Pemberontakan PKI Madiun 1948: Akar Konflik Islam Versus Komunis

Geger PKI Madiun 1948 akan konflik selanjutnya Islam lawan komunis


(Massa PKI ditangkap di Madiun 1948, foto kitlv.nl)

Muhammad Subarkah *
Republika, 17 Jun 2020

Memang mengejutkan mengapa trauma konflik berdarah-darah kaum Muslim terhadap pengikut komunis tetap lestari atau laten sampai hari ini. Bayangkan, bila dilacak konflik ini sudah menginjak satu abad, yaitu semenjak para anggota Sarekat Islam Merah melakukan rapat-rapat di rumah joglo milik saudagar kaya, H Rofi’i di Kotagede, Yogyakarta, yang kini dikenal warga sebagai rumah Ropingen.

Pada awalnya, anak muda SI Merah itu menganggap para seniornya di Sarekat Islam (kemudian disebut SI Hijau) kurang membela rakyat, dan terlihat pula kurang revolusioner atau radikal di dalam melawanan penjajah Belanda. Ini karena saat itu SI memilih masuk ke dewan rakyat (Volks Raads) bentukan pemerinah kolonial Belanda. Langkah Cokroaminoto dianggap lamban, dan ini makin menggebu setelah pengaruh ajaran komunis yang dibawa ke Henk Sneevliet dari Belanda kemudian bisa masuk ke organisasi massa yang kala itu punya masa dan kepengurusan terbesar di Hindia Belanda.

Pada masa awal itu banyak sekali tokoh Sarekat Islam masuk ke SI. Salah satu diantaranya adalah H Misbah, saudagar kaya asal Solo yang kala itu juga kader Muhammadiyah. Ia terpengaruh dengan SI Merah, bahkan menjadi pengikutnya dan oleh pemerintah Hindia Belanda dianggap sebagai salah satu otak pemberontakan PKI 1926. Misbah kemudian dibuang di Digul, Papua, dan meninggal di sana.

Dan memang letupan pertama dari percikan konflik antara PKI dan Sarekat Islam kala itu masih biasa saja. Sekedar perang kata dan sibuk berbantah soal berbagai tuduhan, misalnya soal jalannya roda organisasi yang dikelola Cokroaminoto. Bahkan awal pendirian PKI pun suasana unik. Kecenderungan ikon perjuangan lokal melawan penjajah yang pada awalnya 1900-an mulai dimunculkan berkat Sarekat Dagang Islam dan Sarekat Islam, masih terbawa dalam Kongres PKI pertama di Semarang. Simbol perang Jawa, misalnya Pangeran Diponegoro dan Sentot Ali Basyah, gambarnya terpampang pada dinding gedung yang dipakai dalam kongres pertama PKI. Gambar Diponegoro dan Sentot kala itu bersanding dengan gamar tokoh PKI misalnya Karl Marx, Lenin serta Stalin.

Tapi ketegangan makin hari makin bertambah. Menjelang pemberontakan PKI terjadi perpecahan internal dengan sosok seperti Tan Malaka. Ini lebih karena para pengurus PKI kala itu melihat dia berubah haluan: lagi-lagi tak terlalu revolusiner. Sebelum itu pihak Komunis Internasional yang berpusat di Moskow marah karena Tan Malaka mengusulkan agar gerakan komunis menggandeng gerakan Islam ketika melawan penjahan. Perbedaan ini makin memuncak setelah Tan Malaka tidak setuju bila pada tahun 1926 PKI melakukan pemberontakan dengan alasan konsolidasinya belum kuat.

Dan setelah pemberontakan tersebut gagal, ternyata suasana persaingan antara Islam dan gerakan komunis masih terus berlangsung. Imbas lain, setelah peristiwa pemberontakan 1926 gagal, kala itu PKI kemudian menjadi partai terlarang dan para kadernya diawasi secara ketat oleh pemerintah Hindia Belanda. Dan situasi ini jelas menguntungkan bagi aktivis Islam yang lebih bisa bergerak leluasa karena bukan partai yang terlarang.

Situasi ini terus berlanjut hingga zaman Jepang. Waku itu umat Islam bahkan mendapat angin yang cukup. Para ulama oleh Jepang dimanfaatkan pengaruhnya sebagai basis kekuatan massa di dalam ikut serta memenangkan perang Asia Timur Raya. Situasi ini lagi-lagi berbeda dengan yang diterima kader komunis karena mereka terus diawasi dan menjadi partai terlarang. Musso, salah satu tokoh komunis yang terlibat pemberontakan PKI Madiun akhirnya tetap memilih berada di Uni Sovyet daripada pulang ke Jawa. Dia tahu bahwa situasi belum kondusif.

Angin segar kepada gerakan Islam kian menjadi ketika para tokoh Islam oleh pemerintah Jepang dibiarlan mulai menggagas organisasi politik yang kelak menjadi Partai Masyumi. Islam semakin mendapat angin karena mereka kemudian mendapat kesempatan duduk di lembaga yang oleh Jepang disebut sebagai lembaga untuk mempersiapkan datangnya kemerdekaan: BUPKI. Akibatnya, di lembaga ini nantinya hanya ada dua kelompok yakni nasionalis dan Islam saja. Kelompok sosilias tidak ada, karena kala itu melakukan gerakan bawah tanah alias tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Jepang. Aktivis komunis tak ada di keanggotaan BPUPKI karena partai ini masih dalam status dilarang.

Akibat situasi ini maka masuk akal kemudian kecemburuan dan sikap panas atas perseteruan lama antara kaum komunis dan Islam meninggi. Elit politik kala itu tahu rapat-rapat pendirian embrio Masyumi ada di Pesantren Takeran Madiun. Maka wajar kiranya ketika pemberontakan PKI di Madiun, Musso bersama gerombolannya menarget pesantren ini sebagai ‘sarang’ lawan yang harus dihancurkan.

Pengaruh pesantren Takeran sebagai kekuatan politik Islam atau embrio Masyumi, diakui oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sabilil Mutaqin (PSM), KH Zakaria. Dalam sebuah percakapan di suatu sore bebera tahun silam, dia mengakui bila pesantrennya menjadi target penghancuran PKI yang kala itu dipimpin Musso (Paul Mussotte, bernama lengkap Muso Manowar atau Munawar Muso).

“Saya yang melihat langsung peritiwa pada tanggal 17 September tahun 1948 itu, baru di kemudian hari sadar bila penculikan kyai dan pengepungan pesantren kami bukanlah aksi biasa yang tanpa tujuan. Para kader PKI kala itu benar-benar sudah mempersiapkannya dengan matang. Ini terbukti hanya dalam waktu singkat para pemberontakan tersebut mampu menguasai wilayah yang cukup luas, yakni meliputi Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Blora, Pati, Cepu, dan Kudus. Jadi, jelas ada persiapan matang mengingat pesantren kami adalah pusat gerakan Islam kala itu. Mereka pasti tahu di sinilah rapat-rapat awal Masyumi diselenggarakan,’’ katanya.

Lagi pula, lanjutnya sebelum meledak peristiwa pemberontakan itu, di sekitar Takeran beterbaran aneka pamflet tentang Musso yang kala itu baru pulang dari Moskow (Moscow). “Jadi pesantren Takeran dipilih untuk diserbu, karena saat itu menjadi tempat atau basis pergerakan Islam. Kiai kami, Kiai Mursyid mau diajak berunding dan bersedia dibawa pergi oleh orang-orang berpakaian merah —dan kemudian hilang— karena sudah tahu pesantrennya terancam akan dibakar,’” tegas Zakaria.

Maka tak ayal lagi, Pesantren Takeran menjadi ajang pembantaian anggota Masyumi oleh PKI. Jejak ini terlacak pada daftar nama dan identitas afiliasi politik para korban yang tewas dengan cara dimasukan ke dalam sumur yang berada di tengah perkebunan tebu. Nama-nama korban ini kami dapat dari arsip yang tersimpan di Belanda yang dikumpulan DR Suryadi yang kini mengajar di Universitas Leiden.

Menurut Suryadi, sumber arsip dari nama-nama orang Masyumi yang menjadi korban dalam peristiwa Pembrontakan PKI Madiun tahun 1948 itu berasal dari artkel yang dimuat dalam majalah Aliran Islam. Suara Kaum Progresif Berhaluan Radikal No. 52, Tahun Ke VII, September 1953: 30, 31). Ejaan disesuaikan, tapi nama-nama orang, jabatan, dan tempat ditulis sebagaimana aslinya. Angka dalam tanda ‘{ }’ merujuk pada halaman asli majalahnya. (catatan tambagan, Mdn = Madiun; Mgt =Magetan).

1 Kjahi Barokah, Uteran Mdn, dibunuh. 2. Kjahi Zuber, Sewulan Mdn, dinunuh. 3 H. Sidik, Prambon Mdn, dibunuh. 4 Kjahi Abdulmalik, Sewulan Mdn, dibunuh. 5 S. Moeljono, Madiun, dibunuh, 6 Soenjoto, Madiun, dibunuh. 7 Soehadi, Madiun, dibunuh. 8 Sofwan Effendi, Seloporo Mdn, dibunuh. 9 Bawani, Seloporo Mdn, dibunuh. 10 Kober, Seloporo Mdn, dibunuh. 11 Poerwosoebeni, Tempursari, dibunuh. 12 Mu’in, Madiun, dibunuh. 13 Kjahi Soelaiman Effendi Modjopurno, Mgt, dibunuh. 14 Kjahi Imam Moersid Takeran, Mgt, dibunuh. 15 Kjahi Imam Faham Takeran, Mgt, dibunuh. 16 Kjahi Noor, Takeran Mgt, dibunuh. 17 Ardaba, Takeran Mgt, dibunuh. 18 Maridjo, Takeran Mgt, dibunuh. 19 Choesen, Takeran Mgt, dibunuh. 20 Roesdi, Gebung, dibakar. 21 Kjahi Dimjati, Ngumpak, dibunuh. 22 P. Tjipto, Kwandungan, dibunuh. 23 Muh, Tempurredjo, dibunuh. 24 Kjahi Koermen, Katerban, dibunuh. 25 Rachmat, Ponorogo, dibunuh. 26 Bazid, Ngunut, dibunuh. 27 Soewandi, Ponorogo, hilang. 28 Kidang, Ponorogo, hilang. 29 Blabur, Ponorogo, hilang. 30 Moechji, Ponorogo, hilang. 31 Koermen, Ponorogo, hilang. 32 Sarengat, Ponorogo, hilang. 33 Ismangil, Ponorogo, hilang. 34 Soemantri, Ponorogo, hilang. 35 Soemiran, Ponorogo, hilang. 36 Soeliman, Ponorogo, hilang. 37 Rigan, Ponorogo, hilang. 38 Dullah, Ponorogo, hilang. 39 Sabar, Ponorogo, dibunuh. 40 Asrori, Magetan, dibunuh. 41 Sjamsuri, Magetan, dibunuh. 42 Imam Pamoedji, Magetan, dibunuh. 43 Maharadjono, Magetan, dibunuh. 44 Oemardanoes, Magetan, dibunuh. 45 Soebari, Magetan, dibunuh {30} 46 Roda’i, Magetan, dibunuh. 47 Ropi’i Tjiptomartana, Magetan, dibunuh. 48 Gondosoewirjo, Magetan, dibunuh. 49 Badawi, Magetan, dibunuh. 50 Martosoewirjo, Magetan, dibunuh. 51 Imam Sahudi, Magetan, dibunuh. 52 Choesnoen, Magetan, dibunuh. 53 Achjar, Magetan, dibunuh. 54 Gimun, Magetan, dibunuh. 55 Achmad Soedjak, Magetan, dibunuh.
***

Adanya warisan perseturan antara umat Islam dengan komunis yang dimulai tahun 1920-an dan kemudian meledak dalam Peristiwa Pemberontaan PKI di Madiun tahun 1948 inilah dicatat oleh sejarawan Australia sebagai sebuah warisan terbangunnya antipati santri-abangan yang pada waktu selanjutnya. Bahkan situasi ini kemudian makin dipertegas dan dipupuk dalam persaingan partai politik selanjutnya.

Warisan peristiwa berdarah pembantain umat Islam di Madiun tersebut menurut Ricklefs mulai semenjak itu berimbas pula ke angkatan darat. Mereka mulai secara penuh memandang PKI sebagai musuh, karena dianggapnya menusuk Revolusi dari belakang, ketika keadaan tengah genting-gentingnya oleh upaya Belanda untuk kembali masuk ke Indonesia.

“PNI (kemudian, red) berada dalam posisi ambigu dalam persaingan ini. Para pemimpin dan kinstituen abangannya tidak tertarik pada Masyumi, mungkin karena agenda Islamisasi di dalamnya, tetapi mereka juga menjadi sasaran tindakan kekerasan PKI. Tahun-tahun berikutnya, PNI berusaha mengikuti arah angin politik, sebagaimana partai-partai lain, tetapi dengan sedikit banyak mengorbankan ideologi atau tujuan utamanya,’’ demikian tulis MC Riclefs dalam bukunya ‘Mengislamkan Jawa’.
***

*) Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *