Sajak-Sajak Mario F. Lawi

Jawa Pos, 14 Feb 2021

Corpus Catullianum 64

Cerita kita kali ini bergerak dari ruang tengah,
dari sehelai seprai di ranjang pernikahan,
atau motif permadani yang diinjak para tamu ilahi.

Seorang Lesbia menanti Catullusnya di luar labirin,
membayangkan labirin telah ditaklukkan kekasih hati,
dan Minotauros yang menunggu di dalam labirin
telah memakan habis para lelaki pemujanya. Continue reading “Sajak-Sajak Mario F. Lawi”

HAMKA, WS. Rendra, Puisi Sukmawati: Drama ‘Patine Gustiallah’

Muhammad Subarkah
Republika, 06 Apr 2018

Apa sih definisi puisi bermutu itu? Ketika pertanyaan ditanyakan kepada sastrawan dan Guru Besar Filsafat Universitas Paramadina, Prof Abdul Hadi WM, dia hanya menjawab pendek. Katanya, “Puisi yang baik memiliki nilai estetis. Nilai inilah yang membuat sebuah puisi berharga. Dalam nilai estetis itu sudah terangkum nilai-nilai lain. Jadi bukan karena bikin heboh,’” ujarnya. Continue reading “HAMKA, WS. Rendra, Puisi Sukmawati: Drama ‘Patine Gustiallah’”

Penyair Tua dan Tali Sepatunya

Muhammad Yasir

Seribu kaki dari Jembatan Merah, Surabaya, rumah sederhana dari batu bata dan kayu beratap seng berwarna perak, tampak berkilauan dari kejauhan seperti berbilah pisau yang sengaja diampar di tepi pantai. Rumah sederhana itu milik seorang lelaki tua berumur menjelang 75 tahun. Tidaklah orang kebanyakan, bahkan tetangganya sekali pun tahu bahwa dia adalah seorang penyair yang begitu santai dan penuh pertimbangan dalam hidupnya. Dia tinggal seorang diri di rumah sederhana itu – maksudku, anak dan istrinya lebih cepat mati. Hampir sepanjang hari, dia akan duduk di ruangan pengabdiannya; ruangan yang diisi beberapa rak buku, lampu baca, sebuah mesin tik tua, dan sepasang sepatu kulit berwarna cokelat muda tanpa tali. Continue reading “Penyair Tua dan Tali Sepatunya”