KEMBANG KANTIL DARI MAKAM EYANG SAWUNGGALING


Mashuri

Pada tanggal 11 Desember 2002, hari Rabu, bersamaan dengan terjadi banjir bandang di pemandian air panas di Pacet, Mojokerto, yang mewafatkan 20 orang lebih, saya mendatangi makam Eyang Sawunggaling di Lidah Wetan Surabaya. Saya mendapat tugas dari redaktur harian tempat saya kerja, yang berkantor di Jalan Pahlawan, untuk meliput makam sesepuh Surabaya legendaris yang bernama asli Jaka Berek, tapi kondang dengan nama Sawunggaling.

Sebagai anak buah, saya sami’na wa atho’na. Usai dhuhur saya menuju Lidah Wetan dari mangkal saya di Jalan Airlangga. Sesampai di TKP, sekitar pukul 16.00. Dari langgar di samping makam, terdengar azan asar. Juru kunci makam, Mbah Badrun, ada di sana. Saya pun menunggu Mbah Badrun, yang menjalankan shalat ashar. Usai ashar plus wiridan, yang cukup panjang, Mbah Badrun baru kelihatan batang hidungnya.

Saya menyalaminya. Sejurus kemudian, saya terkejut dengan sambutan pria 70-an tahun yang dahsyat. Saya dimarahi habis-habisan, padahal saya belum memperkenalkan diri.

“Kalau menulis Eyang Sawunggaling itu yang benar, jangan seenaknya,” sergah dia.

“Maksudnya, Mbah?” tutur saya.

“Kamu menulis Eyang seperti menulis orang tidak penting. Remeh. Jelek. Suka mendatangkan keburukan pada masyarakat. Sejarahnya juga keliru dan ngawur,” sambar dia. Saya diam sejenak. Berusaha menganalisis situasi.

“Saya mohon maaf. Beginilah anak muda, sering kebat-kliwat. Sering sok tahu. Maaf, nggih, Mbah!” tutur saya, meskipun saya tidak paham kesalahan yang telah saya perbuat.

“Jangan diulangi lagi!” seru dia.

“Inggih, Mbah,” tutur saya, serendah-rendahnya. “Mohon izin untuk masuk cungkup, Mbah. Mau berdoa, lalu mengambil gambar untuk bahan tulisan besok,” lanjut saya.

Tanpa memberi jawaban, dia langsung membuka kunci pintu ruangan tempat makam Eyang Sawunggaling, yang berornamen ayam jago. Ketika dia menengok saya, saya sengaja memasukkan Rp 20.000 ke kotak amal. Hitung-hitung sebagai penebus kesalahan, yang saya sendiri tidak tahu apa yang telah saya perbuat dan membuat juru kunci kebakaran jenggot, meskipun dia tidak berjenggot. Mbah Badrun, yang kini, sudah almarhum, lalu mempersilahkan saya masuk.

Mbah Badrun masuk lebih dulu. Ia menyalakan lampu ruangan dari saklar dekat pintu, karena suasana di dalam ruang makam remang-remang menjelang senja, dan menyalakan damar di pojok ruangan. Saya sendiri tidak tahu fungsinya. Setelah melepas sepatu, saya ikut masuk ke ruang tertutup berukuran 4 x 8 meteran. Ada lima makam di sana. Masing-masing ada tulisan namanya. Selain makam Eyang Sawunggaling di tengah, ada Dewi Sangkrah, Buyut Suruh, Dewi Pandansari, dan kusir setia Eyang Sawunggaling.

Setelah itu, saya ditinggal sendirian. Begitu Mbah Badrun menutup pintu makam, saya masih menangkap sisa bersungut-sungut di wajahnya. Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk minta maaf lagi, nanti. Setelah itu, saya mengucap salam kepada semua ahli kubur dengan tetap berdiri dekat pintu. Lalu, umik-umik sebentar. Setelah itu, saya mengambil gambar semua makam di sana. Ada yang satu persatu, ada yang secara keseluruhan. Biar redaktur nanti yang memilihnya sendiri.

Begitu merasa cukup mendapatkan hasil jepretan, saya pun menuju makam Eyang Sawunggaling, yang posisinya agak di tengah dan paling megah. Saya bersila untuk membaca doa sebisanya tepat di atas nisan sirah Eyang Sawunggaling yang banyak bunga sekarnya, ada mawar, kenanga, kantil, melati, dan lainnya. Sebuah perilaku kurang adab sebenarnya, karena saya tak pernah melakukannya.

Ketika sedang berusaha khusyu’ berdoa, mengingat kembali doa-doa yang pernah saya pelajari dulu di langgar dusun, bunga-bunga di dekat nisan dekat dinding utara tepat bagian di atas sirah Eyang Sawunggaling, bergerak-gerak. Semakin lama semakin cepat seperti diaduk-aduk dari bawah. Saya tercekat dahsyat.

Namun, otak saya yang sok waras lekas mengaitkannya dengan perilaku juru kunci barusan. Ini pasti ulah si juru kunci tua, yang memasang benang di balik tembok makam, lalu ditarik-tarik dari luar. Saya pun langsung membongkar kembang sekar berdasar prasangka buruk saya. Ternyata, tidak ada tali di bawahnya. Akhirnya saya merapikannya lagi, dan meneruskan doa yang belum selesai.

Tak seberapa lama, kembang sekar itu bergerak-gerak lagi. Kali ini pikiran saya menuduh adanya semacam serangga yang menggerakkannya. Saya pun membongkar susunan bunga kembali dan mencari serangga. Ternyata, tak ada serangga, bahkan semut pun nihil. Saya kembali menata ulang kembang agar rapi.

Ketika saya meneruskan umik-umik, kembang sekar kembali bergerak-gerak. Kali ini gerakannya semakin keras dan berputar-putar seperti ada gasing di bawahnya. Bahkan membentuk sebuah susunan, dengan puncak berupa kembang kantil. Otak saya yang asalnya sok waras pun tak lagi dapat mempertahankan kewarasannya. Namun, sejurus kemudian, refles saya keluar. Saya langsung menyambar kembang kantil tersebut, lalu secepat kilat menghambur ke pintu dan keluar dengan nafas memburu seperti copet dikejar massa satu pasar!

Begitu sudah di luar, saya berusaha tampil setenang mungkin. Saya mengatur nafas. Saya melihat Mbah Badrun sedang menyapu pendopo. Untunglah, dia tidak menghadap ke arah saya dan melihat raut wajah saya saat keluar dari pintu makam barusan.

“Sudah, Nak?” seru dia, dari pendopo. Ternyata dia tahu kalau saya sudah keluar, mungkin karena dia terus memperhatikan pintu masuk makam.

“Sudah, Mbah,” tutur saya, sambil mendatanginya.

Sambil menenangkan hati yang masih blingsatan, saya duduk di atas tikar, yang sudah disediakan. Begitu pula Mbah Badrun. Kami langsung ngobrol terkait dengan sosok Eyang Sawunggaling. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Selain waktu sudah menjelang magrib, saya tidak begitu mendengar penuturan sang juru kunci, karena sibuk menata dada saya yang masih berdegup keras seperti gelandangan yang diobrak petugas tatib.

“Saya pamit dulu, Mbah! Sudah hampir magrib,” seru saya, menyalami tangan tuanya yang keriput, sambil menyelipkan lembaran dua puluh ribu.

“Terima kasih, Nak. Kalau nulis yang benar ya!” seru dia.

“Inggih, Mbah. Maaf bila ada kesalahan. Anak muda memang banyak salahnya. Minta doanya mudah-mudahan lancar,” tutur saya sambil menyalakan mesin motor keluaran tahun 2000. Saya pun langsung ngebut di jalanan Surabaya, sambil sesekali meraba kembang kanthil di saku jaket. Tidak sampai setengah jam, saya sudah sampai di kantor. Lalu berusaha menulis ‘riwayat’ Eyang Sawunggaling yang baik dan benar.

Malamnya, begitu di kosan, sendirian, saya mengeluarkan kembang kantil dari saku. Tidak ada yang aneh, kecuali harumnya yang semakin semerbak. Entah kenapa, saya begitu butuh pada puisi. Saya sempat membaca beberapa puisi Dylan Thomas, tetapi hati saya semakin cemas. Saya pun lalu menyalakan komputer dan menulis sebuah puisi. Mungkin puisi ini berspirit surrealisme karena waktu itu, saya dan kawan-kawan di komunitas sedang mendalaminya.

Repotnya, saya merasa puisi ini tidak mewakili ‘kengerian’ saya di makam Eyang Sawunggaling, tetapi berbicara tentang Surabaya adalam arti yang lebih luas: tanahnya. Waktu itu, saya membuat puisi dengan tujuan untuk tetap menjaga sok waras saya dalam menghadapi hal-ihwal di luar nalar, yang seringkali beraura hingar dan sangar.

RAHIM TANAHKU

rahim tanahku maut
segala lahan dimangsa gulma
cacing berpesta dalam daging
bergelambir
gerak udara perut
kumparkan kutuk
: lebih busuk dari bangkai dan jasad
liang indraku cacat, dilumat-lumat
hitam semut

inikah duniaku
kebaruan yang tertangkap gelap jiwa
serupa runcing bambu dihunus
lurus ke anus
ah, keindahan yang papa
seperti darah dilukis di mata
perih dan percuma

inikah duniaku
kesesatan mewaktu lebihi tugu
peringatan ditegakkan untuk diragukan
seperti perawan bunting yang kadung
disunting
angin galak berpusing
di tengkorakku
otakku pesing
–penuh kencing koran dan buku-buku
hama pikiran mencakar-cakar
liar, kesunyianku pun terbakar

kerna kini kesesatan
lebih berjiwa dari dewa-dewa,
aku berpusar di pusatnya
lebih hitam dari kiblat,
lebih bernyawa dari segala bangsat…
degupku belatung
hidup

o sang jantung yang menyimpan
segala gaung
izinkanlah kurenggut riuh maut
dari calon jasadku,
kusirnakan sekat tubuh
di tungku batu-batu
o yang berdetak di tiap detik
muksalah, yang muksa!
o api kremasi nan suci, lahaplah putih
belulang dan sumsumku
yang berbilur biru
jadikan ajalku berabu…

kelak ketika abu disebar di latar
hidupku nan samar
‘kan kusapa malam di gerbang garba
purba,
kutanam hujan di lintasan kenangan
agar ia tak jemu menjemput ingatan
rintik, musik
di rahim tanahku
agar jernih berdegup
ke hatiku
yang berisik…

2002

Yeah, itu adalah peziarahan saya pertama ke Makam Eyang Sawunggaling. Meski saya sudah menginjakkan kaki dan tinggal di Surabaya, sejak 1994, saya baru pertama kali itu ke sana. Hal itu karena selama itu, saya terlalu khusyu’ dengan wacana-wacana modernitas dan posmodernitas. Apalagi pada saat itu, wacana yang mutakhir itu sedang hangat-hangatnya dan ngehits di berbagai sumber pengetahuan, baik itu buku, jurnal dan koran harian.

Kisah Eyang Sawunggaling pun menghuni ruang lain dalam pergulatan saya di Surabaya. Apalagi sosok Sawunggaling hadir dalam pergaulan lebih sebagai sosok mistis, daripada historis. Meski kehadirannya yang historis dibuktikan dengan keberadaan makamnya di Lidah Wetan, yang baru ditemukan pada tahun 1901, tetapi ia lebih hidup di cerita-cerita ludruk, tradisi lisan, dongeng, dan sekian kepercayaan lain yang menyebar.

Mungkin yang menarik dari sosok ini adalah soal nama. Jarang yang tahu bahwa nama kebesarannya itu diambil dari nama ayam jago peliharaannya. Awalnya, saya juga tidak tahu tentang itu. Bahkan, awalnya, saya mempersepsi Sawunggaling murni sebagai pahlawan rakyat, seperti Branjang Kawat, Sarip Tambak Oso, Sakera, Sogol Sumur Gemuling, dan lainnya. Sosok-sosok yang hidup dalam seni panggung rakyat. Namun, dari penulusuran sejarah yang dilakukan pihak-pihak tertentu, ternyata ia diduga berdarah biru dan dikaitkan dengan penguasa Surabaya tempo doeloe, bahkan raja Jawa.

Terlepas soal itu, karena ada project menghimpun cerita rakyat Surabaya, dua belas tahun kemudian, tepatnya tahun 2014, saya ke makam Eyang Sawunggaling lagi. Kali ini saya bersua dengan Muhammad Baidlowi (40 tahun), kuncen makam pengganti Mbah Badrun yang sudah wafat. Saya pun mengorek ulang terkait dengan sosok Sawunggaling, terutama kaitannya dengan ayamnya. Apalagi di lokasi makamnya sudah banyak berubah. Banyak gambar ayam jago sebagai hiasan.

Dengan tegas, juru kunci itu menyebut bahwa keberadaan gambar ayam jago di makam Sawunggaling memang tak bisa dibantah, karena nama Sawunggaling sendiri asalnya adalah nama ayam. Sang pemilik sendiri tidak bernama demikian. “Sawunggaling itu nama ayamnya. Beliau sendiri bernama asal Jaka Berek,” tegas lelaki yang karib disapa Dlowi itu.

Hmmm. Memang, ayam jago Sawunggaling demikian legendaris. Selama ini, Surabaya selalu identik dengan ikan dan buaya sesuai lambang kota. Bisa jadi ayam jago bisa menjadi hewan alternatif sebagai lambang kota mirip dengan lambang negeri Perancis, yaitu ayam jago. Bayangkan saja, di komplek makam Sawunggaling, dihiasi dengan lima gambar jago Sawunggaling. Dua berupa lukisan yang terpajang di dinding. Pada ukiran pintu masuk makam, dan sebuah lagi di gerbang makam.

“Ayam jago itu hanya lambang,” tegas Dlowi. “Ayam ini hanya alat untuk menunjukkan jati diri Jaka Berek yang semestinya. Setelah ia menang adu jago melawan ayahnya, maka namanya lebih disebut sebagai Raden Sawunggaling,” lanjut dia.

Namun, berbicara soal ayam, sebenarnya di Surabaya, ayam termasuk hewan mitologis nan seksis. Bukan saja ayam Jago Sawunggaling, ada pula ayam lainnya yang bling-bling. Tentu bukan ayam kampus. Ups! Ayam lain ini diyakini terkait dengan Prabu Jayanegara, raja kedua Majapahit. Tak lain dan tak bukan adalah si Cindelaras. Pertanyaannya, bagaimana bisa ada situsnya di Surabaya?


Begini ceritanya. Beberapa waktu lalu, saya lupa tahunnya, saya nyasar di Dusun Balas, Kelurahan Balas Klumprik, termasuk Surabaya selatan. Di sana, terdapat sebuah gunduk tanah mirip rumah rayap berpasir, dan dibalut mori putih. Situs itu berada di sebuah cungkup yang dinaungi tiga pohon besar. Kisah tutur yang beredar unik dan menarik. Tempat itu diyakini sebagai petarangan Cindelaras, alias kandang Cindelaras.

Namun, namanya juga cerita tutur, ada yang menyebutnya sebagai tempat pemandian Cindelaras. Entah mana yang benar, saya tidak tahu, apalagi ada yang mengaitkannya dengan Makam Eyang Sawunggaling di Kampung Lidah, yang juga terkait dengan mitos ayam. Apalagi dari makam Sawunggaling, lokasi tersebut dapat dikatakan hanya sepelemparan batu.

“Banyak juga yang menyebut bukan petilasan ayam raja Majapahit, tetapi ayamnya Eyang Sawunggaling,” tutur seorang tokoh kampung Balas.

Pokoknya, soal ayam, ternyata Surabaya basisnya. Termasuk mie ayam, ayam geprek, soto ayam, ayam… Ah, sudahlah. Mendengar penuturan yang ajib tersebut, saya hanya manggut-manggut saja di depan beberapa warga, yang sebagian besar adalah pendatang, alias urban. Uniknya, terkuaknya situs tersebut terkait Cindelaras berawal dari peristiwa kesurupan yang menimpa seorang perempuan tua, yang akhirnya perempuan itulah yang menjadi juru kuncinya.

Sayangnya, sekarang perempuan itu sudah wafat dan digantikan anaknya. Kejadiannya sendiri sudah lampau sih, sekitar awal tahun 1970-an. Buntut dari kesurupan itu panjang. Sebagaimana tempat sakral di wilayah agraris, di tempat ini seringkali diadakan acara sedekah bumi. Uniknya, acara itu tidak tiap tahun digelar. Konon, bila sing mbaurekso punden minta, entah dengan jalan dan media apa, digelarkan ritual. Biasanya berupa tayuban, semalam suntuk. Begitu mendengarnya, sebenarnya saya punya ide jos, yaitu mengganti tayuban dengan dangdut koplo. Ada sawerannya. Ups! Ngawur, Cak!

Adapun dalam cerita rakyat Jawa Timur dituturkan bahwa Cindelaras adalah ayam jago raja Majapahit kedua yang berjuluk Kalagemet, alias Prabu Jayanegara (1294-1328 M), yang memerintah 1309-1328 M, ketika ia melakukan penyamaran sebelum menduduki tahta. Nama samarannya adalah Panjilaras. Selama ini, situs yang diyakini sebagai makam ayam jago Cindelaras berada di desa Lebak Jabung, kecamatan Jatirejo, Mojokerto.

Selain soal petarangan Cindelaras, ada yang menyebut bahwa gunduk tanah itu sebenarnya adalah batu, berupa tugu peringatan gugurnya tentara Tartar yang diserang oleh bala tentara Majapahit yang didukung tentara Madura, pimpinan Arya Ranggalawe. Hanya saja, di sana tidak ditemukan bukti tertulis, juga tak ada tuturan warga setempat terkait dengan itu. Saya mendengarnya dari warga desa tetangganya, Kebraon.

Sementara itu, berdasarkan penelusuran toponim, Dusun Balas berasal dari padanan kata ‘mbah’ dan ‘alas’. Artinya: alas tua. Bisa jadi, dulu kawasan ini adalah hutan belantara yang dianggap tua. Bisa juga di sana adalah tempat orang tua penunggu hutan, dulu. Mengenai mana yang tepat, tak ada warga yang mampu memastikannya, apalagi saya. Namun, melihat lokasinya, sangat mungkin kawasan itu masih terkait dengan Eyang Sawunggaling. Tentu, petarangannya bukan Cindelaras, tetapi petarangan ayam jago Sawunggaling.

Kembali ke makam Eyang Sawunggaling. Menurut juru kunci Baidlowi, selain ayam jago, sisi lain yang menarik dari sosok Eyang Sawunggaling adalah sodor atau sodoran, semacam panah, serta suluk, yaitu sebuah lengkingan suara Sawunggaling ketika pamit pada ibundanya, Eyang Ayu Dewi Sangkrah untuk ikut sayembara yang diadakan oleh raja Mataram. Pada waktu itu, raja Mataram memang sedang mengadakan sayembara memanah umbul-umbul untuk dijadikan sebagai Adipati Surabaya.

“Sebelum ikut memanah, beliau bersuluk dulu pada ibunya, pamit ikut lomba agar ia bisa menjadi adipati mewakili Tumenggung Jayengrono, Kedua saudaranya yang sah yang lain ikut, tetapi tidak bisa memanah, sedangkan Eyang Sawunggaling bisa. Namanya, umbul-umbul Tunggul Yudo,” tegas Baidlowi.

Oleh karena itu pada acara sedekah bumi, biasanya digelar acara ‘gelar doa dan angkat budaya, dengan menggelar lomba sodoran dan suluk. Acaranya sendiri dipadu dengan istighosah, wayang kulit dan ceramah agama. Waktu itu, acara itu direncakan digelar setiap tahun. Adapun, yang hingga kini masih lestari adalah tradisi tumpengan pada hari Kamis Pahing di makam Eyang Sawunggaling. Pada hari itu bisa sampai 50 tumpeng datang dan berasal dari masyarakat sekitar dan luar kota.

“Diyakini pada hari itu adalah hari lahirnya beliau,” tegas Baidlowi.

Sebenarnya, selain ayam jago, binatang lain yang juga terkait dengan sosok Eyang Sawunggaling adalah kuda. Bahkan, terdapat tempat-tempat yang legendaris yang terkait dengan kuda tersebut. Meski kuda yang dimaksud tidak seperti kuda Ronggowale dan Aryo Penangsang, yang bernama Nila Umbara dan Gagak Rimang, tetapi kuda ini juga menyeret beban kisah-kisah yang cukup panjang di beberapa situs di Surabaya. Di antaranya adalah sebuah sumur di Kampung Gadel, petilasan di Darmo, Permai, Jurang Kuping dan lainnya. Dalam tradisi cangkeman, sumur tua di Gadel diyakini menyimpan tilas kaki kuda Sawunggaling, sedangkan petilasan di Darmo Permai, dianggap sebagai tempat pertapaan dan mendapatkan kesaktian dan kuda.

“Jurang Kuping diyakini sebagai tempat beliau memandikan kudanya,” tegas Baidlowi.

Sepanjang ingatan, saya pernah menelusuri beberapa lokasi di Surabaya yang dikaitkan dengan kuda Eyang Sawunggaling. Saya kira ada dua tempat yang menarik dan pernah saya rambah awal tahun 2003-an, yaitu Jurang Kuping di Benowo, dan Sumur Windu di Kampung Gadel Tandes. Keduanya termasuk Surabaya barat.

Dulu, Jurang Kuping dianggap sebagai wisata alam yang benar-benar alami. Dinamakan Jurang Kuping karena dalam cerita cangkeman di masyarakat bahwa tempat itu dulu menjadi tempat pembuangan kuping orang-orang Belanda. Hal itu karena beberapa anak buah Eyang Sawunggaling, gemar mengambil kuping musuhnya, meskipun menurut kuncen makam Eyang Sawunggaling menyatakan bahwa telaga di sana sebagai tempat memandikan kuda. Begitu saya ke sana, sekitar tahun 2003, saya hanya menemukan sebuah telaga, dengan kondisi alam yang masih asli. Banyak tumbuhan liar. Banyak belukar. Beberapa warung berdiri di sana. Selain menjual camilan, nasi, tetapi banyak warung yang menjual arak!

“Saya tidak tahu kaitannya dengan Eyang Sawunggaling, Mas, tetapi di sini memang banyak ularnya. Banyak ular kecilnya, juga ada ular yang sangat besar, sebesar pohon kepala,” terang seorang pemilik warung, perempuan muda, dengan dandanan agak sedikit menor. Sayangnya, saya lupa namanya.

Mungkin karena terpengaruh, aura Surabaya barat yang asolole, setelah dari Jurang Kuping, saya membuhul kenangan itu dalam sebuah puisi, berjudul “Istidroj” Puisi tahun 2003 pernah saya revisi beberapa lariknya, juga judulnya, pada tahun 2013. Sayangnya, saya lupa judul aslinya.

ISTIDROJ

bila namamu adalah daun
kuingin membaca guratmu di simpang
gairah mesin hasratku,
membenam diri dalam cairan
hijau,
larut ke kambium
seperti zat yang melezat di lidah
ketika lafad-lafad itu menjelma madah

tapi ulat hati masih menawanku ke jeruji
mimpi:
karnaval tubuh dengan tubuh
perayaan gelap ke genap setubuh
merayap daun-daun ranum
dengan gerigi cadas tak kenal alum

kelak bila namamu merindang
dalam sintuh bianglala
kusebut sebagai surga
ruang terindah buat yang pergi-pulang
kembali
mengaji lambang-lambang yang terjanji
menguji sunyi lidah sendiri
sambil menembang dan bergoyang:
“buka sedikit, jos!”

selepas dinihari, nafasku berapi
sarungku basah
oleh hujan laki-laki
ketika detik bergegas memburu pagi
tak ada yang terbuka
kecuali daun jendela
yang menghadap
sungai
gelap
sendiri

Surabaya, 2003/Sidoarjo, 2013

Memang, tidak ada tradisi setempat yang mengikat antara Jurang Kuping dan Eyang Sawunggaling. Tradisi di Surabaya, yang dimungkinkan masih terkait dengan Eyang Sawunggaling adalah tradisi sedekah bumi di Kampung Gadel, yang secara administratif termasuk Kecamatan Tandes. Secara toponim kampung Gadel berasal dari nama tanaman gadel yang bernama Latin tinospora crispa dan termasuk tumbuhan husada. Di tempat lain tanaman ini disebut dengan brotowali, putrawali atau andawali. Pahitnya luar biasa dan menjadi ukuran pahitnya sesuatu.

“Dinamakannya Kampung Gadel karena pada masa itu di sini tumbuh banyak tanaman gadel,” tandas tokoh setempat, yang saya lupa namanya.

Ketika saya telusuri, di kampung Gadel terdapat cerita tutur yang menarik terkait dengan tokoh sejarah masa lampau. Sedekah bumi pun terpelihara dengan baik. Namun, yang menarik tradisi itu berakar pada tradisi cukup lama. Apalagi, asal-usul kampung Gadel cukup panjang. Tak heran yang tertinggal di kalangan warga adalah kisah yang beredar turun-temurun, dan Eyang Sawunggaling ‘hanya’ salah satu tokoh di antaranya.

Sayangnya tak ada catatan tertulis yang mengabadikan sejarahnya, sebagaimana nama-nama kampung di Surabaya. Dari kisah tutur ini diperoleh informasi bahwa yang membuka kampung pertama kali adalah Mbah Joyo Singosari. Menurut tradisi cangkeman, Mbah Joyo Singosari berasal dari Bawean. Ia pergi dari pulau yang masuk wilayah kabupaten Gresik itu karena di daerahnya terjadi konflik, tetapi tak diketahui hal itu terjadi pada tahun berapa dan konflik tentang apa.

Yang jelas, Mbah Joyo Singosari adalah seorang pembesar dan dikenal menguasai ilmu-ilmu kesaktian. Ia membuka hutan gadel untuk menetap di tempat itu dan menghindari permusuhan dengan orang-orang di Bawean. Ia tidak ingin pertumpahan darah terjadi. Setelah ia menetap, selanjutnya banyak pendatang yang menemaninya menghuni kawasan baru tersebut, sehingga terciptalah kampung seperti sekarang ini.

“Saya tidak tahu tahun berapa, tetapi yang jelas, sudah ratusan tahun lampau,” tegas tokoh tersebut.

Warga begitu menghormati Mbah Joyo Singosari tidak hanya pada saat hidupnya, tetapi sesudah ia berpulang ke alam keabadian. Buktinya, hingga kini petilasan dan pesareannya pun masih bisa terpelihara dengan baik, berada di Gadel Sari Timur II. Selain itu, sebagai bentuk pernghormatan dan kirim doa, dulu hampir tiap tahun diadakan acara sedekah bumi. Acara ini sudah berlangsung sejak dulu dan turun temurun. Acaranya dengan mengarak tumpeng keliling kampung.

Pada titik tertentu, arak-arakan berhenti untuk ‘ngudari kupat’ yaitu mengurai kupat yang berisi beras kuning dan uang logam. Tujuannya minta pada Tuhan agar dijauhkan dari balak. Ritual ‘ngudari kupat’ diyakini sebagai upaya tolak balak. Selanjutnya, arak-arakan berhenti di sumur tua, yang disebut Sumur Windu, ada pula yang menyebutnya Sumur Gadel. Diyakini sumur lama yang berdiameter sekitar tiga meter lebih itu sebagai petilasan Mbah Joyo Singosari.

“Katanya, sumur itu petilasan Mbah Joyo Singosari. Beliau yang membuatnya,” tegas tokoh tersebut.

Lalu bagaimana hubungannya dengan Eyang Sawunggaling? Memang, muncul pula anggapan bahwa Sumur Windu atau Sumur Gadel itu berhubungan dengan sosok legendaris Surabaya, yaitu Eyang Sawunggaling. Sumber cangkeman menyebut, sumur itu tempat Sawunggaling memandikan kudanya.

“Banyak yang menghubungkan Sumur Gadel itu dengan Eyang Sawunggaling. Katanya, untuk memandikan dan memberi minum kudanya,” kata tokoh kampung Gadel. “Bahkan ada yang ekstrim menyebut bahwa di dalamnya terdapat telapak kaki kuda Sawunggaling,” lanjutnya.

Melihat rentang waktu kedua tokoh ini cukup jauh, bisa jadi, Sumur Windu itu yang membuat adalah Mbah Joyosingosari, kemudian pada masa Eyang Sawunggaling berjuang melawan Belanda, sekitar tahun 1700-an, ia singgah di sumur yang berair jernih dan melimpah itu untuk memandikan dan memberi air pada kudanya yang kehausan. Bahkan, bisa jadi Eyang Sawunggaling juga ikut nyeruput air sumur yang menyegarkan itu.

Tentu saja, simpulan tersebut berdasar logika sejarah. Namun, ihwal sejarah, saya tidak tahu apakah sejarah Eyang Sawunggaling kini sudah tersusun dengan baik. Menurut juru kunci Baidlowi yang saya temui pada 2014, ia dan timnya sedang menyusun sebuah buku sejarah tentang Eyang Sawunggaling. Dari penelusuran sementara, ternyata Sawunggaling memiliki hubungan darah dengan Sultan Hamengkubuwana I, raja Kasultanan Yogyakarta. Dengan kata lain, kelahiran Sawunggaling diyakini setelah tahun 1755, ketika perjanjian Giyanti ditandatangani dan kerajaan Mataram dibagi dua, Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

“Eyang Ayu Dewi Sangkrah itu masih keturunan Sultan Hamengkubuwana I,” tandas Baidlowi. “Tetapi penelusuran sejarahnya belum selesai,” lanjut dia.

Saya berharap penelusuran dan penulisan sejarahnya cepat selesai, meskipun harapan saya ini membutuhkan pengendusan sumber sejarah yang piawai, karena bahan-bahan tentang Eyang Sawunggaling lebih banyak terekam dalam cerita lisan, legenda, daripada catatan tertulisnya. Terlepas soalan itu, tentu saja saya tidak mengabaikan penelusuran oleh-oleh kembang kantil dari makam Eyang Sawunggaling, sehingga saya pun berikhtiar menelusurinya untuk mengobati rasa penasaran saya.

Keesokan harinya, setelah ziarah pertama saya ke Eyang Sawunggaling, tepat pada Kamis 12 Desember 2002, saya diajak seorang Gus di Sidoarjo, untuk mendatangi lokasi bencana di pemandian air panas, Pacet, Mojokerto. Kebetulan si gus ini dikenal sebagai orang yang peduli, ahli soal ‘dalaman’ dan mengasuh padepokan yang memiliki murid cukup banyak. Sungguh kebetulan yang ciamik soro. Karena itu, kepadanya, saya menceritakan pengalaman saya sehari sebelumnya.

“Saya bantu melek, Mas. Jenengan di dalam, saya dan anak-anak di luar,” seru dia.

“Maksud jenengan, Gus?” tanya saya.

“Sampeyan mau diberi tombak oleh beliau,” seru dia.

“Wow! Terus?” tanya saya.

“Jenengan bisa mengambilnya, cuma perlu melekan semalam suntuk di sana, dan harus sendirian,” tutur dia.

“Apa?!” seru saya, dengan mulut menganga.

Ambyar! Bagaimana saya mampu melekan di dalam makam, lha wong, melihat kembang sekar bergerak-gerak saja, saya sudah lari tunggang-langgang, seperti maling diburu orang satu kampung Gedangan. Ngacir, Gus!

Terkait dengan pengalaman embongan berbau urban legend jadul tersebut, meskipun berusaha dibuhul dengan puisi modern, izinkanlah saya menutup ngablak ini dengan sebuah parikan yang berbau serem, tapi lucu.

mlaku-mlaku golek kodok nang Lidah
barang oleh akeh lali ragawa cempolong
bengi-bengi weruh arek wedok mlumah
barang dicedaki tiba’e gegere bolong

MA, On Sidoarjo, 2021
*Jago di makam Eyang Sawunggaling dan Petarangan Cindelaras.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *