Novel Orang-Orang Bertopeng (22)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

EMPAT BELAS

ABAH dan Umi tidak menyangka jika pesta perkawinan Fatma dan Salman bisa berjalan lancar dan meriah. Lebih meriah dari yang mereka perkirakan sebelumnya. Sewaktu dites baca al-qur’an di depan Tuan Kadi (penghulu), Salman cukup fasih membawakannya. Demikian pula saat acara balas pantun yang sesekali mengundang senyum para tamu. Seiikat pohon tebu, lima belas butir kelapa, tiga tandan pisang, sekeranjang nanas dan emas 5 mayan (sekitar 15 gram), juga sudah diserahkan keluarga Salman.

Para undangan, tetangga kanan kiri, sanak saudara datang berduyun-duyun mengucapkan selamat pada pengantin berdua. Mereka semua bahagia, mengiringi kebahagiaan Umi dan Abah yang terus tersenyum ramah. Umi benar-benar merasa tersanjung. Seumur-umur belum pernah Umi merasakan kebahagiaan yang begitu dalam. Begitu berkesan.

Inilah puncak kebahagiaan Umi. Puncak kebahagiaan seorang Ibu yang berhasil mewujudkan ambisinya menikahkan anak gadisnya. Ya, inilah puncak kebahagiaan Umi! Dendam lama yang terus dipelihara dan kini harus dibayar mahal oleh Fatma.

Masih mengenakan pakaian pengantin, Salman menyalami para tamu yang datang terlambat. Wajah Salman ramah. Senyumnya mengembang seperti kuntum bunga merekah. Sementara Fatma yang duduk disampingnya diam-diam terus menyeka butiran halus di sudut matanya yang sejak tadi ingin tumpah. Butiran halus itu terasa panas seperti membakar. Dan sesuatu entah apa terus bergemuruh di dadanya. Terus bergolak serupa debur ombak. Tapi Salman tidak tahu. Salman terlalu bahagia. Kebahagiaan yang membuat Salman buta dengan keadaan sekelilingnya.

Fatma dan Salman adalah pasangan serasi. Begitu pendapat banyak orang yang sempat menyaksikan Fatma dan Salman duduk di atas kursi pelamina. Fatma cantik sedang Salman gagah dan tampan. Apalagi dengan pakaian pengantin yang mewah gemerlap. Salman persis seorang raja. Fatma persis seorang ratu.

Jika ada orang yang mengatakan Fatma dan Salman bukan pasangan serasi, dia tak lain adalah Cut Hindar. Di deretan bangku belakang Cut Hindar dapat merasakan apa yang sedang dirasakan Fatma. Apa yang berkecamuk dalam benak Fatma. Kesedihan itu, kekecewaan itu, kegelisahan itu, begitu jelas di mata Cut Hindar. Cut Hindar pernah mengalami hal sama, dulu, ketika menikah dengan Barozi, laki-laki pengangguran yang kini telah bercerai karena ketahuan selingkuh. Barozi memilih hidup serumah tanpa ikatan dengan perempuan yang konon setatusnya masih istri orang.

Fatma berharap malam datang lebih lama. Fatma tak sanggup menghadapi malam. Ingin rasanya ia lari sekuat tenaga menghindari malam yang sebentar lagi tiba. Tapi bisakah? Mampukah? Waktu tak pernah mau berhenti barang sedetik pun. Waktu terus bergerak. Terus berjalan. Terus melaju. Menghentikan waktu sama saja dengan bunuh diri atau mati. Ya, rasanya ia ingin mati saja dari pada harus menghadapi malam. Malam yang hitam dan kelam. Malam yang biasanya ditunggu-tunggu oleh para pengantin baru. Malam yang berkeringat. Malam yang basah dan yang tak menyisakan ruang untuk menarik nafas panjang.

Fatma ingin hari terus siang. Matahari terus menyinari bumi dengan garang. Biarlah tubuhnya melepuh gosong. Sebab malam hanya akan membuat dirinya takut.

Ketakutan Fatma semakin tak tertahan manakala matahari mulai condong ke barat. Sinarnya tak begitu terang. Bayangan pepohon memanjang, meliuk-liuk dihembus angin. Daun-daun rontok berserakan di atas tanah. Fatma menutup mata berharap matahari kembali berbalik ke timur. Tapi berkali-kali ia menutup mata, dan saat matanya dibuka, matahari tetap berada di timur. Bahkan semakin turun. Turun.

Entah sudah berapa puluh kali Cut Hindar mondar-mandir di depan Fatma. Mengambil gelas, piring, nampan, sendok yang berceceran atau apa saja yang menjadi tugasnya. Memang, bagi orang seperti Cut Hindar yang kerja dibagian belakang, mengurus konsumsi dapur, meski pesta perkawinan telah usai, tapi pekerjaan tetap menumpuk. Bahkan semakin banyak. Tapi kali ini sepertinya Cut Hindar tidak sekadar menjalankan tugasnya saja. Ada sesuatu di balik itu. Sorot matanya yang gelisah. Langkahnya yang pendek-pendek. Raut mukanya yang cemas mencuri-curi perhatian seseorang. Sudah cukup untuk menjelaskan semua itu.

Tapi kecuali Cut Hindar sendiri, tak ada orang lain yang tahu. Cut Hindar sebagaimana juga Runa, Safiar, Siti, Halima, perempuan separu baya yang setiap kali ada hajatan selalu bertugas dibagian dapur tak cukup punya keberanian untuk bercakap-cakap dengan seseorang di ruang tamu, di mana di situ masih banyak tamu undangan yang datang.

Cut Hindar masih terus mondar-mandir di depan Fatma hingga suatu kali ia hanya bisa gigit jari karena tak ada lagi yang bisa ia kerjakan di situ. Gelas, piring, sendok, toples, atau perabotan kotor lainnya, kecuali yang masih dihadapi para tamu, tak ada lagi yang tersisa. Semua sudah diangkut ke dalam, dicuci. Sambil gigit jari Cut Hindar mengintip lewat gordyn pintu berharap para tamu segera pulang. Tapi para tamu yang datang terlambat rupanya masih asyik bercakap-cakap dengan Salman. Sesekali diselingi tawa lebar. Entah, mendadak perut Cut Hindar mual mau muntah melihat Salman.

“Heh! Kenapa masih di sini?!” seseorang menepuk pantat Cut Hindar. Cut Hindar gelagapan. Merah padam.

“Kau kepengen kawin lagi, ya?!”

“Huss!” Cut Hindar sewot. Langsung ngeloyor pergi.
***

BENAR. Ketakutan maha hebat menyergap Fatma ketika gelap malam tiba. Tubuhnya panas dingin. Menggigil gemetar. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya. Sesuatu yang selama ini ia cemaskan, kini tampaknya bakal terjadi. Rasa sakit itu, luka itu, duka itu, kesedihan itu, akan bertambah lengkap malam ini. Sempurna sudah penderitaannya. Tak ada harapan tersisa. Tak ada sekerlip cahaya yang dapat ia lihat untuk membangun masa depan. Semuanya serba kelam. Hitam. Tinggal menunggu waktu saja. Ya, tinggal menunggu waktu. Sebentar lagi….. Batin Fatma terus menjerit. Meratap dalam doa.

Allah, berikan aku sepasang sayap
dan, biarkan aku terbang tinggi
mengelilingi semestamu yang luas
aku ingin bersemayam di langit
bersama bintang-bintang, bersama bulan
agar tubuhku tetap suci, tidak terjamah…

Tapi Salman masih berada di ruang tamu menemui saudara-saudaranya yang baru datang dari luar kota ketika Fatma mendengar suara langkah kaki mendekati jendela kamarnya. Penasaran, Fatma segera meluncur dari atas ranjang. Tapi tampaknya Fatma kurang hati-hati sehingga sebuah guling bergeser, menerpa tepi meja dan menjatuhkan salah satu alat kosmetik. Suara yang ditimbulkannya memang tidak begitu keras, tapi sudah cukup membuat jantung Fatma seperti mau lepas. Sejenak Fatma berhenti mengatur nafas.

Langkah kaki di luar semakin dekat, dekat, bahkan seperti sudah sampai di depan jendela. Dengan hati-hati Fatma bergerak ke arah jendela lalu membuka jendela itu. Tapi karena jendela itu terbuat dari kayu yang terdiri dari dua bagian yang saling mengatup, maka dengan cara membuka sedikit saja dibagian tengah, ia sudah bisa mengedar pandang keluar.

Tapi selain kegelapan Fatma tak melihat ada orang lain di situ. Fatma menggosok-gosok mata kawatir jika pandangannya kurang jelas. Tapi hingga matanya pedih dan merah, ia tetap tak menemukan siapa-siapa. Justru angin keras menerobos masuk menerpa tubuhnya. Fatma segera menutup kembali jendela itu. Tapi sebuah kekuatan menahan daun jendela dari luar dan sesosok manusia menyembul dari samping jendela. Hampir saja Fatma memekik keras melihat orang yang berdiri di depan jendela jika saja orang itu tidak segera membekap mulutnya.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.” Cut Hindar, orang yang berdiri di luar jendela itu bersuara. Suaranya lirih namun terdengar tajam.

Fatma masih terhenyak dengan kedatangan Cut Hindar yang mengejutkan itu hingga tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

“Tapi tidak di sini,” ucap Cut Hindar menggeser sedikit tubuhnya ke samping agar terhindar dari cahaya lampu.

“Malam-malam begini? Di mana?”

“Aku tidak punya waktu banyak. Ikuti saja aku!”

Tanpa basa-basi Fatma segera meloncat keluar jendela. Tubuhnya langsung disergap udara malam yang dingin. Cahaya bulan mengintip malu-malu lewat sela daun dan ranting yang bergoyang ditiup angin. Cut Hindar segera menggandeng tangan Fatma, kuat, lalu melangkah cepat di antara rimbun pohon pisang. Tapi rupanya, Cut Hindar memilih lewat sawah dan ladang tegalan ketika ditemuinya sebuah jalan kampung. Fatma tahu, maksud Cut Hindar tentu agar keberadaannya tidak terlihat penduduk. Kesimpulan ini membuat Fatma semakin penasaran. Apa yang ingin disampaikan Cut Hindar pada dirinya?

Hati-hati Fatma mengikuti langkah Cut Hindar menuruni tebing yang lumayan terjal, melewati pematang sawah, lalu berjalan perlahan-lahan di atas jembatan bambu reot. Untung, sejak kecil Fatma sudah terbiasa dengan jalan-jalan seperti itu. Karenanya Fatma tidak terlalu cemas jika jatuh terpeleset. Setelah melewati jembatan bambu, Cut Hindar melangkah semakin cepat. Tidak sekalipun ia menoleh ke kanan atau kiri. Keberanian Cut Hindar benar-benar luar biasa. Kecuali laki-laki, jarang ada perempuan yang berani keluar rumah pada malam yang begini sepi dan sunyi di pinggir hutan lagi. Meski sudah lama tidak terdengar gerombolan orang bertopeng, tapi jarang ada perempuan yang berani berjalan di tempat-tempat seperti ini.

Langkah Fatma tertinggal beberapa meter di belakang Cut Hindar. Maklum, di samping harus terus memusatkan perhatian pada Cut Hindar, Fatma juga harus memperhatikan jalan setapak yang mesti dilalui. Fatma sebenarnya ingin berteriak pada Cut Hindar agar mau jalan bersama. Tapi Fatma kawatir jika suara teriakannya di dengar orang lain. Akhirnya yang bisa ia lakukan hanya menambah kecepatan langkah kakinya. Tak peduli kakinya terantuk batu besar atau akar pohon yang menyembul ke permukaan. Sesekali Fatma kehilangan bayangan Cut Hindar, tapi segera kelihatan lagi keluar dari batang-batang pohon pisang dan pohon jati.

(bersambung)

***

One Reply to “Novel Orang-Orang Bertopeng (22)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *