SASTRA TERDEPAN DAN SASTRA TERBELAKANG

—mengenang Budi Darma—


(Wajah Sastrawan Fatah Yasin Noor)

Taufiq Wr. Hidayat

Fanton Drummond—dengan tak sengaja, berjumpa Olenka. Ia berjumpa Olengka dalam lift di Apartemen Tulip Tree.

“Siapa Fanton Drummond itu?” tanya Jiobet Darmawan.

“Yang jelas dia adalah manusia. Bukan yang lain. Gemar membaca karya sastra terdepan, juga menggemari sastrawan-sastrawan terdepan,” jawab Penyair Matjalut.

“Uraikan perihal sastra terdepan. Juga tolong jelaskan perihal sastrawan terdepan.”

“Itu akan dijelaskan nanti. Panjang. Penuh teori. Dan logika. Nanti setelah saya ceritakan perihal kisah asmara Fanton Drummond dan Olenka dalam orang yang bernama Budi Darma.”

“Baiklah.”

Menurut Penyair Matjalut, Fanton Drummond adalah manusia biasa. Manusia biasa yang lancang mengintip dan mencintai istri orang serta mengkhayalkan istri orang tersebut dengan khayalan yang bukan-bukan. Mesum. Dan bejat. Istri orang itu bernama Olenka. Olenka hanya perempuan biasa. Kebetulan perempuan yang gemar melukis. Belakangan Olenka kena kasus pemalsuan lukisan, dan didapati polisi sedang sekarat di kamarnya. Meski Fanton Drummond gemar membaca buku-buku sastra yang berat-berat, dia tak memalsukan karya sastra seperti Olenka memalsukan lukisan.

“Sastra berat itu seperti apa?” tanya Jiobet Darmawan.

“Sastra berat itu tidak sama dengan sastra ringan. Kamu harus tahu,” jawab Penyair Matjalut sambil menghisap rokoknya.

“Coba jelaskan.”

“Sastra berat itu membingungkan. Kalau kamu membaca sastra, lalu kamu bingung, bisa ditebak yang kamu baca adalah sastra berat. Sedang kalau kamu baca sastra, tapi tidak bingung, bisa diterka itu cuma sastra ringan. Sastra sampah yang tidak bisa didaur ulang.”

“Apakah hanya begitu perbedaannya?”

“Cukup itu.”

“Apa kaitannya dengan Fanton Drummond yang menurutmu adalah narator ulung dalam Budi Darma?”

“Tidak ada. Hanya saja kebetulan Fanton Drummond gemar membaca karya sastra. Menjalin hubungan terlarang dan kurang ajar dengan perempuan yang bernama Olenka. Anehnya. Olenka adalah perempuan yang menelanjangi dirinya sendiri di dalam pikiran-pikiran Fanton Drummond.”

“Lantas apa kaitan kliping-kliping koran itu?”

“Kliping-kliping koran itu sebenarnya tak ada urgensinya dengan Olenka dan Fanton Drummond.”

“Kenapa kliping-kliping itu disimpan kalau tak terkait dengan Olenka dan Fanton Drummond.”

“Itu hanya keisengan. Keisengan yang pada waktu itu mendapat tempat. Tapi itu pula yang menimbulkan kelainan pada keberadaan Olenka dan Fanton Drummond.”

“Penjelasanmu semakin membingungkan, Penyair Matjalut.”

“Jelas membingungkan. Karena inilah perkataan sastra berat. Dan saya adalah penyair berat. Bukan golongan penyair ringan. Membingungkan. Tapi juga membuat kelainan. Kelainan yang sebenarnya tak ada kaitannya dengan kebingungan itu sendiri.”

“Sampai di sini saya tambah bingung.”

“Bagus. Itu artinya ini perkataan sastra terdepan dengan penyair terdepan. Bukan sastra dan penyair yang terbelakang.”

Anehnya, Penyair Matjalut juga bingung dengan dirinya sendiri. Keduanya pun bingung. Tapi kemudian sama-sama minum kopi. Agaknya kopi tak bisa meredakan kebingungan keduanya. Malam semakin larut. Dan entah di mana, Fanton Drummond tengah memikirkan sastra terdepan, tokoh sastra berpengaruh seperti alkohol, atau penghargaan sastra bergengsi seperti roti. Di dalam pikiran Fanton Drummond ada Olenka. Membayangkan dengan lancang dan kurang ajar, meniduri Olenka yang adalah istri orang. Suami Olenka adalah penulis sastra. Ke mana-mana dan di mana-mana, suami Olenka mengaku sebagai seorang pengarang. Pengarang hebat sehebat-hebatnya. “Perkenalkan, saya adalah pengarang hebat. Sastrawan berpengaruh dengan sastra terdepan. Bukan sastra terbelakang. Menulis banyak sastra kanon. Dan hanya menghasilkan sastra kanon atau kanon sastra,” katanya.

Meski menjalani asmara yang gagal karena berkali-kali cintanya ditolak, Fanton Drummond tidak memprotes Budi Darma sampai kapan pun. Fanton Drummond bersyukur menjadi tokoh sejarah, meski dibangun dari barat atau Amerika. Barat atau Amerika disebut dan dielu-elukan sebagai yang sungguh-sungguh keren dan luar biasa. Menurut Penyair Matjalut, sastra yang berbau barat, atau kiri dan latin, termasuk sastra berat dan dianggap terdepan. Jika penghargaan sastra sudah disematkan di dada penyair, disebut penyair berpengaruh besar sebesar-besarnya.

Seringkali Penyair Matjalut tertawa dengan anggapan dan pikiran-pikirannya sendiri. Tapi Penyair Matjalut segera melupakan semua itu dengan kopi dan rokok. Kebutuhan makan dan rokok, kopi dan pulsa jauh lebih merepotkan Penyair Matjalut daripada perihal semua omong kosong itu.

“Penyair gombal!” ucap Jiobet Darmawan.

“Hahaha! Peradaban terancam rusak dan kesusastraan sedang diserbu tukang batu, kau masih bercanda!” ujar Penyair Matjalut.

“Omong kosong apa lagi, Penyair Matjalut?”

“Kau harus tahu. Orang bernama Rafilus dalam kisah Budi Darma itu bisa mati dua kali. Hidupnya sangat lamban. Dan membosankan. Rafilus menerima surat dari petugas pos bernama Munandir.”

“Apakah Rafilus menjelaskannya?”

“Ya! Semua orang di situ menjelaskan dirinya sendiri. Menunjukkan prestasinya sendiri. Menampilkan kehebatannya sendiri. Menyebut dirinya sendiri. Memamerkan dirinya sendiri. Bahkan menghargai dirinya sendiri dan menyebut dirinya sendiri berprestasi, berpengaruh, dan paling unggul. Tapi ingat! Dalam setiap pengakuan itu, mereka munafik. Dan seringkali berbohong alias gombal. Meski sebenarnya keberadaan mereka banyak dijelaskan oleh orang yang bernama Tiwar.”

“Siapa Tiwar? Apakah dia juga narator ulung? Ataukah dia sastrawan mashur semashur-mashurnya yang sangat berpengaruh secara internasional?”

“Dengarkanlah, wahai Jiobet Darmawan.”

Penyair Matjalut mengisahkan. Menurut Penyair Matjalut, orang bernama Tiwar memang bercerita. Tapi rupanya orang harus pula tahu, di situ ada Jumarup yang congkak, katanya. Orang kaya yang selalu ingin dipuja, membeli pujian-pujian dengan uang. Dengan kekayaannya, Jumarup mengkhitankan anaknya. Tapi tak satu pun orang yang diundang oleh Jumarup dapat melihat Jumarup. Sedang Jumarup dapat mengamati para tamu dengan kamera pengintai. Zaman itu, kamera pengintai hanya dimiliki Jumarup. Teknologi belum membuat kamera pengintai. Jumarup tidak mau menemui tamu-tamunya. Barangkali bagi Jumarup, tamu-tamu itu tidak setara dengan dirinya, mereka hanya kumpulan kebo yang melarat. Tidak layak bertemu dan berbincang dengan Jumarup yang kaya, terhormat, dan sangat berpengaruh.

“Itu mirip sastrawan terdepan, atau sastrawan berat dengan ilmu-ilmu filsafat dan kiri. Tapi kadang-kadang ke kanan. Sastrawan hebat atau sastrawan terdepan yang berpengaruh itu merasa tidak layak berbincang dengan sastrawan terbelakang yang tidak berpengaruh. Percis Jumarup. Padahal Penyair Besar masih mau berbincang, bahkan menginap di gubuk Penyair Kecil,” terang Penyair Matjalut.

“Apakah benar Penyair Besar bisa bertemu dan berjabat tangan dengan Penyair Kecil?” tanya Jiobet Darmawan.

“Benar. Apa benar? Ya benar!”

“Bagaimana Penyair Kecil tahu kalau yang ia salami adalah Penyair Besar?”

“Jelas tahu. Ketika Penyair Besar datang ke daerah. Di jalan-jalan terpampang tulisan ucapan penyambutan besar-besaran terhadap kedatangan Penyair Besar, berbunyi: SELAMAT DATANG. SELAMAT DAN SUKSES PENYAIR BESAR. Agaknya tulisan besar itu memakai huruf-huruf kapitalis.”

“Huruf-huruf kapitalis?”

“Maksudnya huruf-huruf besar. Ada puisi besar dan ada puisi kecil. Sastra berbobot dan sastra tak berbobot. Penyair berpengaruh. Dan penyair non-pengaruh alias penyair tidak punya pengaruh. Lokal, interlokal, dan internasional. Karena Penyair Besar gemar berjabat tangan, maka diadakanlah acara oleh panitia, berjudul: “Jabat Tangan dengan Penyair Besar”. Itu jelas telah melanggar protokol kesehatan!”

“Penyair gombal!”

“Hahaha!”

“Hahaha!”

Tembokrejo, 2021

kisah ini seharusnya bukan fiksi.

One Reply to “SASTRA TERDEPAN DAN SASTRA TERBELAKANG”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *