Merawat Generasi Ideologis

Imas Damayanti
koran-sindo.com

Minimnya ruang sastra dalam publikasi menimbulkan kecurigaan terkait wacana untung-rugi dalam ruang sastra di media. Pasalnya, sastra bukanlah suatu hal yang dapat menarik profit bagi media.

Sementara menyempitnya ruang sastra akan mengikis kehadiran generasi ideologis kelak. Hal itu mencuat dalam diskusi publik bertema, Senjakala Ruang Sastra di Media , di Gedung OLVEH, Jakarta, akhir April lalu. Menurut penulis Djenar Maesa Ayu, terkikisnya ruang sastra akan membuat para generasi ideologis kehilangan ruang untuk berekspresi.

Sastra Kian Kembang Kempis

Reportase: Adinda Pryanka
harnas.co

Dua hal yang membuat sastra koran atau majalah tetap bertahan. Yaitu menciptakan sastra elektronika atau justru menegasi besar-besaran terhadap dunia virtual.
KEHADIRAN media massa, khusus koran atau majalah, sejak lama telah memberi ruang bagi sastra (cerpen, puisi, dan cerita bersambung) berkembang di Indonesia. Adanya sastra koran atau majalah, demikian yang sering akrab dikenal, juga membantu melejitkan nama dan karier sang penulis.

Eka Kurniawan dan Obsesi O

Judul : O
Pengarang : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016
Peresensi : Indri Permatasari
indonesiana.tempo.co

Senja Kala Ruang Sastra di Media?

Ni Made Purnama Sari
Kompas, 14 Mei 2016

Sejak akhir abad ke-19, hadirnya ruang-ruang sastra di media massa cetak Indonesia telah membuka kemungkinan interaksi yang unik antara penulis dan pembaca. Hubungan keduanya bukan hanya sekadar berkreasi dan mengapresiasi, namun lebih jauh terbukti meregenerasi pengarang, yang muncul justru dari pengalaman mencermati karya-karya yang dimuat pada koran atau majalah. Kecenderungan ini pun mentradisi yang—sebagaimana kita tahu—turut membentuk pergaulan kreatif dan karakter kesusastraan di negeri ini.

Mengenai Festival Teater SMP/MTs Se-Jawa Timur

Rodli TL

SMA Raudhatul Muta’alimin Babat Lamongan, sebuah sekolah yang berada di lingkungan pesantren. Tidak ada gelombang tsunamai atau badai pasir, tiba-tiba lembaga pendidikan tersebut mengadakan festival teater pelajar tingkat SMP/MTs se-Jawa Timur. Mimpi apa kepala sekolah dan para gurunya. Padahal Instansi Pemerintah (Dinas Pendidikan Lamongan) yang punya kewajiban saja enggan melakukannya. Jangan-jangan pengampuh kebijakan sekolah tersebut sedang sinting semua, hehehehehe. “Lapo kok susah-susah gawe acara konter-konteran.” kata salah satu nenek anggota teater Ramu, hehe…

Pramoedya, “Kurir Sastra” dari Blora yang Mendunia

Dede Suryana
news.okezone.com

Indonensia konon sarang teroris. Negara kepulauan ini juga juara korupsi peringkat ke sekian, gagal menjadi tuan rumah piala dunia tahun 2022, dan kini malah beredar video seronok mirip artis ternama. Miris bukan? Lantas apa yang bisa dibanggakan dari negeri ini?