Persatuan Indonesia

Sanusi Pane

Dalam karangan “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru dalam Pujangga Baru”, yang dikutip juga dalam Suara Umum ini, Tuan Sutan Takdir Alisjahbana membagi sejarah kita dalam dua bagian, zaman pra-Indonesia, sampai akhir abad ke-19, dan zaman Indonesia, yakni setelah masa itu. Zaman Indonesia tidak dapat dianggap kelanjutan atau terusan zaman pra-Indonesia.

Continue reading “Persatuan Indonesia”

Melindungi Nurani dari Tindakan Koruptif

Judul Buku: Bunga Rampai PMK: Bergerak dengan Nuran, Penulis: Laskar PMK 1-3, Penerbit: Forum Sastra Surakarta, Cetakan: I, 2017, Peresensi: Ahmad Muhli Junaidi *

Boleh jadi, fenomena korupsi yang semakin merebak dengan bukti semakin banyaknya pejabat negara, baik di tingkat pusat maupun daerah yang ditangkap OTT oleh KPK, disebabkan betapa kotornya hati nurani pejabat publik itu. Nurani yang kotor akan menyebabkan tindakan mereka jauh dari nilai-nilai kebaikan dan keadilan. Nurani yang kotor, menyebabkan hati menjadi culas dan serakah. Gaji berapa pun besarnya yang diterima para pejabat itu, tidak akan mencukupi di hadapan nurani yang kotor.

Continue reading “Melindungi Nurani dari Tindakan Koruptif”

Menyelami Jiwa Asia

Raudal Tanjung Banua

Kompas 22 Des 2018

Pelepasan burung merpati membuka flasmob kampanye cinta budaya “Tunjukkan IndonesiaMu” yang diikuti oleh 2000 penari dengan mengenakan kain tradisional Indonesia di jalan protokol Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta saat hari bebas kendaraan bermotor, Minggu (12/8/2018). Kegiatan yang digagas oleh Yayasan Belantara Budaya Indonesia ini dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 serta menyambut pesta olahraga Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.

Continue reading “Menyelami Jiwa Asia”

Membaca Madura Sebagai Kearifan Dalam Puisi

Matrone Muserang *

Ketika saya membaca antologi puisi penyair perempuan Sumenep, Benazir Nafilah “Madura: Aku dan Rindu” 2015 ingin saya tegaskan bahwa Sumenep bukan hanya sebuah nama Kabupaten an sich, namun Sumenep adalah rahim yang mengandung kearifan lokal budaya yang harus dibaca eksistensinya dengan perangkat metodologi yang tidak hanya satu, namun beragam.

Continue reading “Membaca Madura Sebagai Kearifan Dalam Puisi”