Catatan Perjalanan dan Tetangga di Sebelah Toko (VII)

Muhammad Yasir

Ini pagi yang ramai! Orang-orang senja usia, lelaki dan perempuan, tampak menguasai jalan utama gang tempat kami tinggal, di jantung Surabaya bagian Barat. Aku tertarik mengamati setiap gerak orang-orang senja usia ini, karena bukan sejengkal maut dari mata mereka yang terbatas itu yang menjadi soal, tetapi bagaimana cara mereka akan dimatikan Allah. Aku tidak memiliki keberanian untuk meremehkan mereka. Tentu saja, orang-orang senja usia adalah pemikir bisu yang hidup penuh dengan pertimbangan.

Aku, istri, dan anak-anakku berjalan di antara mereka. Tidak jauh dari toko buku, sebuah pasar yang ramai akan selalu mengundang siapa saja yang lewat untuk singgah. Ke sanalah kami pergi. Dalam perjalanan ke pasar itulah, aku melihat seorang lelaki, seorang senja usia, duduk di kantornya bersama dua orang pegawai yang tampak sibuk menulis sesuatu pada sebuah batu berwarna putih. Sepulang dari pasar, aku meminta diri kepada Istriku untuk kembali ke kantor itu; aku ingin berkenalan dan berbincang bersama si pemilik kantor. Singkatnya, Istriku mengizinkan setelah anak kami yang kedua tertidur.

Kali kedua, lelaki senja usia itu tersenyum bersahaja kepadaku. Dia duduk di kursi panjang di bawah pohon mangga yang lindap, kemudian mempersilakan duduk di sebelahnya. Cak Cholidh, itulah namanya. Dia memiliki sebuah mobil ambulans, kantor kecil menyatu dengan badan jalan dan pagar rumah Allah. Dia membuka perbincangan satu topik yang tidak pernah kupikirkan: “Orang-orang tidak mengenal akherat. Untuk itu, aku mencoba mempermudah upaya mereka untuk mengenal akherat.” Kami tertawa. Dia seorang yang sarkas rupanya, gumamku dalam hati. Akan tetapi, untuk diriku sendiri, itu benar! Dan, bahwa aku adalah seorang yang tidak kenal bagaimana akherat selain Sorga dan Neraka.

“Akherat,” kata Cak Cholidh, “adalah sepanjang jalan ini, Mas. Kita dapat melihat orang-orang lalu lalang entah ke mana seperti seseorang yang sedang diburu suatu apa. Mereka menunduk ke paving ini, kemudian ketika melintas di kantorku, mereka menoleh dan pura-pura tersenyum. Apa yang sebenarnya yang mereka inginkan? Mengapa aku merasakan kebohongan di sana? Nah, Mas! Di akherat, ada juga banyak orang lalu lalang. Namun mereka bisu, tidak seperti di sini. Roman mereka murung. Ada juga yang menangis, karena menyadari bahwa akherat tidak lain adalah sepanjang jalan pembalasan tindak-tanduk perbuatan semasa hidup di dunia. Jadi, itulah mengapa kantor ini kuberi nama Kantor Lyn Akherat; orang-orang yang lewat sini, akan ingat Allah. Atau, ingat aku! Ha-ha!”

“Nah, Mas!” Kata Cak Cholid, “mengapa aku menempelkan poster diriku sendiri di kaca mobil ambulans itu sebagai seorang DPR 1 Nomor 25? Pertama, DPR itu singkatan dari Dewan Pemakaman Rakyat. Kedua, 1 itu Allah yang selalu kita sebut ketika kesusahan dan kita lupakan setelah berkuasa. Ketiga, 25 itu ya, Nabi dan Rasul. Sementara “Ambulance Gratis untuk Caleg Strees” itu sengaja kubuat agar rakyat tahu, bahwa tidak seorang pun perwakilan rakyat yang mampu memerdekakan satu orang saja! Mereka, ah! Kita-kita inilah yang juga naif dan mau memelihara binatang-binatang itu ketimbang seekor kucing! Mereka lupa, kekuasaan yang mereka dapatkan menciptakan banyak korban!”

Kami tertawa, karena memang harus ditertawakan! Aku mengakui, bahwa ini kali pertama aku bertemu seorang senja usia yang bertenaga dalam berbincang. Meskipun kelahiran 1947, dua tahun setelah Revolusi Surabaya (1945) atau dua tahun Belanda mengakui Kemerdekaan Indonesia (1949), dia jauh melampaui Wakil Presiden Indonesia yang kalian pilih dua tahun lalu, Ma’ruf Amin, yang akan tiba dihari pembalasan bersama anak-anak suci tanah Papua, Sumatera, Kalimantan yang digiling-gilas kapitalisme ekstraktif dan dekolonialisme native! Namun pembawaannya yang santai dan sarkas selama perbincangan kami – kelak, akan kutulis menjadi cerita pendek – membuatku nyaris terus tertawa.

Orang-orang senja usia masih lalu lalang di jalan utama gang tempat kami tinggal dan kursi panjang tempat Cak Cholidh, aku memperhatikan mereka. Dan, setiap orang senja usia itu melintas di Kantor Lyn Akherat, mereka selalu menoleh dan bicara dengan pasangannya atau kepada diri sendiri. Tiba-tiba, Cak Cholidh tertawa nyaris tidak terdengar, kemudian dia mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berkata, “Sepulang nanti, mereka akan dibayang-bayangi nama kantorku. Terutama, Akherat itu.” Demikian, sekali lagi, kami tertawa.


Surabaya, 2021.

One Reply to “Catatan Perjalanan dan Tetangga di Sebelah Toko (VII)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *