KEARIFAN ARIEF BUDIMAN

Feby Indirani *

Seperti banyak orang lainnya, perkenalan saya dengan pemikiran Pak Arief Budiman dimulai ketika baca bukunya yang legendaris, “Pembagian Kerja Secara Seksual, Sebuah Pembahasan Sosiologis Peran Wanita di dalam Masyarakat.” Kover buku ini tampaklah simbolik; tangan perempuan yang terborgol sambil memegang setangkai mawar.


Saya membaca buku ini saat kuliah, dan menjadi referensi sangat berpengaruh dimasa awal memahami teori dan pisau analisis feminisme. Tulisan beliau substansial dan jernih, membuat saya semakin yakin, bahwa seorang jenius memang yang bisa menjelaskan dunia yang kompleks secara sederhana (sosok sebelumnya yang saya kagumi dengan cara sama adalah Dr. Jalaluddin Rakhmat).

Pada awal 2006, saya berkesempatan bertemu langsung dengan Pak Arief, momen bercakap yang terlalu singkat, sekadar bersilaturahmi saja, tapi selalu saya kenang. Beliau hangat, lebih banyak bertanya dan mendengarkan di dalam percakapan, disamping sangat rendah hati.

Sosoknya sebagai intelektual yang feminis dan cemerlang, pribadi yang humoris dan bersahaja, selalu muncul dalam berbagai artikel pada kumpulan tulisan setebal 400-an halaman ini. Sejumlah nama yang akrab di telinga publik turut menulis, mulai Mbak Myra Dyarsi, Pak Ariel Heryanto, Mas Kumkum Ignatius Haryanto, dan banyak lagi, termasuk Mbak Swary Utami Dewi yang juga salah satu editor buku ini, menceritakan pengalaman personalnya dengan figur Pak Arief yang arif dan yang sangat apresiatif pada orang-orang di sekirarnya.

Tapi highlight dari buku ini ialah tulisan berjudul “Arief dan Leila” yang ditulis istri Pak Arief, Ibu Leila Ch Budiman. Bu Leila yang selama ini dikenal luas karena rubriknya di Kompas, juga seorang penulis yang memikat. Ia menceritakan sejak Pak Arief pertama kali naksir padanya, dan ditolak, namun Pak Arief tak pantang menyerah. Bu Leila akhirnya tertarik pada kecerdasan dan wawasan Pak Arief yang luas.

Cerita keluarga kecil mereka yang bertahan hidup di luar negeri (Prancis dan US) dengan minimnya dana beasiswa yang harus dipakai untuk berempat, mereka dan kedua anaknya. Bu Leila dengan jujur menyebut, jika tetangganya Pak Nono dan Bu Tika Makarim (orang tua Mendikbud Nadiem Makarim) memasak daging dan baunya tercium, ia akan keluar supaya diajak makan. Bu Leila bercerita dengan otentik, tanpa meromantisasi kemiskinan. Ia bertutur tentang hari-hari baik mereka tanpa perlu pembuktian diri (sesuatu yang biasa terasa pada pribadi-pribadi besar, mereka berdua memang pasangan idola).


Buku yang sangat penting dimiliki dan dibaca. Terima kasih banyak Mbak Tami.

10 Februari 2021


*) Feby Indirani, penulis,jurnalis, meraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010 kategori non fiksi untuk bukunya I can (not) Hear: Perjalanan anak tuna rungu menuju dunia mendengar. Penikmat pagi hari, perjalanan dan percakapan. Penggemar buku, film dan tidur lelap. Lebih banyak tentangnya bisa dilirik di http://febyindirani.com/ atau ocehan yang kadang penting di akun twitternya @FebyIndirani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *