PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (III)

Jawaban untuk bagian A. Pengantar esainya (makalahnya) Sofyan RH. Zaid

Nurel Javissyarqi

III
Edisi adalah bentuk buku yang diterbitkan, dikeluarkan, istilah saya merek. Dan kata “revolusi” mengabarkan perubahan sosial budaya yang berlangsung cepat menyangkut pepokok kehidupan. Maka “edisi revolusi” itu, sebentukan buku yang mengarah pada perubahan sosial, perombakan dasar demi mencapai kebutuhan yang diingini jaman; perangai seyogyanya, karakter sebaiknya, atau mengembalikan persoalan dasar dengan membongkar gelagat diselewengkan di masyarakat yang barangkali khilaf atau berhasrat disasarkan menuju kehancuran, sengaja disesatkan ataupun mengaburkan, mengelirukan kebenaran demi peroleh kepentingan sempit, sepihak; apakah biar dikira hebat, keren. Dan saya berusaha kembalikan ke tepatnya semula, fitroh yang dilupakan.

Ketika saya tawarkan kata “dalam” setelah kata-kata tersebut, dengan maksud kata sambungan, seperti kata “lewat, melalui, pada,” tapi pilihan menggunakan kata “dalam,” untuk menggiring pengertian menukik ke dalam, mengupas hal-hal tersembunyi (disembunyikan). Upaya menggali wacana yang disalahkaprahkan, dimana pihak lain hanya desas-desus dalam diam sejenis taklid tak mengenakkan. Sesudah kata “dalam,” muncul kata “kritik.” Kritik itu bermacam ragamnya, maka kritik itu kembali ke dalam kata “dalam” pula kata-kata sebelumnya. Atau kalimat “Edisi Revolusi dalam Kritik…” sudah menunjukkan maknanya tersendiri, lantas kata “Sastra” sebagai cabang ilmu yang dikritisi, demikian kala diurai satu-persatu.

Kata “dalam” di antara kata-kata “edisi revolusi” dan “kritik sastra” pun dapat diganti kata “dengan,” atau bersimpan makna “dengan.” Kata “dalam” di tengah seibarat timbangan tidak berat sebelah, pun corak penulisan dan lantunan bunyiannya seimbang, pula tidak menghapus tujuan tersembunyi di dalamnya. Kata “dalam” lebih luas jangkauan maknanya dibanding kata “dengan.” Seyogyanya menimang, kenapa saya tidak menulis “Edisi Revolusi Kritik Sastra.” Jelas kalimat tersebut menunjukkan sikap keangkuhan, padahal diri ini saya tempatkan sekadar pengelana yang suka baca-tulis, meski telah memberi langkah lain kala mengurai suatu kritik, semisal mengupas tiap paragraf. Dan tidak mencantumkan langsung “Revolusi Kritik Sastra” seperti tulisan Sofyan selanjutnya. Saya sadar posisi kedirian di belantikan susastra Indonesia, maka pola disodorkan dengan menulis merek buku MMKI melalui kata-kata “Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra.” Olehnya saya menempatkan Sofyan sebagai penulis kritik atau penyair yang tidak cermat, ini mungkin terjadi karena sikap merendahkan, meremehkan, menganggap ringan yang keluar dari selain dirinya, dan berlaku sebaliknya pada orang-orang dikaguminya.

Kalau saya mengada keberadaan kata “dalam,” maka kata “dalam” sudah melalui pertimbangan kata “dan, dengan, lewat” serta “melalui.” Jika memakai kata “dan,” maka kata-kata sebelum-sesudahnya berdiri sendiri-sendiri, demikian pun menggunakan kata “dengan,” meski kata-kata sebelum-sesudahnya bergandengan, tetap keduanya menuntut lebih. Demikian juga mengenakan kata “lewat” dan “melalui,” akan mempertegas bangunan kata-kata sesudahnya, yakni “kritik sastra.” Padahal saya menulis “Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra,” agar berimbang pula tidak mencolok kedirian. Ini bukan berarti menghendaki sikap abu-abu remang-remang, tapi menjaga djarat yang dilakukan semata cerminan dari seorang pembaca. Dan penghilangan “di” sebelum kata “dalam” sebagai upaya mengelokkan irama disebelah keteguhan (keyakinan) bahwa para pembaca mampu mencapai maksud yang terunggah. Di sini bolak-balik mengetengahkan kata “dalam,” bukan tidak fokus, tapi pertumpukan masalah yang dihadapati kian pertajam makna terkandung di dalamnya, atau pengulangan dilakukan demi memperteguh hingga menemukan satu pilihan kata “dalam,” yang diharapkan.
***

Dalam tulisan, dalam kata, di dalam kata-kata, ini mengetengahkan kedudukan makna kata, artian kata-kata yang tersusun dalam sukuan kata, rangkaian kalimat, dalam paragraf, dalam bentuk tulisan. Dalam hidup, dalam kematian, dalam kubur, atau dalam pada itu munculnya suasana, satuan rangkaian peristiwa yang dimatangkan hukum bandul kausalitas, atau dalam cerita tersebut memuat drama anak manusia, dan atas kata “dalam” menghidupi napasan kata setelahnya. Maka kata “dalam” pun sebagai infus pula oksigen tambahan demi menghadirkan makna purna bersimpankan keterangan hakikat suatu kata sesudahnya. Atau begitu dalamnya kata “dalam” menunjukkan maksudnya lebih tepat sasaran, lantas pembaca menerima dengan keadaan yang lebih baik tentunya.
***

Catatan Tengah:
[Malam 7 Juli 2018, saya beralih dari data revisian berupa esainya Sofyan untuk kembali ke makalahnya saat bedah buku. Ini setelah pembedahnya mengunggah link dari basabasi.co pada facebooknya, yang saya komentari lewat foto makalahnya. Kemudian Sofyan menanggapi bahwa yang di basabasi.co ialah esai, sedangkan yang di Universitas Indonesia makalahnya. Dan pilihan ke makalahnya, tentu pembaca paham maksud saya.
“Karena bahasan kata ‘dalam’ belum rampung, maka dilanjutkan. Yang tentu bertambah permasalahan, tersebab makalah diskusi di UI lebih banyak jumlah halaman pula soal yang dibahasnya.” Ketika komentar saya tersebut, Sofyan menjawab: “Kalau yang di basabasi.co adalah final.” Maka saya balik ke esainya, atau keinginan kembali ke makalahnya dibatalkan. Sayang juga, berita satuan bahasan dihapus, tapi catatan cuap-cuap di atas tetap diketengahkan].
***

Saya sebagai orang luaran yang tidak mengidap penyakit dalam. Banyak kritikus mengetahui periodisasi bahasa Indonesia yang berakar dari bahaya Melayu, tapi seolah melupa peristiwa sejarahnya. Mereka seakan terhipnosis istilah yang dikatai SCB yakni “in absentia, puisi besar” atas “Sumpah Pemuda.” Di sini kata “dalam” menghadirkan pengertian lain, semisal penyakit dalam, orang dalam, dan kita temukan bahasa pedalaman. Demikian jamak didapati kandungan kata “dalam,” selain perangai berbeda seperti dalam kandungan air. Dalam perut kata “dalam” itulah sepatutnya dibongkar, bukan malah menghilangkan. Apakah penyederhanaan dilakukan Sofyan termasuk gaya bahasa lugas tak berbelit-belit? Apakah merasa cukup, lalu menyerahkan kepada waktu, para pembaca dengan bersikap tak peduli, tidak mengurai kejadian penghapusan kata “dalam.” Apakah sangat percaya potensinya, kalau yang bergulir serupa peta bayangannya. Apakah sikap ini memikirkan manfaat keuntungan kelompok, pribadinya semata?
***

Bersambung…

4 Replies to “PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (III)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *