Komentar Fatah Yasin Noor atas prosannya Taufiq Wr. Hidayat

Sastra Terdepan dan Sastra Terbelakang, mengenang Budi Darma

Karya sastra Budi Darma itu berat, sekaligus ringan. Keringanan sastra Budi Darma melebihi karya sastra pop. Tokoh perempuan Olenka, akhirnya, berada pada garis antara fakta dan fiksi. Dalam kenyataan, hampir semua pelukis punya mimpi jahat soal cita-cita.

Tak ada pelukis di dunia yang murni, yang benar-benar murni hanya untuk melukis. Boleh jadi Budi Darma tertawa sinis mendengar lagak bicara para pelukis. Hatinya akan berbunga-bunga jika kritikus seni rupa mendaulat karyanya mengandung penampakan jiwa yang sangar.

Olenka berhubungan dengan Fanton Drummond. Mungkin Budi Darma di alam sana sekarang tersenyum simpul ada kritikus sastra mengatakan, bahwa novel Olenka lebih berbobot dari novel Rafilus. Tidak. Baik novel Olenka maupun novel Rafilus adalah senafas, sama-sama keluar dari paru-paru yang sama, tapi mengandung bau napas yang tidak sama.

Lingkungan Amerika di musim salju berbenturan dengan udara panas di Wonokromo Surabaya. Dada Rafilus yang mengandung besi tuang tentu tak bisa mengembang jika Budi Darma saat menulis ada di Amerika yang dingin. Soal menulis cepat langsung jadi novel, kata kritikus seni rupa, itu sama dengan aliran ekspresionis. Terserahlah.

26 Agustus 2021

One Reply to “Komentar Fatah Yasin Noor atas prosannya Taufiq Wr. Hidayat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *