Novel Orang-Orang Bertopeng (23)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Fatma menarik nafas lega ketika tak jauh dari tempat ia berjalan mulai terlihat beberapa rumah penduduk. Cahaya lampu, samar, membias dari rumah-rumah itu.

“Kita sudah sampai,” kata Cut Hindar berhenti di depan pintu rumah.

Fatma tahu itu adalah rumah Cut Hindar. Tapi Fatma tidak tahu pintu itu ada di sebelah mana. Samping kiri? Kanan? Atau belakang? Yang jelas bukan pintu depan. Karena kalau pintu depan pastilah Fatma akan melihat deretan bangku, meja, tikar, rak piring yang biasa digunakan untuk buka warung kopi. Fatma bimbang untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang selama perjalanan tadi ia simpan dalam hati.

“Masuklah,” Cut Hindar membuka pintu. Pintu dari kayu itu berderit pelan. Cahaya lampu di dalam rumah membias keluar. “Ayo! Cepat masuk!” Ulang Cut Hindar saat dilihatnya Fatma hanya berdiri diam.

Fatma kemudian masuk disusul Cut Hindar. Sepi. Rumah Cut Hindar sepi seperti tak berpenghuni. Hanya ada seorang anak kecil tidur pulas di atas kursi panjang. Bocah kecil itu anak Cut Hindar. Fatma tidak habis pikir bagaimana mungkin Cut Hindar tega meninggalkan anak itu sendirian di rumah. Bagaimana jika anak itu tadi tiba-tiba bangun? Pasti akan ketakutan dan menangis keras. Tak berkedip mata Fatma menatap wajah bocah itu, tampak begitu lugu, polos, tenang tanpa beban hidup. Tiba-tiba Fatma ingin kembali menjadi kanak-kanak. Dunia yang sudah jauh sekali tertinggal di belakang.

Hati-hati Cut Hindar membuka pintu salah satu kamar seolah takut jika gerakannya sampai menimbulkan bunyi. Perlahan-lahan pintu kamar terbuka. Fatma tidak tahu apa yang akan dilakukan Cut Hindar selanjutnya sebab setelah pintu terbuka penuh, Cut Hindar hanya berdiri mematung di depan pintu dengan sorot mata haru. Sayu. Fatma penasaran segera menghampiri Cut Hindar. Tampak di kamar itu, dalam temaram cahaya lampu, sesosok tubuh terbungkus selimut. Mungkin tidur. Sebelah tangannya menyembul keluar dan terlihatlah bekas-bekas luka goresan yang sebagian sudah kering. Cut Hindar masih mematung dan tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

“Siapa?” suara Fatma nyaris tak terdengar.

Cut Hindar menoleh. Menatap lekat-lekat seraut wajah didepannya seolah ingin mencari kekuatan di situ. Lalu, “Hasan….” suara Cut Hindar lebih mirip ratapan. Matanya sebak.

“Siapa?” Fatma membelalak hingga kedua belah bola matanya yang hitam seperti terlempar keluar. Fatma mendengar suara Cut Hindar yang pelan mirip ratapan itu, tapi Fatma tidak percaya jika nama itu yang disebutkan Cut Hindar. Jangan-jangan Cut Hindar salah menyebut nama orang.

“Hasan,” lagi Cut Hindar mengulang jawabannya lebih keras. Berusaha menyakinkan Fatma.

Fatma menggeleng. “Tidak. Tidak…..” katanya seperti pada diri sendiri. Ditatapnya Cut Hindar yang masih berdiri didepannya seperti ingin mencari kebenaran atas ucapannya tadi.

Cut Hindar tahu, lantas menggangguk. “Sungguh dia Hasan. Kekasihmu. Tunanganmu….” berkata begitu secepat kilat Cut Hindar meraih bahu Fatma lalu menariknya dalam dekapan. Jika tidak tubuh Fatma pasti akan jatuh ke lantai. Cukup lama Cut Hindar membiarkan Fatma menangis tersedu-sedu di bahunya hingga baju yang dipakainya basah.

Baru setelah tangis Fatma reda Cut Hindar membimbing Fatma, duduk di kursi. Matanya masih sebak. Merah.

“Tunggu sebentar,” kata Cut Hindar bergegas ke dapur lalu keluar lagi dengan dua gelas kopi panas.

Cut Hindar duduk di sebelah Fatma. Tapi keduanya saling diam. Hanyut oleh pikiran masing-masing.

“Bagaimana dia masih……..” Fatma tak melanjutkan kalimatnya ketika tiba-tiba Cut Hindar menempelkan jari telunjuknya di depan mulut.

“Jangan keras-keras. Kamu tentu sedang dicari-cari banyak orang!” kata Cut Hindar membuka tutup gelas kopinya.

Fatma baru sadar, ia pergi tanpa pamit. Tanpa pesan. Salman, suaminya dan kedua orang tuanya saat ini pasti sibuk mencari dirinya. Mungkin mereka juga melibatkan saudara-saudara lain atau orang-orang kampung. Betapa sibuknya mereka semua.

“Ceritanya panjang…..” Cut Hindar menerawang, mengusap peluh di keningnya. “Kemarin malam Hasan datang kemari. Aku terkejut, hampir tak bisa mengenalinya. Pakaiannya compang-camping. Tubuhnya kurus kering banyak luka. Begitu masuk ke dalam rumah ia langsung pingsan. Untung, malam itu warung kututup, jadi tidak ada orang yang tahu,” Cut Hindar berhenti sebentar mengingat-ingat sesuatu. “Salman memang pendusta! Pengkhianat! Cerita bahwa Hasan ditembak berkali-kali oleh gerombolan orang bertopeng itu omong kosong. Bohong besar. Cerita itu dikarang sendiri oleh Salman untuk mengelabuhi orang-orang kampung. Justru Salman sendiri yang berusaha menghabisi Hasan dengan menuang racun ke dalam minuman Hasan. Kau tahu, karena itu Hasan kesakitan, sekarat. Lalu pingsan.”

“Terus, bagaimana dia bisa keluar dari tempat gerombolan orang bertopeng?”

“Hasan sendiri tidak tahu karena dia pingsan. Ketika siuman tiba-tiba Hasan mendapati dirinya berada di jurang tengah hutan. Tapi mungkin ceritanya begini, karena terlalu lama Hasan pingsan, gerombolan orang bertopeng itu mengira Hasan sudah tewas. Lalu mereka melempar tubuh Hasan ke dalam jurang.”

Fatma bergidik. Ia seperti ikut merasakan kesakitan yang dialami Hasan.

Malam semakin larut. Dari jauh terdengar kentongan dipukul bertalu-talu disertai derap langkah kaki di jalan depan rumah. Cut Hindar tahu mereka adalah orang-orang yang sedang mencari Fatma. Cut Hindar segera menyuruh Fatma masuk ke dalam kamar. Sembunyi. Cut Hindar kawatir orang-orang itu akan memergokinya.

Terdengar seseorang mengetuk pintu. Hati Cut Hindar deg-degan. Tak salah lagi mereka sedang mencari Fatma, batin Cut Hindar Semakin lama ketukan semakin keras. Suara langkah kaki juga semakin banyak. Setelah melap wajahnya dengan ujung kain bajunya, Cut Hindar keluar membuka pintu.

Benar. Ada sekitar sepuluh orang berdiri di halaman.

“Kalau gelap berarti warung tutup. Kenapa kalian masih datang kemari, hah? Ngganggu orang tidur saja! Hai, Masnir, kau masih berhutang lima belas ribu padaku. Juga kau Yahya, Makmun, Hamam, Suhud!” Cut Hindar langsung menggertak. Beberapa orang yang disebut namanya ciut, mundur merapat.

“Mmaaf, Cut Hindar, kami kemari bukan mau ngopi. Tapi mencari Fatma. Apa Cut Hindar melihat?” seseorang bersuara dengan mulut gagap gemetar.

“Heh! Kalian pikir aku Ibunya?!”

“Kenapa Cut Hindar jadi marah-marah? Kami datang dengan maksud baik. Kami ingin….”

Yahya tak meneruskan kalimatnya, dipotong Cut Hindar. “Yahya, kau boleh masuk ke dalam, tapi malam ini juga kau harus lunasi semua hutang-hutangmu!” Sentak Cut Hindar berkacak pinggang di depan pintu.

Yahya, laki-laki berperawakan gendut itu tak berkutik.

“Sudah, sudah, sudah. Sebaiknya kita pergi. Tak mungkin Cut Hindar menyembunyikan Fatma. Untuk apa?” Masnir yang pertama kali namanya disebut Cut Hindar memberanikan diri bersuara.

“Baiklah, kalau begitu kami pergi. Tapi kalau Cut Hindar melihat Fatma tolong segera melapor pada kami….”

“Betul, Cut Hindar. Kami kasihan pada orang tuanya dan juga Salman…”

Cut Hindar tetap menunjukkan muka tidak bersahabat. Tapi begitu masuk ke dalam rumah Cut Hindar tak sanggup menahan senyum. Fatma yang mendengar pembicaraan tadi segera keluar dari tempat persembunyiannya, tersenyum geli.

“Apakah Hasan tahu kalau aku sudah menikah dengan Salman?” tanya Fatma larut malam.

“Ia sudah merelakanmu,” suara Cut Hindar pelan, sambil menyruput kopi. “Yang sekarang ingin dilakukan Hasan hanya satu, mengunjungi makam Ibunya. Setelah itu mungkin dia akan kembali merantau, entah ke mana. Tapi saat ini kondisi fisiknya masih sangat lemah. Kadang-kadang pingsan tanpa sebab yang jelas. Mungkin dia masih sedih kehilangan Ibunya. Karena itu kau kusuruh datang kemari. Hanya kau satu-satunya orang yang mengetahui persis saat-saat terakhir kematian Hamidah. Besok kau bisa bercerita kepadanya. Hasan ingin mengetahui cerita itu.”

Lama dua perempuan beda usia itu diam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan.

“Jadi, Hasan benar-benar sudah merelakan aku? Hasan tidak mencintaiku lagi?” Pertanyaan itu tanpa sadar keluar dari mulut Fatma.

“Hasan tak punya pilihan lain.”

“Tapi….”

“Tak ada tapi-tapian,” potong Cut Hindar. “Bagaimanapun juga sekarang kau sudah menjadi milik Salman. Dia suamimu yang syah. Akupun hanya akan mengizinkanmu tinggal di sini sampai besok saja. Setelah itu kau harus pulang. Kau harus tetap hidup dengan Salman.”

Fatma menunduk. Butiran halus kembali bergulir dari sudut matanya.

“Tak perlu menyesal. Semuanya sudah menjadi kehendak Allah.”

Fatma kembali mengisak. Air matanya tumpah seperti luapan air bah.

(bersambung)

***

2 Replies to “Novel Orang-Orang Bertopeng (23)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *