Novel Orang-Orang Bertopeng (15)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Pagi cerah. Salman terus menyusuri jalan kampung sambil sesekali meraba saku celananya yang berisi bungkusan plastik kecil dan amplop warna merah hati. Salman takut jika bungkusan plastik itu jatuh di jalan. Misinya bisa gagal total. Salman ingat betapa susah untuk mendapatkan bungkusan plastik serupa itu yang jika diminum akan membuat si peminum mendadak jatuh cinta, mabuk kepayang, meski sebelumnya benci setengah mati. Teman-temannya sudah banyak yang membuktikannya. Kini giliran Salman ingin membuktikan sendiri.

Sebenarnya jarak rumah Salman dengan rumah Fatma tidak terlalu jauh, tapi entah kenapa setengah perjalananpun belum tertempuh. Tidak terasa keringat dingin mulai berpernik di dahi Salman yang kemudian tampak berkilat diterpa cahaya matahari. Tapi, ah, bayang-bayang orang bertopeng itu, sorot mata bengis itu, todongan senjata itu, tiba-tiba datang menyergap saat Salman melewati jalan sepi tepi hutan. Tak ada orang lain di situ yang bisa ia minta pertolongan jika terjadi sesuatu. Keringat dingin mengucur semakin deras tak bisa dibendung. Salman kemudian ingat mimpinya semalam. Benarkah mimpi itu akan berubah menjadi kenyataan? Diam-diam Salman berdoa agar dirinya selalu terhindar dari segala macam bahaya. Paling tidak hari ini.

Angin meliuk. Seekor burung gagak terbang dari balik rimbun pepohonan. Kepak sayapnya begitu keras menimbulkan bunyi mirip derap langkah sepatu. Salman kaget. Reflek ia meloncat mencari arah sumber suara. Tapi tentu saja Salman kecewa karena hanya mendapati seekor burung gagak hitam, jelek, buruk, kotor, terbang sendirian ke angkasa. Salman berhenti sejenak mengatur nafas. Sejenak Salman sempat berpikir membatalkan kunjungannya ke rumah Fatma. Tapi entah kenapa kakinya terasa berat untuk diajak pulang. Sebaliknya ada semacam dorongan, entah apa, begitu kuat mendesak-desak tubuhnya agar terus bergerak menuju rumah Fatma.

Dan, bungkusan plastik itu masih ada dalam saku celana Salman.

SEMBILAN

KONDISI keamanan kampung Pegasing berangsur-angsur mulai pulih. Tak pernah terdengar lagi berita orang diculik atau suara tembakan pada tengah malam buta. Karenanya orang-orang mulai berani keluar malam meski masih saling bergerombol. Warung-warung yang hanya buka pada malam hari kembali diserbu pembeli. Sebenarnya tidak banyak uang yang mereka belanjakan di situ, kecuali untuk segelas kopi kental, dua tiga biji pisang goreng atau empat bungkus kacang rebus. Selebihnya mereka memanfaatkan tempat itu sebagai ajang ngobrol, melepas penat setelah seharian bekerja di sawah atau ladang.

Tidak ada orang kampung yang tahu persis kemana perginya gerombolan orang bertopeng. Yang mereka tahu keadaan kampung kini berangsur-angsur kembali normal. Bagi mereka itu sudah cukup sebagai modal untuk membangun harapan masa depan yang berkali-kali koyak di tengah jalan. Mereka berharap tidak saja gerombolan orang bertopeng yang pergi dari kampung, tapi juga para pejabat, konglomerat, orang-orang berdasi dari kota yang sering datang menebang pohon hutan seenaknya. Kepergian gerombolan orang bertopeng itu (jika memang benar-benar pergi), mudah-mudahan juga diikuti oleh kepergian para pejabat, para konglomerat, orang-orang berdasi dari kota.

Tapi dari bisik-bisik yang mulai merebak dari mulut ke mulut, gerombolan orang bertopeng itu belum sepenuhnya pergi. Mereka masih berkeliaran di hutan-hutan sembari menyusun kekuatan. Entah siapa yang mulai meniupkan berita itu, yang jelas keberadaan gerombolan orang bertopeng itu betapa menakutkannya, selalu menarik untuk dijadikan bahan obrolan.

Begitulah. Sebagian orang percaya gerombolan orang bertopeng masih berkeliaran di hutan, sebagian lagi tidak percaya, dan sebagian lainnya — inilah yang tidak disangka-sangka sebelumnya, — mengatakan bahwa sesungguhnya ada dua kelompok gerombolan orang bertopeng yang saling bermusuhan. Satu kelompok bersenjata lengkap, satu kelompok lagi bersenjata seadanya. Tapi keduanya sama-sama dikenal beringas, brutal, tidak segan-segan membunuh tanpa alasan jelas. Konon, karena dendam masa lalu, kedua kelompok ini terus bertikai dan memperbesar kekuatan.

Jelas pembicaraan akhirnya jadi ruwet membingungkan. Bagaimana mungkin ada dua kelompok gerombolan orang bertopeng? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Kenapa selama ini mereka tidak tahu? Lantas gerombolan orang bertopeng mana yang selama ini mengacau kampung? Menculik dan membunuh penduduk kampung? Yang bersenjata lengkap atau yang bersenjata seadanya? Sayang, kecuali Salman, orang-orang yang baru kembali dari sarang penculik, selalu saja terganggu jiwanya sehingga tidak bisa dimintai keterangan. Salman sendiri yang tidak terganggu jiwanya, tidak banyak tahu tentang gerombolan orang bertopeng karena matanya selalu ditutup kain hitam.

Kesimpulannya, orang-orang kampung mesti harus terus waspada. Terus bersikap hati-hati. Boleh jadi seseorang di warung kopi milik Cut Hindar sambil melahap pisang goreng.

Beberapa orang di sekitar situ hanya manggut-manggut. Membenarkan.

“Sampai kapan kita akan seperti ini? Aku sudah tidak tahan.”

“Sampai dua kelompok gerombolan orang bertopeng itu berhenti bertikai. Kita baru akan aman…”

“Begitu?”

“Ya.”

“Lantas, apa yang harus kita lakukan?”

Orang yang ditanya hanya mengangkat bahu sambil menghempaskan asap rokok.

“Bagaimana kalau melawan?” Cut Hindar pemilik warung tiba-tiba angkat suara. Orang-orang mendongak. Kaget.

“Boleh, asal kita mau mati konyol. Kau tahu, gerombolan orang bertopeng itu sangat terlatih. Mereka sudah sering latihan perang. Mereka punya senjata lengkap. Sedang kita? Apa yang bisa kita perbuat? Sehari-hati kita pegang cangkul dan sabit….”

“Tapi kalau begini terus kita juga akan mati.”

“Yah, paling tidak umur kita masih bisa sedikit lebih panjang. Kalau kita semua mati, siapa nanti yang akan belanja di warungmu? Jangan-jangan kamu sebenarnya sudah bosan dengan warung ini karena banyak yang hutang, ha-ha-ha….”

Kontan orang-orang di warung Cut Hindar tertawa. Mereka semua rata-rata pernah atau masih berhutang pada Cut Hindar. Yang masih berhutang tentu saja hanya cengar-cengir.

“Hayo, hayo, siapa yang merasa punya hutang, segera bayar,” kata Cut Hindar berusaha menahan tawa.

Orang-orang tertawa semakin keras. Seseorang yang sedang menyruput kopi tersedak hingga batuk-batuk.

“Sudah, sudah, jangan ketawa terlalu keras. Salah-salah gerombolan orang bertopeng itu datang kemari. Mampus kita semua,” kata seseorang membelitkan sarung di leher.

“Kalau datang ke sini, biar kubunuh mereka,” jawab Cut Hindar sengit.

“Jangan bilang begitu, bisa kuwalat kamu!”

“Jangan-jangan nanti malah kamu sendiri yang dibunuh mereka,” seseorang menimpali.

“Aku tidak takut. Ayo, ayo, mana gerombolan para pengecut itu! Sini hadapai aku!” Cut Hindar mengacung-acungkan garpu.

“Kau benar-benar tidak takut?”

“Benar.”

“Bagaimana kalau sebelum dibunuh kau diperkosa dulu ramai-ramai oleh gerombolan orang bertopeng, hayo?!”

Kembali suara tawa memenuhi warung Cut Hindar. Kali ini Cut Hindar gelagapan. Wajahnya memerah.

Begitulah kehidupan malam di warung Cut Hindar yang buka mulai pukul setengah enam sore sampai subuh. Suasana kekeluargaan terasa begitu akrab tidak pandang usia. Semua perkataan sekasar apapun tentu saja hanya sekadar bercanda. Tidak pernah dimasukan dalam hati. Apalagi sampai menimbulkan permusuhan. Mereka sadar hanya itu satu-satunya hiburan gratis yang masih mereka miliki. Jika tidak, warung Cut Hindar pasti jadi sepi seperti kuburan.

Memang, kadang di balik ketakutan, ketercekaman dan kengerian, sering melahirkan rasa humor tinggi. Rasa humor yang tinggi itu pula yang kini dimiliki oleh orang-orang Pegasing.

(bersambung)

***

2 Replies to “Novel Orang-Orang Bertopeng (15)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *