Obrolan mengenai Penerjemahan dari Bahasa Spanyol dan Inggris bersama Ronny Agustinus (Bagian I)

: Wawancara ini diambil dari Grup Facebook Apresiasi Sastra (APSAS) Indonesia


Ronny Agustinus, seorang penerjemah dari bahasa Inggris dan Spanyol. Mendirikan penerbit Marjin Kiri pada tahun 2005. Menekuni sastra Amerika Latin. Blognya tentang itu, bisa dibaca di sastraalibi.blogspot.com, meski sudah beberapa tahun tidak aktif, dan lebih aktif posting di Instagram (sastra.alibi). Sedang menyiapkan buku tentang Amerika Latin dan perpustakaan kajian Amerika Latin di Serpong.
***

Nurel Javissyarqi: Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada para penerjemah karya-karya asing (luar negeri) ke dalam bahasa Indonesia, karena dengan begitu bisa bertukar (mengetahui) pengalaman, ilmu pengetahuan, kebijakan, serta nilai-nilai luhur penalaran dari belahan dunia lain hingga wewarna perasaannya, sehingga memperkecil “tertukar”-nya salah paham, konflik, perbedaan yang dapat berujung pada peperangan. Atau dengan begitu, cahaya peradaban di muka bumi kian bercahaya tidak menjadikan njomplang, antara yang di Timur maupun yang di Barat, meski secara “fitroh”-nya umat manusia memiliki sifat keganasan, kebinatangan, tetapi setidaknya kerja-kerja penerjemahan, mempercepat lajunya suatu buah ranum kesadaran.
Pertanyaan saya kepada Mas Ronny Agustinus, 1. Sejak kapan sampean tertarik menekuni alam terjemahan? Atau barangkali ada pemicu kuat yang bisa diceritakan… 2. Kenapa sampean begitu berminat dengan bahasa (dan bangsa) Spanyol, serta karya-karya dari Amerika Latin? Apakah sebab banyaknya kesesuaian / persamaan karakter dengan bangsa (negara) berkembang seperti Indonesia? 3. Dan harapan apa yang sampean impikan dengan mendirikan Penerbit Marjin Kiri? Sementara itu dulu Mas Ronny, nanti disambung yang lain, matur suwon sanget.

Ronny Agustinus: Halo Bung Nurel Javissyarqi, maaf baru sempat jawab:
1) Sejak kecil saya suka baca, saya kira itu yang paling berpengaruh dan sesudah dewasa saat membaca buku-buku bagus yang belum ada edisi Indonesia, rasanya gregetan dan pengen ada kawan atau orang lain yang ikut membacanya. Saat masih kuliah saya mulai coba2 menerjemahkan untuk kesenangan sendiri saja dan buat dibaca beberapa kawan. Saya kira, saya mulai menekuni penerjemahan secara serius/profesional sejak 2002.

2) Soal bangsa, saya terutama berminat soal Amerika Latin, bukan Spanyolnya. Ada dua pemicunya, yang pertama justru bukan oleh penulis Amerika Latin, melainkan penulis Belanda JJ Slauerhoff, “Pemberontakan di Guadalajara” yang diterjemahkan HB Jassin. Yang kedua, dan terutama, adalah terjemahan Garcia Marquez, “Tumbangnya Seorang Diktator” terbitan Yayasan Obor (YOI). Saya benar-benar terpukau dengan karya ini dan cara Gabo memadukan suatu kritik politik yang keras dengan eksperimen sastra yang bukan main. Kalimat buku ini panjang-panjang, kadang bisa satu paragraf bahkan satu halaman satu kalimat, penuh dengan metafor dan imaji-imaji yang padat. Di buku ini juga ada pengantar dari Romo Mangun yang menulis betapa Amerika Latin adalah wilayah yang kurang dikenal oleh pembaca Indonesia dan perlu dijelajah lebih lanjut. Dari situ keinginan saya bermula. Dan saya merasa memang banyak yang bisa kita pelajari dari Amerika Latin, baik sastra maupun politiknya. Kita punya kesamaan sejarah kolonialisme, juga kediktatoran militer. Argentina dan Cile bisa membentuk komite kebenaran untuk menyelidiki kejahatan2 kediktatoran, mengapa kita tidak? Sastra Amerika Latin juga dengan berbagai cara dan teknik narasi—tidak melulu realisme magis—bisa mengangkat permasalahan2 sosial politik yang mereka hadapi dengan kuat dan mengasyikkan. Ini juga sesuatu yang perlu kita baca sebagai pembanding, saya rasa.

3) Mendirikan penerbit saya kira perpanjangan dari keinginan berbagi tadi: membuat orang lain bisa ikut membaca apa yang kita baca, dan kita rasa bagus dan perlu.

Nurel Javissyarqi: Terima kasih sangat Mas Ronny Agustinus atas jawaban2nya yg memuaskan. Oya, bagaimana sampean dlm kerja menerjemahkan, apakah baca karyanya terlebih dulu, atau langsung terjun- sekiranya sudah tahu itu karya bagus dari referensi lain? Dan berapa waktu yg sampean butuhkan utk menerjemahannya? Matur suwon…

Ronny Agustinus: Saya harus membaca tuntas dulu karya bersangkutan buat tahu “nada”-nya secara utuh, agar bisa merancang pendekatan yang tepat untuk menggarapnya. Saya penerjemah yang lambat, tak pernah bisa taat deadline. Untungnya penerbit seperti Gramedia memberi cukup keleluasaan demi hasil terbaik. Tidak mungkin bagi saya menuruti deadline sebagian besar penerbit yang kadang hanya memberi maks. 3 bulan (!) untuk menerjemahkan sastra.

Nurel Javissyarqi: Terima kasih jawabannya Mas, sehat selalu, amien…
***

Ahmad Farid Yahya: Salam, Pak Ronny Agustinus. Saya termasuk pembaca yang suka membaca buku-buku terbitan Marjin Kiri. Saya pikir semua buku yang diterbitkan Marjin Kiri selalu buku yang “berkualitas”. Bahkan Puthut EA dalam salah satu podcast-nya menyebutkan, jika Marjin Kiri menerbitkan buku, ia tutup mata untuk membelinya, karena yakin sudah pasti bagus. Saya belum ada pertanyaan. Tapi tertarik untuk mengikuti (nyimak) di kolom ini. Sukses terus, Marjin Kiri.

Ronny Agustinus: Terima kasih bung Ahmad Farid Yahya

Akhiriyati Sundari: IDEM
***

Sigit Susanto: Mas Ronny Agustinus, sepertinya aku pernah bertemu sampean di Frankfurt Book-Fair 2015. Kami datang bertiga dan memborong buku2 terbitan Marjin Kiri yang sampean dasarkan di meja kecil, stand Indonesia. Pertanyaanku: 1) Di mana sampean mempelajari bahasa Spanyol? Mengingat bahasa ini sangat sulit dan di Bali dulu, guide berbahasa Spanyol yang paling mahal gajinya. 2) Pablo Neruda yang pernah tinggal sbg konsul Chile di Batavia tahun 1929-an dan beristri perempuan Indo-Belanda, bahkan punya 1 anak perempuan, kenapa jejaknya tak mendapatkan porsi yang besar di Indonesia? Terima Kasih.

Ronny Agustinus: Halo Mas Sigit Susanto, ya tentu saya ingat, saya masih simpan lembaran peso Kuba bergambar Che Guevara yang diberikan ke saya.
1) Sebelumnya saya banyak membaca sastra Amerika Latin dalam terjemahan Inggris. Pasca reformasi partner kerja saya di Jakarta ini adalah ekspat Prancis dan Kolombia. Selama bertahun2 kerja dengan mereka saya belajar Spanyol. Bahasa ini memang sulit dalam pengucapan, karena mereka punya kebiasaan berbicara sangat cepat, dan tiap kawasan punya logat yang berbeda (misalnya seperti orang Sunda atau Madura berbahasa Indonesia yang punya cengkok2 tertentu). Orang-orang dari selatan seperti Uruguay akan beda dengan Costa Rica atau Spanyol totok. Namun untungnya, di atas kertas itu tidak terasa (kecuali frase2 yang sangat lokal) Belajar membaca Spanyol (pasif) bagaimanapun lebih mudah daripada menjadi tour guide/melayani percakapan.

2) Soal Pablo Neruda di Batavia, saya kira selain karena persoalan bahasa, juga Neruda sendiri rasanya berusaha menutupi masa lalunya ini. Dia meninggalkan jejak yang sangat kelam di sini, menelantarkan istri dan anaknya yang sakit hidrosefalus. Untungnya belakangan ada beberapa karya yang berusaha memberi suara bagi si anak. Saya pernah menulisnya sedikit di paragraf akhir tulisan blog ini. Di Guadalajara 2018 saya bertemu penulis Belanda Hagar Peeters yang menulis novel Malva (2015) tentang anak Neruda yang sakit dan ditelantarkan ini. Karyanya saat itu baru saja diterjemahkan ke bahasa Spanyol dan terbit di Meksiko, dan dia sedang melakukan reading tour https://sastraalibi.blogspot.com/2016/11/karya-karya-fiksi-tentang-pablo-neruda.html
***

Hardiansyah Abdi Gunawan: Ada rencana untuk menerjemahkan beberapa karya yg disebut di sini?
Ronny Agustinus: Ada, tapi baru sebatas rencana. Novel anak2 ttg masa kecil Neruda itu sangat menarik.

Sigit Susanto: muchas gracias Senor,… saya juga baca, sepeninggalan Neruda dari Batavia menuju Spanyol bertemu Garcia Lorca, jalan baru ia temukan dan kisah di belakang diabaikan. Pada buku Neruda lain, sebut ia merasa lebih dekat dgn Che ketimbang dgn Castro. Neruda pernah kecewa saat ingin bertemu Castro, presiden Kuba itu menjaga jarak, di sisi lain Gabo dan Castro berkawan cukup dekat, ada 1 draf novelnya Gabo yang diserahkan Castro dan dibaca dlm semalam, esoknya Castro memberi masukan dan diterima.
Ronny Agustinus: Fidel, Gabo, dan Carmen Balcells, agennya Gabo. Sebelum versi final dibawa Carmen, memang Gabo paling percaya sama pembacaan dan masukan Fidel.


***

(Bersambung… klik di sini)

One Reply to “Obrolan mengenai Penerjemahan dari Bahasa Spanyol dan Inggris bersama Ronny Agustinus (Bagian I)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *