Pasang Surut Penerbitan Novel dalam Sastra NTT

Yohanes Sehandi *
SKM Flores Pos Net, edisi Minggu II, Agu 2021

Sebelum membahas pasang surut penerbitan karya novel dalam sastra NTT, saya perlu menginformasikan data jumlah buku novel karya para sastrawan NTT sejak terbit pertama kali tahun 1964 sampai dengan pertengahan 2021 (selama 57 tahun) ini. Selama 57 tahun ini, penerbitan buku novel dalam sastra NTT berjumlah 84 judul, karya belasan sastrawan NTT.

Berbeda dengan penerbitan buku puisi dan buku cerpen dalam sastra NTT, di mana sebelum diterbitkan dalam bentuk buku, lebih dahulu dimuat dalam surat kabar atau majalah. Novel dalam sastra NTT langsung diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit buku, tidak diawali sebagai cerita bersambung dalam surat kabar atau majalah.

Hasil pelacakan saya terhadap sejarah penerbitan buku novel dalam sastra NTT, ditemukan, orang NTT pertama yang menerbitkan buku novel adalah Gerson Poyk. Gerson lahir di Namodale, Rote Ndao, pada 16 Juni 1931, meninggal dunia pada 24 Februari 2017 di Depok, dan dikuburkan di Kupang. Gerson Poyk perintis penerbitan novel dalam sastra NTT. Novel pertama Gerson berjudul Hari-Hari Pertama diterbitkan BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1964.

Sampai dengan meninggal dunia pada 24 Februari 2017, Gerson Poyk telah menerbitkan buku novel minimal 18 judul. Menurut anak kandungnya, Fanny J. Poyk, masih ada lagi novel Gerson yang belum ditemukan untuk didatakan. Pada waktu Gerson Poyk mengikuti Temu 2 Sastrawan NTT pada 8-10 Oktober 2015 di Universitas Flores, Ende, saya tanyakan langsung kepada beliau berapa jumlah novel (juga puisi dan ceren) yang telah diterbitkan jadi buku. Beliau sendiri tidak ingat lagi. “Pokoknya, masih ada beberapa karung,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Tidak jauh berbeda dengan cerpen-cerpennya, konteks atau latar cerita pada novel-novel Gerson Poyk terjadi daerah-daerah, bahkan daerah-daerah terpencil. Kalaupun ada novel yang konteksnya di kota, tetapi karakter para tokoh yang terlibat di dalamnya mempunyai masa lalu di daerah, yang muncul di kota karena terhanyut urbanisasi.

Tema cerita Gerson dalam novel-novelnya tentang kampung, hutan, kebun, sawah, pegunungan, padang ilalang, sabana, tentang orang desa, pengalaman iris tuak, pikul kayu, masak air nira, buat jerat babi hutan, buat gubuk pakai daun lontar, tentang kebun kopi, kerja sawah, dagang kerbau, main judi, pesta rakyat, buka kebun baru, dan berbagai cerita khas masyarakat desa, yang dengan gampang dihubungkan dengan masyarakat dan budaya NTT.

Bagaimana sejarah penerbitan buku novel dalam sastra NTT selanjutnya? Pasang surut penerbitan buku novel dalam sastra NTT tahun 1964-2021 (selama 57 tahun) ini menarik untuk dicermati. Dalam kurun waktu 1964-1985 (selama 21 tahun), hanya dua orang novelis NTT yang menerbitkan buku novel, yakni Gerson Poyk dan Julius Sijaranamual 1944-2005). Selama 21 tahun itu, ada 13 judul buku novel diterbitkan, 8 judul karya Gerson Poyk, 5 judul karya Julius Sijaranamual.

Ke-8 buku novel karya Gerson Poyk itu adalah (1) Hari-Hari Pertama (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1964); (2) Sang Guru (Pustaka Jaya, Jakarta, 1971); (3) Cumbuan Sabana (Nusa Indah, Ende, 1979); (4) Petualangan Dino (Nusa Indah, Ende, 1979); (5) Giring-Giring (Kakilangit Kencana, Jakarta, 1982); (6) Seutas Benang Cinta (Yayasan Studi Nasional, Jakarta, 1982); (7) Timor 1642 (Kakilangit Kencana, Jakarta, 1982); dan (8) Requem untuk Seorang Perempuan (Karya Unipress, Jakarta, 1983).

Ke-5 buku novel karya Julius Sijaranamual adalah (1) Tuhan Jatuh Hati (Sinar Harapan, Jakarta, 1971); (2) Menaklukkan Benua Baru (Sinar Harapan, Jakarta, 1971); (3) Anak-Anak Laut (Nusa Indah, Ende, 1971); (4) Teo Si Cilik (Nusa Indah, Ende, 1975); (5) Saat untuk Menaruh Dendam dan Saat untuk Menabur Cinta (Nusa Indah, Ende, 1978).

Dalam kurun waktu 1986-2005 (selama 14 tahun), ada dua novelis wajah baru yang menerbitkan buku novel. Keduanya perempuan, yakni Fanny J. Poyk dan Maria Matildis Banda. Novelis lama Gerson Poyk dan Julius Sijaranamual tidak menerbitkan novel pada kurun waktu 14 tahun itu. Jadi, selama 35 tahun hanya 4 orang novelis NTT yang menerbitkan buku novel. Selama 14 tahun itu, ada 11 judul buku novel diterbitkan, 4 judul karya Fanny J. Poyk, 7 judul karya Maria Matildis Banda.

Ke-4 novel karya Fanny J. Poyk adalah (1) Narkoba Sayonara (Erlangga, Jakarta, 1986); (2) Anakku Pecandu (Erlangga, Jakarta, 1987); (3) Pelangi di Langit Bali (Zikrul Hakim, Jakarta, 2005); dan (4) Empat Sekawan dan Cinta (Elex Media Komputindo, Jakarta, 2005).

Ke-7 novel karya Maria Matildis Banda adalah (1) Seharusnya Aku Mengerti (Grasindo, Jakarta, 1989); (2) Pada Taman Bahagia (Grasindo, Jakarta, 1997); (3) Tabitha (Grasindo, Jakarta, 1997); (4) Liontin Sakura Patah (Grasindo, Jakarta, 1998); (5) Bugenvil di Tengah Karang (Grasindo, Jakarta, 1998); (6) Rabies (Care Internasional, Kupang, 2001); (7) Surat-Surat dari Dili (Nusa Indah, Ende, 2005).

Dalam kurun waktu 2006-2021 (selama 15 tahun), bermunculan belasan novelis baru dalam sastra NTT yang menerbitkan buku novel. Boleh dikatakan, tahun kebangkitan novel dalam sastra NTT terhitung tahun 2006 ini. Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini, hanya Julius Sijaranamual saja yang tidak berkarya lagi. Sedangkan Gerson Poyk, Fanny J. Poyk, dan Maria Matildis Banda, ikut berkarya bersama belasan novelis wajah baru NTT. Jumlah buku novel yang terbit selama 15 tahun terakhir sebanyak 60 judul. Inilah masa emas pertumbuhan dan perkembangan penerbitan buku novel dalam sastra NTT.

Novelis baru yang muncul dalam kurun waktu 2006-2020 ini, antara lain Mezra E. Pellondou, Yoss Gerard Lema, Ruben Paineon, Pion Ratulloly, Agust Dapa Loka, Robert Fahik, Inyo Soro, Vincentius Jeskiel Boekan, Buang Sine, Kopong Bunga Lama Wuran, Christo Ngasi, Fince Bataona, Jemmy Piran, Felix K, Nesi, dan lain-lain.

Sejumlah novel menarik yang dapat disebutkan, antara lain Sang Guru (Gerson Poyk), Tuhan Jatuh Hati (Julius Sijaranamual), Cumbuan Sabana (Gerson Poyk), Surat-Surat dari Dili (Maria Matildis Banda), Petra Southern Meteor (Yoss Gerard Lema), Meredam Dendam (Gerson Poyk), Perempuan Itu Bermata Saga (Agust Dapa Loka), Membadai Pukuafu (Vincentius Jeskiel Boekan), Loe Betawi Aku Manggarai (Vincentius Jeskiel Boekan), Perempuan dari Lembah Mutis (Mezra E. Pellondou), Dua Malam Bersama Lucifer (Buang Sine), Enu Molas di Lembah Lingko (Gerson Poyk), Polisi Sampah (Buang Sine), Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga (Maria Matildis Banda), Suara Samudra (Maria Matildis Banda), Lamafa (Fince Bataona), dan Orang-Orang Oetimu (Felix K. Nesi).
***

*) Pengamat dan Kritikus Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *