Ikhtiar Puisi dan Prosa Mardi Luhung

Judul: Belajar Bersepeda (kumpulan puisi)
Penulis: Mardi Luhung
Tebal: viii + 68 hlm
Penerbit: buku bianglala, Gresik
ISBN: 978-602-8671-74-3
Peresensi: Umar Fauzi Ballah
Kompas, 24 Juni 2012

Lima tahun belakangan ini, jika kita merunut proses kreatif Mardi Luhung kita akan mendapatkan fakta: pertama, “keinsyafan” Mardi Luhung (ML) meninggalkan binalitas dalam diksi puisinya sebagaimana terangkum dalam Ciuman Bibirmu yang Kelabu (CByK) (2007) maupun yang lahir sebelumnya yang takterangkum dalam antologi tersebut.

Hal ini pernah dilontarkan ML sendiri. Dua tahun lalu, ketika ML menerbitkan Buwun dan keliling kota, salah satunya di Madura, dia mengungkapan bahwa dia malu ketika mengetahui bahwa CByK dibaca juga oleh siswa-siswanya. Barangkali itulah yang membuat puisi-puisi ML menjadi berbeda. Meskipun demikian, karakteristik pola ungkap dan penyusunan bahasa puisinya yang liar, imajinatif, dan berlompatan, tetap terasa.

Kedua, Mardi Luhung semakin menunjukkan kecemerlangan produktivitasnya. Selain puisi, sejak tahun 2009, cerpenya sering menghiasi media cetak bahkan menjadi salah satu cerpen terbaik pilihan Kompas 2010 dan 2011.

Ketiga, Buwun (2010) memperoleh anugerah buku puisi terbaik Katulistiwa Literary Award 2010. Itulah titik tolak kecemerlangan dan buah kerja kerasnya. Bahkan, setahun setelah buku itu terbit, Mardi Luhung menerbitkan kumpulan cerpen tunggal pertamanya Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011) dan yang paling baru adalah kumpulan puisi Belajar Bersepeda (Oktober 2011)

Puisi itu dibagi menjadi tujuh subjudul yang jika kita cermati setiap puisinya, masing-masing subjudul membentuk sebuah kesatuan tema dan bentuk. Alhasil, posisinya menjadi ambigu bagi kehadiran prosa dalam puisi. Dalam subjudul “Fantasi”, misalnya, semuanya berkisah tentang gajah. Pun begitu dalam subjudul “Bersepeda” yang ditutup dengan puisi berjudul ‘Seperti Adam yang Bersepeda’ bercerita tentang sepeda.

Membaca BB saya seperti sedang berhadapan dengan sebuah prosa Mardi Luhung, tetapi dalam bentuk yang unik. Untuk dikatakan prosa, apa yang disajikan di dalamnya penuh dengan lapis makna, sedangkan unsur tokoh dan alurnya remang-remang. Begitu juga, jika dikatakan sebagai puisi, saya berhadapan dengan cerita berangkai. BB menjadi sintesis pencapain Mardi Luhung ketika pada saat yang sama puisi dan prosanya semakin cemerlang.

Tidak mudah berhadapan dengan kumpulan puisi BB. Banyak kode subjetif penyair yang sulit dipahami pembaca. Ini lebih sulit ketimbang Buwun. Dan soal ini sudah menjadi salah satu karakter ML. misalnya, Mardi sering memakai majas antonomasia untuk menyebut tokoh yang hendak diwartakan dalam puisinya. Misalnya, si wanita yang telah menjadi taruhan di meja dadu, si cacing tanah, si babon, yang asing, si ganji, si cantik, si sunan, si jenggot lebat, dan sebagainya.

Diperlukan kekayaan literatur bagi pembaca untuk menembus kode-kode dalam puisinya tersebut. Atau paling tidak menganggapnya sebagai jumpalitan imajinasi Mardi yang liar yang cukup dibaca secara harfiah.

Religiositas dalam Intertekstual

Sebagaimana telah saya kemukakan di atas, ada variasi tema dan diksi yang dihadirkan dalam puisi-puisi Mardi Luhung pasca-CByK. Dalam Buwun maupun BB, binalitas, sarkasme, keseronokan, dan sebagainya tidak dihadirkan kembali. Beberapa puisinya bahkan mengusung religiositas.

Puisi-puisi ML, pun dalam BB, tidak hanya mengalihkan realitas dunia, mitos, atau sosio-geografis, akan tetapi beberapa sumber penciptaan puisi ML sesungguhnya berasal dari teks yang ia alihkan dalam teks puisi. Karena itu, perlu pembacaan intertekstualitas guna memahami rimba pemaknaan puisinya.

Puisi ML yang berkecendrungan sulit dipahami itu membuat religiositas dalam puisinya pun sulit untuk diungkap. Yang terjadi adalah hal itu hanya dapat diraba-raba melalui kode yang secara harfiah tersurat dalam teks.

Simaklah puisi ‘Sinai’ yang dengan mudah dapat dipahami tentang Nabi Musa ketika mengalami pengalaman spiritual “bertemu” dengan Tuhan. Kau berkata api. Dan perkataanmu itu jadi api… Kau yang di gunung itu pun Cuma melambai. Tanganmu yang putih tampak berkilat. Dan dari kilat itu, aku mendengar: “Api dalam kitabku, bukan untuk dibaca.”

ML juga sering mengambil banyak khasanah hanya dalam satu puisi sehingga puisinya terlihat seperti sebuah mozaik. Puisi ‘Cacing Tanah’, misalnya, secara umum melukiskan tentang Syaikh Siti Jenar—lalu si cacing tanah yang lain, yang telah dimanusiakan lewat gelap malan itu pun segera membuka rahasia-kulit-coklatnya—dengan Sunan Kalijaga yang digambarkan sebagai—Kau menjaga tongatnya. Bersila di pinggir sungai. Namun, pada saat yang sama penyair menghadirkan sosok Drupadi melalui bait: Dan si wanita keramas dari darah si penjudi. Si wanita yang telah dijadikan taruhan di meja dadu.

Melalui puisi ‘Tali Kekang’, ML menggambarkan tentang nafsu: Berpergianlah sejauh mungkin. Tapi kembalilah sebelum tersesat. Pada bagian akhir puisi ini, ML mengalihan perumpamaan Imam Ghazali tentang nafsu yang laiknya kuda liar, nakal, dan binal. Karena itu, dikatakan ML: Yang jelas, ada seekor kuda dalam diri. Yang tali kekangnya perlu untuk diam-diam dipotong atau disambung.

Hal itu terjadi juga dalam puisi ‘Pesan’. ML pun berpesan: kita begitu tak leluasa menyebut si yang liyan dengan satu tarikan napas? Ternyata, Adik, jawabnya cuma satu: “Terlalu banyak ular merah. Yang merayap di batu merah. Pada magrib yang merah!” Yah, ML memodifikasi idiom dalam Islam. Bait terakhir itu tidak lain adalah perumpamaan yang pernah dilontarkan oleh nabi tentang orang riya (senang dipuji) itu seperti semut hitam yang merayap di atas batu hitam pada malam yang gelap gulita.

Lebih dari itu, semua yang ditampilkan dalam BB, baik kemasan maupun isi, dikerjakan dalam totalitas dan eksperimentasi. Misalnya adanya index di halaman terakhir buku tersebut. Selain itu, dalam subjudul “Bersepeda”, puisi ditampilkan dengan warna dasar kertas hitam. Puisinya pun cendrung lebih panjang dan ditulis dengan rata kanan kiri sehingga membentuk sebuah tipografi kotak yang rapi.

*) Umar Fauzi Ballah, penyair dan esais kelahiran Sampang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *