Memoir dari Kampus Tirani

Esti Nuryani Kasam
Republika, 2 Sep 2007

Beberapa hari terakhir aku lebih menurutkan dahaga untuk membaca surat kabar ketimbang perutku yang mulai terbiasa lapar. Aktualita itu tiba-tiba menyeruak seperti banjir penghujan melanda Jakarta. Aku bahkan sengaja memburunya, tak lupa mengklipingnya. Sekurangnya itu menjadi referensi baru untuk memoirku.

Sejenak kupandangi dinding kamar kosku: penuh artikel dan slogan peradaban, bersumber pada agama, pendidikan, filsafat, sampai sastra. Semuanya berhubungan dengan kemanusian. Yang paling mencolok adalah slogan Max Havelar yang dirancang Douwes Dekker, “Tugas Manusia adalah Menjadi Manusia”, diikuti seuntai teori Paulo Freire, “Pendidikan adalah proses memanusiakan kembali manusia”.

Dan sekarang, untuk kedua kalinya, berita pembunuhan dari kampus tirani itu menyeruak. Serasa tumbuh lagi semangatku untuk mempublikasikan catatan harianku, pengalamanku di kampus itu. Hanya dua tahun memang, tetapi rasanya itu cukup menjejali bulu mata, isi kepala dan getar perasaanku mengenai friksi-friksi yang selalu membuatku bergidik.

Dan, Bapak? Tiba-tiba ia berubah seperti teman-temanku di kampus. Seringkali menjelma srigala, mengeluarkan taringnya, dan kuku-kukunya perlahan memanjang, siap mencakar siapa saja. Bulu kuduknya menegak dengan gemuruh kegeraman yang siap mencengkeram siapa saja.

Dan, kegeramannya itu diletuskannya dalam bentuk tendangan di dada, dengan tumitnya, pukulan perut dengan kepalan tangannya atau sodokan pinggang dengan tempurung lututnya. Lalu kami berjatuhan, mengaduh karena liver yang memar, buah pelir yang pecah atau tulang rusuk yang retak. Sekali aku pingsan karena kepalaku dibenturkan ke tembok. Itu dulu, ketika aku menjadi mahasiswa pemula.

Hampir setahun sejak mengalami kekerasan itu, tiba-tiba aku masuk sebagai tim pemlonco mahasiswa baru. Aku harus menjalankannya. Tetapi, aku tidak ingin menyakiti mereka. Membuat pingsan, apalagi merusak organ tubuhnya. Sebab, kata-kata sederhana orangtua, kesadaran belajar, kepintaran, harapan, telah terbiasa mengitari kehidupanku.

Tetapi, agaknya, kata-kata besar itu, di kampus kami, lenyap entah ke mana. Syukurlah, tidak di lipatan perasaanku. Rupanya ada ceceran yang tersisa di ingatan dari sekian bacaan yang menemani rentangan waktu senggangku.

Kini aku malahan mengkristalkan ingatan-ingatan itu. Sampai pada suatu kesempatan, aku mendapat tugas untuk menghukum seorang mahasiswa baru. Entah mengapa mandat itu menjadi begitu penting. Dan, yang lebih tak kupahami lagi, satu orang itu harus menghadapi kami bersebelas. Aku tak bisa mempertanyakannya. Yang kutahu ia seorang yang kritis.

Jadi barangkali benar, adanya kabar ia telah memprotes pemotongan gaji PNS yang sepuluh ribu perbulan itu. Aku tersenyum membanggakannya. Malah ia sosok harapan bangsa. Sebab, manusia atau bangsa, yang ingin besar, membutuhkan keberanian untuk berenang melawan arus.

Tetapi, ya Tuhan! Imbauan kesepakatanku agar memintanya push up saja lima kali di hadapan kami menghidupkan kecaman. Aku diteriaki sebagai banci. Mereka mengusirku. Aku tak kecewa. Dengan senang hati aku pergi. Bukan sekedar menjauh, tapi melarikan diri. Dan, sejak itu aku tak lagi menyebutnya sebagai lembaga pendidikan, melainkan kampus tirani. Dan, nasib anak itu? Aku terus saja memikirkannya. Lalu mulai menertawakan diri sebagai pengecut.

Pada keluarga Om, seorang ustadz, aku mengatakan itu sebagai pelarian. Tentu, yang pertama dari perasaan berdosa, menyaksikan penyiksaan demi penyiksaan oleh teman terhadap adik kelas yang lain. Selanjutnya, dari bapak yang begitu gagah menjual sawah sebagai uang pelicinku untuk dikirim ke kampus tirani itu. Suaraku dianggapnya angin lalu ketika kukatakan bahwa pendidikan otoriter itu bukan minatku.

Bapak menyumpahiku. Akhirnya, aku seperti kerbau dicocok hidungnya. Dan, terapi penyiksaan itu, seolah menyentak kesadaran tentang nilai kemanusiaan dalam sanubariku. Tetapi tentu, bapakku takkan pernah mau tahu. Terang saja, kabar itu segera kudengar setelah Omku datang dari kampung.

“Kau jangan pulang dulu. Mas bahkan tak ingin lagi menganggapmu anak.” “Ibu bagaimana?”
“Kukatakan padanya, jika ingin menemuimu, aku bisa mempertemukan di luar sepengetahuan mas.”
“Tapi, Om tak lupa katakan padanya kan bahwa Bapak tak perlu kembalikan uang pendidikanku di sana? Aku tak apa dianggap mati. Pokoknya bilang saja bahwa aku tak pulang. Saya lebih suka orang berfikir saya mati. Ya, andai saja mereka tahu kampus itu seperti kamp eksekusi.”

Sudah hampir tiga setengah tahun aku bergulat mempertahankan hidup. Siang aku seorang kuli bangunan dan malam aku belajar dari sanggar ke sanggar. Pada dua iklim kehidupan itu aku mendapat pelajaran yang masuk akal. Berbeda dengan kebanyakan orang sanggar yang hidup demi idealisme, maka idealismeku untuk mempertahankan hidup.

Aku bernafas diantara praktisme dan teorisme. Kerja dan bertapa. Dan menulis adalah dokumentasiku mengenai romantika hidup tentang keindahan yang patut dilestarikan, kelucuan yang pantas ditertawakan, kepedihan yang seharusnya mengharukan, dan kebusukan. Aku sedang memotretnya agar orang-orang memahui, mengeyahkannya dan menggantinya dengan yang wangi.

Suara sepeda motor perlahan mendarat di telingaku. Aku melongok lewat jendela. Seorang dosen, penulis, wartawan, editor sekaligus teman tempatku berkeluh kesah, terlihat mengisyaratkan harapan. Sekantung makanan, oleh-oleh untukku seperti kebiasaannya, dan beberapa bundel koran.

Hal yang tidak biasa, “Ini peliputan terakhir tentang kasus penyiksaan hingga tewas di kampusmu itu. Rasanya, untuk yang kedua kali kasus itu terbongkar, sekarang berbagai pihak mengecam dan mendesak pengusutan tuntas. Bahkan, para pelaku kunci dan penanggung jawab institusi telah dipecat,” katanya.

“Ayolah! Berikan skripmu itu padaku, aku kerja keras mengeditorinya, naik cetak, dan saat launching buku saja kau buka kartu hidupmu di depan banyak wartawan. Percayalah, tak akan ada masalah!” ceracaunya, sambil memelototi tanganku.

Dengan sigap ia lantas menyerobot skripsi. “Nah, nah, pasti niat itu sudah muncul di benakmu. Ya, kan?”

Kali ini aku tak berusaha merebutnya kembali. Kubiarkan ia menikmati kegirangan, berjalan menjauh sambil memperbaiki ikatan rambut gondrongku. Akupun menimpalinya dengan derai tawa. Mungkin aku sedang menertawakan sebuah tragedi.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *