AKHUDIAT dan SKOLAH SKANDAL

Akhudiat, Sang Dramawan yang Penyair


Aming Aminoedhin

Siapa yang tak kenal dengan nama Akhudiat? Barangkali bagi kalangan pekerja teater, apalagi dari kalangan kampus, pasti akan kenal nama ini. Kenapa tidak? Karena naskah dramanya berjudul Jaka Tarub dan Rumah Tak Beratap, pernah memenangkan lomba naskah drama versi Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1974. Lantas naskah drama lainnya yang ia tuliskan adalah Bui (1975) dan RE (1977).

Secara umum nama Diat, panggilan akrabnya Akhudiat, sangatlah dikenal di dunia teater modern Indonesia. Di samping nama-nama lain, semacam: Rendra, Putu Wijaya, Motenggo Bosje, Arifien C Noor , dan sederet nama-nama lainnya.

Diat mengaku pernah ikut kursus akting di Teater Muslim pimpinan Mohamad Diponegoro, dan juga berguru pada teater milik Arifien C. Noer. Kata Diat, kota Yogyakarta merupakan kota yang membekalinya dengan kosakata teater. Omongan Arifien C. Noer yang selalu dia ingat adalah, “Bacalah naskah drama, pelajari dialog-dialognya, kamu akan bisa menulis naskah sendiri.”

Berangkat dari sinilah, kemudian menulis sendiri, naskah-naskah teaternya, dan bahkan sampai memenangkan lomba penulisan naskah teater di Dewan Kesenian Jakarta tersebut. Akhudiat, lahir di Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Mei 1946. Diat punya ayah bernama Akwan (lahir 1925), petani yang tekun di desa Karanganyar, Rogojampi, Banyuwangi. Sedangkan ibunya, bernama Musarapah (lahir 1930). Istrinya bernama Mulyani, dan punya 3 anak: Ayesha Mutiara Diat (lahir 1975, perempuan), Andre Muhammad Diat (lahir 1976, laki-laki), dan Yasmin Fitrida Diat (lahir 1978, perempuan).

Akhudiat, pernah kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (AWS), namun tidak diselesaikannya. Lantas ikut kursus Bahasa Inggris di Lembaga Indonesia Amerika (LIA) Jalan Dr. Soetomo Surabaya, hingga tingkat advance. Sarjananya didapatkan 1992 dari Universitas Terbuka (UT) Fakultas Ilmu Sosial (FISIPOL). Akhudiat, pernah pula ikut International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, USA, pada tahun 1975.

Jabatan yang pernah diemban sebagai Komite Sastra dan Teater pada Dewan Kesenian Surabaya tahun 1972—1982. Pada tahun yang sama (1972—1982) sebagai sutradara dan penulis naskah teater di komunitas Bengkel Muda Surabaya (BMS). Jabatan lainnya, ia anggota pleno di Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), dari tahun 1999 hingga sekarang. Menjabat sebagai steering committee Festival Seni Surabaya (FSS) dari tahun 2000 hingga sekarang. Sejak masa kecilnya Diat suka menonton bioskop, sandiwara keliling berbahasa Indonesia, seperti: Bintang Surabaya, Gema Masa, Kintamani, Opera Melayu, Ketoprak, Wayang Orang, dan Ludruk. Dia, Akhudiat, juga menonton Kentrung Trenggalek, Rengganis, yakni sejenis wayang menak dengan tokoh Amir Ambyah, Umarmoyo- Umarmadi, Putri China, Jin Baghdad, Lamdahur. Tidak itu saja, ia menonton juga Orkes Melayu, Wayang Potehi, Sandiwara Misri, dan banyak lagi. Itulah yang kemudian menjadikan Akhudiat kaya referensi tentang seni dan budaya, dan bahkan ia bisa menulis cerpen, puisi, dan naskah drama.

Melihat “drama” semacam itu, Akhudiat beranggapan kurang imajinatif, kurang “liar”, dan terlalu “diatur”. Menyikapi hal tersebut, bersama komunitas Bengkel Muda Surabaya, Akhudiat menawarkan panggung yang lain, yaitu “panggung kosong”.

Dunia panggung adalah dunia imajiner, make-believe, pura-pura, rekaan, mungkin tiruan alam luar panggung, mungkin juga tidak. Bisa berasal dari mana pun: gagasan sejarah, pengalaman, peristiwa sehari-hari, berita/artikel, mimpi, bahkan pure nothing, diraih dari angin. Maka muncullah di panggung, orang atau barang, baik sebagai pelaku/pelakon atau properti/alat bermain. Semuanya berubah, bergerak, berombak, berirama, berganti, bertukar, berkeliaran, bahkan berontak, menjadi lakon. Maka adegan-adegannya dominan out-door/exterior. Beberapa lakon awal saya juluki dengan “teater jalanan.” Bisa main di dalam gedung, taman, lapangan, halaman, pendapa, arena, atau di mana saja.

Dengan pikiran “teater jalanan” Diat mendapat gagasan ketika sering ketemu corat-coret (graffiti, tunggal: graffito) berupa tulisan atau cukilan di tembok, pohon, batu, bangku, gardu, halte, stasiun, terminal, tempat wisata, atau di mana pun, yang hanya berisi dua nama, pemuda dan pemudi yang sedang bercinta. Pesan singkat ini tentu mengandung kisah panjang di baliknya. Coretan atau “Grafito” kemudian dijadikan judul naskah dramanya.

Di samping menulis naskah drama, artikel, dan esai, Diat juga menulis puisi, cerpen, dan terjemahan apa saja dari bahasa Inggris. Terjemahan terakhirnya adalah drama absurd, “Drama tentang Drama” tulisan Samuel Beckett, yaitu Katastrof dari New Yorker, dengan sub-titel Untuk Vaclav Havel, Sastrawan, Presiden Ceko. Salah satu cerpen Diat berulang kali disiarkan adalah “New York Sesudah Tengah Malam”, pertama kali dimuat di Majalah Horison, Oktober 1984. Karya tersebut diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Dede Oetomo, dosen Unair Surabaya, dengan New York After Midninght, dan dijadikan judul buku kumpulan sebelas cerpen Indonesia dari 11 cerpenis, merujuk pengalaman tinggal di Amerika Serikat serta pandangan mereka tentang Amerika. Buku tersebut disunting oleh Satyagraha Hoerip (Oyik), diterbitkan Executive Committee, Festival of Indonesia, USA, 1990-1991. Diterjemahkan lagi oleh John H. McGlynn, New York After Midninght, dimasukkan dalam kumpulan puisi, cerpen, dan esai tentang New York setelah mengalami tragedi 11 September 2001. Disunting McGlynn, diterbitkan Lontar, Jakarta, 2001, tiga bulan sesudah tragedi. Terjemahan McGlynn ini dimuat oleh majalah Persimmon, Asian Literature, Art and Culture, Volume III, November 1, Spring 2002, diterbitkan Contemporary Asian Culture, New York. Cerpen New York After Midninght berkisah tentang tiga kota: Jember 1960, New Yok 1975, dan Surabaya 1983, lewat dia narator mengalami semacam dejavu, hadir di suatu tempat atau situasi pertama kali tapi terasa sudah pernah hadir atau mengalami sebelumnya.

Di samping sebagai dramawan, ia juga penyair. Puisinya banyak termuat di beberapa kumpulan puisi sastrawan Jawa Timur. Di antaranya beberapa kali puisinya termuat di buku kumpulan puisi dan geguritan “Malsasa” Malam Sastra Surabaya, terbitan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) periode tahun 2005, 2007, dan 2009. Diat memang sang dramawan yang terkenal tidak hanya kota Surabaya saja, tapi juga di tingkat Nasional. Bukan itu saja, Diat juga penyair yang handal.

Terakhir kalinya, mulai Juli hingga November, Akhudiat melalui ‘Sanggar Merah Putih’ Surabaya, menggarap lakon “Skolah Skandal” karya dan sutradara Diat sendiri. Naskah dan lakon ini dipentaskan di Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, event Festival Seni Surabaya 2011; pada tanggal 3 November 2011. Para pemainnya di antaranya: Wina Bojonegoro, Deny Triariyani, Lennon Machali, Uyun Sri Wahyuni, Aming Aminoedhin, Desemba, Rara, Sri Lestari dan anaknya, Crysse; serta banyak lagi. Secara ringkas cerita itu bisa dibaca berikut ini:

Skolah Skandal
Karya dan Sutradara: Akhudiat

Alkisah seorang juragan kaya raya di negeri BOH—yang heboh suheboh – dikenal dengan panggilan ‘Ndoro Bunda’ tempat di mana segala orang minta bantuan dan utangan, dengan bunga ‘welasan sapai dupuluhan’ (bahkan kini hingga tiga puluhan, menurut sumber tak resmi dari kalangan ‘bank thithil’. Mulai pinjam ngijon arisan sampai kredit pupuk, dan bahan bakar minyak. Dan segala barang mahal milik orang se-negeri BOH, konon pernah ‘sekolah’ atau ‘parkir’ di rumah nDoro Bunda, gadai gelap, saingan pegadaian resmi Pemerintah.

Sang juragan nDoro Bunda itu bernama Maryamah, atau Wak Ayam Cawik, baru saja me-‘launching’ kompleks pergudangan baru di kawasan pantai utara, dan gedung serta rumah sakit Amanah Maryamah, tempat praktek aknya dokter Ginah, dan menantunya yang baru saja dapat gelar doktor-dokter. Asal muasalnya, bersama sang ‘misoa’, Wakde Balong, adalah dagang ayam kecil-kecilan, lesehan di tanah tanpa dasaran, di pojok Pasar Kliwon dan Pasar Klitikan.

Ndoro Bunda terkena pasal kriminal karena penyelundupan pupuk dari luar Jawa, dan divonis setahun untuk “sekolah” masuk bui, kandang-kebonya si Alsiponsi, kepala penjara BOH.

Juragan Bunda sanggup main atas main bawah. Dia membayar “joki narapidana” sebesar 10 juta ripis, untuk menghindari “sekolah” bui. Ketika mbok Wakdenya, Nyi Girah Tamsil, bezuk, sangat kaget bukan kepalang, ternyata di nomor sel “welasan” bukannya wajah cah-ayu Siyam Cawik, keponakannya, tetapi ‘praenan’ orang lain yang nongol mengaku sebagai Ndoro Bunda.

Nyik Girah berteriak, haibat, heboh suheboh, menghebohkan negeri BOH, bahkan se Indonesia Raya, karena baru kali ini ada skandal “joki narapidana.”

Bila tujuannya lembaga pemasyarakatan adalah “sekolah untuk adaptasi pesakitan kembali ke masyarakat”, Ndoro Bunda dengan jurus “Main atas main bawah” menjadikannya ke ambang tingkat tinggi “Sekolah Sekandal”

Para atasan dan atasannya atasan yang membikin “gemrengsengnya” dan “abang-ijonya” negeri BOH, semua terlibat dalam permainan Wak Ayam Cawik.

Ke mana Wakde Balong sang misoa? Dia sudah di maqomnya, asyik masyuk bersama kelompok “adem-ayem-tentrem-marem” mengaji Serat Hidayat Jati, Kyai Kanjeng Ngabehi Ronggowarsito. Amin……………………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Desaku Canggu, 21 November 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *