Novel Orang-Orang Bertopeng (8)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

PEGASING, Desember 1973.
SUBUH pecah oleh suara tangis bayi memekak telinga. Beberapa orang yang masih lelap tidur terbangun seketika. Tidak sulit untuk menemukan di mana asal bunyi tangis bayi. Di kampung terpencil di tepi hutan itu, hanya ada seorang perempuan yang sedang hamil tua. Tentu, suara tangis itu berasal dari sana. Siang sedikit orang-orang datang berduyun-duyun sekadar memberi ucapan selamat dan melihat bayi yang baru lahir. Tapi ada juga yang membawa gula, teh, kopi, beras atau makanan ala kadarnya.

Bayi itu laki-laki. Besar dan montok. Kedua orang tuanya menyambut gembira buah hati yang sudah lama dinantikan kehadirannya itu dengan senyum dan perasaan bangga. Seolah kebahagian dunia ini hanya milik mereka berdua. Maklum, tiga anaknya terdahulu meninggal ketika masih dalam kandungan. Sejak itu, menurut dokter sang Ibu tidak akan bisa hamil lagi. Tapi keajaiban terjadi. Ya, keajaiban selalu terjadi pada siapa saja yang terus berdoa dan berusaha. Pada tahun ke delapan, sang Ibu merasakan perutnya mual dan perlahan-lahan membesar. Semakin lama semakin besar dan seperti ada sesuatu yang mulai menggeliat-liat lembut di dalam perutnya. Begitulah, dokter kemudian menyatakan ia positif hamil.

Sebuah pesta kecil yang menandai kelahiran bayi segera diadakan. Sang Ayah mengundang tetangga kanan kiri untuk mengadakan syukuran. Orang seisi kampung turut gembira menyambut kehadiran bayi laki-laki keluarga Salim -Hamidah, yang kemudian diberi nama Hasan. Hasan Abdullah Tiro.

Hasan kecil tumbuh sebagai anak periang, gesit dan lincah. Hasan suka main layang-layang dan mencari belut di sawah. Salim, sang Ayah, sangat bangga pada pertumbuhan Hasan. Kemanapun Salim pergi Hasan selalu diajak serta. Tapi sayang, ajal memisahkan kedekatan Hasan dan Ayah, ketika usia Hasan belum genap sembilan tahun. Sejak saat itu Hasan jadi anak pemurung. Suka menyendiri melamun di kebun belakang. Di kebun itu pula Hasan menghabiskan hampir seluruh hari-harinya hingga menginjak usia remaja dan akhirnya pergi ke Jakarta.

Sebenarnya masih terlalu kecil bagi Hasan kala itu saat memutuskan pergi ke Jakarta. Tapi tekad Hasan sudah bulat, sebulat rembulan ketika purnama tiba. Tak ada seorang pun yang bisa menghalangi kemauan Hasan. Bahkan Hamidah sendiri hanya bisa mengelus dada, meratapi kepergian Hasan dengan doa dan tetesan air mata. Tapi Hasan memang lain. Hasan tidak seperti anak kampung pada umumnya. Sorot mata Hasan yang tajam dan garis-garis keras di wajahnya menyiratkan ada sesuatu yang istimewa pada dirinya. Ya, sebagaimana sang Ayah yang ulet bekerja, hanya dalam waktu tiga bulan Hasan sudah bisa mengirim uang pada Hamidah di kampung. Tidak banyak memang, tapi cukuplah untuk hidup seorang diri di kampung terpencil seperti Pegasing.

Mula-mula Hasan bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah rumah makan. Menempati satu petak kecil di dekat dapur, berdampingan dengan kamar mandi. Pagi-pagi sekali Hasan sudah harus bangun karena sejak pukul lima pagi, ketika rumah makan itu mulai dibuka, langsung diserbu pembeli. Tangannya yang masih kecil, begitu trampil dan cekatan mencuci piring dan gelas. Jauh lebih trampil dan cepat dari dua pegawai sebelumnya yang kemudian dipecat lantaran kerjanya sangat lamban. Tapi sayang, hanya empat bulan Hasan bekerja di situ karena rumah makan itu tergusur pelebaran jalan. Hasan menolak ajakan pemilik rumah makan yang mengajaknya pindah. Hasan memilih mencari pekerjaan lain.

Sebuah pabrik roti akhirnya mau menerima Hasan sebagai pegawai baru. Kerjannya cukup ringan, hanya membungkus dan mengepak roti-roti itu ke dalam kardus lalu diangkut ke gudang. Gajinya dua kali lipat dari ketika masih kerja di rumah makan. Apalagi Hasan sering memanfaatkan sisa tenaganya untuk kerja lembur. Sebagian uang gaji ia kirimkan untuk Ibu di kampung. Bertahun-tahun lamanya Hasan bekerja di situ hingga badai krisis moneter datang menghantam. Pabrik tempatnya bekerja sempoyongan, persis orang teler kebanyakan minum.

Perampingan. Begitulah kata itu mulai terkenal dan terdengar menakutkan. Membuat para pekerja senam jantung setiap hari. Hasan, juga dua ratus pekerja lain mau tidak mau akhirnya harus menerima nasib tragis; PHK. Tapi tidak seperti teman-temannya yang kemudian berunjuk rasa di halaman pabrik, minta dipekerjakan lagi atau minta uang pesangon delapan kali lipat jumlah gaji, Hasan memilih pulang kampung. Ada seraut wajah cantik yang kerap mengusik malam-malamnya ketika ia sudah tidak bekerja lagi. Memanggil-manggil namanya dalam tidur dan jaga. Fatma.

Meninggalkan kota, teman, sahabat, pekerjaan, yang sudah terlampau akrab memang berat. Hasan tidak tahu apakah suatu saat nanti ia bisa datang dan bekerja lagi di kota itu. Tidak ada senyum atau lambaian tangan mengiringi kepergiannya. Tidak ada kata-kata pengharapan atau semacam salam perpisahan dari teman-teman yang kala itu masih sibuk demonstrasi. Tidak ada. Hasan melangkah pulang sendiri. Menembus hiruk-pikuk jalan raya dan bising knalpot menebar polusi.

Pada akhirnya Hamidah sadar bahwa kepergian Hasan adalah jalan keluar terbaik, selain untuk masa depan Hasan sendiri juga untuk memecahkan persoalan ekonomi yang dari hari ke hari kian menjerat leher. Tidak banyak yang bisa dilakukan Hasan jika terus berada di kampung. Apalagi jika musim kemarau panjang datang, sawah dan ladang tidak menjanjikan apa-apa. Tidak ada yang bisa dikerjakan di situ. Hanya hamparan kegersangan yang terlihat sejauh mata memandang. Hanya perih menikam-nikam.
***

BARU enam bulan Hasan pulang. Melepas rindu di kampung halaman dengan Ibu, teman, sahabat, juga Fatma kekasihnya, ketika suatu hari gerombolan orang bertopeng menculik lalu menjebloskannya ke dalam ruangan mirip penjara. Tanpa Hasan sadari sesuatu tengah berubah di kampungnya.

Rasa takut, rasa tidak aman, rasa tercekam, terus menyelimuti udara kampung. Perampokan, penjarahan, pencurian, mulai merajalela di mana-mana. Lapangan kerja yang sulit, harga sembako yang terus melambung, kebutuhan hidup yang tak bisa dibendung, membuat rakyat kecil semakin tercekik. Miskin.

Kelaparan menjadi hantu menakutkan sepanjang hari. Rakyat kecil, orang-orang kampung, orang-orang dusun, tidak banyak yang tahu kenapa keadaan bisa berubah seperti itu. Bahwa ada demonstrasi besar-besaran di Jakarta dan kota-kota besar lain, bahwa akan ada pergantian pimpinan negara, siapakah yang tahu? Mereka, orang-orang kampung, orang-orang yang tidak sempat mengenyam bangku sekolah tinggi itu tidak peduli. Tidak mengerti. Yang mereka inginkan hanya bagaimana agar keadaan aman dan harga-harga turun lagi. Bagaimana agar hari ini bisa makan kenyang, juga esok, esok dan esoknya lagi. Perut. Ya, perut adalah kata kuncinya. Jika perut kenyang, kebutuhan tercukupi, tidak akan ada tindak kejahatan. Mungkin…

Pegasing dan juga kampung-kampung lain di sekitarnya memang sedang menggeliat. Menggeliat serupa naga yang diusik dari tempat persembunyiannya. Setiap malam selalu saja ada teror kejahatan. Membuat orang-orang kampung resah tidak bisa tidur nyenyak. Berjaga-jaga sepanjang malam, sepanjang siang. Tapi sungguh, sulit membedakan mana orang baik dan mana orang jahat. Siapa yang masih setia membela kebenaran dan siapa yang berkhianat.

LIMA

ANGIN siang melentik dari hamparan ladang gersang meruap bau tanah terbakar. Sebuah mobil kijang melintas di atas jalan kampung berbatu dan berdebu. Orang-orang segera melongok jendela menatap laju mobil itu. Bisik-bisikpun mulai berkembang dari situ, entah apa. Beberapa lelaki dewasa dan tua lantas keluar mengikuti laju mobil di belakang. Lari. Tidak ada yang tahu siapa pengendara mobil itu. Tidak ada orang kampung yang mempunyai mobil. Ah, jangankan mobil sepeda motor pun bisa dihitung dengan jari tangan sebelah kiri.

Di antara para lelaki itu, tampak seorang perempuan tua terseok-seok ikut lari mengejar mobil. Tapi sebentar-sebentar perempuan tua itu berhenti, mengatur nafas. Batuk-batuk. Mengeluarkan dahak. Tubuhnya sebenarnya sudah terlalu rapuh untuk dibawa lari. Tapi ia terus memaksakan diri. Beberapa lelaki yang sempat mengetahui kondisi perempuan tua itu, menasehati agar pulang saja ke rumah. Tapi perempuan tua itu hanya melengos sambil meneruskan larinya. Dadanya yang ringkih tampak semakin kecil diterpa angin. Rambutnya yang putih acak-acakan seperti sudah bertahun-tahun lamanya tak bersentuhan dengan sisir. Perempuan itu jauh tertinggal di belakang.

Jalan kampung yang sebelumnya sepi dan lengang kini berubah ramai. Para perempuan, besar, kecil, tua, muda, mulai berani keluar rumah meski hanya mondar-mandir di halaman atau duduk-duduk di tepi jalan. Mereka menunggu kabar dari suami, anak, atau siapapun juga yang ikut menguntit laju mobil itu. Kabar apa? Entahlah. Yang jelas ada sesuatu yang lain di situ. Sesuatu yang ditunggu-tunggu dengan dada penuh debar.

(bersambung)

***

One Reply to “Novel Orang-Orang Bertopeng (8)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *