Sampaikan Surat Ini Kepada Maksimin

Muhammad Yasir

Maksimin seorang derma yang pesakitan dan lebih tua hampir 20 tahun dariku. Tubuhnya tinggi dan kurus, rambutnya tidak terawat sepertinya begitulah perangai seorang serdadu yang kalah perang. Dua bulan belakangan ini, dia kerap menghabiskan hari-harinya di sebuah kamar sumpek. Dia menulis dan menyunting di sana. Semua penulis, barangkali, memiliki prinsip individual dalam kerja-kerja kreatifnya. Tentu ada kebebasan yang aneh yang terkandung di dalamnya. Tidak terhitung pula, kebebasan ini secara sadar menggiring penulis menjadi pelacur intelektual atau bertahan sebagai penulis bebal terhadap jalan sunyi atau jalan pedang yang menggiling-gilasnya. Kebebasan yang mana yang dimiliki Maksimin? Aku kenal Maksimin. Dia tidak akan menjawab pertanyaan itu begitu saja. Pertama-tama, dia akan menawari engkau buku untuk dibaca atau dibeli. Pada ini, dia akan menyela: “Jangan terlalu bahagia dan puas dangan apa yang telah engkau tulis! Ombak di depan akan lebih besar!” Ombak? Tidak ada ombak yang tidak menyakitkan! Beberapa nelayan di Sungai Mahakam naik ke Sorga lebih cepat, karena dihantam ombak dari tongkang-tongkang pengangkut batu bara. Apa maksudmu, Maksimin?!

Di kamar sumpek itu – atau sesungguhnya kamar itu mirip penjara pengasingan, ada sebuah kipas angin rongsok payah berputar. Ketika engkau duduk di sana, engkau akan segera menyadari bahwa itulah Indonesia; penjara pengasingan bagi akal sehat dan nurani. Lima kaki dari kamar itu, rak buku berdiri dan hampir menyentuh langit-langit rumah serta engkau tidak akan menemukan celah sedikit pun, bahkan sekadar untuk desir angin! Buku-buku yang tersusun rapat di rak buku itu sejatinya telah membatasi pandang mata Maksimin dari tetangganya, sekumpulan orang-orang senja usia yang menyedihkan! Maksimin, apakah engkau memiliki waktu untuk menonton Il Postino hari Minggu ini? Ya… tentang Methilda. Maksudku, seorang Tukang Pos yang jatuh cinta dan tergila-gila kepadanya, sehingga membuat dirinya ingin belajar menulis puisi dengan seorang Penyair Chile, seorang komunis, seorang Senator, Pablo Neruda. Meski jelek dan politis, tetapi itu bisa menjadi hiburan untuk penyembuhan tubuh dan psikismu, kuyakinkan itu. Tontonlah, semampumu, Maksimin!

Kepadamu, Maksimin. Aku meletakkan penghormatan tinggi. Bagaimana pun, penahbisan dirimu kepada Sastra Indonesia, tidak sebarang tahbis. Engkau, sesungguhnya telah menanamkan komitmen yang kuat dan ideologis. Meski namamu, tidak akan menjadi mercusuar bagi khasanah Sastra Indonesia di Jawa bagian Timur, karena orang-orang lebih suka menjadi chauvinism terhadap hal-hal permukaan dan mental-mental selebritis, dalam keadaan sakit parah engkau justru menjadi semakin kokoh dan sukar ditundukan. Jauh berbeda dengan penulis-penulis yang baru-baru ini ramai diperbincangkan dan menjadi bahan kritik, karena ketidakmampuan mereka meredam birahi keterpelacuran intelektualnya di hadapan rupiah. Akan tetapi, Maksimin, Kawanku, sepulang dari rumahmu, untuk kali kedua aku melakukan hal yang paling membosankan, membaca berulang-ulang tulisanmu. Dan, kali ini, terasa bagaimana penyakit yang engkau alami menguras energi dan pikiranmu, sehingga aku merasakan setiap kata dalam paragrafmu, aku kehilangan engkau. Aku kehilangan engkau. Aku semacam mengalami ketakutan seperti yang disampaikan Eduardo Galeano dalam sebuah artikel, “Hal yang paling aku takutkan adalah ketika kita semua mengalami amnesia!” Oh! Maksimin, pikiranku mulai memberontak dan liar. Entah mengapa! Apakah karena… oh! Bagaimana pula aku akan mengatakan kebaikanmu kepada penyampai surat ini?!

Namun aku berusaha mengendalikan diriku sendiri agar surat ini selesai, karena hal-hal yang tidak selesai hanya akan membuat kerusakan di muka bumi. Seperti Indonesia?! Ha-ha… Engkau tahu, Maksimin, semakin hari, aku semakin menyangsikan keberlangsungan Negara Dunia Ketiga ini. Terserah padamu. Bukankah memang tidak ada tempat untukmu di sini, selain kamar sumpek yang seperti penjara pengasingan di Jawa bagian Timur itu? Katakan kepadaku, Maksimin, bahwa engkau akan tetap hidup, baik di dunia yang menyedihkan ini dan juga kata-kata dalam tulisanmu, sekali pun peradaban dibentuk oleh kapitalisme dan imperialisme dan akan segera menjadi kapitalisme monopoli?! Entah mengapa, Maksimin, lonceng gereja tidak berbunyi hari ini dan nama-nama yang diumumkan di masjid, tidak lagi terdengar. Tidak seperti biasanya, seperti lonceng gereja dan nama-nama yang diumumkan itu seperti derit roda besi dan lengking terompet kereta api yang melancar hebat di tulang rusuk dua belas jari di tubuhmu. Bertahanlah, Maksimin. Engkau adalah seorang derma yang akan dikenal sebagai… ah! Aku sedang membayangkan engkau berdiri di podium, di hadapan ribuan Penyair dan pembaca puisi, dan membacakan tulisanmu tentang Presiden Penyair yang jelek dan busuk itu! Salam sayang, Maksimin.

Surabaya, 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *