Pengantar Penulis dalam Buku Dunia Tulis-Menulis

DuniaTulis-Menulis, Penerbit Kosa Kata Kita, Jakarta, 2021


Yohanes Sehandi *

Syukur kepada Tuhan atas berkat dan penyertaan-Nya atas terbitnya buku Dunia Tulis-Menulis yang sudah lama dirindukan ini. Isi buku ini merupakan akumulasi dan kristalisasi pengalaman panjang saya menggeluti dunia tulis-menulis, sejak kuliah di IKIP Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) tahun 1980-an sampai 2021 sekarang ini.

Masa kuliah di Semarang adalah masa gelembungnya idealisme. Bermunculan cita-cita di benak. Akan menjadi apa kelak setelah menjadi sarjana. Idealisme sangat kuat dipengaruhi oleh bahan-bahan bacaan. Saya memang senang bergaul dengan bahan-bahan bacaan. Kebetulan bahan-bahan bacaan di perpustakaan kampus IKIP Semarang melimpah-ruah, baik buku-buku, majalah, dan surat kabar maupun kliping koran.

Saya mulai mengenal sekian banyak penulis kaliber Indonesia lewat tulisan-tulisan mereka di media cetak dan buku-buku yang mereka terbitkan. Dari sekian banyak penulis kaliber yang tulisannya sering saya baca, dua nama kemudian yang menjadi idola saya pada masa mahasiswa itu, yakni Dami N. Toda dan Ignas Kleden. Kebetulan kedua-duanya orang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dami N. Toda lahir di Cewang, Pongkor, Manggarai, Flores, pada 29 September 1942, sedangkan Ignas Kleden lahir di Waibalun, Larantuka, Flores, pada 19 Mei 1948. Kedua penulis hebat ini berlatar belakang pendidikan filsafat, kemudian menggeluti dunia sastra. Keduanya kemudian dikenal luas sebagai kritikus sastra. Akhirnya muncul cita-cita dalam hati saya untuk menjadi seorang penulis.

Mulailah saya melatih diri menulis. Membaca buku-buku tentang seluk-beluk menulis. Syukur, secara teoretis cita-cita ini ditunjang dengan program studi tempat saya kuliah, yakni Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS). Bersama teman-teman dalam satu angkatan, kami beramai-ramai mengirim tulisan ke berbagai media cetak, baik surat kabar maupun majalah, baik yang terbit di Semarang dan Yogyakarta maupun di Jakarta. Belasan tulisan yang dikirim ke media cetak, tidak ada satu pun dimuat. Ternyata tidak gampang menjadi penulis. Buku Arswendo Atmowiloto, Mengarang Itu Gampang (1982), ternyata tidak gampang dalam penerapannya. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi.

Sebelum putus asa bernar-benar terjadi, di luar dugaan, muncul tulisan pertama saya di media cetak. Tulisan itu berupa opini. Judulnya, “Sajak Sebaiknya Komunikatif.” Tulisan pendek dua halaman yang diketik dengan mesin ketik ini, dimuat dalam sebuah surat kabar mingguan (SKM). Namanya mingguan Simponi, terbitan Jakarta, edisi 14 Februari 1982. Betapa bangganya saya pada waktu tulisan pertama ini dimuat. Terasa melayang-layang. Lebih dari dua hari tidak nyaman tidur. Cerita ke mana-mana, kepada banyak teman kuliah, tanpa ditanya. Saya membayangkan, bagaimana orang membaca tulisan saya ini. Seperti apa kesan dan tanggapan mereka. Setelah tulisan pertama terbit, tulisan-tulisan saya yang lain kemudian bermunculan di berbagai media cetak, baik surat kabar maupun majalah. Kebanggaan itu bertambah besar karena ternyata setiap tulisan ada honornya. Semakin semangatlah saya sewaktu menerima honor tulisan.

Di luar dugaan, honor-honor tulisan itu berdatangan, dikirim lewat pos wesel. Setiap hari rajin ke kampus untuk mengecek pos wesel dari berbagai media cetak. Honor-honor itu ternyata bisa menutupi kebutuhan hidup seorang mahasiswa, bisa sewa kos, beli buku baru, bahkan bayar uang kuliah (SPP). Pada tahun 1982 itulah saya membuat komitmen dalam hati untuk menjadikan dunia tulis-menulis sebagai pekerjaan tambahan yang harus dilakukan secara serius dan konsisten.

Ini saya lakukan karena saya sadar diri, bahwa saya tidak mempunyai bakat lain yang membanggakan, misalnya bakat olahraga atau bakat menyanyi. Saya hanya mempunyai bakat membaca. Saya berpikir, bakat membaca bisa menjadi modal dasar untuk menjadi penulis. Untungnya kuliah di Jawa, punyai bahan bacaan melimpah untuk dibaca, baik diperpustakaan kampus maupun di toko-toko buku dan tempat-tempat penjualan koran dan majalah.

Meskipun kemudian tahun 1989 saya memilih kembali ke daerah di Flores, namun tempat kerja saya di Penerbit Nusa Indah, Ende, mendukung kegiatan saya di bidang tulis-menulis, apalagi saya dipercayakan oleh Direktur Penerbit Nusa Indah, Pastor Henri Daros, dan Wakilnya, Pastor Frans Ndoi, untuk menjadi editor bidang bahasa dan sastra Indonesia. Saya menjadi editor di Penerbit Nusa Indah selama sepuluh tahun (1989-1999). Saya sungguh menikmati pekerjaan sebagai editor di lembaga penerbitan milik Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) ini, sebuah kongregasi dalam gereja Katolik yang berkarya di bidang komunikasi sosial.

Karena bahan bacaan di Penerbit Nusa Indah melimpah, kebutuhan membaca saya terpenuhi. Saya tidak hanya membaca dan mengedit buku-buku bahasa dan sastra, tetapi juga membaca buku-buku agama Katolik, dua bidang prioritas Penerbit Nusa Indah pada waktu itu. Di samping saya membuat resensi buku-buku bahasa dan sastra, saya juga membuat resensi buku-buku agama Katolik. Lima puluhan tulisan resensi buku saya dimuat di beberapa surat kabar dan majalah, antara lain SKM Dian (terbitan Ende), harian Pos Kupang (terbitan Kupang), majalah Hidup (Katolik) dan majalah Dia (Kristen) keduanya terbitan Jakarta, dan majalah kebudayaan Basis terbitan Yogyakarta.

Pada era 1980-an dan 1990-an itu, Penerbit Nusa Indah dikenal luas secara nasional, karena keunggulannya menerbitkan buku-buku bahasa dan sastra Indonesia, selain Penerbit Balai Pustaka dan Penerbit Pustaka Jaya di Jakarta. Sejumlah nama besar di bidang bahasa dan sastra Indonesia, karya awalnya diterbitkan Penerbit Nusa Indah. Sejumlah nama dapat disebutkan, antara lain Gorys Keraf, Jos Daniel Parera, Harimurti Kridalaksana, Gerson Poyk, A. Teeuw, Ab-dul Chaer, Korrie Layun Rampan, B.P. Situmorang, Pamusuk Eneste, Mansoer Pateda, Dami N. Toda, Inyo Yos Fernandez, Tengsoe Tjahjono, Puji Santosa, Yoseph Yapi Taum, Linus Suryadi AG, Maria Matildis Banda, dan Dorothea Rosa Herliany.

Meskipun tinggal di daerah, idealisme di bidang tulis-menulis tetap terjaga, karena didukung bahan-bahan bacaan yang cukup dan beberapa media cetak regional NTT yang setia menerbitkan tulisan-tulisan saya, antara lain SKM Dian dan harian Flores Pos yang terbit di Ende, harian Pos Kupang, Viktory News, majalah Kabar NTT dan Cakrawala NTT yang terbit di Kupang. Sesekali menulis pula di media cetak yang terbit di Jakarta, Yogyakarta, Denpasar, dan Surabaya. Dalam catatan saya, selama 39 tahun (1982-2021) saya menggeluti dunia tulis-menulis, ada sekitar 400 judul tulisan saya yang dimuat pada sekitar 30 surat kabar dan majalah yang tersebar secara nasional dan regional NTT, ditambah dengan tulisan-tulisan saya di Blog.

Di samping intens menulis di berbagai media cetak, secara khusus pula saya mendalami materi berkaitan dengan dunia tulis-menulis itu sendiri. Hal itu terjadi karena pada waktu SKM Dian dipimpin Pastor John Dami Mukese (Pemimpin Redaksi) dan Bapak Thom Wignyanta (Redaktur Pelaksana), saya diberi kepercayaan untuk mengasuh rubrik “Dunia Tulis-Menulis” pada SKM tersebut. Saya mengisi rubrik itu selama empat tahun (1994-1997). Sekitar 200 judul tulisan saya dimuat dalam SKM tersebut. Tulisan-tulisan dalam rubrik tersebut ikut memperkaya tulisan-tulisan yang termuat dalam buku Dunia Tulis-Menulis ini.

Kegiatan tulis-menulis saya terganggu dan berhenti agak lama, pada waktu terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi NTT selama dua periode (1999-2009). Selama sepuluh tahun itu hanya sesekali saja mengirim tulisan ke beberapa media cetak dan dimuat. Terasa ada yang hilang pada diri saya waktu itu karena tidak menulis.

Kegiatan tulis-menulis saya kembali pulih pada waktu tahun 2010 saya berhenti dari politik, kemudian masuk kampus menjadi dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Flores, Ende. Di kampus ini saya dipercayakan untuk mengasuh banyak mata kuliah pada sekian banyak program studi. Dari sekian banyak mata kuliah itu, ada tiga mata kuliah yang berkaitan langsung dengan dunia tulis-menulis, yakni mata kuliah Dasar-Dasar Menulis (Program Studi PBSI), Jurnalistik (Program Studi Sastra Inggris), dan Bahasa Indonesia (Program Studi Ilmu Hukum dan Pendidikan Fisika).

Pada waktu mempersiapkan materi untuk tiga mata kuliah tersebut, saya sudah memiliki modal dasar, yakni tulisan-tulisan yang sudah dimuat di berbagai surat kabar dan majalah. Karya-karya tulis itu tinggal disesuaikan dengan silabus setiap mata kuliah. Muara akhir ketiga mata kuliah itu adalah mahasiswa harus memiliki pengetahuan dalam bidang tulis-menulis (domain kognitif) dan keterampilan memadai dalam praktik menulis berbagai jenis karangan (domain psikomotorik).

Keterampilan menulis karangan itu sangat dibutuhkan mahasiswa, baik untuk memenuhi tuntutan penulisan akademik di perguruan tinggi, seperti menulis ringkasan isi buku, menulis makalah, artikel ilmiah, proposal penelitian, dan penulisan skripsi, maupun untuk keperluan menulis berbagai jenis karangan untuk media massa, baik media cetak, media elektronik, maupun media online (siber). Jadi, muara akhir ketiga mata kuliah di atas, mahasiswa harus terampil menulis karangan, termasuk menulis di media sosial pada era digital sekarang ini.

Karena buku Dunia Tulis-Menulis ini tidak hanya ditujukan untuk masyarakat umum, tetapi juga untuk membantu para mahasiswa mengikuti mata kuliah Dasar-Dasar Menulis, Jurnalistik, dan Bahasa Indonesia, maka buku ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian Pertama: Dasar-Dasar Menulis (sepuluh tulisan), Bagian Kedua: Jurnalistik Praktis (sepuluh tulisan), dan Bagian Ketiga: Bahasa Indonesia dalam Penulisan (sebelas tulisan). Pembagian tiga bagian ini sekadar untuk memudahkan mahasiswa melihat materi pokok kuliahnya, secara teoretis.

Sedangkan untuk mendapatkan kemampuan atau keterampilan menulis, para mahasiswa peserta tiga mata kuliah tersebut harus membaca materi-materi pada mata kuliah yang lain. Misalnya, mahasiswa peserta mata kuliah Dasar-Dasar Menulis dan mata kuliah Jurnalistik, mereka harus membaca dan menguasa materi penggunaan ejaan dalam penulisan yang terdapat pada materi mata kuliah Bahasa Indonesia. Peserta mata kuliah Dasar-Dasar Menulis dan mata kuliah Bahasa Indonesia, agar terampil menulis berita dan opini, mereka harus membaca materi kuliah Jurnalistik. Peserta mata kuliah Jurnalistik dan mata kuliah Bahasa Indonesia, agar terampil menulis artikel ilmiah, mereka harus membaca materi kuliah Dasar-Dasar Menulis.

Dan akhirnya, semua mahasiswa peserta tiga mata kuliah di atas dapat membaca 31 tulisan dalam buku ini. Itulah cara terbaik untuk mendapatkan keterampilan menulis, tidak sekadar untuk lulus ujian akhir semester (UAS). Materi kuliah yang disajikan dalam buku ini bertujuan utama untuk membekali para mahasiswa dengan pengetahuan luas dan memadai di bidang tulis-menulis (domain kognitif), sedangkan untuk membekali para mahasiswa agar terampil menulis karangan, para mahasiswa diberi tugas minimal tiga jenis karangan dalam satu semester (domain psikomotorik).

Pada bagian akhir Pengantar Penulis ini, saya menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang memungkinkan penerbitan buku kebanggaan saya ini. Terima kasih kepada Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dr. Drs. Yosef Demon Bataona, M.Hum; Ketua Program Studi Sastra Inggris, Maksimilianus Doi, S.S., M.Pd., Ketua Program Studi Ilmu Hukum, Christina Bagenda, S.H., M.H, dan Ketua Program Studi Pendidikan Fisika, Yasinta Embu Ika, S.Pd., M.Pd., yang mempercayakan saya mengasuh mata kuliah pada program studi mereka, yang materi-materi kulianya terhimpun dalam buku ini.

Terakhir, terima kasih kepada istri setia, Christiana Sri Murni, yang dengan caranya sendiri membiarkan saya untuk tetap dan terus mengembara dalam sunyi, dunia tulis-menulis. Terima kasih kepada tiga putra kebanggaan, yakni Krisantus Sehandi (Labuan Bajo), Krispinus Sehandi (Kupang), dan Krisogonus Sehandi (Ende). Mereka berempat adalah gunung es keteduhan, membuat saya tenang membaca, menulis, dan merawat ribuan buku dan kliping milik keluarga Sehandi.

Universitas Flores, 12 Juli 2021

*) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Flores, Ende.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *