GIBRAN, ATTAR, DAN INGATAN TENTANG CINTA

Mashuri

Saya lebih dulu mengenal Gibran daripada Attar. Saya mengenal Gibran ketika duduk di bangku Aliyah. Mungkin persoalannya sederhana. Buku-buku Gibran tersedia di perpustakaan umum kota, sedangkan buku-buku Attar tidak ada, sehingga saya sering membaca karya Gibran, terutama Sang Nabi, Taman Sang Nabi, dan Sayap-sayap Patah yang berderet rapi di perpus kota. Semuanya terbitan Pustaka Jaya.

Saya membaca Gibran sebelum saya mabuk cinta pada seorang lawan jenis di bangku sekolah. Kira-kira tahun 1992, saya semakin menyuntukinya ketika saya menenggak arak cinta dan cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan. Huibatnya, saya bertambah menyelami Gibran ketika cadik cinta saya kandas di pantai karang.

Entah kenapa, dalam alam pikiran saya yang kampungan bin ndesit, karya-karya Gibran seperti buku khusus daras cinta wal asmara. Mungkin persoalannya sederhana, buku-buku Gibran yang tersedia di perpus kota seakan-akan ‘hanya’ bicara cinta. Padahal, karya Gibran cukup banyak dengan tema beragam. Saya baru menyuntuki biografi mutakhir Gibran. Perjuangan dia sebagai sastrawan cum seniman eksil Libanon di negeri Paman Sam, bikin merinding dangdut. Dia termasuk eksponen sebuah gerakan sastra Arab!

Sementara itu, saya mengenal Attar lebih belakangan, ketika kuliah. Lebih tepatnya dalam mata kuliah ‘Sastra Timur Tengah dalam terjemahan”. Kira-kira tahun 1996–1997. Anehnya, dalam matkul itu, yang diperkenalkan juga Gibran. Namun, karena saya merasa fase Gibran sudah selesai dalam hidup saya, saya lebih memilih Attar. Apalagi saat itu, saya juga sedang jatuh cinta, yaitu jatuh cinta pada sastra.

Saya mulai membaca Musyawarah Burung, terjemahan Manthiqut Thoir, terbitan Pustaka Jaya. Karena saya suka buku ini dan tidak kunjung memahaminya dengan benar, saya memiliki dua buku dalam edisi yang berbeda. Pada awal tahun 2000an, saya juga mendapatkan karya Attar lain, yaitu Tadzkirotul Auliya’ yang disunting AJ Arberry. Sebuah usaha untuk memahami cinta yang lebih luas.

O iya, saya sangat suka dengan pertemuan Attar yang sudah sepuh dengan Rumi kecil, yang sedang digandeng ayahnya. Attar berkata: ‘Ada lautan yang digandeng sungai”. Mungkin karena kisah itu, saya juga menyukai karya-karya Rumi. Kapan hari saya membaca lagi Fihi Ma Fihi karena kangen dan masih kesulitan memahaminya, meskipun dulu dengan agak serampangan saya pernah meresponnya dengan puisi, berjudul “Fiha Ma Fiha” dan dimuat di Jurnal Puisi, tahun 2001/2002. O iya, saya baru ingat pada matkul sastra timur tengah dalam terjemahan, juga diperkenalkan beberapa kuplet puisi Rumi, terutama dalam bentuk matsnawi.

Saya akhirnya paham kenapa dulu buku Attar alpa di perpustakaan kota saya. Sepertinya pejabat perpustakaan saat itu paham bahwa cinta itu sebuah perjalanan dan harus bertahap. Mungkin dia kasihan pada anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah ketika harus memahami cinta ala Attar, apalagi dengan adanya metafora ‘burung’. Bukankah dalam alam pikiran kebanyakan masyarakat kita ‘burung’ itu mengarah pada hal-ihwal nganuw. Ehm!
Demikianlah.

Pati, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *