Dari Supardi Sampai Salah Paham Tentang Dolly

Judul Buku: Ladang Pembantaian
Pengarang: Eko Darmoko
Penerbit: Pagan Press
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: vii + 151 halaman; 13,5 x 20,5 cm
Peresensi: R.N. Bayu Aji *
Jawa Pos, 26 Juli 2015

Sebuah karya sastra, apapun bentuknya, baik puisi, novel maupun kumpulan cerpen merupakan karya yang memiliki simbol tertentu. Menurut Kuntowijoyo, terdapat tiga hal penting dalam mengartikan peranan karya sastra sebagai simbol, di antaranya adalah sebagai cara pemahaman, perhubungan dan cara penciptaan melalui realitas.

Apabila realitas dalam karya sastra tersebut berupa peristiwa sejarah, maka karya sastra akan mencoba menerjemahkan peristiwa tersebut dalam bahasa imajiner untuk memahami peristiwa sejarah menurut penulisnya. Selanjutnya, karya itu juga bisa dijadikan sebagai sarana bagi penulisnya untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan tanggapan mengenai peristiwa sejarah.

Kumpulan cerpen yang hadir dalam buku yang ditulis oleh Eko Darmoko ini merupakan karya sastra yang hendak menjadikan peristiwa sejarah sebagai objek karyanya. Dari setumpuk cerpennya yang ia tulis mulai tahun 2006 sampai 2015, dipilihlah 15 cerpen yang ada di hadapan para pembaca ini. Sebagian cerpen tersebut pernah dipublikasikan di koran yang memiliki halaman rubrik sastra seperti Jawa Pos.

Tidak jauh dari realitas tempat kelahiran dan perjalanan hidup Eko Darmoko yang dibesarkan di Surabaya. Setting sejarah yang diangkat olehnya berlatar peristiwa-peristiwa sejarah di Surabaya, baik peristiwa besar sejarah kemerdekaan maupun peristiwa remeh temeh kehidupan keseharian kota Surabaya yang berkaitan dengan kehidupan penulis sendiri.

Hal itu bisa kita lihat dalam cerpen yang berjudul Surabaya Kita; Dulu, Kini Dan Esok. Eko menggambarkan sosok Sugiono dan Supardi yang juga berkawan dengan Bung Tomo dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Ia mempersonifikasikan Supardi sebagai tokoh yang menyobek bendera merah putih biru di Hotel Yamato 19 September 1945 tanpa perlu memamerkan bahwa dirinyalah yang menyobek bendera tersebut dengan gagah berani.

Begitu juga dengan tokoh Sugiono yang menjadi pelaku dan menyaksikan peristiwa tertembaknya Mallaby di insiden Jembatan Merah 30 Oktober 1945. Sugiono bahkan berkeinginan hati mengajak Mallaby duel satu lawan satu. Namun, kondisi yang sudah chaos menjadikan insiden “misterius” ini sebagai penyebab Inggris membom Surabaya pada 10 November 1945. Nilai yang lebih penting dari hanya sekadar penokohan tersebut yang hendak ditunjukkan oleh penulis adalah, bagaimanapun juga Surabaya merupakan kota kita semua yang harus tetap dijaga mulai hari ini sampai esok kapan pun itu (hlm. 10).

Selanjutnya, melalui cerpen Dolly, Eko Darmoko mengajak kita menelusuri sejarah perjalanan tempat prostitusi di Surabaya yang konon katanya terbesar di Asia Tenggara yang kini sudah ditutup oleh Walikota Risma. Melalui tokoh Pak Han (Handoyo) yang ditelusuri oleh peneliti bayaran yang disewa oleh gadis Amerika, sosok Dolly ternyata bukanlah seseorang PSK yang kemudian menjadi germo dan membuka bisnis lendir yang selama ini diketahui oleh orang awam di Surabaya maupun kota lain yang mengetahui Dolly. Dalam cerpen ini dijelaskan bahwa Dolly merupakan seorang anak yang lahir dari perempuan bernama Ani dan Darko Alfredo Chavit, seorang Filipina di tahun 1929.

Pak Han yang merupakan adik dari Dolly sebagai informan dalam cerpen ini mengisahkan sebenarnya Dolly adalah nama panggilan dari ayahnya dan bukan nama aslinya. Sejak remaja sosok Dolly merupakan perempuan yang giat berbisnis sehingga bisa membeli rumah di kawasan Dukuh Kupang bagian timur Surabaya. Kejayaan bisnisnya menjadikan Dolly bisa membeli rumah-rumah lainnya yang pada tahun 1967 disewa oleh tokoh bernama Titik Nurmala yang kemudian menyulapnya menjadi tempat prostitusi (hlm. 23).

Beralih ke kisah lainnya, banyak peristiwa keseharian yang diceritakan dalam kumpulan cerpen ini, di antaranya adalah fakta bahwa orang Surabaya masih ada yang percaya apabila mantan PSK bisa menyembuhkan penyakit Herpes. Penyakit kulit ini konon bisa membunuh seseorang apabila sudah melingkari bagian tubuh penderita. Cara pengobatannya adalah, mantan PSK terlebih dahulu mengunyah gula merah (jawa) dan kelapa muda. Hasil kunyahan itulah yang kemudian disemburkan ke luka herpes yang membuat herpes rontok dari kulit. Cerita itu ada dalam cerpen berjudul Bulan Khatulistiwa.

Penulis juga menceritakan pengalamannya hilang bersama teman-temannya saat naik Gunung Argopuro dan beruntung masih ditemukan oleh tim penyelamat dengan kondisi hampir mati kehabisan bahan makan. Kisah itu terdapat dalam cerpen Ladang Pembantaian. Terdapat pula cerita tentang penyair di Joyoboyo (Wonokromo) yang menyesali nasibnya menjadi penyair kere yang berteman dengan sunyi akibat ditinggal mati kekasihnya yang seorang PSK. Penyair itu pun semakin menderita tat kala karya-karyanya yang ia kirim selalu mendapat balasan “…. Mohon maaf, puisi saudara masih belum layak kami muat karena belum sesuai dengan selera pembaca koran kami.”

Eko Darmoko pun tidak luput memotret bagaimana susahnya menjadi seorang wartawan yang sedang melakukan investigasi sehingga memunculkan idiom, “musuh” terbesar wartawan adalah redaktur dan narasumber yang berkelit. Hal itu mungkin saja merupakan pengalaman pribadi penulis yang kebetulan sampai saat ini berprofesi sebagai seorang wartawan. Hal itu dialaminya saat melakukan investigasi kasus korupsi di Dinas Perkebunan Jatim dengan daftar pencarian orang, Rini Sukriswati yang ia personifikasikan menjadi tokoh Wati Rahayu dalam cerpen berjudul DPO (hlm. 115-124).

Membaca buku kumpulan cerpen ini seakan melompat-lompat dari kisah peristiwa masa lalu ke masa (ke)kini(an) karena karya sastra yang berlatar peristiwa sejarah tidak memerlukan aspek kronologi seperti tulisan akademis sejarah. Namun, cerita yang penuh dengan nilai yang dihadirkan oleh penulis buku ini ada dalam keseharian masyarakat Surabaya yang tentu saja berdasar perspektif penulisnya seperti kata Kuntowijoyo. Sekarang, tinggal pembaca apakah menganggap semua kisah ini merupakan bagian dari sejarah atau hanya sekedar cerita belaka.
***

*) R.N. Bayu Aji adalah Staf Pengajar Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *