paling banyak dibaca dan dirujuk oleh umat Islam yang ingin mengetahui kisah para wali (para santo) dalam sejarah Islam.

Attar menempatkan Syeikh Jakfar Shadiq pada urutan pertama dalam kitabnya tersebut, sebagai bentuk tabbarukkan (mengharapkan berkah) kepada keluarga suci Nabi SAW. “Wa badaknaa bizikril imami Jakfaris Shoodiq tabbarukkan…” : Dan kami memulai kitab ini dengan menempatkan Imam Jakfar paling awal sebagai bentuk tabarukkan (mengharap berkah).

Bagi Attar, masalah kemuliaan para keturunan Nabi SAW yang bijak-bestari, kemuliaan nasab mereka tercermin dalam intelektualitas, pancaran ruhani, dan akhlak mereka, yang sebenarnya tidak perlu lagi dituliskan. Terlebih tokoh sekaliber Syeikh Shaduk yang kemuliannya sudah menjadi cerita wajib pengantar tidur umat Islam.

Pada khutbah pengantar kitab, sebenarnya Attar sudah menuliskan tidak akan memasukkan keluarga Nabi SAW dalam urutan kisah para santo Islam yang disusunnya. Kata dan kalimat akan terasa garing ketika menuliskan kemulian mereka, karena dipastikan para keluarga Suci Kanjeng Nabi SAW adalah golongan yang diberikan keistimewaan, tetapi mereka mengabaikan keistimewaan tersebut, dengan memilih menjadi hamba Allah seperti para hamba Allah umumnya. Mengabaikan kemuliaan bawaan (privilege yang “given”) dengan memilih sebagai seorang hamba biasa adalah suatu manifestasi dari kesempurnaan mereka dalam meneladani akhlak kakek mereka, Rasulullah SAW.

Syeikh Shaduq adalah salah satu mahkota dalam matarantai generasi Ahlulbait pada jamannya, tidak ada orang yang meragukannya. Dikenal sebagai seorang alim dalam berbagai disiplin pengetahuan, dan (paling penting) merupakan mercusuar dalam bidang keruhanian.

Dalam tradisi tarekat Uwaisyiah dan lebih khusus lagi tarekat Naqsabandiyah, Syeikh Shaduq dikenal sebagai ‘kiblat’ untuk tawajuhan, sehingga memungkinkan koneksi ruhani yang lebih cepat kepada Allah SWT dan kepada Rasulullah SAW.

Para Ahlulbait Kanjeng Nabi SAW paling tidak dikenal dengan lima karakter utamanya : alim (tidak lemah secara intelektual), berakhlak mulia, dermawan, menolak pemberian, tidak membedakan manusia satu dengan lainnya, dan (sangat penting) pemberani (saja’ah). Kelima sifat ini melekat kepada diri Rasulullah, kepada sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah, dan para keturunan dari Ali dan Fatimah.

Sangat sulit membayangkan Ahlulbait tidak dilengkapi dengan kelima karakter di atas. Sebenarnya, ada satu karakter yang juga sering tergambar dalam kehidupan para pembesar Ahlulbait Nabi SAW, yaitu tradisi hidup dalam kesederhanaan, bahkan sengaja memilih kemiskinan. Praktek memilih sebagai kaum fakir adalah teladan Kanjeng Nabi dan Baginda Ali sendiri. Saking miskinnya, tidak ada pengertian kemiskinan sehakiki kemiskinan faktual yang dijalani Rasulullah SAW, Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah dalam kehidupan.

Syeikh Shaduq dikenal sebagai seorang yang selalu tampil dengan pilihan pakaian yang cocok dengan kebesaran dan kemuliaannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa kepandaiannya memilih pakaian untuk setiap situasi dan suasana telah memancing seorang ulama mempertanyakan kecintaan beliau pada pakaian dan barang duniawiah lainnya.

Berpakaian yang bagus dan rapi adalah sepenting membaguskan hati dan tindakan. Syeikh Shaduq dan keturunan Nabi SAW lainnya dianugerahi paras yang tidak tergambarkan oleh kata-kata. Keelokan fisikal mereka, jika membaca lembaran sejarah, diadon dengan cahaya keruhanian dan kelembutan tindakan yang memancar dari khazanah batiniah mereka, sehingga mereka selalu menjadi sentral manifestasi Allah dalam ruang-waktu kefanaan ini.

Syeikh Ruzbihan Baqli, sufi besar Persia yang mewarisi “khirqah”Akbariyah, dalam tafsirnya, “Araaisyul Bayan fi Haqaaiqil Qur’an”, menafsirkan penggalan akhir surat al-Ahzab ayat 33, “…Wa Yuthahirukum tahhhiiraa“ (…dan menyucikan kalian (ahlulbait) dengan sesuci-sucinya) sebagai bersihnya hati para Ahlulbait Nabi SAW dari kecenderungan pada hal-hal rendah, hal-hal yang duniwiah, karena mereka adalah bentuk-bentuk kegaiban yang paling nyata di dalam kehidupan ini.”

Jadi, karakter Ahlulbait yang paling berat dikopi-paste oleh orang lain adalah bersihnya hati mereka dari kotoran dunia, dari keinginan rendah. Dunia diletakkan di bawah telapak kaki mereka. Dunia di sini adalah segala hal yang mengalihkan perhatian mereka dari Allah SWT. Kegaiban tidak selalu berarti “yang tersembunyi” secara harfiyah. Tetapi juga bisa diartikan sebagai kedekatan dengan sumber wujud (Allah SWT), yang telah memampukan mereka mengabaikan selain Allah. Jadi kegaiban juga bisa berarti kedekatan dengan Allah, jadi para gaib adalah mereka yang paling dekat dengan Allah, baik dalam kehidupan duniawiah, barzakhiyah dan akhirah, seperti para Ahlulbait Nabi SAW dan para kekasih Allah dari tangan Rasul, Nabi dan Wali.

Pertanyaanya : apakah ahlul-bait Kanjeng Nabi SAW ma’shum (seperti keyakinan kalangan Syiah)? Adakah batas-batas dari “privilege” nasab mereka? Dan apakah ahlul bait Kanjeng Nabi SAW dibatasi oleh nasab semata, karena Kanjeng Nabi SAW terhubung dengan seluruh ciptaan dan manusia (fungsi rahmaatan lil alamien)?

Saya pernah membaca satu bab tentang ahlul-bait Rasulullah SAW dalam kitab “Futuhat al-Makkiyah” karya Syaikhul Akbar Ibn Arabi, sang penutup kewalian dari jalur Kanjeng Nabi SAW, yang ringkasannya kira-kira tidak jauh dari sikap para ulama NU di Indonesia dalam menyikapi Ahlul Bait : para ahlul-bait adalah kalangan yang memiliki kemuliaan karena nasab, tetapi kemuliaan nasab mereka tidak membebaskan mereka dari kemungkinan dosa, kesalahan, kekurangan, dan kecerobohan dalam kehidupan mereka. Ketika mereka terjerumus dalam salah dan dosa, maka kaum beriman dan berislam diwajibkan memperingati mereka dalam kesabaran dan kebenaran, sebagaimana diwajibkan oleh agama, tanpa harus menyerang personalitas dan nasab mereka.

Syaikhul Akbar Ibn Arabi mengamini kesepakatan sebagian besar ulama bahwa: “Privelege” nasab ahlul-bait sebagai “bagian” (bidh’atun) Kanjeng Nabi SAW adalah jaminan mereka mendapatkan ampunan, magfirah dan penyucian di akherat kelak dari segela dosa dan salah.

Di samping itu, Syaikhul Akbar mengamini pendapat umum di kalangan Ahlus Sunnah wal-Jamaah, bahwa ahlul bait memiliki pengertian lebih luas. Dalam bab yang sama dibahas bagaimana Sayyidina Salman al-Farisi, sahabat Kanjeng Nabi SAW yang berasal dari Persia, mendapatkan ‘privelege’ sebagai ahlul-bait dengan sabda Kanjeng Nabi SAW “dan Salman adalah bagian dari keluarga kami (ahlu baitinaa)”. Kecintaan (mahabbah) kepada Kanjeng Nabi SAW yang diraih Salman adalah tiket mendapatkan status sebagai ahlul-bait walaupun tidak memiliki hubungan nasab dengan Kanjeng Nabi SAW. Mendapatkan anugerah mahabbah kepada Kanjeng Nabi SAW adalah hal sulit, tidak mudah. Kemuliaan Kanjeng Nabi SAW sebagai “pengumpul kalimat-kalimat” (jawami’ul kalim) adalah isyarat tentang adanya aspek jarak (distansi) antara manusia biasa dengan Kanjeng Nabi SAW. Distansi yang tidak terukur ini seringkali secara retoris diabaikan atau dianggap tidak ada oleh Kanjeng Nabi SAW dalam banyak hadist dan sunnah. Walaupun memiliki kemuliaan tidak terurai, memilih untuk tidak membedakan diri dengan para Nabi, Rasul dan manusia lainnya adalah bentuk kesempurnaan diri Kanjeng Nabi SAW dalam menjalankan perintah agama.

Salah satu tanda kesempurnaan akhlak orang beriman dan berislam adalah membakar hierarki kelas sosial dan rasialisme (termasuk hierarki karena nasab). Meleburkan diri sebagai satu kesatuan dengan manusia lainnya adalah salah satu peryarat pokok mencapai taqwa, dan merupakan salah satu perintah agama yang paling pokok. Seperti dicontohkan oleh para ahlul bait di masa lalu, bagaimana mereka tanpa ragu bercampur dan bergaul dengan semua kalangan, bahkan menikahi kalangan di luar mereka, tanpa beban dan rasa khawatir akan kehilangan kemuliaan.

Jadi tiket menjadi ahlul bait Kanjeng Nabi SAW bisa ‘shuwariyah’ yakni nasab dan bisa maknawiyah : paling dekat secara akhlak dengan Kanjeng Nabi SAW walaupun tanpa ada hubungan nasab. Tradisi menghormati para ulama di kalangan muslim pedesaan, karena para ulama adalah pewaris Kanjeng Nabi SAW secara ruhani dan akhlak.

Di Indonesia, belakangan kalangan Arab umumnya dan mereka yang memiliki dan mengklaim “status ahlul bait” cenderung menikmati status-kewargaan yang ekslusif -warisan kolonial. Seperti umumnya penduduk pendatang lainnya, mereka menjaga jarak dari kejamakan, tidak berbaur dengan masyarakat biasa. Pada masa Orde Baru, kalangan Arab dan golongan khusus di antara mereka sering dipakai sebagai perisai melindungi kepentingan ekonomi dan politik rezim dari kritik mayoritas umat Islam Indonesia. Kalangan “hadrami” biasa dan tidak biasa menikmati kemapanan status demografi demi kepentingan ekonomi dan politik mutakhir mereka, terlebih ketika sebagian mereka belakangan dengan terbuka memasuki ranah politik, baik menjadi kepala daerah atau jabatan eskutif negara lainnya. Persoalan nasab dan segala yang terkait dengan golongan Arab ini pun tidak kalis oleh isu politik.

Berdasarkan rumusan Syeikh Shaduq di atas, kita jadi mafhum dengan peringatan yang disampaikan para pemuka ulama Ahlusunnah waljamaah nahdliyah (ASWAJA NU) tentang kewajiban memuliakan Ahlulbait Kanjeng Nabi SAW, atau jangan sampai pernah terbersit dalam hati mencela, merendahkan dan mengabaikan mereka, tengah-tengah saja : memuliakan ahlul-bait, memuliakan nasab mereka, mengutamakan yang alim dan ahli zuhud di antara mereka, dan menjalankan kewajiban saling peringati dalam kesabaran dan kebenaran.

Tulisan ini juga bagian dari tabbarukan kepada Kanjeng Nabi SAW dan para ahlul baitnya, baik secara nasab maupun maknawiyah, shuwariyah wa maknawiah. Wal-Allah-yaquulul Haqqa wayahdis sabiil.
***


*) Hasan Basri Marwah, Pengurus Lesbumi PBNU, penulis, Pengajar di Pesantren Kaliopak Jogjakarta, serta pegiat dan pemerhati budaya. S2 Cultural Studies di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Berasal dari Mataram Nusa Tenggara Barat dan kini menetap di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *