Seorang Seniman Lapar, Franz Kafka


Sigit Susanto

Puluhan tahun silam daya tarik masyarakat pada seniman lapar terjadi penurunan. Padahal dulu pertunjukan itu sangat besar peminatnya. Tapi sekarang ini sangatlah tak mungkin.

Dahulu itu seluruh warga kota sibuk dengan pertunjukan seniman lapar. Pengunjungnya dari hari ke hari selalu meningkat, bahkan sampai ada penonton yang berlangganan untuk menyaksikan seniman lapar yang duduk di dalam sangkar besi. Paling tidak tiap orang ingin melihat seniman lapar itu sekali dalam sehari.

Pada cuaca yang cerah, sangkar itu dibuka dan terutama bagi anak-anak menjadi tontonan yang menarik. Bagi orang dewasa ya dianggap sebagai hiburan saja. Berbeda kalau anak-anak menonton dengan sangat takjub, bahkan mulutnya menganga dan saling bergandengan tangan satu sama yang lain.

Seniman lapar itu mengenakan kaus hitam duduk di jerami tampak tulang iganya memalukan sekali mengangguk dengan ramah menjawab pertanyaan dengan senyuman yang berat. Ia meregangkan lengannya di jeruji sambil merasakan kelaparannya yang menjadikannya kurus itu, lalu menenggelamkan diri. Tak ada orang yang peduli, tak sedetak jam yang dianggap penting, kecuali mebel kursi di sangkar besi itu. Dengan mata tertutup ia menenggak air dari gelas mungil supaya bisa membasahi bibirnya.

Penonton silih berganti. Penjaga yang terus menerus mengamati seniman lapar siang dan malam. Penjaga itu punya tiga pekerjaan lain yang dijalankan secara bersama-sama, salah satunya sebagai tukang penjual daging. Tugas utama penjaga itu melarang, supaya seniman lapar itu tidak mendapatkan makanan dari penonton.

Untuk mengalihkan perhatian kelaparannya sang seniman lapar kadang menyanyi, supaya penonton tahu ia masih bisa bergerak. Sebenarnya Sang Seniman Lapar lebih senang kalau dirinya dan penjaga di aula itu disorot lampu elektronik yang disediakan oleh panitia. Lampu yang terang buatnya tidak mengganggu, toh semalaman bersama penjaga itu dia tak tidur.

Seniman lapar itu bercerita tentang pengalaman petualangannya. Ini semata-mata untuk meyakinkan penonton untuk terus menyaksikan, bahwa dirinya tak ada makanan di sangkar jeruji yang tak bisa dilakukan oleh yang lain.

Yang paling membahagiakan jika pagi tiba datang berlimpah sarapan. Tapi tak ada penjaga yang sanggup siang dan malam selalu mengawasinya.

Penonton bisa dibilang puas menyaksikan seniman lapar, sebaliknya Sang Seniman anggap tak ada penonton yang puas. Kemungkinan tubuhnya yang kurus itu bukan karena dari kelaparan. Ada anggapan, karena ketidakpuasan pada diri sendiri. Cuma sayangnya, penonton menyaksikannya agak jauh dari sangkar besi itu.

Ia sadari betapa mudahnya orang menjadi lapar dan dianggap sebagai peristiwa paling mudah di dunia. Panitia memberikan waktu 40 hari bagi penonton untuk menyaksikan seniman lapar. Penonton dari kota dan desa berbondong-bondong untuk menyaksikan. Jika hari ke 40 tiba, maka sangkar besi itu dibuka dan dihias bunga.

Di saat sangkar dibuka itu diumumkan memakai toa, ada parade militer, dokter disiapkan untuk mengontrol kesehatannya. Makanan di meja kecil dengan sangat hati-hati disiapkan oleh dua perempuan. Perempuan itu merasa bahagia, bahwa masa tayang seniman lapar diakhiri. Mereka menjulurkan tangan untuk membantu Seniman Lapar keluar dari sangkarnya, tapi Seniman Lapar itu enggak mau bangun. Bahkan ia mempermasalahkan kenapa baru 40 hari sudah berhenti, padahal ia merasa masih bisa bertahan lebih lama lagi.

Harusnya Seniman Lapar itu tetap duduk di jerami dan diberi makan. Seniman Lapar itu tak mampu mengangkat kaki dan tubuh bagiaan atas. Sementara dua perempuan itu pucat melihatnya. Ia tergeletak di dadanya. Tentu saja seorang perempuan yang bantu itu kepayahan.

Seniman Lapar itu tangannya menggigil. Kedua kakinya tertekan ke bawah seperti berlutut.

Kontan saja yang tadinyaa penonton tertawa kecil berubah seketika menjadi isak tangis.

Saat musik bergema, tentu saja percakapan antara panitia dengan Seniman Lapar menjadi terganggu. Seniman Lapar itu kelak akan beristirahat secara teratur dalam beberapa tahun, maka pertunjukan itu akan lebih berhasil dan dihormati di seluruh dunia.

Kenapa Seniman Lapar perlu dihibur? Mungkin ia bisa menjelaskan peristiwa paling berat yang dialami, apakah di saat puncak kelaparan? Namun ia menjawab dengan marah seperti hewan yang menggoyang-goyangkan sangkarnya.

Kejadian itu membuat panitia harus meminta maaf di depan penonton banyak. Akan tetapi sikap Seniman Lapar itu masih bisa dimaafkan. Pada saat itu pun dijual foto saat Seniman Lapar itu tergeletak tanpa daya.

Pertunjukan Seniman Lapar itu dihentikan, karena ada pihak yang tak paham yang dianggap bertentangan dengan pemahaman seisi dunia ini. Tapi penonton segera bergembira, karena Seniman Lapar itu bisa bergerak-gerak dan bisa meninggalkan sangkarnya kapanpun dia suka.

Suatu saat Seniman Lapar yang manja ini ditinggalkan banyak penonton. Para penonton beralih menonton di tempat lain. Panitia sampai keliling di separuh Eropa mempertanyakan apakah penonton masih setia menonton Seniman Lapar?

Lalu apa yang harus dilakukan oleh Seniman Lapar? Panitia membawanya ke sebuah sirkus besar. Sirkus besar ini memiliki banyak penonton. Harapannya penonton akan berbondong-bondong ke sangkar binatang dan melewati sangkar Seniman Lapar. Barangkali mereka akan berhenti sejenak atau berlama-lama menikmati tontonan Seniman Lapar. Di sangkar Seniman Lapar memukau penonton.

Ada seorang bapak dengan anak-anaknya ikut menonton. Sang bapak menunjuk dengan telunjuknya ke arah Seniman Lapar, menjelaskan kenapa orang itu ada di dalam sangkar? Kenapa harus lapar?

Suasana menjadi ramai karena suara binatang yang tak tenang di waktu malam dan juga saat diberi makan.

Timbul keributan baru, penonton menyukai hiburan yang aneh, sementara Seniman Lapar hanya melakukan yang ia mampui. Ia merasa ditipu, padahal dia melakukan dengan sejujurnya. Dunia menipunya pada jumlah bayarannya.

Hari berikutnya penjaga membuka sangkar dan pelayan ditanya, kenapa sangkar yang berisi jerami usang itu tidak dipakai? Seorang memakai tongkat mengaduk-aduk jerami itu, didapati ada Seniman Lapar di situ.

Dialog: Penjaga dan Seniman Lapar

Pada halaman terakhir prosa ini diisi dialog. Penjaga bertanya kepada Seniman Lapar, “Kamu masih ingin selalu kelaparan dan kapan akan mengakhiri?“ Seniman Lapar menjawab dengan berbisik “Maafkan, semuanya.“ Penjaga itu menempelkan telinganya ke sangkar jeruji, “Tentu,“ sambil menaruh jarinya ke dahi, biar orang yang bertugas mengurusnya memahami keadaan Seniman Lapar. “Kami memaafkan kamu.“ “Saya masih ingin melanjutkan, supaya kalian mengagumi,“ kata Seniman Lapar. “Kami mengagumi kamu juga,“ kata penjaga itu. “Tapi kalian tidak perlu mengagumi,“ kata Seniman Lapar itu. “Sekarang ini, kami juga tak mengagumi,“ kata penjaga. “kenapa kami harus tak mengagumi?“ “Karena saya harus lapar, saya tak bisa melakukan yang lain,“ kata Seniman Lapar. “Itu hanya tampak satu sisi saja,“ kata penjaga, “Kenapa kau tak bisa melakukan yang lain?“ “Karena saya,“ kata Seniman Lapar sambil mengangkat sedikit kepalanya dan bicara kepada penjaga dengan cara meruncingkan bibirnya ke telinga seperti hendak mencium, supaya kata-katanya terdengar, “karena saya tak bisa menemukan makanan yang saya sukai. Seandainya saya temukan, percayalah, tanpa pikir panjang, pasti saya lahap seperti kamu dan semua orang.“

Itu kata-kata terakhirnya dengan mata yang sayu, meskipun tidak lagi optimis, bahwa dia akan melanjutkan melakukan aksi kelaparan.

“Tapi sekarang, kita rapikan,“ kata penjaga dan Seniman Lapar itu dengan sangat berhati-hati dikubur dengan jerami. Tetapi di dalam sangkar itu ada binatang buas panter muda. Tentu saja itu bermakna kreatif sebagai hiburan yang menyenangkan. Dari sebuah sangkar yang tak dihiraukan terlihat ada binatang buas di dalamnya.

Makanan yang disukai Seniman Lapar itu tanpa banyak pertimbangan diantar oleh penjaga. Sepertinya Seniman Lapar itu tidak merasa rindu pada kebebasan. Tapi minat dalam hidup semakin membara yang berasal dari rasa dendamnya. Tentu saja bagi penonton sulit memahaminya. Mereka paham tak merangsek ke sangkar dan benar-benar tak ingin melanjutkan menonton lagi.

Komentar:

Prosa panjang ini selesai ditulis oleh Kafka pada tahun 1922. Pada saat Kafka menjelang ajal, hanya ada dua karya yang sedang dikerjakan 1). Josefin, Sang Penyanyi atau Masyarakat Tikus 2). Seorang Seniman Lapar. Karya Josefin selesai ditulis, tetapi Seorang Seniman Lapar masih diperbaiki susunan kalimatnya. 3 juni 1924 ia meninggal di sanatorium, Kierling, Wina, Austria pada usia 41 tahun.
***


Keterangan Foto: Franz Kafka, gambar dari dwdotcom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *